artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

DANGER!! FAST FOOD WILL KILL YOU!


Dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang pesat, sehingga semakin mudahnya manusia dalam melakukan sesuatu. Terjadi pula perubahan pola dan gaya hidup manusia pada saat ini.

Mungkin salah satunya kita bisa lihat dengan maraknya penyedia fast food (makanan cepat saji), dari namanya saja kita sudah bisa membayangkan bagaimana cara pembuatan makanan yang pasti cepat. Tanpa kita sadari, maraknya fast food selain memberikan keuntungan juga memberikan banyak kerugian untuk kesehatan anda tentunya.

Contohnya saja dengan kita banyak mengkonsumsi mi instan, maka lambat laun akan terjadi masalah dalam bagian pencernaan kita. Hal ini dibuktikan oleh para ilmuwan dari Universitas Glasgow yang melakukan percobaan pada sejenis unggas yang dibagi menjadi dua kelompok. Pertama diberi makanan yang kualitasnya tidak layak makan, semacam junk food. Sementara kelompok lainnya diberi makanan dengan takaran sesuai yang dibutuhkan.

Dari studi tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa unggas yang diberi makanan sejenis junk food pada usia dua minggu pertama dalam hidupnya lebih cepat mati. Hal ini karena zat anti penuaan dan antioksidan yang diproduksi tubuhnya hanya bertambah sedikit.


Perlu diketahui bahwa makanan fast food ternyata mengandung garam, lemak & kalori yang tinggi, termasuk kolesterol yang mencapai 70% serta hanya sedikit mengandung serat yang justru sangat dibutuhkan oleh tubuh. Selain kandungan gizinya yang rendah, fast food juga mengandung zat pengawet dan zat adictif yang membuat kita ketagihan. Lemak tinggi yang banyak terdapat dalam makanan cepat saji juga berpengaruh untuk memperbesar risiko terkena kanker, terutama kanker payudara dan usus besar. Makanan cepat saji juga mengandung protein hewaninya yang cukup ‘kaya’, hal ini bisa menyebabkan terhambatnya penyerapan kalsium di dalam tubuh. Kondisi ini dapat merangsang cepatnya terjadi osteoporosis.

Fast food pun menjadi cara cepat bagi kita yang ingin terkena Obesitas. Hal ini dibuktikan oleh Morgan Spurlock yang membuat film berjudul “Super Size Me”. Dalam film tersebut digambarkan bagaimana ia mengkonsumsi fast food setiap hari baik itu saat sarapan, makan siang, dan makan malam dalam waktu 30 hari. Ternyata hasil yang didapat sangat mencengangkan. Morgan Spurlock mengalami kenaikan berat badan yang drastis, perut semakin membuncit, kenaikan kadar gula darah dan kolesterol, tekanan darah yang jauh di atas normal dan 2 kali lebih rentan terkena gagal jantung serta perubahan prilaku.

Makanan fast food memang tergolong banyak diminati sebagian besar orang karena sangat cepat dan mengenyangkan. Apalagi di sekitar lingkungan rumah pun banyak yang menawarkan fast food dengan harga yang sangat murah. Namun Anda juga patut curiga kenapa harga yang ditawarkan begitu murah? Apakah ayam yang dipakai masih fresh atau ayam sakit yang dijual murah ? Jawabannya kembali ke diri Anda masing-masing, mau sehat atau tidak.

Jadi ada baiknya hindarilah atau setidaknya kurangilah makanan fast food sejak dini, karena daerah asal fast food ini, Eropa , sekarang sudah gencar memerangi fast food dan berganti menjadi slow food.

=========================================================================
Judul Aseli: Bahaya Makan Fast Food
Penulis: Heni Nuraeni

SAMSIR MOHAMAD: Revolusi yang Dikompromikan


Kita bernama Indonesia itu belum lama yaitu tahun 1850. Nama itu pun bukan kita (bangsa Indonesia-ed) yang membuat, tapi orang lain. Sumpah Pemuda saya sebut sebagai peristiwa monumental. Rendra pernah menulis bahwa Sumpah Pemuda itu lebih agung, lebih besar daripada Borobudur. Sebelum Sumpah Pemuda lahir, barangkali karena posisi geografis kita tercerai-berai dalam kepulauan, organisasi pemuda yang ada ketika itu mengikuti posisi geografisnya: Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Selebes.

Di Surabaya lahir sebuah perkumpulan pemuda yang tujuannya memperluas pengetahuan umum, mempelajari kebudayaan, dan bahasa. Perkumpulan itu diberi nama Trikoro Darmo. Perkumpulan itulah yang kemudian tumbuh menjadi Jong Java.Perkumpulan-perkumpulan pemuda yang ada—atas inisiatif Jong Java dan Jong Sumatera—itulah yang merintis ke arah penyatuan berbagai organisasi pemuda yang ada. Puncaknya pada Kongres Pemuda Kedua yang melahirkan Sumpah Pemuda. Satu hal perlu dicatat di sini: di dalam membidani lahirnya Sumpah Pemuda partai-partai politik yang sudah ada ketika itu tidak terdengar muncul, apalagi berperan. Bahwa dikemudian hari orang-orang dari kalangan Indonesia Muda itu menyebar ke berbagai partai politik, itu benar, tetapi ketika membidani Sumpah Pemuda—sejauh yang saya ketahui dari berbagai literatur—tidak ada. Hal itu berulang kembali, yakni ketika membidani Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus. Tidak ada satupun partai politik yang muncul. Bahwa waktu itu dilarang oleh Jepang, itu benar, tetapi dalam momen seperti itu yang menentukan nasib bangsa, toh tidak muncul juga.
Dua peristiwa terulang. Siapa yang berperan di situ? Ini bukan untuk mengistimewakan kawan muda, tapi memang anak mudalah yang berperan. Ketika Sumpah Pemuda, jelas para pemuda yang berperan. Ketika Proklamasi, pemuda lagi dengan mahasiwa yang berperan. Berulang lagi ketika menurunkan Soekarno dengan cara-cara yang aneh, itu juga pemuda dan mahasiswa. Ketika menurunkan Soeharto, kembali lagi pemuda dan mahasiswa. Apakah itu saja? Cukup di situ saja peranan paramuda: menaikkan dan melengserkan, kemudian setelah itu ciserasera? Itu berpulang pada kalian yang muda-muda. Saya tidak akan mengatakan harus begini, harus begitu, tidak. Tapi, pengalaman itu mengatakan kepada kita, bahwa semua kejadian itu telah membawa kita pada hari ini di mana kita merasa tidak betah. Terus terang, saya sendiri tidak betah pada keadaan yang saya hadapi, yang saya alami dan yang saya jalani sekarang ini. Orang usaha sendiri dengan modal sendiri, susah payah sendiri diobrak-abrik. Petani bekerja keras, menanam, memelihara tanaman, dibiarkan saja dimangsa tengkulak. Bank-bank kita, bank perkreditan kita ratusan jumlahnya, tetapi tidak menyentuh jelata. Kaum jelata tetap saja menjadi korban bank keliling yang bunganya tidak kira-kira.

Kembali ke Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda itu yang mengerucutkan organisasi-organisasi pemuda menjadi terhimpun dan melahirkan Indonesia Muda. Indonesia Muda itu awalnya diperbolehkan oleh pemerintah kolonial, dengan syarat tidak berpolitik. Tapi dalam praktiknya, mereka berpolitik juga sampai akhirnya digerebek, digeledah kantornya dan ditahan pengurusnya. Pemerintah kolonial waktu itu melarang anak-anak amtenar-amtenar (pegawai negeri) untuk menjadi anggota Indonesia Muda. Meskipun demikian Indonesia Muda tidak surut, malah berkembang. Semakin ditekan dia semakin keras melawan.

Pengukuhan kita sebagai satu bangsa dilakukan oleh pemuda lewat Sumpah Pemuda. Sejak itulah kita menganggap diri kita satu bangsa. Tetapi, bagaimana itu terjadi, asal mulanya dan seperti apa, tampaknya kebanyakan dari kita merasa tidak perlu untuk menelitinya. Saya sendiri mengetahui itu sebagian dari literatur yang ditulis orang asing sebagaimana saya mengetahui misalnya Sarekat Islam merupakan organisasi setelah Budi Utomo terbesar yang pernah ada sampai hari ini. Pengetahuan itu saya peroleh dari literatur orang. Mengapa sejawaran-sejarawan kita tidak menulis itu? Dengan begitu kita bisa belajar dari bangsa dan negeri sendiri. Saya tidak mengatakan tidak perlu belajar dari bangsa lain, dari revolusi-revolusi negara lain. Belajar dari bangsa lain, itu baik, tetapi belajarlah dari bangsa dan negeri sendiri, supaya kita tahu apa kita ini, bagaimana kita ini, apa perjalanan yang sudah kita tempuh, mana yang baik, mana yang salah, supaya tidak mengulangi kesalahan.

Jika sekarang banyak pelajar kita yang tidak tahu kapan dan siapa yang membuat nama Indonesia, itu tidak berarti mereka bodoh, karena mereka itu adalah korban. Korban dari pendidikan kita yang tidak sehat. Contoh yang mudah saja, Diponegoro itu tahun 1830 tamat riwayatnya, lalu bagaimana asal-usulnya dia menjadi pahlawan nasional, sementara nama Indonesia saja baru ada 20 tahun kemudian. Namun demikian, tidak perlu kita mencari siapa yang bersalah, lebih baik kita perbaiki. Jadi, sejarah Indonesia itu baru bisa dikatakan sebagai sejarah Indonesia yang sebenarnya adalah sejak 1850. Sebelum itu adalah pra Indonesia.

Kita memiliki MSI (Masyarakat Sejarah Indonesia), perkara ada kata PKI dibelakang G30S saja ribut. Mengapa itu yang diributkan? Apa dikira kalau ada kata PKI dunia Indonesia ini kiamat? Lihatlah, hitunglah dari tahun 1966, berapa lama? 41 tahun. Apakah ada orang-orang bekas PKI yang membuat huru-hara? Tanya pada polisi, apakah ada orang-orang PKI yang merampok? Apakah ada yang menjadi penyelundup? Mereka sudah finish. Saya jadi teringat kepada formulasi Yuyun Sumasumantri. Ada empat kategori manusia. Pertama, yang tahu ditahunya, itu bagus; kedua, yang tidak tahu ditahunya, itu aneh; ketika, yang tahu ditidaktahunya, itu juga bagus. Paling sial yang keempat, orang yang tidak tahu ditidaktahunya. Kita ini masuk yang mana? Kalian bisa menilai sendiri-sendiri.

Perjalanan kita sejak Sumpah Pemuda hingga hari ini itu apa saja dan bagaimana? Sebelum Sumpah Pemuda, Soekarno mendirikan partai politik di Bandung, namanya PNI (Partai Politik Nasional). Tujuannya jelas, untuk mencapai kemerdekaan. Sikapnya juga jelas, non koorperatif terhadap pemerintah kolonial. Sebelumnya, tahun 1920 PKI muncul dan berdiri. Dalam kongresnya tahun itu di Semarang mengambil dua keputusan. Pertama, bergabung dengan Komintern (Komunis Internasional); dan kedua, bersikap kooperatif terhadap pemerintah kolonial. Itulah yang terjadi. Silahkan kalian menilainya. Saya ini bukan orang yang suka menjelek-jelekkan atau membagus-baguskan. Saya suka lurus dan benar. Lurus itu tidak selingkuh, benar itu seperti yang terjadi. Kita tahu PKI enam tahun kemudian—meskipun resmi mengambil sikap kooperatif—dia memberontak pada tahun 1926. Digulung oleh Belanda: dihukum digantung, dihukum ke Digul, dan dipenjara. Ketika Soekarno ditangkap untuk kesekian kalinya dan penjara, pemimpin PNI yang lain ini beranggapan bahwa keputusan pengadilan Belanda itu membuka kemungkinan menangkapi pemimpin-pemimpin PNI yang lain. Pada waktu itu mereka menyimpulkan, bubarkan saja PNI. Ada dua orang yang tidak setuju pada sikap itu, yaitu Hatta dan Sjahrir. Oleh sebab itulah mereka mendirikan partai lagi dengan singkatan PNI juga, yaitu Pendidikan Nasional Indonesia. Belanda tidak bodoh, karena mengtahui tujuan organisasi itu, sehingga Hattan dan Sjahrir pun dibuang ke Digul. Soekarno keluar dari penjara setelah berdiri Partindo, dan kemudian Soekarno pun aktif di Partindo. Belanda menangkap lagi Soekarno dan diasingkan ke Ende. Dari Enda dipindahkan ke Bengkulu. Itu perjalanan sampai akhirnya Jepang mendarat di Indonesia.

Jepang mendarat di Banten pada 4 Maret 1942. Empat hari kemudian tentara Belanda menyerah tanpa syarat, tanpa membalas tembakan sekalipun, tanpa bertempur. Sebuah tentara di manapun jika berhadapan dengan musuh yang menyerbunya tidak melawan dan hanya kabur terbirit-birit, menyerah, menurut saya itu tentara yang hina dina secara universal. Beberapa eksponen dari tentara yang hina dina itu ada seorang yang berpangkat sersan (Soeharto-ed) yang kemudian menjadi presiden di negeri ini. Ada satu masalah yang sampai sekarang ini tidak pernah dipersoalkan—bukan untuk mencari siapa salah siapa benar, tapi untuk mencari yang terjadi seperti apa—yaitu sejarah. Sejarah itu ialah pencatatan tentang peristiwa-peristiwa penting yang menyangkut orang banyak, ditulis secara lurus dan benar. Lurus, tidak boleh selingkuh; benar, seperti yang terjadi. Tentang penilaian, terserah yang hadir. Apakah mau disukai, tidak disukai, mau disalahkan, mau dibenarkan, terserah. Perwira-perwira tentara KNIL itu menjadi petinggi-petinggi di Indonesia. Kenapa orang Jepang tidak menangkap mereka, itu aneh. Dikatakan aneh, karena tentara Jepang adalah tentara kekuatan musuhnya. Tapi itu tidak terjadi, malah mereka mendapatkan jabatan pada jaman Jepang. Nah, mengapa itu terjadi, saya sendiri tidak tahu. Itu pekerjaan rumah kalian jika mau tahu. Cari tahu mengapa. Itu petinggi-petinggi, tidak main-main: Urip Sumodiharjo, jenderal; Nasution, jenderal (lulusan PMA, militer di Bandung), dan sejumlah perwira lainnya. Itu penting diungkap, bukan untuk mengungkit-ungkit, menggugat-gugat, tapi untuk mencari tahu mengapa itu terjadi. Kalau ada manfaat di situ kita tangguk, tapi kalau ada masalah di situ jangan diulangi. Kalau saya mengatakan orang yang menandatangani prolamasi pada 17 Agustus 1945 dini hari, lalu sekitar empat tahun kemudian dia menerima penyerahan kedaulatan dari Kerjaan Belanda, dari Ratu Belanda, katakan apa itu namanya: baguskah, tidak baguskan, terserah kalian menilainya. Bagi saya, tidak bagus! Buat apa saya tanda tangani proklamasi kalau ujung-ujungnya saya mau tanda tangan lagi menerima kedaulatan dari Kerajaan Belanda. Itu kenyataan.

Saya berharap, ke depan kita mulai membaca kenyataan seperti kenyataan itu sendiri, jangan diselingkuhkan, jangan dipelinyir-pelintir demi apapun, sebab kebenaran adalah kebenaran. Barangkali karena keselingkuhan-keselingkuhan di masa lalu itulah kita jadi terpuruk ke dalam suatu keadaan seperti sekarang yang nyaris apapun buntu. Pembangunan buntu, moneter buntu, industri buntu. Mencari gas dan minyak, yang keluar malah lumpur hingga merendam desa-desa orang. Kemana-mana buntu. Kalau mau menolong orang miskin dengan raskin (beras miskin) sebanyak 20 kilogram satu bulan, dengan harga seribu per kilogram, dalam kenyataannya tidak sebanyak dua puluh kilogram. Saya katakan begitu, karena saya memperoleh raskin. Kenyataannya hanya lima kilogram. Paling tinggi tujuh kilogram. Subsidi 300 ribu per keluarga miskin, orang yang mendapat jatah bicara pada saya: “iya, tanda tangannya 300 ribu, tetapi yang saya terima hanya 150 ribu.” Kemana yang lainnya? “Dipotong.” Buat apa? “Biaya-biaya,” katanya. Mengapa masyarakat mau? Nah, di sini persoalan.

Ada hal yang elementer, barangkali saya ditertawakan kalau mengatakan ini, tapi tak apa-apa. Kalian semua diwajibkan membuat KTP bukan? Kalau tidak membuat, ada sanksinya. Ada razia, ditangkap. Si A menyuruh si B membuat sesuatu, kemudian si A mengatakan jika tidak awas kamu, dan bayar oleh kamu! Nah, yang menyuruh membuat KTP, menyuruh membayar juga. Harganya pun bukan harga yang sebenarnya, karena berlipat-lipat. Apa namanya yang seperti itu? Kalau kau menyuruh orang menggosok sepatu atau sepeda motormu, kan kamu yang bayar orang itu. Tapi ini tidak, kamu dirusuh sekaligus diminta membayar. Itulah berlangsung. Masyarakat-bangsa ini mau diperlakukan seperti itu.

Di era kolonial para pemimpin kita itu hebat. Saya menghormati mereka. Siapa mereka itu? Kihajar Dewantara, Tan Malaka, Setiabudi, berturut-turut pada generasi berikutnya sampai ke Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir Syarifudin, Mohamad Yamin, Samratulangi, Dr. Mansur dan lain-lain. Orang-orang itu kalau hanya mau hidup senang dengan Belanda, mereka cukup dan mudah. Gaji besar, minimum 300 Gulden satu bulan ketika harga beras 4 sen satu liter. Kalau ekuivalen dengan beras, berapa itu, bisa dihitung sendiri. Itu belum termasuk fasilitas. Ibrahim (Tan Malaka) itu bekerja dengan gaji 300 Gulden dengan fasilitas-fasilitas dan hak-haknya dipersamakan dengan orang Belanda. Tapi mereka tidak memilih itu. Mereka menepiskan itu dan terjun ke dalam pergerakan nasional, berlanjut dengan perjuangan. Itulah mereka. Nah, saya menamakan mereka itu kaum terpelajar yang sehat dan patriotik. Itu saya hormati.

Tetapi, setelah Jepang datang; fasis Jepang menduduki Hindia Belanda, mereka bekerjasama dengan Jepang. Tidak semua. Sutan Sjahrir tadinya tidak mau bekerjasama dengan Jepang, walaupun ujung-ujungnya dia juga mengajar di sebuah badan (lembaga) buatan Jepang dengan dalih karena Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Dalam nalar saya ketika itu, lhokemerdekaan kok diberi oleh Jepang? Bukankah kemerdekaan itu milik sendiri, harus diambil sendiri? Kalau kemerdekaan pemberian, kedengaran aneh buat saya waktu itu. Yang namanya diberi itu di bawah tangan. Tidak ada yang diberi itu tangannya di atas. Yang menerima itu tangannya di bawah. Itulah perselisihan yang timbul ketika itu: antara para senior dengan paramuda—yang isinya adalah pemuda dan mahasiswa. Saya terlibat di situ. Saya masih “anak bawang”ketika itu. Usia saya masih 19-an tahun. Setelah berdebat soal proklamasi, akhirnya kelompok senior mau memprolamirkan kemerdekaan. Sehari setelah itu UUD disahkan, pemerintahan dibentuk. Kabinet waktu itu terdiri dari 8 menteri. Kita tidak tahu lagi apa yang dilakukan oleh pemerintah. Saya dengan kawan-kawan waktu itu menyerbu Jepang, mengambil alih stasiun kota, stasiun trem. Di Kramat Raya diambil alih, Manggarai diambil alih. Ada komite van aksi waktu itu. Dulu memakai istilah “van”, karena kebanyakan adalah lulusan sekolah Belanda. Komite dari aksi: komite van aksi. Ketuanya adalah Chairul Saleh, wakil ketuanya Johar Noer. Nah, kita yang bertindak ketika itu, sampai-sampai si paramuda itulah yang berpikir kita sudah merdeka dengan proklamasi, sudah punya UUD 1945, sudah punya kabinet—yaitu pemerintahan—kok tidak memiliki tentara?

Tiga orang di antara paramuda itu—pemuda Menteng 31—menghadap Menteri Pertahanan Amir Syarifudin di jalan Cilacap untuk mendesak supaya segera dibentuk tentara Indonesia, karena kita sudah merdeka. Itu terjadi bulan September tahun 1945, sekitar sebulan setelah proklamasi. Kita tidak tahu apa yang dipikirkan oleh senior-senior yang sudah jadi presiden, wakil presiden, menteri—apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka rencanakan—ketika itu. Kita hanya melihat bahwa kita sudah memiliki negara, sudah merdeka, maka harus memiliki tentara. Kita desak, disampaikan pada Amir Syarifudin. Setelah itu pada tanggal 5 Oktober 1945 keluarlah Dekrit Presiden: membentuk Barisan Keamanan Rakyat (BKR), bukan tentara. Ketika itu saya tidak tahu apa alasannya. Belakangan ada justifikasi supaya kita tidak dianggap agresor, tidak dianggap agresif oleh sekutu. Dimana-mana negara itu memiliki tentara, kecuali Monako barangkali. Kami mulai kecewa waktu itu. Kecewa terhadap para pemimpin senior. Lalu datanglah perintah-perintah yang menyusul kemudian—kebetulan waktu itu saya ada di Bandung, tapi bulannya lupa—kami disuruh mundur, meninggalkan kota Bandung. Kita itu bukan kalah dalam pertempuran oleh tentara Belanda. Mereka (tentara Belanda-ed) duduk-duduk di sana, minum kopi, kita disuruh mundur. Siapa yang menyuruh? Pemerintah kita sendiri.

Setelah Proklamasi, kelompok Menteng 31, di mana saya bergabung menjelma menjadi API (Angkatan Pemuda Indonesia). Selanjutnya API menjelama menjadi Laskar Rakyat Jakarta Raya, yang kemudian melebar lagi menjadi Laskar Rakyat Jawa Barat. Itu proses dalam masyarakat. Dalam pemerintahan yang terjadi dari perundingan ke perundingan, mundur ke mundur. Mengapa begitu? Ini revolusi! Kenapa saya katakan revolusi? Ketika kita diperintah mundur dari Bandung, pemerintah sendiri, pemerintah kita—bukan diperintah oleh Belanda—yang mundur itu bukan pasukan-pasukan bersenjata, tapi rakyat. Mereka ikut mundur, ikut pergi, tidak mau hidup di bawah kekuasaan Belanda. Itu salah satu indikator penting bahwa rakyat bangkit membela kemerdekaan, bangkit membela proklamasi. Kebangkitan itu oleh pemimpin-pemimpin kita diredam, disuruh mundur, toh menurut: mundur berbondong-bondong penduduk Bandung menyeberangi sungai Citarum, meninggalkan harta kekayaan. Bayangkan itu! Harta benda yang mereka kumpulkan semumur-umur ditinggalkan saja, karena memihak kemerdekaan, memihak Nagara Republik Indonesia. Tidak mau di bawah Belanda. Tapi pemimpin kita tidak membaca itu. Itu bukan hanya di Bandung, di Semarang, Surabaya, Makasar, Medan, Menado, dimana-mana seperti itu. Bukankah itu suatu kebangkitan dari masyarakat?

Nah, pertanyaannya, mengapa masyarakat bisa bangkit seperti itu? Apa datang wahyu dari langit, atau bagaimana? Saya berpendapat, itulah hasil, buah kerja para pemimpin kita di era kolonial. Kalau dihitung dari 1912 sampai 1942, 30 tahun tidak henti-hentinya mereka—walaupun bermacam-macam partai dan organisasinya—tapi satu arah melawan penjajahan. Caranya beragam: ada yang keras brontak, tegas, serta yang lunak dan lembek pun ada. Tapi semua itu satu arah. Umar Said Tjokroaminoto dari Sarekat Islam menyatakan: tidak boleh lama lagi kita menjadi sapi perah yang hanya diambil susunya dan diberi makan oleh Belanda yang jauhnya ribuan kilometer. Itu satu. Beberapa tahun kemudian kongres Sarekat Islam membuat keputusan: berjuang melawan kapitalisme yang zalim. Itu kongres Sarekat Islam di tahun 1920-an.

Nah, kalau sekarang, yang saya dengar dan membaca koran, gerakan Islam berjuang melawan komunis. Sampai-sampai dihalalkan darahnya. Saya jadi berpikir, mengapa bangsaku ini bisa begitu? Siapa yang mengajari seperti itu? Dulu tahun 1945 itu rukun saja semua. Entah dia Hisbullah, Sabililah, BPRI (Barisan Pemberontak Republik Indonesia), pasukan Istimewa, API, Laskar Rakyat, RIS, rukun melawan penjajah. Jadi, satu garis, satu benang merah, bahwa kebangkitan masyarakat itu digugah oleh para pendahulu kita dulu. Ada formulasi bagus dari seorang pemimpin kita waktu itu: rakyat Indonesia bagaikan ayam yang mati di lumbung padi. Negeri ini subur, kaya sumber-sumbernya, kita melarat. Itu pemimpin-pemimpin kita dulu. Itu ucapan Soekarno dulu, di era kolonial. Tapi belakangan, ketika musim tari lenso—dipopulerkan oleh Soeharno—sampai orang-orang dari ormas, tokoh-tokoh politik dianjurkan untuk berlenso. Ada lirik lagu: “di Indonesia banyak makanan”. Itu saya plesetkan: “di restoran banyak makanan”. Dipanggil saya karena itu, dimarahi: “bikin kacau kamu, ya!” Memang betul. Di restoran yang banyak makanan. Di kampung-kampung susah, orang harus bekerja dulu: terima upah, baru beli beras.

Pemimpin kita yang begitu hebat ketika melawan kolonial, mengapa menjadi begitu jinak ketika menghadapi tentara Belanda yang dibantu oleh sekutu setelah merdeka? Mengapa itu, mengapa? Tidak pantas itu. Kehebatan, ketahanujian, pengorbanan ketika melawan kolonial begitu hebat. Tapi setelah menjadi presiden, menteri, kok menjadi jinak? Sutan Sjahrir itu menandatangani Perjanjian Linggarjati, tahun 1946. Isinya pasal pertama yang saya ingat: “wilayah kekuasaan de facto—tanpa kekuasaan de jure—Republik Indonesia: Jawa, Madura dan Sumatera. Itu yang ditandangani. Itu yang diterima. Padahal sebelum Sjahrir itu ke Digul. Mengapa mendadak sontak jadi jinak seperti itu? Saya ketika itu berada di pihak yang menolak perjanjian itu. Jadi, apa boleh buat, saya jadi buronan republik. Menyusul setelah itu Perjanjian Renville juga begitu. Kekuatan tentara kita di kantung-kantung gerilya di pulau Jawa ini harus keluar dari kantung-kantung gerilya, berkumpul ke Yogyakarta semua. Saya termasuk dalam kelompok yang menolak itu. Kalau mau bukan kita yang keluar, tapi itu Belanda yang pergi dari ini. Nah, mengapa pemimpin kita sampai begitu?Why? Mengapa mereka yang dulu begitu perkasa di era kolonial menjadi jinak seperti tidak punya tulang punggung? Haah-heehsaja pada Belanda. Ketika itu saya masih muda, jengkel sekali. Apalagi ketika KMB. Coba kalian pikir, kau tandatangani sebuah perjanjian, terus kautandatangani sesuatu yang menganulir yang ditandatangan pertama, apa itu namanya?

Nah, sejarah tentang itu tidak diungkap. Saya tidak mempersalahkan orang-orang yang sampai sekarang memuja-muja Hatta, memuja-muja Sjahrir, silahkan. Akupun memujanya, tapi Sjahrir yang mana, Hatta yang mana? Hatta yang ketika sekolah di Belanda aktif dalam Liga Anti-Kolonial. Itu Hatta yang hebat. Tapi Hatta yang menandangani KMB, maaf. No way! I do not respect it!Jadi saya itu proporsional. Saya tidak mau berpikir absolut. Kalau bagus itu bagus saja dari ujung sampai ujung. Tidak ada di dunia yang seperti itu. Kalau baca perjanjian KMB, yang saya ingat saja: itu utang-utang Belanda selama menyerang kita bertahun-tahun harus dibayar oleh kita. Terus tentara kita, TNI harus dicampur aduk dengan KNIL. Karena itu saya tidak suka, dan saya letakan. Saya bersedia menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia), tapi tentara RIS (Republik Indonesia Serikat-ed) sama sekali tidak. Saya mundur. Nah, itu perjalanan kita.

Saya sendiri sudah lama minta tolong beberapa kawan untuk dicarikan naskah-nasakah perjanjian itu: Linggarjati, Renville, KMB yang otentik, supaya bisa dibaca, bisa dipelajari, bisa ditangguk pengalaman dari situ. Kalau ada yang baik bisa diambil, kalau ada yang buruk kita tinggalkan, jangan diulangi. Hanya untuk itu! Tadi saya berkata seperti itu bukan saya menjelekan Hatta. Saya hanya bertanya, mengapa kamu yang begitu hebat dulu di negeri Belanda sampai ditangkap oleh Belanda karena anti-kolonial, di Indonesia gara-gara menentang kolonialisme ditangkap dan dibuang ke Digul, tapi mengapa sekarang loyo begitu, main tanda tangan saja perjanjian yang menguntungkan Belanda. Itu pertanyaan besar. Apa sebabnya, saya sendiri belum bisa jawab. Tapi, terjadilah seperti itu. It was happen like that?

Nah, itu perjalanan. Tanpa mempelajari perjanjian ini (Perjanjian Linggarjati, Renville, dan KMB) omong kosong kita mempelajari pemerintahan negara Indonesia. Apa yang mau dipelajari: puji-memuji, hebat-menghebat, puja-memuja, gitu-gituan saja? Itu sama dengan “si buta dan si gagu”. Menurut saya itu tidak baik. Kalian harus lebih mengerti dan lebih tahu mengapa semua itu terjadi, bagaimana sampai terjadi. Kalau kita membuat perbandingan sedikit, kita ambil contoh negeri yang kecil: luasnya lebih kecil, jumlah penduduknya juga lebih kecil dari kita—jauh lebih kecil—dijajah oleh Prancis, Prancis dia lawan. Dia tidak menempuh jalan kompromi, tapi dia menempuh jalan perjuangan. Rakyatnya bangkit, melawan, kalah Prancis. Benteng yang dibangga-banggakan Prancis Dien-dien Fu itu direbut oleh mereka, dan jenderalnya ditangkap di situ. Karena wilayah itu strategis menurut pandangan tuan-tuan modal, tidak bileh lepas itu. Datanglah tentara Amerika ke sana. Enam sampai tujuh ratus ribu jumlahnya dikirim ke tempat itu, ke negeri itu untuk menghancurkan gerakan kemerdekaan. Apa yang terjadi? Karena mereka menempuh jalan perjuangan, mereka membaca kesadaran rakyat, kebangkitan rakyat, serdadu Amerika itu terbirit-birit kabur dari situ walaupun jumlahnya 700 ribu orang. Nah, kita sebesar ini, seluas ini, 70 juta waktu itu kita punya penduduk, hanya dengan 100 ribu tentara Belanda diem. Kok kita mendek-mendek. Mengapa pemimpin-pemimpin jadi begitu? Aneh sekali. Saya serahkan pada kalianlah untuk mencari jawabnya. Mereka yang begitu hebat terus mendek-mendek hanya dengan 100 ribu tentara Belanda. Total itu yang bule dan kulit hitam—KNIL dan KL. Sedangkan mereka di sana 700 ribu tentara Amerika yang persenjataannya jauh lebih hebat dari tentara Belanda toh mereka bisa atasi.

Nah, dari sana saya mencoba-coba untuk membuat sebuah hipotesis: suatu revolusi kalau dikompromikan, maka revolusi itu bunuh diri. Itulah yang terjadi. Itu yang terjadi di Prancis, revolusinya dikompromikan, habislah: Montesque, Dante digueletin semua. Padahal mereka itu adalah pencetus revolusi. Kalau di sini tidak sampai digueletin, karena tidak ada digueletin, tapi ditembaki. Gara-gara menolak perjanjian Linggarjati diserbu dan ditembak. Gara-gara menolah Perjanjian Renville diserbu, ditangkap, dan ditembak di tempat. Jadi, main tembak mati di tempat itu bukan Soeharto saja, sudah ada jauh sebelumnya.

Itu perjalanan. Untuk apa itu semua? Supaya kita tahu di mana benarnya di mana salahnya. Salahnya jangan diulangi, benarnya bisa diteruskan. Seperti yang ditulis oleh Utuy Tatang Sontani tentang Sangkuriang: ketika Sangkuriang mati, Dayang Sumbi mati, semua menangis, maka datanglah lengser dan berkata, “sudahlah, jangan ditangisi lagi, tidak hidup lagi yang mati”. Sekarang tinggal yang jeleknya kita tunda, yang baiknya tuluy keneun sarerea (tinggal diteruskan oleh semua). Nah, itu formulanya. Jadi saya hanya mengemukakan fakta-fakta, kejadian-kejadian dan proses berlangsungnya.

Terakhir, kita punya Undang-Undang Dasar. Saya bertanya kepada diri saya sendiri: mengapa kalangan terpelajar kita hari ini tidak membahas Undang-Undang Dasar? Sekalinya dibahas untuk diobok-obok. Mengapa timbul kemalasan di situ? Saya tidak tahu itu mengapa. Padahal isinya itu—berulang-ulang harus saya sitir, harus diulangi lagi mentang-mentang saya duduk di Dewan Konstituante, badan perancang konstitusi negara—semua orang bisa baca kalau mau. Kok saya tidak pernah dengar ada kelompok diskusi membahas apa Undang-Undang Dasar kita itu. Baca, diskusikan, apa ini artinya ini, dan apa itu artinya. Akibat kelalaian—kalau boleh disebut kelalaian—sekarang ini sudah 3600 lebih undang-undang dan perda-perda yang dibuat tidak sesuai dan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Karena kalian tidak mau membahas Undang-Undang Dasar, ya sudah, dilangkah-langkahi, dibiarkan saja, diam-diam saja. Itu persoalan kita sekarang. Kalau memang betah seperti itu saya tidak apa-apa, up to you, up to all of you.

Catatan: Tulisan ini merupakan transkrip presentasi yang disampaikan Samsir Mohamad dalam diskusi "Sumpah Pemuda dan Nasionalisme Indonesia" yang diselelenggarakan Rumah Kiri dan Ultimus pada tanggal 05 November 2007 di Bandung.

gambar: dari google

NOISEPEDIA: GOREGRIND



Goregrind bisa dibilang sebagai varian dari musik Grindcore yang memiliki tiga karakter menonjol didalamnya yaitu: Karakter vokal yang agak rendah dan sedikit berat (biasanya menggunakan tehnik pitch shifting), lebih cenderung memainkan tempo sedang ketimbang harus bermain cepat dalam musiknya, dan obsesi lirik hampir eksklusif dengan istilah medis, kondisi patologis, kekerasan, horor, kanibalisme, zombie dan ada juga yang kurang serius dalam artian hanya sebagai lucu-lucuan saja.

Repulsion

"Musically, there's no real difference between grindcore and goregrind, but lyrically, whereas the first is socially and politically concerned, goregrind, as the name implies, deals with everything related to blood, pathological aspects or accidents with fatal results."- Cyjan (DEAD INFECTION).

Impetigo
"Gore-Grind music is characterized by its preoccupation with pitch-shifted or extremely low vocals, use of gore and forensic pathology as its exclusive subject matter, and often very fast tempos. Grind-Gore bands also have the refreshing tendency not to take themselves or their lyrics too seriously. This is evidenced by ... the often intricate and disgusting yet undeniably cartoonish splatter drawings that adorn many Gore-Grind album sleeves" - Matthew Harvey (Purcell, Natalie J. (2003). Death Metal Music: The Passion and Politics of a Subculture.)


Dan album Horrified dari Repulsion dan album Ultimo Mondo Cannibale dari Impetigo yang bisa muncul di tahun awal-awal terjangkitnya wabah Goregrind ini. Namun sebelumnya Carcass formasi awal (akhir dekade 80-an) yang berangkat dari scene Hardcore/Punk di Inggris memulai dengan lirik-lirik tentang pathology, pengobatan dan kedokteran yang jelas-jelas merupakan penyimpangan dari lirik sosial-politik kekirian yang biasa digunakan di scene Hardcore Punk dan Grindcore saat itu.

disusun oleh: Grindhacker, dari berbagai sumber
=========================================================================
KETERANGAN:
Penjelasan singkat ini hanyalah garis besar saja yang saya rangkum dari banyak sumber yang saya browse di google dan mesin pencari lainnya. Untuk lebih jelasnya secara detail mungkin bisa anda cari sendiri (saya bisa, kenapa anda enggak??), biar pengertian dan penalaran dari apa yang saya suguhkan di KAMUS SINGKAT ini gak baku adanya. Terimakasih

SURABAYA GRIND FAST



Damage Inc. noisely present :
SURABAYA GRIND FAST
Sabtu, 17 nov 2012 @ Atalaya Coffee Surabaya
HTM Rp 5.000 / Start at 17.00 - 21.00 WIB

menampilkan :
- THE RIOT
- THE SINNERS
- HELLCORE (mlg)
- GAS
- DEPO SAMPAH
- HUMANURE
- MANKIND
- DSM
- SATARA
- MADMAN
- GOATROT
- RECYCLE ATTACK
- DESTRITIVOR

T-shirt Event 80K (pre-order now)
more info & order merch : 085648953069 / 321790E2

THE PARTY HAS BEGIN, LET'S JOIN WITH US!!!
- IN GRIND WE TRUST-

BROTHER OF METAL, Saudara Metal, Gak Cuma Metal




PASAR MINGGU METAL CORPSE
Proudly Present

"BROTHER OF METAL"
3 November 2012 At Lumbung Padi, Jakarta Selatan
(Saudara metal bukan hanya metal)

With Perform by :

- UFO
- LUCRETIA
- NODA HITAM
- DISPATER
- SICKEN ABROGATION
- VENEZIA OF BLOOD
- EMBRYONIC CADAVER
- VAGINA DENTATA
- NIGHT CRAWLER (Probolinggo)
- BLASTING GORE
- DANCE HANGOVER
- BLAST ATTACK
- DISCO CHICKEN TIME
- BRANCH
- JUNKIES GOBLIN
- PLAY YOUR PLAN
- WAY TO ETERNITY
- SWEET LIFE OF PROBLEMA
- TIGER WALL STRAIGHT
- DIMENSIA

Need More Band..!!! (All genre)
Kolektif 150rb + share 5 (share 7rb)

Supported by :
- Fasol Studio & Recording
- Solusi
- Mugedek
- DuniaIndie
- Xtreme Zine
- Acara Jakarta


For info :
- 081382460319
- 08566666339 / 28D7BFCC

Gak cuma metal yang bisa main disini.
Respect for all..!!

TENTANG ANARKA FEMINISME


Meski perlawanan terhadap negara dan semua bentuk kekuasaan telah cukup banyak dibicarakan di antara kaum feminis di awal abad 19, gerakan feminis yang lebih baru dimulai tahun 1960-an dan berdiri berdasarkan praktek anarkis. Dari sinilah muncul term anarka feminisme, berhubungan dengan anarkis perempuan yang bertindak dalam gerakan anarkis dan feminis yang besar untuk mengingat prinsip mereka.

Anarkisme dan feminisme selalu memiliki kaitan yang dekat. Banyak feminis terkenal yang juga anarkis, termasuk pelopornya Mary Wollstonecraft (pengarang A Vindication of The Rights of Woman), komunat Louise Michel, Voltairene de Cleyre, dan pejuang kebebasan perempuan yang tak kenal lelah Emma Goldman (lihat esay yang terkenal “The Traffic In Women”, “Woman Suffrage”, “The Tragedy of Woman’s Emancipation”, “Marriage and Love”, dan “Victims of Morality”, sebagai contoh). Freedom, koran anarkis tertua di dunia, didirikan oleh Charlotte Wilson tahun 1886. Sebagai tambahan, semua pemikir anarkis utama (seperti Proudhon) merupakan pendukung kesetaraan wanita. Gerakan “free women” di Spanyol selama revolusi Spanyol adalah contoh klasik dati anarkis perempuan yang mengorganisir dirinya melawan kebebasan dasar mereka dan menciptakan masyarakat berdasarkan kebebasan dan kesetaraan wanita (lihat Free Women of Spain karya Martha Ackelsberg, untuk keterangan lebih lanjut mengenai organisasi penting ini).

Anarkisme dan feminisme memiliki banyak perhatian dan sejarah yang sama mengenai kebebasan individu, kesetaraan dan derajat bagi anggota berjenis kelamin wanita (meski, seperti yang akan kita jelaskan di bawah dengan lebih mendalam, kaum anarkis selalu sangat kritis terhadap aliran utama liberal feminisme karena mereka tidak terlalu kritikan mereka tidak terlalu mendalam). Karena itu, tidak terlalu mengejutkan ketika gelombang feminisme di tahun 1960-an menyatakan dirinya dalam cara anarkis dan mendapat banyak inspirasi dari figur anarkis seperti Emma Goldman. Cathy Levine menunjukkan bahwa, selama waktu tersebut, “kelompok wanita independen mulai bergerak tanpa struktur, pemimpin, dan semua pembantu umum pria yang ada, menciptakan, secara independen dan terus menerus, orgnisasi-organisasi yang sama dengan kaum anarkis di beberapa dekade dan wilayah. Bukan suatu kebetulan.” (dikutip oleh Clifford Harper, Anarchi : A Graphic Guide, hal 182)

Hal ini bukan kebetulan karena, seperti yang dituliskan oleh tokoh feminis, wanita merupakan korban pertama dari masyarakat hierarkis yang diawali dari munculnya patriarki dan ideologi dominasi selama akhir era neolitik. Marilyn French berpendapat (dalam Beyond Power) bahwa stratifikasi sosial utama yang pertama dalam umat manusia terjadi ketika pria mulai mendominasi wanita, dengan wanita yang menjadi kelas sosial “lebih rendah” dan “inferior”.

Peggy Kornegger memberikan perhatian pada hubungan yang kuat anatar feminisme dan anarkisme, baik secara teori maupun praktek. “Perspektif feminis radikal hampir sepenuhnya anarkisme,” tulisnya. “Teori dasar mempostulasikan keluarga inti sebagai dasar dari semua sistem otoriter. Seorang anak belajar, “dari ayahnya, kemudian kepada guru, kepada majikan, kepada Tuhan, untukmematuhi suara anonim otoritas yang besar. Beranjak dari masa anak-anak menuju kedewasaan adalah menjadi mesin yang telah jadi, tidak memiliki kemampuan bertanya dan berpikir dengan jelas.” (ibid.) begitu juga pendapat Zero Collective bahwa anarka feminisme muncul karena adanya pengakuan anarkisme feminisme dan mengembangkannya dengan sadar.”(The Raven, no. 21, hal 5) Anarka feminis menunjukkan bahwa sifat dan nilai otoriter, sebagai contoh, dominasi, eksploitasi, keagresifan, persaingan, ketidakpekaan, dan lain-lain, dihargai dengan tinggi dalam peradaban hierarkis dan secara tradisional dihubungkan sebagai “maskulin”. Sebaliknya, nilai dan sikap otoriter seperti kerjasama, berbagi, perasaan terharu, sensitifitas, kehangatan, dan lain-lain, secara tradisional dikenal sebagai “feminim” dan tidak berharga. Tokoh-tokoh feminis telah menelusuri fenomena ini dari masa lalu menuju masyarakat patriarkis selama abad perunggu dan penaklukkan mereka terhadap masyarakat “organis” yang didasarkan pada kerjasama di mana nilai dan sifat “feminim” dihargai dan merupakan hal yang umum. Namun, setelah penaklukan ini nilai-nilai seperti itu dianggap “inferior”, khususnya bagi pria, karena pria menguasai dominasi dan eksploitasi di bawah patriarki. (lihat contohnya Riane Eisler, The Chalice and The Blade; Elise Boulding, The Underside of History). Karena itu anarka feminis menghubungkan penciptaan masyarakat anarkis non otoriter yang di dasrkan pada kerjasama, berbagi, saling membantu dan lain-lain, sebagai “feminisasi msyarakat.”

Anarka feminis telah mencatat bahwa “mem-feminis-kan” masyarakat tak dapat terjadi tanpa pengelolaan sendiri dan desentralisasi. Hal ini karena nilai-nilai dan tradisi patriarkis otoriter yang ingin mereka hancurkan terwujud dan direproduksi dalam hierarki. Jadi, feminisme menunjukkan desentralisasi, yang pada gilirannya menunjukkan pengelolaan sendiri. Banyk kum feminis yang mengakui hal ini, seperti yang terefleksi dalam eksperimen mereka dengan bentuk-bentuk kolektif organisasi feminis yang mengeliminir struktur hierarkis dan bentuk kompetitif pembuatan keputusan. Beberepa feminis bahka berpendapat bahwa pengaturan-pengaturan demokrasi langsung merupakan bentuk politis feminis secara khusus (lihat contohnya, Nancy Hartsock “Feminist Theory and the Development of Revolutionary Strategt,” dalam Zeila Eisenstein, ed., Capitalist Patriarchy and the Case for Socialist Feminism, hal. 56-57). Seperti halnya semua kaum anarkis, anarka feminis mengakui bahwa pembebasan diri merupakan kunci kesetaraan perempuan dan juga, kebebasan. Sehingga Emma Goldman berpendapat:

“Perkembangan kaum perempuan, kebebasan, kemandiriannya, harus datang darin dan melalui dirinya sendiri. Pertama, dengan menampilkan diri sebagai personal, dan bukan sebagai komoditas seks. Kedua, dengan menolak hak seseorang di atas orang lain; dengan menolak melahirkan anak, jika ia menginginkannya, denagn menolak menjadi pelayan bagi Tuhan, negara, masyarakat, suami, keluarga, dan lain-lain, denagn membuaty hidupnya menajdi lebih sederhana, namun mendalam dan lebih kaya, Yaitu, dengan mempelajari makna dan substansi kehidupan dalam semua kompleksitasnya; dengan membebaskan dirinya dari ketakutan terhadap opini dan penghukuman publik.” (Anarchism and Other Essays, hal. 211)

Anarka feminisme mencoba menjaga feminisme dari pengaruh dan dominasi ideologi otoriter, baik kiri maupun kanan.Kelompok ini mengusulkan aksi langsung dan pertolongan terhadap diri sendiri daripada kampanye reformis massal yang didukung oleh gerakan feminis “resmi”, dengan ciptaanya terhadap organisasi hierarkis dan sentralis serta ilusi bahwa dengan memiliki majikan, politisi dan tentara perempuan akan membawa mereka menuju “kesetaraan”. Anarka feminis menunjukkan bahwa yang disebut “pengelolaan ilmu” yangharus dipelajari wanita untuk menjadi palung-palung dalam perusahaan-perusahaan kapitalis yang secara esensial merupakan seperangkat teknik untuk mengendalikan dan mengeksploitasi pekerja upahan dalam hierarki korporat, sedangkan “feminisasi” masyarakat membutuhkan eliminasi perbudakan upahan kapitalis dan dominasi pengelolaan semua bidang. Anarka feminis sadar bahwa mempelajari bagaimana menjadi eksploitator atau penindas yang efektif bukanlah bagian dari kesetaraan (seperti seorang anggota Mujures Libres mengatakan, “(k)ami tidak ingin menggantikan hierarki maskulin dengan hierarki feminin.” [dikutip oleh Martha A. Ackelsberg, Free Women of Spain, hal. 2]-- lihat juga bagian B.1.4 untuk pembahasan lebih lanjut menegani patriarki dan hierarki).

Karena itu perselisihan tradisional anarkisme dengan liberal/trend feminisme, meski mendukung kesetaraan dan pembebasan perempuan. Federica Montseny (figur pemimpin dalam gerakan kaum anarkis Spanyol) berpendapat bahwa feminisme berpendapat bahwa feminsme semacam itu membela persamaan bagi perempuan, namun tidak melawan institusi yang ada. Ia berpendapat bahwa (aliran) feminisme “hanya berambisi memberi kaum perempuan dari kelas tertentu suatu kesempatan untuk ikut serta berpartisipasi secara penuh dalam sistem yang ada yang memberi hak istimewa.” (dikutip oleh Martha A. Ackelsberg, Op.Cit., hal. 90-91, hal. 91)

Jadi, dalam gerakan kaum anarkis yag bersejarah, seperti yang catatan Martha Ackelsberg, liberal/trend feminisme dianggap sebagai “terfokus terlalu dalam pada strategi untuk emansipasi perempuan; perjuangan seksual tidak dapat dipisahkan dari perjuanagn kelas atau dari tugas kaum anarkis sebagai suatu keseluruhan.”(Op.Cit., hal. 91) Anarka feminisme meneruskan tradisi ini dengan berpendapat bahwa semua bentuk hierarki adalah salah, bukan hanya patriarki, dan bahwa feminisme berkonflik dengan cita-citanya sendiri jika sungguh-sungguh ingin membuat kaum perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan kaum pria untuk menjadi majikan.

Karena itu, kaum anarka feminis, seperti halnya semua kaum feminis lainnya melawan semua bentuk kapitalisme karena mengingkari kebebasan. Pemikiran bahwa sebuah kapitalisme yang “memiliki kesempatan sama” akan membebaskan perempuan mengabaikan kenyataan bahwa dalam sistem apapun yang semacam itu masih akan terdapat perempuan kelas pekerja yang ditindas oleh majikannya (baik pria maupun perempuan). Bagi kaum anarka feminis, perjuangan bagi kebebasan perempuan tak dapat begitu saja dilepaskan dari perjuangan melawan hierarki. Seperti pernyataan Susan Brown:

“Anarkis feminisme, sebagai suatu pernyataan dari sensibilitas kaum anarkis yang diaplikasikan ke dalam fokus kaum feminis, menempatkan individu sebagai titik awal berlawanan dengan hubungan dominasi dan subordinasi, berpendapat: bagi bentuk-bentuk ekonomis instrumental yang mencegah kebebasan eksistensial individu, baik bagi pria maupun perempuan.” (The Politics of Individualism, hal. 144)

Kaum anarka-feminis telah banyak memberikan kontribusi pada pemahaman kita mengenai asal krisis ekologis dalam nilai-nilai otoriter peradaban hierarkis. Contohnya, sejumlah tokoh feminis berpendapat bahwa dominasi terhadap alam terkait dengan dominasi terhadap perempuan, yang diidentifikasikan dengan alam sepanjang sejarah (liihat, sebagai contoh, Carline Merchant, The Death of Nature, 1980) Baik perempuan merupakan korban dari obsesi dengan kendali yang mencirikan personalitas otoriter. Karena alasan inilah, jumlah kaum radikal ekologi dan feminis yang semakin bertambah menunjukkan pengakuan bahwa hierarki harus dibongkar untuk mencapai tujuan akhir mereka.

Sebagai tambahan,anarka feminisme mengingatkan kita akan pentingnya memperlakukan perempuan setara dengan pria sementara, di saat yang saam, menghargai perbedaan pria dengan perempuan. Dengan kata lain, mengakui dan menghargai perbedaan di dalam perempuan seperti halnya pria. Terlalu sering kaum anarkis pria yang berpendapat bahwa, karena mereka (secara teori) melawan seksisme, dalam prakteknya mereka tidak bersikap sexist. Asumsi semacam itu salah,. Anarka feminisme mempertanyakan konsistensi antara teori dan praktek di hadapan sosial aktivisme dan mengingatkan kita semua bahwa kita harus berjuang bukan hanya untuk paksaan eksternal, namun juga yang internal.

JUST FOR FUN (Tanpa Sponsor Lebih Keren)


LM kolektif present :
"JUST FOR FUN"
At otak studio pandaan (jawa timur)
senin, 7 oktober 2012
start 14.00 - 19.00

support band :
BOMBARDIR
SECERCAH HARAPAN
STREET FIGHTER
KM47
SALAH JALUR
BUNGKAMXMULUT
REALBASTARD
JASMINE ALASKAKI
K.M.F
SUPARDI AND THE KIMCIL
YOUNG xENERGIC
ANTI SYSTEM
KNUCKLE HIT
BROKEN STYLE
AURA BINAL
NOT PERFECT
VICTORY VOICE
THE SUCKNOW
NOT BOOMB
SKARATS

PENDIDIKAN SEKS ITU BUKAN HANYA MILIK SEKOLAH MAHAL



Publikasi hasil penelitian Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2010 pada acara Grand Final Kontes Rap (Minggu, 28 November 2010) mengagetkan semua pihak, khususnya dunia pendidikan. Laporan BKKBN menyatakan bahwa 51% remaja di Jabodetabek telah berhubungan seks pranikah. Bahkan, remaja di kota-kota besar pun telah melakukan hal yang sama. Tercatat, 54% remaja di Surabaya, 47% remaja di Bandung, dan 52% remaja di Medan tidak perawan lagi alias telah melakukan seks pranikah. Dan remaja adalah generasi seusia anak sekolah. Berita itu sungguh terasa sangat menyayat perasaan kita.
Mereka – para remaja – adalah generasi penerus dan terwaris bangsa ini. Jika remaja sudah terjerumus ke dunia seks bebas, kita harus bersiap menghadapi kenyataan pahit. Sebuah kondisi yang teramat memilukan karena moral generasi itu telah terdegradasi. Lalu, bagaimanakah kita menyikapi keadaan itu? Haruskah kita berkesimpulan bahwa itu hanya peristiwa biasa sebagai dampak kemajuan teknologi? Sebagai orang bijak dan orang tua yang bijaksana, tentu kondisi ini harus menjadi pelajaran berharga.
Menyikapi hasil penelitian itu, hendaknya kita tidak meletakkan semua kesalahan itu kepada remaja semata. Hendaknya kita tidak mem-vonis bahwa semua remaja tak bermoral. Semua pihak harus berintrospeksi, terlebih bagi seorang pendidik dan dunia pendidikan. Ya, dunia pendidikan harus bertanggung jawab dengan kondisi ini. Mengapa dunia pendidikan harus menanggung kesalahan ini?
Selama ini, dunia pendidikan hanya meletakkan tujuan kognitif kepada siswanya. Sekolah hanya bertujuan untuk meluluskan siswanya melalui beragam kegiatan akademik. Para guru hanya membentuk intelegensi dan kecakapan hidup. Dan dunia pendidikan belum memberi pendidikan akhlak yang cukup kepada siswanya. Ini dapat terlihat dari komposisi kegiatan di sekolah. Sangat jarang sekolah member pelajaran tambahan budi pekerti. Maka, kita pun tidak begitu terkejut ketika peristiwa ini terjadi?
Kasus asusila yang terjadi di sebuah sekolah negeri di kota bengawan dapat menjadi cermin dari bobroknya dunia pendidikan. Sepasang siswa tepergok berbuat mesum di sekolah (Solopos, 23 November 2010). Peristiwa itu merupakan bukti nyata bahwa pendidikan kita telah menuju ke arah yang salah. Pendidikan kita telah mengesampingkan pendidikan karakter. Lalu, akankah kita membela diri dengan berdalih bahwa itu merupakan peristiwa biasa?
Integralisasi Pendidikan Seks
Seks itu bersifat instingtif atau naluri. Seks didorong oleh libido atau keinginan kuat untuk menyalurkan hasrat. Jadi, hasrat seks merupakan pemberian Tuhan sebagai wujud karunia terindah jika digunakan secara benar. Jadi, perlukah pendidikan seks dibuat secara eksklusif? Menurut penulis, itu tidak diperlukan.
Pendidikan seks tidak perlu disusun secara terpisah sebagai mata pelajaran baru. Pendidikan seks hanya perlu disusun secara integral dengan mata pelajaran lain. Dan ini memerlukan kecakapan guru untuk mewujudkannya. Ya, guru harus berkemampuan untuk mewujudkan pendidikan seks secara terintegral agar para siswanya menjadi pribadi bermoral.
Cukup banyak mata pelajaran yang dapat digunakan sebagai media pendidikan seks. Hampir semua mata pelajaran dapat digunakan untuk mengintegralkan pendidikan seks. Sebagai contoh, pendidikan agama dapat menggunakan materi seks ketika mengajarkan akhlak mulia. Pendidikan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dapat menggunakan materi seks melalui bacaan dan media pembelajaran. Pendidikan biologi dapat menggunakan materi seks dalam materi alat-alat reproduksi dan jenis penyakit kelamin. Jika para guru kreatif, semua mata pelajaran dapat digunakan untuk menyampaikan materi seks.
Ketika mengajarkan materi seks, hendaknya guru hanya menerangkan materi seks secara implisit atau tersirat. Guru cukup memberi gambaran sekilas akan akibat buruk dari perilaku seks bebas. Jadi, guru tidak perlu menerangkan seks secara detail. Hendaknya guru tidak menerangkan seks secara vulgar. Jangan sampai materi pendidikan seks berubah menjadi materi pendidikan bermain seks. Untuk mewujudkan itu, dituntut keprofesionalan guru.
Guru perlu menyampaikan materi seks secara deskriptif-komparatif. Siswa cukup diberi gambaran dampak dari seks bebas. Jika diperlukan, media pun dapat digunakan sebagai pembanding informasi. Berita-berita tentang penyakit kelamin dan aborsi dapat digunakan sebagai bahan bandingan. Untuk memudahkan penangkapan materi, sesekali guru perlu memberikan visualisasi jenis penyakit, kunjungan ke rumah sakit, dan mendatangkan ilmuwan (dokter spesialis kelamin). Jika semua langkah itu telah dilakukan, siswa pasti mempunyai pemahaman yang benar tentang seks. Pemahaman yang tidak diperoleh melalui tayangan televisi dan internet. Namun, pemahaman seks yang benar karena diperoleh dari para pakar. Dan itulah tujuan pendidikan seks yang sebenarnya.

Penulis:
Johan Wahyudi

Dikenal sebagai penulis buku, penyunting, reviewer buku, peneliti (PTK), dan motivator. Pada Ultah ke-40, 62 buku dan 12 PTK telah dihasilkan. Mengelola FB Grup Nulis Buku Mania dan blog pribadi: http://johanwahyudi.info/. CP: 08562517895 atau email jwah1972@gmail.com,

tulisan ini diposting di:http://www.kompasiana.com pada 21 Juni 2011
Judul Aseli: Pendidikan Seks di Sekolah, Pentingkah?

ROSA LUXEMBURGO, SI BUNGSU YANG REVOLUSIONER


Rosa Luxemburg lahir pada 5 Maret 1871 sebagai putri bungsu sebuah keluarga Yahudi di Zamość, Polandia-Rusia. Keluarganya pindah ke Warsawa ketika dia berumur dua tahun. Di kota inilah dia memperoleh pendidikan dan akhirnya terjun ke politik sosialis revolusioner ketika masih seorang siswi sekolah menengah. Gabungnya Luxemburg dengan Partai Proletariat dengan segera membuat polisi Tsar gusar dan pada 1889 dia terpaksa keluar Polandia. Sebagian karena menghindari kejaran intel Tsar, sebagian demi melanjutkan pendidikan tingginya, Luxemburg pindah ke Swis yang saat itu merupakan negeri para pengungsi politik, terutama kaum sosialis dari Eropa Timur. Dia tinggal di Zürich dan mendaftar ke Universitas Zürich untuk belajar hukum dan ekonomi. Di sana dia bertemu dengan Leo Jogiches, kekasih dan kawan seperjuangannya di pergerakan sosialis Polandia. Keduanya sama-sama kecewa terhadap kecenderungan nasionalistik yang dominan dalam Partai Sosialis Polandia (PPS) dan bareng-bareng membentuk inti kecil kelompok oposisi di dalamnya. Kelompok oposisi ini kemudian pada 1893 memisahkan diri dan mendirikan Demokrasi Sosial Kerajaan Polandia dan Lithuania (SDKPiL).

Meskipun Luxemburg bergulat sungguh-sungguh demi sosialisme di wilayah Imperium Tsar untuk sepanjang hidupnya, namun di Jerman tempatnya menyelesaikan tesis doktor-lah dia nyata-nyata bergulat. Luxemburg merupakan perempuan pertama yang memperoleh doktorat dalam ilmu ekonomi dari Universitas Zürich. Sejak 1898 dia tinggal di Berlin. Secara kebetulan, tinggalnya Luxemburg di Berlin berbarengan dengan meningginya bibit-bibit perpecahan di tubuh Partai Sosial Demokrasi Jerman (SPD) yang terkait dengan 'perdebatan revisionis'. Dalam kondisi demikian, sumbangan-sumbangannya dalam perdebatan melambungkan kedudukannya di antara kaum sosialis sebagai wakil terkemuka sayap revolusioner. Luxemburg tidak hanya berhadap-hadapan dengan pengemuka revisionisme, Eduard Bernstein yang menghendaki 'revolusi dalam parlemen' sebagai jalan keluar menghadapi perubahan kapitalisme, tetapi juga bergiat menghantam kecenderungan 'revolusioner omong-doang' dari kubu Karl Kautsky yang menolak aksi-aksi revolusioner yang sungguh-sungguh. Luxemburg berdiri di saya paling radikal dengan mengajukan program aksi revolusioner yang berkecenderungan pada siasat 'pemogokan massa' sebagai senjatanya. Perdebatan dalam SPD memang membuahkan hasil tak sekadar lumayan secara intelektual, tetapi secara politik bikin frustrasi. Akhirnya Luxemburg menyadari bahwa dia terkucil tidak hanya dari kubu revisionis dan serikat buruh 'Kanan', tapi juga dari "Pusat Marxis" yang dinaungi Kautsky.

Pada 1914, Luxemburg benar-benar berada di titik oposisi paling ujung terhadap kecenderungan umum dalam politik SPD. Ia telah lama bertarung dengan mereka, tapi belum juga bisa menumbangkannya. Pada tahun ini fajar Perang Dunia I merekah. Baranya tidak hanya melumerkan SPD tapi juga meluluh-lantakkan Internasionale Kedua. Luxemburg yang mewakili SDKPiL dalam Biro Sosialis Internasional tersebut sejak 1904 memainkan peran penting dalam merumuskan sikap anti-perang dalam biro tersebut. Ketika perang meledak, Luxemburg menghadapi tanggung jawab mengorganisasi oposisi sosialis terhadap perang di lingkungan sosialis Jerman sekaligus menanggung bagian penting untuk membangun sebuah pergerakan internasional revolusioner baru. Ia menyeru para pekerja untuk tidak ikut perang yang tiada lain hasil persaingan antarkapitalis. Karena seruannya, Luxemburg dipenjara pemerintah. Meski selama perang berlangsung (1914-1918) dia menghabiskan sebagian besar waktunya di penjara, Luxemburg merupakan sumber utama kepemimpinan teoritis untuk oposisi sosialis baru dalam Serikat Spartakus, dan bersama-sama Karl Liebknecht, Clara Zetkins, dan Franz Mehring merumuskan garis-garis agitasi anti-perang serta membangun kerjasama dengan Partai Sosial Demokrasi Independen (USPD) ketika pada 1917 terjadi perpecahan dalam SPD. Luxemburg menentang kebijakan SPD yang wakil-wakilnya di parlemen menyetujui kucuran dana perang Jerman. Luxemburg pula yang membangun posisi yang dipegang Serikat Spartakus dalam pertemuan kaum Kiri Seluruh Eropa yang antiperang. Hal ini menghantarnya (lagi) ke dalam pertentangan dengan Lenin, si bos Bolsheviks.

Sebelumnya, ketika masih dalam penjara, Rosa Luxemburg menulis kritik pedas terhadap Revolusi Oktober Lenin di Rusia, terutama kecenderungan Bolsheviks menjadi partai elit yang menafsirkan 'diktatur proletar' sama dengan diktatur partai dan akhirnya sama dengan 'diktatur elit partai'. Bagi Luxemburg, kelakuan Bolsheviks yang segera memberangus kebebasan pers dan berserikat ketika menguasai Rusia, merupakan pertanda buruk bagi gerakan kaum pekerja seluruh dunia. Kaum pekerja dalam demokrasi sosialnya Lenin bakal menjadi budak dalam sistem diktatur elit partai yang mewujud dalam birokrasi kapitalisme negara. Kecenderungan ini sudah sejak 1903 dipahami Luxemburg yang melihat adanya benih-benih Blanquisme dalam teori-teori Lenin.

Pada akhir tahun 1918, Kekaisaran Jerman runtuh karena kalah perang. Di awal 1919, Serikat Spartakus yang mengubah nama menjadi Partai Komunis Jerman mencoba mengadakan revolusi di Berlin. Luxemburg sendiri menilai pilihan ini tidak tepat. Tetapi keadaan akhirnya mendesak para pelaku melakukan pemberontakan. Revolusi gagal dan anggota-anggota Serikat Spartakus diberangus hingga hangus. Pada 15 Januari, Luxemburg dan Liebknecht, dua pemimpin partai ditangkap segerombolan pasukan liar sayap kanan. Keduanya dipukuli sampai mati. Konon kepala Luxemburg rengat dihajar popor senjata. Jenazah keduanya lalu dibuang ke sungai. Meski tubuhnya dimakan ikan, tapi gagasan si bungsu yang revolusioner ini tetap hidup untuk mengingatkan arti penting massa dalam revolusi.

Karya-karya Pokok Rosa Luxemburg
  • Social Reform or Revolution/Reformasi Sosial atau Revolusi (1900)
  • Organizational Questins of Russian Social Democracy/Persoalan Keorganisasian Demokrasi Sosial Rusia (1904)
  • The Revolution in Russia/Revolusi di Rusia (1905)
  • The Mass Strike, the Political Party and the Trade Unions/Pemogokan Massa, Partai Politik dan Serikat Buruh (1906)
  • The Crisis of Social Democracy/Krisis Demokrasi Sosial (1918)
  • The Russian Revolution/Revolusi Rusia (1922)
  • The Accumulation of Capital/Akumulasi Kapital (1951)
  • Socialism and the Church/Sosialisme dan Gereja
Sumber: http://rumahkiri.net

SSSTTT!!! HARAP TENANG ... GERAKAN FEMINISME BUKANLAH HAL YANG MENAKUTKAN


Feminisme rasanya tidak asing lagi di telinga kita. Adalah gerakan yang diawali oleh persepsi tentang ketimpangan posisi keperempuanan. Kartini -pahlawan Indonesia-red- biasa menyebutnya dengan Emansipasi. Pada awalnya feminisme bangkit untuk membela para wanita dari ketertindasan serta menuntut penyerataan hak perempuan dan laki-laki dalam segala bidang.

Tapi kemudian Feminisme, yang semula lahir sebagai gerakan yang membela kaum wanita dalam meningkatkan harga diri wanita yang ingin dinilai sesuai dengan potensinya sebagai manusia tanpa harus memandang gender, kemudian mulai disalahartikan. Ingin menaikan harga diri tapi malah menjatuhkan (harga) diri sendiri.

Sedikit cerita, di Austria kesalahpahaman mengenai arti kata “Feminisme”, membuat bocah 14 tahun mau bertukar pasangan 3 kali dalam sehari. Ketika ditanya alasannya, kemudian ia menerangkan “Boys can do it, then why we can`t…saya merasa bangga bisa menaklukan 3 orang cowok dalam sehari. Dan diantara mereka tidak perlu ada yang tahu satu dengan lainnya. Itu kan yang biasa dilakukan pria, seenaknya berganti-ganti pasangan, kemudian menyakiti para gadis”.

Di belahan negara lainnya, seorang wanita menuntut persamaan toilet, karena wanita diyakini juga dapat (maaf) kencing berdiri seperti halnya pria. Saya juga pernah mendengar adanya gerakan “Feminisme bertelanjang dada” dan “gerakan pembakaran BH”.

Feminisme kemudian disalahartikan oleh kaum wanita itu sendiri. Banyak wanita yang menjadi korban salah kaprah ini. Ironis sekali, Feminisme yang terlahir sebagai cita-cita mulia para wanita pendahulu, kemudian berubah menjadi kemerosotan harga diri seorang wanita, yang lucunya - namun juga menyedihkan – si wanita itu sendiri tidak menyadarinya. Menyadari bahwa ia telah menjatuhkan harga dirinya.

Di Indonesia sendiri? Virginitas bagi wanita Indonesia(tidak semuanya), sekarang bukanlah suatu hal yang patut dipertahankan lagi. Saya pernah bertanya pada seorang teman -wanita juga-red- , apa yang menyebabkan wanita tak perlu lagi mempertahankan ke-virgin-annya, ia menjawab “Kalau pria saja bisa mengobral ke-virgin-annya(keperjakaan), mengapa kita harus menjaganya? Saat kita mulai menjalani hubungan itu(pacaran), kita gak pernah tau apakah dia masih(perjaka) atau gak. Lagian bukan suatu hal yang aneh lagi jika di zaman sekarang ini banyak cewek yang gak virgin lagi”. Benarkah jawaban atas semua itu adalah zaman semata?

Kerancuan anggapan mengenai “Feminisme” inilah yang perlu dibenahi.Anggapan yang kemudian menggeser tradisi dan budaya yang kita banggakan dengan budaya kiriman yang baru (Western).

Hal lain! Menurut pengamatan yang saya lakukan, rupanya di Indonesia, Bandung khususnya, rokok menjadi komoditas utama yang digemari wanita-wanita zaman sekarang, selain pakaian dan cemilan. Menurut sebagian diantaranya, rokok lebih bisa menenangkan pikiran, dibandingkan shopping&ngemil –ada sebagian wanita yang lari dari permasalahan dengan cara-cara ini-red.

Dan alasan lainnya, tentu saja “cowok juga ngerokok kok… kenapa kita-kita gak boleh??” Padahal tidak perlu di jelaskan lagi, semua yang saya jabarkan di atas (termasuk rokok), tak lain akan merugikan kaum wanita itu sendiri.

Sebodoh itukah wanita-wanita sekarang? “Feminisme”(radikal) telah menutup mata hati mereka untuk melihat kerugian yang mereka alami. Sebodoh itukah? Padahal banyak diantara mereka yang mengeyam pendidikan dan pengajaran.

Bukan saatnya kita berdebat apakah karena saking bodohnya mereka atau saking pintarnya. Saatnya sekarang wanita-wanita bangkit memperjuangkan Feminisme yang sebenarnya. Bagi wanita-wanita yang sudah telanjur pada kesalahan yang tidak ‘disengaja’ tadi, bangkitlah dari keterpurukan. Bagi wanita-wanita yang mampu melihat fenomena ini, bantulah untuk bangkit. Kita harus benar-benar bersatu.

O ya! Bagaimana kalau saya ajak anda-anda berpikir sebaliknya? Kalau selama ini wanita selalu saja dituntut untuk menjaga budaya ketimuran (yang semula dirasa menguntungkan kaum pria), hingga akhirnya muncul yang namanya “Feminisme”yang kemudian disalah-artikan, dan menyebabkan serba salah. Bagaimana kalau sekarang kita yang menuntut mereka-kaum pria-red- untuk tidak hanya menuntut keperawanan, tapi mereka juga harus menjaganya (keperjakaan) juga.

Kita sudah terlalu sering mengikuti mereka, bahkan membuat mereka menjadi satu acuan kesetaraan. Bagaimana kalau sekarang, mereka mengikuti kita? Harus dimengerti memang, kalau wanita perawan sekarang sangat jarang ditemui. Oleh karena itu pria sebaiknya tak usah mempermasalahkan Virginitas wanita(biarkan kaum wanita itu sendiri yang mempermasalahkan dan mencari solusi bagi dirinya). Pria sebaiknya lebih menghargai wanita, baik ia virgin (apalagi) atau tidak virgin (apa boleh buat). Toh selama ini wanita selalu menghargai pria tanpa memandang Virgin atau tidaknya.

Dan sekali lagi, jangan hanya menuntut wanita untuk menjaga kaidah-kaidah ketimuran. Pria juga wajib menjaga dong (pahala), sebagaimana kaidah-kaidah keagamaan. Selama ini wanita dituntut untuk lebih mengerti dan mau menjaga. Pria? Rasanya tidak ada tuntut yang seperti itu dalam hal ini.

Mengenai rokok? Katakan saja ”Ngertilah....hari gini gitu loh..(zaman sekarang). Kalian-pria-red- juga jangan ngerokok dong.. jangan cuma bisa ngelarang doang”. Kenapa saya katakan zaman sekarang? Zaman yang udah berubah mau gak mau harus kita terima sementara, sebelum kita benar-benar mengubahnya.

Bagaimana? Siap untuk merubahnya wanita-wanita? Memperjuangkan hak-hak wanita yang sebenarnya? Anda yang tahu jawabannya. Anda juga yang lebih tahu caranya.

Judul Aseli: Feminisme koq..salah kaprah?
Ditulis Oleh: Riski Rani Putri, Hj.
Diposting di: www.dudung.net pada 15 Juni 2008

MELAWAN SEKSISME ROCK DENGAN RIOT GRRRL


Pada pertengahan dekade 1990-an, ketika musik grunge dan perlawanan terhadap tatanan sosial yang bobrok di Amerika Serikat mulai menjangkiti anak muda, lahirlah sebuah gerakan yang ketika itu masih dianggap tabu, perempuan turun ke jalan. Aksi demonstrasi mulai marak dihiasi para kaum pengguna rok dan blus berenda. Beberapa perempuan pun mulai tergugah hatinya untuk berkarya dan bersuara. Gerakan mereka diawali dengan sebuah gerakan punk-rock feminis yang menamai diri mereka “Riot Grrrl” yang kemudian menggejala di beberapa bagian Amerika Serikat. Banyak kemudian perempuan yang bergabung karena mereka mulai terketuk hatinya untuk berani bersuara.

Gerakan ini merupakan materialisasi dari semangat zaman. Musisi grunge adalah yang memulai mengupas habis permasalahan sosial dalam karya mereka. Perempuan yang hidup pada masa itu, tidak bisa untuk tidak ikut bersuara. Mereka memulai gerakan “Riot Grrrl” dengan memusatkan perhatian kepada beberapa masalah yang menghancurkan kehidupan perempuan seperti pemerkosaan, seks bebas dengan unsur pemaksaan, kekerasan dalam rumah tangga, perbudakan perempuan, rasisme, dan patriarki secara umum. Mereka begitu geram dan mulai menyuarakan isu tersebut lewat musik. Dan dalam musik yang sarat pembangkangan, sebagian dari perempuan ini memilih punk-rock sebagai idealisme pengantar pesan mereka. Diinspirasi oleh beberapa tokoh yang sebelumnya sudah tampil dengan semangat feminisme, seperti Joan Jett, Kim Gordon, Patti Smith, barisan perempuan muda ini mulai tampil ke depan.

Musik, Zine, D.I.Y a la Perempuan
Sarana politik dan sosial yang ada memungkinkan para perempuan itu tidak hanya hidup dalam satu konstruksi hidup belaka. Selain musik, nyatanya para feminis punk-rock mulai merambah ke hal-hal lain yang secara tradisional dilakukan oleh kaum pria. Feminisme gerakan ini termaktub dalam sebuah pemikiran yang saya kutip dari situs “Riot Grrrl” dengan bunyinya seperti ini:

“KARENA kami perempuan ingin membuat media yang berbicara pada Amerika. Kami lelah dengan band pria yang itu-itu saja, zine yang digerakkan oleh pria-pria punk yang itu-itu saja. KARENA kami perlu berbicara satu sama lain. Komunikasi dan inklusi adalah kuncinya. Kami tak akan pernah tahu jika tidak melawan kunci-kunci keheningan itu. KARENA dalam setiap media, kami melihat sosok kami sendiri ditampar, dipenggal, ditertawakan, dijadikan objek seksual, diperkosa, disepelekan, ditekan, diabaikan, dijadikan stereotip, ditendang, dihina, dianiaya, dibungkam, ditikam, ditembak, tersedak, dan dibunuh. KARENA ruang yang aman perlu dibuat untuk kami para perempuan di mana kami dapat membuka mata dan menjangkau satu sama lain tanpa terancam oleh masyarakat yang seksis dan hari-hari kami yang omong kosong.”

Pada awal dekade 1990-an, feminis yang bergerak di musik underground, mulai membuat infrastruktur D.I.Y untuk para perempuan itu sendiri. Pergerakan punk-rock mereka, mulai ditandai dengan menyebarnya seni kolase, selebaran, dan fotokopian yang memang lumrah dalam gerakan punk, untuk mengaktifkan musik bawah tanah, politik di jalur kiri dan juga sub-kultur alternatif. Pada awalnya memang hanya di musik saja, namun mereka kemudian lebih jauh lagi mulai menyuarakan hak-hak dan keinginan yang terbengkalai oleh mayoritas masyarakat yang seksis. Para feminis ini menuntut bahwa semua harus seiring, di mana mereka harus diikutsertakan dan diberi ruang. Tidak hanya dalam musik, melainkan dalam tatanan kehidupan yang lain.

Dari semua gerakan kecil inilah asal-usul “riot grrrl” tercipta. Anggota band Bratmobile saat itu, memulai bersuara dengan menulis surat kecaman atas kekerasan terhadap perempuan. Surat yang ditulis oleh anggota Bratmobile Allison Wolfe inilah yang nantinya memulai sebuah fanzine bernama “Riot Grrrl” yang didirikan bersama Kathleen Hanna dan Tobi Vail—salah satu anggota Bikini Kil.

Perempuan mulai memantapkan diri dalam berswadaya. Gerakan ini sendiri memungkinkan para perempuan untuk bisa tetap menikmati musik yang didominasi oleh kaum pria, tanpa harus takut mendapatkan pelecehan seksual di tempat umum. Dengan makin menguatnya gerakan ini, para perempuan akan mendapatkan ruang yang lebih leluasa untuk ikut dalam mosh-pit, misalnya. Sedangkan, pria mulai terbiasa untuk menyediakan ruang di sekitar para perempuan. Hal tersebut segera menjadi perdebatan terutama di halaman-halaman fanzine yang banyak beredar. Riot Grrrl sempat menjadi perdebatan sengit di sebuah scene, dan juga menuai kritik pedas.

“BECAUSE us girls crave records and books and fanzines that speak to US that WE feel included in and can understand in our own ways”

Dalam bermusik, para penggerak gerakan ini mulai menjauhi label besar dan mulai beralih ke D.I.Y dengan rekaman kaset seadanya. Selain D.I.Y dalam musik, zine juga makin populer di kalangan feminis. Berbagai isu perempuan yang dengan implikasi politik sperti seksisme, rasisme, pemerkosaan, diskriminasi, kekerasan domestik, homofobia, vegetarianisme dan anoreksia pada perempuan mulai dibahas lebih serius. Tidak hanya dalam produksi, distribusi zine juga digunakan oleh para perempuan untuk memperjuangkan hak politik mereka. Perempuan-perempuan turun ke jalan, dengan gerakan a la punk membagikan selebaran-selebaran. Ini memupuk kepercayaan diri perempuan dan memberi pemahaman bahwa “kita tak sendiri’. Segala urusan pribadi dan pelecehan-pelecahan, pada akhirnya bisa diceritakan, tanpa perlu merasa menjadi warga kelas dua.

Riot Grrrl mencoba merebut kembali frase-frase umum yang saat itu didominasi pria, ke dalam feminisme gelombang ketiga (pasca 1970-an dan 1980-an). Di dekade 1990-an inilah mulai menjamur musisi perempuan yang memutuskan untuk menjadi bagian Riot Grrrl, di antaranya Chainsaw by Donna Dresch, Sister Nobody, Jane Gets A Divorce dan I (heart) Amy Carter by Tammy Rae Carland. Ada juga semacam jambore, atau konvensi nasional bagi para Riot Grrrl, seperti di Washington D.C. atau festival Pussystock di New York. Sebuah film dokumenter indie pun sempat beredar dengan judul Don't Need You: the Herstory of Riot Grrrl.

Maka tak ada lagi “history” bagi Riot Grrrl. Karena semenjak konvensi nasional dan film dokumenter itu rampung, sudah terlahir “herstory”.

Riot Grrrl Fourth-wave di Indonesia?
Sebagai sebuah gerakan Riot Grrrl masih ada sampai sekarang, meski sudah tidak banyak gaungnya terutama di panggung musik. Selain Hole, yang masih mengeluarkan album terakhir—yang disinyalir dibuat bersama Billy Corgan Smashing Pumpkins—sudah jarang sekali musisi Riot Grrrl mengeluarkan karya barunya. Beberapa eksponen gerakan ini seperti Carrie Brownstein memang masih menulis musik baru--bersama band baru Wild Flag, namun bisa diperdebatkan apakah mereka masih membawa obor Riot Grrrrl.

Setelah gelombang feminisme third-wave di pertengahan 1990-an lalu, gelombang keempat dalam feminisme juga agaknya sedang dalam masa kebangkitan. Di tahun 2000-an sampai saat ini, mulai bermunculan aktivis-aktivis perempuan. Semua suara mulai disatukan. Beberapa LSM dengan penggerak perempuan pun lahir.

Gerakan feminisme inipun mulai merambah skena musik independen. Perempuan mulai menggawangi dan memimpin sebuah band. Yang paling terlihat justru dari skena "undergrunge", yang memang masuk akal mengingat gerakan riot grrrl berasal dari Seattle, dimana para penggeraknya sangat dekat sekali dengan scene grunge. Hal serupa terjadi juga di Indonesia. Cukup banyak pengikut riot grrrl, yang lebih banyak berkiblat pada Bikini Kill, L7, Hole dan Sonic Youth--pengaruh Kim Gordon terutama.

Sebut saja beberapa band yang digawangi oleh perempuan. Sebuah band bernama Mushafear yang digawangi oleh Mirantie Boreel, sempat jadi perbincangan di scene. Band dengan satu-satunya pionir perempuan yang kuat, menyuarakan beberapa tema sosial kemasyarakatan. Dengan tato penuh di badan, Mirantie bisa tetap apik menyuarakan pikirannya, dalam balutan rok terusan bahkan. Ini adalah sebuah fenomena yang awalnya tidak biasa terjadi di Indonesia. Dengan berkiblat lebih banyak kepada L7, Mushafear sempat masuk di tangga-tangga lagu independen. Akhirnya, dengan bergabung dengan Drexter Records, sebagai label mereka, satu album Mushafear resmi dirilis. Untuk ulasan ini, pernah saya tuliskan juga dalam Kompasiana dan ditulis ulang dalam situs resmi Mushafear di http://www.mushafear.com.

Ada juga Sonic Death dan Nymphea. Keduanya cukup membumi juga dalam scene. Sari Nymphea bahkan mendirikan clothing-line sendiri untuk berswadaya, bernama Devilini. Di samping ketiga band di atas, ada beberapa band yang juga ikut andil dalam scene grunge yang mulai bergelora mulai tahun 2000-an. Sebut saja Brokenhell (Jakarta), Madamoiselle (Bandung), Konsletting Effect (Mojokerto), dan band-band lainnya. Permainan distorsi musik a la grunge dan juga lirik-lirik sarat tema sosial menjadi daya tarik band dengan aroma riot grrrl tersebut. Saatnya perempuan bicara, saatnya perempuan didengarkan.

Tidak hanya dalam musik. Zine potong-tempel bernama QuovadisZine, sempat dibuat dengan metode fotokopian. Dengan menempel beberapa kolase dan karikatur yang dibuat secara swadaya, kami secara rutin mengedarkan zine itu di scene grunge Bandung ketika sedang diadakan acara-acara bawah tanah. Meski hanya berjalan sampai tiga edisi, karena keterbatasan dana operasional, QuovadisZine sudah meninggalkan jejak. Isinya tentu saja tidak jauh dari isu politik, sosial, dan ihwal yang menyangkut kepentingan kaum perempuan. Semua ini dilakukan karena kesadaran untuk meneruskan apa yang sudah dimulai oleh gerakan riot grrrl.

Pernah juga terbentuk sebuah wacana untuk menghadirkan sebuah situs dan webzine yang nantinya akan memuat semua pergerakan perempuan, khususnya di scene undergrunge. Wacana ini sempat dibentuk oleh Mirantie Boreel Mushafear, saya, dan Marasdika, salah seorang penggerak skena grunge di Solo. Kami memang perempuan, namun kami memiliki hak yang sama untuk ikut andil dalam pergerakan grunge. Namun, wacana hanya tinggal wacana. Karena keterbatasan dalam banyak hal, untuk saat ini kami hanya bisa bersuara dengan mencari tumpangan di media independen lainnya.

Meski tak melulu harus dikaitkan dengan riot grrrl, pergerakan perempuan yang militan pada awal tahun 2000 dan sesudahnya ini boleh jadi masih berkiblat pada gerakan dari Seattle itu. Sudah saatnya perempuan berbicara feminisme tanpa kerutan dahi dari laki-laki. Riot grrrl sudah membuka jalan kepada kami dengan menghapuskan pakem-pakem yang dianggap tabu dalam hidup perempuan.

Ini lebih baik, karena kadang masih miris melihat mereka yang berteriak atas nama feminisme, tapi masih berada di salon-salon, membuat kuku serapi putri, dan rambut digerai blonde. Ini menjadi kontradiktif dengan feminisme ala punk-rock. Entah, mungkin beberapa dari para feminis itu tergolong aktivis proyek. Bicara feminisme sekedar berhias semata. Jadi, lebih baik bagi feminisme untuk jalan di jalur semacam riot grrrl, daripada menjadi para priyayi atau istilah saat ini, hipster yang memaksa diri untuk berteriak atas nama feminisme.

Riot Grrrl masih disorot. Meski saat ini telah muncul banyak feminis yang berbeda generasi dan berbeda gelombang. Jalur punk-rock feminism yang memang liar dan kadangkala kotor, masih ada. Meski hanya bergerilya, riot grrrl sesungguhnya tetap bertahta. Atas nama perempuan, atas nama setara, berjuang melawan sexist society.

Penulis ==============================

Ayu Welirang
Ayu adalah gitaris band grunge Madamoiselle, bekerja pada perusahaan IT di Jakarta sambil berusaha menamatkan kuliahnya di jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik, FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta. Senang membaca buku sastra-kontemporer, novel kultural. Mencintai Kurt Cobain, Layne Staley, Eddie Vedder, barong Bali, dan wayang golek.
Tulisan diambil dari: http://www.jakartabeat.net

ARYAN 13, SEMUA TENTANG ZINE ...


Apa itu zine? here we go. ‘zine’ sebenarnya adalah kependekan dari ‘magazine’ atau majalah. Dibacanya ‘ziin’ bukan ‘zain’, dimana konteks dan isinya tidak terdapat dalam majalah mainstream, atau bahasannya berbeda dengan majalah lainnya. Zine sendiri cukup umum dibelahan dunia sana, dan sekarang sedang berkembang disini. Biasanya zine memiliki penyebaran yang tidak terlalu luas dan pada umumnya diterbitkan secara independen. Sirkulasi pendistribusian suatu zine biasanya tidak besar, non komersil, tidak professional dimana para pembuatnya memproduksi, mempublikasikan dan mendistribusikannya sendiri.

Kebanyakan zine pada umumnya non-profit, bahkan kebanyakan zine biasanya lebih banyak kehilangan uang dibandingkan hanya sekedar balik modal. Dapat dikatakan sebagai proyek merugi yang menyenangkan, tapi pada dasarnya pula suatu zine adalah suatu produk amatir. Dalam dunia profesional istilah ini agak bergeser namun ‘keamatiran’ ini diterjemahkan oleh Mike Gunderloy, editor fanzine “factsheet five’ sebagai produk cinta: cinta akan ekspresi, cinta untuk berbagi dan cinta akan komunikasi, dimana media lainnya biasanya diproduksi untuk mencari keuntungan finansial atau satu prestise dalam publik. Zine keluar sebagai satu ekspresi protes kepada budaya dan lingkungan sosial yang menawarkan sedikit cinta. Zine juga dirilis sebagai satu bentuk kemarahan. Zine juga merupakan alat yang cukup ampuh untuk menyuarakan pendapat seseorang. Sebuah representasi seseorang tentang dirinya, komunitasnya dan hal-hal lain yang terkait. Zine juga memiliki halaman yang hanya 10 atau 40 halaman hingga 100 halaman.

Perkembangan paling signifikan dunia zine dimulai pada tahun 1930 di Amerika, ketika fans dari fiksi ilmiah (science fiction) melalui klub-klub yang mereka bentuk membuat suatu fanzine. Mereka memproduksi fanzine ini, mengisinya dengan cerita-cerita fiksi ilmiah dan komentar-komentar kritis dan tentunya berkomunikasi dengan dengan fans lainnya. Sekitar 40 tahun kemudian pada pertengahan tahun 70-an, pengaruh cukup signifikan juga datang dari fans punk rock. Pada saat itu media mainstream sama sekali mengacuhkan punk rock dan kemudian fans punk rock memilih untuk memproduksi sendiri zine tentang budaya dan komunitas mereka.

Salah satu zine yang krusial pada masa itu adalah Factsheet Five. Zine ini lebih merupakan zine info tentang zine lain, isinya mulai dari budaya, musik sampai politik. Sistem manajemen dan sirkulasi distribusi yang baik membuat zine ini dijadikan sumber informasi bagi orang-orang yang ingin mencari bacaan alternatif diluar media mainstream.

Maximum Rock n’ Roll atai MRR merupakan zine punk tertua di dunia. Setiap bulan zine ini memberikan info zine hardcore mancanegara dan manca budaya. Tim Yohannon, biasa dipanggil Tim Yo, mengkordinasikan hampir lebih 70 kontributor dan volunteer yang disebut ‘the shitworkers’. Malahan pada edisi Juli 1994 MRR memiliki 95 shitworkers yang bahu membahu secara kolektif untuk menghasilkan sebuah majalah punk dengan politik yang baik. Banyak kritikan yang ditujukan kepada MRR karena durasi eksistensinya yang lama. MRR sempat dituding sebagai ‘punk law’ atau ‘punk police’ karena opini yang dibuat MRR kemudian menjadi opini umum dalam komunitas. MRR disamakan dengan mainstream karena oplah dan pendistribusiannya yang cukup luas dan besar. MRR sebenarnya berawal dari sebuah acara underground di radio kemudian berkembang menjadi zine. Lewat tabungan yang mereka hasilkan, MRR kemudian mampu membuka epicenter sebuah space komunitas punk yang bernama Gilman Project, sebuah punk squad yang dirubah menjadi klub punk dan penerbitan yang bernama Pressure Drop Press. Pada tahun 1998 Rim Yo meninggal karena sakit, namun MRR tetap berjalan dengan zine kordinator yang berganti-ganti. Hal ini menunjukan bahwa sebuah zine sebenarnya mampu menjadi media komunikasi suatu komunitas (bahkan dengan komunitas lainnya). Zine juga mampu membuat jaringan hanya dengan inisiatif dan kordinasi yang baik hingga menjadi kuat dan terorganisir tanpa hirarki.

Di Indonesia sendiri, zine sedang berkembang dan dimotori oleh komunitas yang dapat dibilang bergerak secara underground (tidak disamakan dengan rock underground) dan juga yang paling menonjol sekarang adalah komunitas fans game dan japan animation/manga (umumnya berformat tabloid). Sebenarnya bentuk komunikasi tertulis ini sudah ada sebelumnya, hanya tidak terlalu signifikan berbentuk zine dan lebih banyak berupa news letter seperti news letter sastra, seni rupa, music underground dan agama. Namun memang jangkauannya hanya terbatas pada komunitasnya saja. Ada beberapa zine local seperti Mindblast, Brainwashed dan Revogram yang memfokuskan diri pada musik underground multi genre, The Beat tentang info dan acara di Bali, Ripple dengan hedonismenya, Sophia lewat pembahasan filosofinya, Kopi Pahit dengan wacana seni rupa, Terompet Rakyat dengan komik dan politik kiri dsb. Zine-zine tersebut memang tidak seluruhnya merupakan zine underground seperti yang biasanya (seperti membahas music death metal, punk dll), tetapi masih dapat dikategorikan sebagai zine independen, underground in a way.

Pendistribusian zine-zine lokal sangat bergantung pada komunitasnya. Seperti zine underground yang didistribusikan lewat distro atau mail order, zine game pada counter game rental, atau toko buku non-profit seperti pasar buku. Namun karena zine ini sangat terbatas maka pendistribusiannya tidak dapat mencakup semua wilayah di Indonesia. Di Indonesia sendiri tidak terbiasa dengan mengungkapkan opini sejak dini hingga perkembangan zine sebenarnya terlambat dibandingkan dengan negara di kawasan Asia lainnya. Malyasia dan Singapura memiliki zine-zine underground yang berkualitas dan kadang diproduksi oleh anak usia antara 12-17 tahun. Tentunya akan menjadi lebih menyenangkan melihat anak SMP-SMA membuat zine yang berisi hal-hal yang mereka sukai. Hal tersebut dapat membantu perkembangan kreativitas, apalagi pembuatan zine terbilang mudah. Dari yang hanya tulisan tangan sampai menggunakan layout komputer.

Pada akhirnya zine dengan segala keterbatasannya dan bahkan dengan segala kontradiksinya menawarkan sesuatu yang sangat penting bagi orang yang membuat dan menikmatinya, yakni sebuah tujuan. Dalam bayangan budaya dominan, zine dan budaya underground telah menemukan sebuah lahan bebas; sebuah lahan yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan imajinasi dan eksperimen dengan pemikiran-pemikiran yang lebih baru dan ideal, serta komunikatif. Ideal-ideal underground seperti otensitas dan kehidupan non instrumental menawarkan sebuah tantangan yang berbeda terhadap lingkungan modern. Zine merupakan harapan yang yang memungkinkan pembuat dan pembacanya untuk bergerak, tidak statis dan tiap partisipasi dalam suatu zine adalah menyenangkan. Mungkin terlalu berlebihan untuk dapat merubah dunia, tapi untuk mencoba akan selalu menyenangkan.

Ada beberapa kategori dan klasifikasi zine, dari mulai tema atau isu yang diangkat oleh suatu zine :
  • Fanzine, merupakan bentuk zine yang paling besar dan paling tua, dan banyak pula yang mengatakan bahwa suatu zine adalah fanzine. Fanzine adalah media yang merepresentasikan ketertarikan suatu komunitas terhadap suatu genre budaya. Ada beberapa sub kategori yang terdapat pada fanzine. Fiksi ilmiah dimulai pada tahun 1930-an, publikasi dari dan untuk penggemat fiksi ilmiah dan merupakan zine pertama. Walau sekarang jumlahnya sedikit namun eksistensinya merupakan yang paling solid dalam dunia zine.
  • Musik, biasanya lebih fokus pada suatu band, individu musisi atau suatu genre tertentu. Kebanyakan zine ini adalah zine punk arau alternative. Zine ini jenis yang paling besar di dunia.
  • Olah raga, tidak terlalu populer kecuali di Inggris dimana sepakbola merupakan kegemaran yang umum sehingga banyak zine tentang sepakbola dan tim favorit. Di Amerika zine olah raga yang umum adalah baseball, surfing, skateboard dan gulat bebas.
  • Televisi dan film, memfokuskan diri pada entertainment yang popular maupun tidak.
  • Game, populer pada era 90-an, sejak game dari Nintendo atau Sony merajai dunia video game. Biasanya terdapat review mengenai game baru dan tips permainan.
  • Zine politik, kategori yang ada pada pada zine politik secara tradisional seperti anarkisme, sosialisme, liberalian, fasis dan juga kategori identitas seperti feminism. Ada juga dengan unsur politik yang mengandung kritik politik atau budaya sebagai fokus bahasan.
  • Zine komunitas (scene zine), menyangkut informasi dan berita dari komunitas tertentu.
  • Zine jaringan, kategori ini mengkonsentrasikan zine pada review dan publikasi zine, music, seni rupa, dan segala kultur underground.
  • Zine fringe culture, teori-teori konspirasi dan tema-tema seperti UFO, serial killer. Hamper seperti tabloid hanya lebih dalam pembahasannya dengan kualitas intelektual yang lebih dan kadang humor.
  • Zine religious, focus pada ketertarikan suatu agama atau hal spiritual. Termasuk paganism, satanisme dan lain-lain.
Sebenarnya masih banyak zine yang lainnya, namun yang disebutkan tadi merupakan contoh yang umum.

Sedangkan yang berkembang sekarang adalah e-zines atau electronic zines. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, e-zines merupakan salah satu alternatif yang handal untuk menyebatkan informasi. Namun banyak kalangan menganggap hal tersebut tidak akan membunuh bentuk zine konvensional yaitu cetakan, karena pendistribusiannya akan terbatas.

*Disadur dari buku “Notes from Underground: Zines and Politics of Alternative Culture, World Zines dan juga berdasarkan pengamatan pribadi terhadap zine local.

Penulis: Arian Tigabelas
Judul Aseli: ZINE, to change the world, it may not work but it surely is fine trying*
Sumber: Majalah Trolley edisi Januari tahun 2002

5 TRIK PASAR SWALAYAN YANG "MEMAKSA" KITA MENGHABISKAN UANG DITEMPAT



Pernah gak waktu kamu mau pergi ke pasar swalayan atau mall yang rencananya hanya membeli yang telah kamu tulis atau rencanain, eh ternyata sampai disana kamu malah belanja "lebih" dari apa yang kamu rencanakan diawal, atau bahkan saat mau ke mall yang rencananya cuman pengen jalan-jalan ternyata akhirnya belanja? ternyata pengelola mall atau pasar swalayan memiliki trik khusus untuk pengunjung agar membelanjakan uang mereka lebih dari yang direncanakan, apakah itu simak fakta-fakta dibawah ini. 


1. Memajang snack dan permen di samping kasir

Ini trik tercerdik. Para pengelola memasang snack dan makanan kecil di samping kasir setinggi mata anak balita. Balita yang ikut mengantri dengan orangtua tentu akan sangat tergoda dan meminta kepada orangtuanya untuk dibelikan snack tersebut. 


2. Tidak semua kasir aktif

Ini juga trik cerdik mereka. Dengan jumlah kasir yang sedikit akan mulai terjadi antrian, biasanya pengelola pasar swalayan mempunyai pedoman bahwa panjang antrian harus sejumlah 7-9 orang. Jumlah antrian ini akan membuat pengunjung merasa pusat perbelanjaan tersebut adalah pusat perbelanjaan yang ramai. Selain itu sambil mengantri mereka juga akan melihat-lihat etalase di samping kasir, antrian ini memperbesar kemungkinan mereka untuk membelinya. 


3. Ubin ukuran 30 x 30

Mungkin kamu sudah pernah berkunjung ke Ma**o ataupun Af**, harga mereka bersaing, pengunjungnya dulu juga banyak, tetapi mengapa mereka merugi? Jawabannya ada pada ubin mereka. Mereka menggunakan cor semen polos untuk lantai mereka. Hal ini menyebabkan para pengunjung yang berkunjung secara tidak sadar berjalan dengan cepat. Berbeda dengan pesaingnya semacam Hyper***, mereka menggunakan ubin ukuran 30×30, menurut riset inilah ukuran yang paling tepat untuk membuat para pengunjung memperlambat langkah mereka dan menengok kanan kiri, para pengunjung akan memperlambat langkah mereka karena mereka secara tidak sadar mengalami guncangan-guncangan karena roda troli mereka melewati sambungan ubin. 


4. Memperbesar budget Kamu

kamu datang dengan batasan tertentu “Hari ini saya Cuma boleh belanja Rp 300.000,00”, namun tentu saja kamu tidak mungkin hanya membawa Rp 300.000,00 kan? Bahkan pada umumnya pembeli juga membawa ATM atau kartu kredit.

Bagaimana cara memperbesar budget kamu ? Ternyata mudah.. Gunakan harga yang tidak pas seperti Rp 12.890,00. Saat kita melihat satu harga seperti ini kita akan langsung sadar bahwa sebenarnya harganya adalah Rp 13.000, rupiah. Namun dengan banyaknya barang yang kamu beli (dan seringkali untuk satu jenis tidak hanya satu), secara tidak sadar ketika menjumlahkannya kamu akan membulatkannya menjadi Rp 12.000,00. Dan jangan heran ketika kamu membayar kamu kaget karena uang kamu menjadi kurang. 



5. Merubah letak barang-barang secara berkala

kamu datang dengan daftar belanjaan… Itulah yang paling ditakuti para pengelola pasar swalayan. Tp ternyata mereka tidak kekurangan akal. Rotasi saja letak rak-rak secara berkala. Hal ini akan membuat kamu harus mencari letak barang yang kamu beli, saat kamu mencari barang yang kamu beli tentu saja kamu juga harus melewati barang-barang lain, di sinilah pikiran kamu mulai memanipulasi kamu untuk membeli barang yang tidak kamu perlukan karena terpengaruh tulisan “disc” dan “buy 1 get 1”

Well, semoga artikel ini bermanfaat setidaknya (minimal) ketika anda datang ke Mall/Swalayan sesuai dengan apa yang ingin cari atau butuhkan. Atau mungkin anda malah merasa dicurangi oleh Mall/Swalayan? Atau bahkan hal terparah adalah Anda membenci Mall/Swalayan?? Hmmm... Who Knows?? .... Semua ada ditangan anda, yang jelas apapun yang anda lihat di Mall hanya akan membuat mata dan hati anda sakit sesaat ... sakit ingin memiliki yang sebenarnya anda belom membutuhkannya ... Yang jadi pertanyaan adalah ketika anda membeli sesuatu barang, apa yang anda pentingkan? FUNGSI atau GENGSI?? :)

 
Bagikan