artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MELAWAN SEKSISME ROCK DENGAN RIOT GRRRL


By on 4.10.12

Pada pertengahan dekade 1990-an, ketika musik grunge dan perlawanan terhadap tatanan sosial yang bobrok di Amerika Serikat mulai menjangkiti anak muda, lahirlah sebuah gerakan yang ketika itu masih dianggap tabu, perempuan turun ke jalan. Aksi demonstrasi mulai marak dihiasi para kaum pengguna rok dan blus berenda. Beberapa perempuan pun mulai tergugah hatinya untuk berkarya dan bersuara. Gerakan mereka diawali dengan sebuah gerakan punk-rock feminis yang menamai diri mereka “Riot Grrrl” yang kemudian menggejala di beberapa bagian Amerika Serikat. Banyak kemudian perempuan yang bergabung karena mereka mulai terketuk hatinya untuk berani bersuara.

Gerakan ini merupakan materialisasi dari semangat zaman. Musisi grunge adalah yang memulai mengupas habis permasalahan sosial dalam karya mereka. Perempuan yang hidup pada masa itu, tidak bisa untuk tidak ikut bersuara. Mereka memulai gerakan “Riot Grrrl” dengan memusatkan perhatian kepada beberapa masalah yang menghancurkan kehidupan perempuan seperti pemerkosaan, seks bebas dengan unsur pemaksaan, kekerasan dalam rumah tangga, perbudakan perempuan, rasisme, dan patriarki secara umum. Mereka begitu geram dan mulai menyuarakan isu tersebut lewat musik. Dan dalam musik yang sarat pembangkangan, sebagian dari perempuan ini memilih punk-rock sebagai idealisme pengantar pesan mereka. Diinspirasi oleh beberapa tokoh yang sebelumnya sudah tampil dengan semangat feminisme, seperti Joan Jett, Kim Gordon, Patti Smith, barisan perempuan muda ini mulai tampil ke depan.

Musik, Zine, D.I.Y a la Perempuan
Sarana politik dan sosial yang ada memungkinkan para perempuan itu tidak hanya hidup dalam satu konstruksi hidup belaka. Selain musik, nyatanya para feminis punk-rock mulai merambah ke hal-hal lain yang secara tradisional dilakukan oleh kaum pria. Feminisme gerakan ini termaktub dalam sebuah pemikiran yang saya kutip dari situs “Riot Grrrl” dengan bunyinya seperti ini:

“KARENA kami perempuan ingin membuat media yang berbicara pada Amerika. Kami lelah dengan band pria yang itu-itu saja, zine yang digerakkan oleh pria-pria punk yang itu-itu saja. KARENA kami perlu berbicara satu sama lain. Komunikasi dan inklusi adalah kuncinya. Kami tak akan pernah tahu jika tidak melawan kunci-kunci keheningan itu. KARENA dalam setiap media, kami melihat sosok kami sendiri ditampar, dipenggal, ditertawakan, dijadikan objek seksual, diperkosa, disepelekan, ditekan, diabaikan, dijadikan stereotip, ditendang, dihina, dianiaya, dibungkam, ditikam, ditembak, tersedak, dan dibunuh. KARENA ruang yang aman perlu dibuat untuk kami para perempuan di mana kami dapat membuka mata dan menjangkau satu sama lain tanpa terancam oleh masyarakat yang seksis dan hari-hari kami yang omong kosong.”

Pada awal dekade 1990-an, feminis yang bergerak di musik underground, mulai membuat infrastruktur D.I.Y untuk para perempuan itu sendiri. Pergerakan punk-rock mereka, mulai ditandai dengan menyebarnya seni kolase, selebaran, dan fotokopian yang memang lumrah dalam gerakan punk, untuk mengaktifkan musik bawah tanah, politik di jalur kiri dan juga sub-kultur alternatif. Pada awalnya memang hanya di musik saja, namun mereka kemudian lebih jauh lagi mulai menyuarakan hak-hak dan keinginan yang terbengkalai oleh mayoritas masyarakat yang seksis. Para feminis ini menuntut bahwa semua harus seiring, di mana mereka harus diikutsertakan dan diberi ruang. Tidak hanya dalam musik, melainkan dalam tatanan kehidupan yang lain.

Dari semua gerakan kecil inilah asal-usul “riot grrrl” tercipta. Anggota band Bratmobile saat itu, memulai bersuara dengan menulis surat kecaman atas kekerasan terhadap perempuan. Surat yang ditulis oleh anggota Bratmobile Allison Wolfe inilah yang nantinya memulai sebuah fanzine bernama “Riot Grrrl” yang didirikan bersama Kathleen Hanna dan Tobi Vail—salah satu anggota Bikini Kil.

Perempuan mulai memantapkan diri dalam berswadaya. Gerakan ini sendiri memungkinkan para perempuan untuk bisa tetap menikmati musik yang didominasi oleh kaum pria, tanpa harus takut mendapatkan pelecehan seksual di tempat umum. Dengan makin menguatnya gerakan ini, para perempuan akan mendapatkan ruang yang lebih leluasa untuk ikut dalam mosh-pit, misalnya. Sedangkan, pria mulai terbiasa untuk menyediakan ruang di sekitar para perempuan. Hal tersebut segera menjadi perdebatan terutama di halaman-halaman fanzine yang banyak beredar. Riot Grrrl sempat menjadi perdebatan sengit di sebuah scene, dan juga menuai kritik pedas.

“BECAUSE us girls crave records and books and fanzines that speak to US that WE feel included in and can understand in our own ways”

Dalam bermusik, para penggerak gerakan ini mulai menjauhi label besar dan mulai beralih ke D.I.Y dengan rekaman kaset seadanya. Selain D.I.Y dalam musik, zine juga makin populer di kalangan feminis. Berbagai isu perempuan yang dengan implikasi politik sperti seksisme, rasisme, pemerkosaan, diskriminasi, kekerasan domestik, homofobia, vegetarianisme dan anoreksia pada perempuan mulai dibahas lebih serius. Tidak hanya dalam produksi, distribusi zine juga digunakan oleh para perempuan untuk memperjuangkan hak politik mereka. Perempuan-perempuan turun ke jalan, dengan gerakan a la punk membagikan selebaran-selebaran. Ini memupuk kepercayaan diri perempuan dan memberi pemahaman bahwa “kita tak sendiri’. Segala urusan pribadi dan pelecehan-pelecahan, pada akhirnya bisa diceritakan, tanpa perlu merasa menjadi warga kelas dua.

Riot Grrrl mencoba merebut kembali frase-frase umum yang saat itu didominasi pria, ke dalam feminisme gelombang ketiga (pasca 1970-an dan 1980-an). Di dekade 1990-an inilah mulai menjamur musisi perempuan yang memutuskan untuk menjadi bagian Riot Grrrl, di antaranya Chainsaw by Donna Dresch, Sister Nobody, Jane Gets A Divorce dan I (heart) Amy Carter by Tammy Rae Carland. Ada juga semacam jambore, atau konvensi nasional bagi para Riot Grrrl, seperti di Washington D.C. atau festival Pussystock di New York. Sebuah film dokumenter indie pun sempat beredar dengan judul Don't Need You: the Herstory of Riot Grrrl.

Maka tak ada lagi “history” bagi Riot Grrrl. Karena semenjak konvensi nasional dan film dokumenter itu rampung, sudah terlahir “herstory”.

Riot Grrrl Fourth-wave di Indonesia?
Sebagai sebuah gerakan Riot Grrrl masih ada sampai sekarang, meski sudah tidak banyak gaungnya terutama di panggung musik. Selain Hole, yang masih mengeluarkan album terakhir—yang disinyalir dibuat bersama Billy Corgan Smashing Pumpkins—sudah jarang sekali musisi Riot Grrrl mengeluarkan karya barunya. Beberapa eksponen gerakan ini seperti Carrie Brownstein memang masih menulis musik baru--bersama band baru Wild Flag, namun bisa diperdebatkan apakah mereka masih membawa obor Riot Grrrrl.

Setelah gelombang feminisme third-wave di pertengahan 1990-an lalu, gelombang keempat dalam feminisme juga agaknya sedang dalam masa kebangkitan. Di tahun 2000-an sampai saat ini, mulai bermunculan aktivis-aktivis perempuan. Semua suara mulai disatukan. Beberapa LSM dengan penggerak perempuan pun lahir.

Gerakan feminisme inipun mulai merambah skena musik independen. Perempuan mulai menggawangi dan memimpin sebuah band. Yang paling terlihat justru dari skena "undergrunge", yang memang masuk akal mengingat gerakan riot grrrl berasal dari Seattle, dimana para penggeraknya sangat dekat sekali dengan scene grunge. Hal serupa terjadi juga di Indonesia. Cukup banyak pengikut riot grrrl, yang lebih banyak berkiblat pada Bikini Kill, L7, Hole dan Sonic Youth--pengaruh Kim Gordon terutama.

Sebut saja beberapa band yang digawangi oleh perempuan. Sebuah band bernama Mushafear yang digawangi oleh Mirantie Boreel, sempat jadi perbincangan di scene. Band dengan satu-satunya pionir perempuan yang kuat, menyuarakan beberapa tema sosial kemasyarakatan. Dengan tato penuh di badan, Mirantie bisa tetap apik menyuarakan pikirannya, dalam balutan rok terusan bahkan. Ini adalah sebuah fenomena yang awalnya tidak biasa terjadi di Indonesia. Dengan berkiblat lebih banyak kepada L7, Mushafear sempat masuk di tangga-tangga lagu independen. Akhirnya, dengan bergabung dengan Drexter Records, sebagai label mereka, satu album Mushafear resmi dirilis. Untuk ulasan ini, pernah saya tuliskan juga dalam Kompasiana dan ditulis ulang dalam situs resmi Mushafear di http://www.mushafear.com.

Ada juga Sonic Death dan Nymphea. Keduanya cukup membumi juga dalam scene. Sari Nymphea bahkan mendirikan clothing-line sendiri untuk berswadaya, bernama Devilini. Di samping ketiga band di atas, ada beberapa band yang juga ikut andil dalam scene grunge yang mulai bergelora mulai tahun 2000-an. Sebut saja Brokenhell (Jakarta), Madamoiselle (Bandung), Konsletting Effect (Mojokerto), dan band-band lainnya. Permainan distorsi musik a la grunge dan juga lirik-lirik sarat tema sosial menjadi daya tarik band dengan aroma riot grrrl tersebut. Saatnya perempuan bicara, saatnya perempuan didengarkan.

Tidak hanya dalam musik. Zine potong-tempel bernama QuovadisZine, sempat dibuat dengan metode fotokopian. Dengan menempel beberapa kolase dan karikatur yang dibuat secara swadaya, kami secara rutin mengedarkan zine itu di scene grunge Bandung ketika sedang diadakan acara-acara bawah tanah. Meski hanya berjalan sampai tiga edisi, karena keterbatasan dana operasional, QuovadisZine sudah meninggalkan jejak. Isinya tentu saja tidak jauh dari isu politik, sosial, dan ihwal yang menyangkut kepentingan kaum perempuan. Semua ini dilakukan karena kesadaran untuk meneruskan apa yang sudah dimulai oleh gerakan riot grrrl.

Pernah juga terbentuk sebuah wacana untuk menghadirkan sebuah situs dan webzine yang nantinya akan memuat semua pergerakan perempuan, khususnya di scene undergrunge. Wacana ini sempat dibentuk oleh Mirantie Boreel Mushafear, saya, dan Marasdika, salah seorang penggerak skena grunge di Solo. Kami memang perempuan, namun kami memiliki hak yang sama untuk ikut andil dalam pergerakan grunge. Namun, wacana hanya tinggal wacana. Karena keterbatasan dalam banyak hal, untuk saat ini kami hanya bisa bersuara dengan mencari tumpangan di media independen lainnya.

Meski tak melulu harus dikaitkan dengan riot grrrl, pergerakan perempuan yang militan pada awal tahun 2000 dan sesudahnya ini boleh jadi masih berkiblat pada gerakan dari Seattle itu. Sudah saatnya perempuan berbicara feminisme tanpa kerutan dahi dari laki-laki. Riot grrrl sudah membuka jalan kepada kami dengan menghapuskan pakem-pakem yang dianggap tabu dalam hidup perempuan.

Ini lebih baik, karena kadang masih miris melihat mereka yang berteriak atas nama feminisme, tapi masih berada di salon-salon, membuat kuku serapi putri, dan rambut digerai blonde. Ini menjadi kontradiktif dengan feminisme ala punk-rock. Entah, mungkin beberapa dari para feminis itu tergolong aktivis proyek. Bicara feminisme sekedar berhias semata. Jadi, lebih baik bagi feminisme untuk jalan di jalur semacam riot grrrl, daripada menjadi para priyayi atau istilah saat ini, hipster yang memaksa diri untuk berteriak atas nama feminisme.

Riot Grrrl masih disorot. Meski saat ini telah muncul banyak feminis yang berbeda generasi dan berbeda gelombang. Jalur punk-rock feminism yang memang liar dan kadangkala kotor, masih ada. Meski hanya bergerilya, riot grrrl sesungguhnya tetap bertahta. Atas nama perempuan, atas nama setara, berjuang melawan sexist society.

Penulis ==============================

Ayu Welirang
Ayu adalah gitaris band grunge Madamoiselle, bekerja pada perusahaan IT di Jakarta sambil berusaha menamatkan kuliahnya di jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik, FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta. Senang membaca buku sastra-kontemporer, novel kultural. Mencintai Kurt Cobain, Layne Staley, Eddie Vedder, barong Bali, dan wayang golek.
Tulisan diambil dari: http://www.jakartabeat.net

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan