artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

TENTANG ANARKA FEMINISME


By on 5.10.12

Meski perlawanan terhadap negara dan semua bentuk kekuasaan telah cukup banyak dibicarakan di antara kaum feminis di awal abad 19, gerakan feminis yang lebih baru dimulai tahun 1960-an dan berdiri berdasarkan praktek anarkis. Dari sinilah muncul term anarka feminisme, berhubungan dengan anarkis perempuan yang bertindak dalam gerakan anarkis dan feminis yang besar untuk mengingat prinsip mereka.

Anarkisme dan feminisme selalu memiliki kaitan yang dekat. Banyak feminis terkenal yang juga anarkis, termasuk pelopornya Mary Wollstonecraft (pengarang A Vindication of The Rights of Woman), komunat Louise Michel, Voltairene de Cleyre, dan pejuang kebebasan perempuan yang tak kenal lelah Emma Goldman (lihat esay yang terkenal “The Traffic In Women”, “Woman Suffrage”, “The Tragedy of Woman’s Emancipation”, “Marriage and Love”, dan “Victims of Morality”, sebagai contoh). Freedom, koran anarkis tertua di dunia, didirikan oleh Charlotte Wilson tahun 1886. Sebagai tambahan, semua pemikir anarkis utama (seperti Proudhon) merupakan pendukung kesetaraan wanita. Gerakan “free women” di Spanyol selama revolusi Spanyol adalah contoh klasik dati anarkis perempuan yang mengorganisir dirinya melawan kebebasan dasar mereka dan menciptakan masyarakat berdasarkan kebebasan dan kesetaraan wanita (lihat Free Women of Spain karya Martha Ackelsberg, untuk keterangan lebih lanjut mengenai organisasi penting ini).

Anarkisme dan feminisme memiliki banyak perhatian dan sejarah yang sama mengenai kebebasan individu, kesetaraan dan derajat bagi anggota berjenis kelamin wanita (meski, seperti yang akan kita jelaskan di bawah dengan lebih mendalam, kaum anarkis selalu sangat kritis terhadap aliran utama liberal feminisme karena mereka tidak terlalu kritikan mereka tidak terlalu mendalam). Karena itu, tidak terlalu mengejutkan ketika gelombang feminisme di tahun 1960-an menyatakan dirinya dalam cara anarkis dan mendapat banyak inspirasi dari figur anarkis seperti Emma Goldman. Cathy Levine menunjukkan bahwa, selama waktu tersebut, “kelompok wanita independen mulai bergerak tanpa struktur, pemimpin, dan semua pembantu umum pria yang ada, menciptakan, secara independen dan terus menerus, orgnisasi-organisasi yang sama dengan kaum anarkis di beberapa dekade dan wilayah. Bukan suatu kebetulan.” (dikutip oleh Clifford Harper, Anarchi : A Graphic Guide, hal 182)

Hal ini bukan kebetulan karena, seperti yang dituliskan oleh tokoh feminis, wanita merupakan korban pertama dari masyarakat hierarkis yang diawali dari munculnya patriarki dan ideologi dominasi selama akhir era neolitik. Marilyn French berpendapat (dalam Beyond Power) bahwa stratifikasi sosial utama yang pertama dalam umat manusia terjadi ketika pria mulai mendominasi wanita, dengan wanita yang menjadi kelas sosial “lebih rendah” dan “inferior”.

Peggy Kornegger memberikan perhatian pada hubungan yang kuat anatar feminisme dan anarkisme, baik secara teori maupun praktek. “Perspektif feminis radikal hampir sepenuhnya anarkisme,” tulisnya. “Teori dasar mempostulasikan keluarga inti sebagai dasar dari semua sistem otoriter. Seorang anak belajar, “dari ayahnya, kemudian kepada guru, kepada majikan, kepada Tuhan, untukmematuhi suara anonim otoritas yang besar. Beranjak dari masa anak-anak menuju kedewasaan adalah menjadi mesin yang telah jadi, tidak memiliki kemampuan bertanya dan berpikir dengan jelas.” (ibid.) begitu juga pendapat Zero Collective bahwa anarka feminisme muncul karena adanya pengakuan anarkisme feminisme dan mengembangkannya dengan sadar.”(The Raven, no. 21, hal 5) Anarka feminis menunjukkan bahwa sifat dan nilai otoriter, sebagai contoh, dominasi, eksploitasi, keagresifan, persaingan, ketidakpekaan, dan lain-lain, dihargai dengan tinggi dalam peradaban hierarkis dan secara tradisional dihubungkan sebagai “maskulin”. Sebaliknya, nilai dan sikap otoriter seperti kerjasama, berbagi, perasaan terharu, sensitifitas, kehangatan, dan lain-lain, secara tradisional dikenal sebagai “feminim” dan tidak berharga. Tokoh-tokoh feminis telah menelusuri fenomena ini dari masa lalu menuju masyarakat patriarkis selama abad perunggu dan penaklukkan mereka terhadap masyarakat “organis” yang didasarkan pada kerjasama di mana nilai dan sifat “feminim” dihargai dan merupakan hal yang umum. Namun, setelah penaklukan ini nilai-nilai seperti itu dianggap “inferior”, khususnya bagi pria, karena pria menguasai dominasi dan eksploitasi di bawah patriarki. (lihat contohnya Riane Eisler, The Chalice and The Blade; Elise Boulding, The Underside of History). Karena itu anarka feminis menghubungkan penciptaan masyarakat anarkis non otoriter yang di dasrkan pada kerjasama, berbagi, saling membantu dan lain-lain, sebagai “feminisasi msyarakat.”

Anarka feminis telah mencatat bahwa “mem-feminis-kan” masyarakat tak dapat terjadi tanpa pengelolaan sendiri dan desentralisasi. Hal ini karena nilai-nilai dan tradisi patriarkis otoriter yang ingin mereka hancurkan terwujud dan direproduksi dalam hierarki. Jadi, feminisme menunjukkan desentralisasi, yang pada gilirannya menunjukkan pengelolaan sendiri. Banyk kum feminis yang mengakui hal ini, seperti yang terefleksi dalam eksperimen mereka dengan bentuk-bentuk kolektif organisasi feminis yang mengeliminir struktur hierarkis dan bentuk kompetitif pembuatan keputusan. Beberepa feminis bahka berpendapat bahwa pengaturan-pengaturan demokrasi langsung merupakan bentuk politis feminis secara khusus (lihat contohnya, Nancy Hartsock “Feminist Theory and the Development of Revolutionary Strategt,” dalam Zeila Eisenstein, ed., Capitalist Patriarchy and the Case for Socialist Feminism, hal. 56-57). Seperti halnya semua kaum anarkis, anarka feminis mengakui bahwa pembebasan diri merupakan kunci kesetaraan perempuan dan juga, kebebasan. Sehingga Emma Goldman berpendapat:

“Perkembangan kaum perempuan, kebebasan, kemandiriannya, harus datang darin dan melalui dirinya sendiri. Pertama, dengan menampilkan diri sebagai personal, dan bukan sebagai komoditas seks. Kedua, dengan menolak hak seseorang di atas orang lain; dengan menolak melahirkan anak, jika ia menginginkannya, denagn menolak menjadi pelayan bagi Tuhan, negara, masyarakat, suami, keluarga, dan lain-lain, denagn membuaty hidupnya menajdi lebih sederhana, namun mendalam dan lebih kaya, Yaitu, dengan mempelajari makna dan substansi kehidupan dalam semua kompleksitasnya; dengan membebaskan dirinya dari ketakutan terhadap opini dan penghukuman publik.” (Anarchism and Other Essays, hal. 211)

Anarka feminisme mencoba menjaga feminisme dari pengaruh dan dominasi ideologi otoriter, baik kiri maupun kanan.Kelompok ini mengusulkan aksi langsung dan pertolongan terhadap diri sendiri daripada kampanye reformis massal yang didukung oleh gerakan feminis “resmi”, dengan ciptaanya terhadap organisasi hierarkis dan sentralis serta ilusi bahwa dengan memiliki majikan, politisi dan tentara perempuan akan membawa mereka menuju “kesetaraan”. Anarka feminis menunjukkan bahwa yang disebut “pengelolaan ilmu” yangharus dipelajari wanita untuk menjadi palung-palung dalam perusahaan-perusahaan kapitalis yang secara esensial merupakan seperangkat teknik untuk mengendalikan dan mengeksploitasi pekerja upahan dalam hierarki korporat, sedangkan “feminisasi” masyarakat membutuhkan eliminasi perbudakan upahan kapitalis dan dominasi pengelolaan semua bidang. Anarka feminis sadar bahwa mempelajari bagaimana menjadi eksploitator atau penindas yang efektif bukanlah bagian dari kesetaraan (seperti seorang anggota Mujures Libres mengatakan, “(k)ami tidak ingin menggantikan hierarki maskulin dengan hierarki feminin.” [dikutip oleh Martha A. Ackelsberg, Free Women of Spain, hal. 2]-- lihat juga bagian B.1.4 untuk pembahasan lebih lanjut menegani patriarki dan hierarki).

Karena itu perselisihan tradisional anarkisme dengan liberal/trend feminisme, meski mendukung kesetaraan dan pembebasan perempuan. Federica Montseny (figur pemimpin dalam gerakan kaum anarkis Spanyol) berpendapat bahwa feminisme berpendapat bahwa feminsme semacam itu membela persamaan bagi perempuan, namun tidak melawan institusi yang ada. Ia berpendapat bahwa (aliran) feminisme “hanya berambisi memberi kaum perempuan dari kelas tertentu suatu kesempatan untuk ikut serta berpartisipasi secara penuh dalam sistem yang ada yang memberi hak istimewa.” (dikutip oleh Martha A. Ackelsberg, Op.Cit., hal. 90-91, hal. 91)

Jadi, dalam gerakan kaum anarkis yag bersejarah, seperti yang catatan Martha Ackelsberg, liberal/trend feminisme dianggap sebagai “terfokus terlalu dalam pada strategi untuk emansipasi perempuan; perjuangan seksual tidak dapat dipisahkan dari perjuanagn kelas atau dari tugas kaum anarkis sebagai suatu keseluruhan.”(Op.Cit., hal. 91) Anarka feminisme meneruskan tradisi ini dengan berpendapat bahwa semua bentuk hierarki adalah salah, bukan hanya patriarki, dan bahwa feminisme berkonflik dengan cita-citanya sendiri jika sungguh-sungguh ingin membuat kaum perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan kaum pria untuk menjadi majikan.

Karena itu, kaum anarka feminis, seperti halnya semua kaum feminis lainnya melawan semua bentuk kapitalisme karena mengingkari kebebasan. Pemikiran bahwa sebuah kapitalisme yang “memiliki kesempatan sama” akan membebaskan perempuan mengabaikan kenyataan bahwa dalam sistem apapun yang semacam itu masih akan terdapat perempuan kelas pekerja yang ditindas oleh majikannya (baik pria maupun perempuan). Bagi kaum anarka feminis, perjuangan bagi kebebasan perempuan tak dapat begitu saja dilepaskan dari perjuangan melawan hierarki. Seperti pernyataan Susan Brown:

“Anarkis feminisme, sebagai suatu pernyataan dari sensibilitas kaum anarkis yang diaplikasikan ke dalam fokus kaum feminis, menempatkan individu sebagai titik awal berlawanan dengan hubungan dominasi dan subordinasi, berpendapat: bagi bentuk-bentuk ekonomis instrumental yang mencegah kebebasan eksistensial individu, baik bagi pria maupun perempuan.” (The Politics of Individualism, hal. 144)

Kaum anarka-feminis telah banyak memberikan kontribusi pada pemahaman kita mengenai asal krisis ekologis dalam nilai-nilai otoriter peradaban hierarkis. Contohnya, sejumlah tokoh feminis berpendapat bahwa dominasi terhadap alam terkait dengan dominasi terhadap perempuan, yang diidentifikasikan dengan alam sepanjang sejarah (liihat, sebagai contoh, Carline Merchant, The Death of Nature, 1980) Baik perempuan merupakan korban dari obsesi dengan kendali yang mencirikan personalitas otoriter. Karena alasan inilah, jumlah kaum radikal ekologi dan feminis yang semakin bertambah menunjukkan pengakuan bahwa hierarki harus dibongkar untuk mencapai tujuan akhir mereka.

Sebagai tambahan,anarka feminisme mengingatkan kita akan pentingnya memperlakukan perempuan setara dengan pria sementara, di saat yang saam, menghargai perbedaan pria dengan perempuan. Dengan kata lain, mengakui dan menghargai perbedaan di dalam perempuan seperti halnya pria. Terlalu sering kaum anarkis pria yang berpendapat bahwa, karena mereka (secara teori) melawan seksisme, dalam prakteknya mereka tidak bersikap sexist. Asumsi semacam itu salah,. Anarka feminisme mempertanyakan konsistensi antara teori dan praktek di hadapan sosial aktivisme dan mengingatkan kita semua bahwa kita harus berjuang bukan hanya untuk paksaan eksternal, namun juga yang internal.

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan