artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

GERAM: SAVE NORTH KENDENG HILLS FROM DESTRUCTION! (Press Release)


By on 20.11.12


Press Release GERAM (Gerakan Rakyat Menggugat) dalam
Sosialisasi (Rencana) Pendirian Pabrik Semen PT. Imasco Tambang Raya
Ruang Pertemuan Setda Kabupaten Blora, Jl Pemuda No.12 Blora
Kamis, 22 Nopember 2012 sekitar pukul: 10.00 WIB


Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.

Yth. Bapak Bupati Kabupaten Blora, Bapak Plt.Sekretaris Daerah, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Blora, Kepala Dinas ESDM Kabupaten Blora beserta staf, Direktur PT. Imasco Tambang Raya, kawan-kawan Lembaga Swadaya Masyarakat dan kawan-kawan pers media massa.

Hadirin yang saya hormati;

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan karunia dan rahmatNya kita pada siang hari ini diberikan kesehatan lahir maupun batin untuk menghadiri sosialisasi rencana pendirian pabrik semen PT. Imasco Tambang Raya di ruang pertemuan Setda Kabupaten Blora. Atas nama kawan-kawan dari GERAM (Gerakan Rakyat Menggugat) saya memberikan apresiasi dan menghargai kegiatan yang diprakarsai oleh Pemerintah Kabupaten Blora ini. 

Berbicara mengenai kekayaan alam, masyarakat Jawa memang mempunyai Pegunungan Kendeng Utara yang terletak di bagian utara Pulau Jawa. Seperti legendanya yaitu seekor ular naga raksasa yang sangat besar, pegunungan ini melewati batas-batas administratif daerah yang ada. Liuk tubuhnya membujur dari Barat ke Timur melingkupi Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Rembang, Kabupaten Blora, Jawa Tengah hingga Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur.
Pegunungan yang terbentuk pada masa Meosen Tengah-Meosen Atas atau kurang lebih 25 juta tahun yang lalu berdasarkan skala waktu geologi tersebut merupakan lipatan perbukitan yang sangat kaya akan keanekaragaman hayati. Ketinggian tertinggi perbukitan karst ini antara 300 - 530 mdpl. Bagian Selatan dari perbukitan tersebut terdapat tebing yang memanjang dari Barat – Selatan dengan kemiringan lereng tegak hingga curam. 
Fenomena karst di pegunungan Kendeng Utara ini tercermin melalui banyaknya bukit-bukit kapur kerucut, munculnya mata-mata air pada rekahan batuan, mengalirnya sungai-sungai bawah tanah dengan lorong goa sebagai koridornya. Walaupun sering ditemukan lahan yang sangat kering di permukaan saat musim kemarau pada bagian bukit karena sungai-sungai yang mengalir di permukaan sangat jarang, namun di bagian bawah kawasan ini banyak ditemukan sumber-sumber mata air seperti sungai dan danau bawah tanah di mana air keluar melalui rekahan-rekahan batuannya.
Terkait dengan kabar rencana pendirian pabrik semen PT. Imasco Tambang Raya ini rasanya perlu mendapat perhatian kita bersama. Apakah ada hubungan PT. Imasco Tambang Raya ini dengan Imasco Pasific Minerals di Surabaya? Sejauh mana rencana pembangunan yang dilakukan? Sudah adakah ijin lokasi? Apakah dalam pengeluaran ijin lokasi tersebut berdasarkan pada Perda No. 18 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Blora Tahun 2011-2031? Apakah masuk dalam pola ruang untuk kawasan lindung? Apakah termasuk dalam kawasan karst atau bukan? Jangan sampai sebuah pembangunan pabrik mengakibatkan permasalahan serius di kemudian hari karena banyaknya dampak lingkungan serta sosial yang ditimbulkan. 

Ketika berbicara tentang kawasan karst, berarti kita telah membicarakan kawasan batuan karbonat seperti batu gamping dan dolomite yang mempunyai bentuk sangat khas berupa bukit, lembah dan goa. Kawasan itu ada di pegunungan Kendeng Utara Kabupaten Blora. Potensi yang sangat kaya dan beragam ini tentunya akan mengalami kerusakan apabila tidak ada pemahaman dan kesadaran tentang pelestarian lingkungan dari masyarakat. Kekurangperhatian dari pemerintah daerah terkait pengelolaan kawasan karst yang berada di daerahnya dan pola pikir investor yang hanya mengedepankan manfaat langsung tanpa mengindahkan aspek kelestarian lingkungan jangka panjang akan sangat mempercepat kehancurannya. 

Kita semua tahu bahwa sebuah pabrik semen membutuhkan batugamping dalam jumlah besar untuk bahan baku pembuatan semen. Berapa rencana kapasitas produksi pertahunnya? Bahan baku apa saja yang akan digunakan dan berapa jumlahnya? Misal: Batu kapur, Tanah liat, Pasir silika, Pasir besi dan Batubara. Berapa juta ton pertahunnya dan didapatkan darimana perolehannya?

Bagaimana rencana tahapan pembangunan pabrik semen PT. Imasco Tambang Raya seperti Studi AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang disusun oleh tim independen dari berbagai disiplin ilmu? Bagaimana proses keterlibatan secara partisipatif dari masyarakat? 

AMDAL adalah dokumen untuk masyarakat. AMDAL merupakan salah satu akses informasi bagi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Blora hingga perangkat desanya sudah selayaknya memberikan penjelasan kepada masyarakat luas. Secara etika dan juga aturan memang musti dilakukan sosialisasi seperti ini. Namun karena yang terkena dampak ekologis adalah masyarakat sekitar pabrik baiknya sosialisasi diadakan di dekat tapak lokasi rencana pembangunan pabrik. Musti dilakukan jajak pendapat, questioner tentang setuju atau tidaknya dengan dokumen AMDAL rencana pembangunan pabrik semen tersebut. Apakah yang menjawab setuju tersebut dari para spekulan tanah atau warga masyarakat. Perlu dipastikan tidak ada rekayasa dalam hasil jajak pendapat tersebut.

Apakah perencana kegiatan sudah melakukan inventarisasi goa-goa, sumber-sumber mata air, sungai bawah tanah, keanekaragaman hayati berupa flora dan fauna termasuk situs-situs sejarah dan kebudayaan di sekitar tapak lokasi pembangunan pabrik? 

Berapa hektar total areal keseluruhan yang akan digunakan? Berapa hektar untuk penambangan batu kapur? Berapa hektar untuk penambangan tanah liat? Berapa hektar untuk areal pabrik semennya? Lalu, bagaimana status tanah tersebut? Milik warga atau merupakan lahan Perhutani? Bagaimana proses pembebasan tanah, jual-belinya dan pengalihan haknya? Adakah praktek spekulasi tanah di sana?

Memang, kalau kita coba mengkaji kasus pembelian lahan masyarakat yang dijadikan areal tambang oleh investor tambang, hal ini sangat memuakkan! Karena biasanya harga yang dijadikan ukuran adalah harga per meter persegi. Harga ini disesuaikan dengan kebiasaan jual beli lahan untuk pertanian, perkebunan dan perumahan. Masyarakat sebagai pemilik lahan rasanya sangat dirugikan. Sungguh menjadi tanda tanya besar mengapa masyarakat menjual lahan untuk dijadikan areal tambang dengan harga jual menurut ukuran luas dan bukan menurut ukuran volume.

Hal ini sungguh merupakan suatu pembodohan yang kasar, busuk dan sangat terang-terangan dari para pemodal! Contoh kasus, masyarakat dibujuk untuk menjual lahannya dengan harga per meter persegi 10 ribu rupiah. Maka untuk 1 hektar (10.000 meter persegi) lahan yang berupa bukit atau pegunungan akan dihargai 100 juta. Bila lahan seluas ini digali sedalam 50 meter, maka jumlah bahan galian yang dihasilkan adalah 500 ribu meter kubik. Batuan gamping dalam satu truk berkapasitas 6 meter kubik dapat dijual seharga 500 ribu rupiah. Maka bahan galian sebanyak 500 ribu meter kubik dapat dimuat sekitar 80 ribu truk. Jika dikalikan hasil penjualan batu sebanyak 80 ribu truk ini ialah 40 trilyun. Suatu ketimpangan yang sangat luar biasa besarnya di mana masyarakat yang menjual lahan hanya mendapat uang 100 juta tetapi pemodal akan mengantongi 40 trilyun rupiah untuk nilai lahan yang ditambang!

Apakah ini yang dinamakan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia?

Bagaimanakah investor dan masyarakat memaknai hakikat kesejahteraan? Apa dampak positif yang dijanjikan seperti penyerapan tenaga kerja serta perluasan usaha lainnya? Apa dampak negatif akan muncul? Apakah bencana kekeringan, rusaknya lingkungan dan semakin menyusutnya debit sumber mata air di Kabupaten Blora apakah juga menjadi pemikiran kita bersama? 

Jika mau berkaca dan belajar pada pengalaman, rasanya kesaksian di bawah ini sudah cukup menjelaskan bagaimana dampak pabrik semen bagi lingkungan hidup dan masyarakat sekitarnya.

“Hampir 70 persen janji yang diberikan pabrik semen kepada masyarakat semua itu bohong. Pembangunan pabrik semen yang diharapkan mampu menyejahterakan masyarakat ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Janji manis yang pernah disampaikan pada saat akan mendirikan pabrik semen tidak seperti apa yang dibayangkan. Mengentaskan kemiskinan, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ternyata itu hanya isapan jempol.” (Edi Thoyibi, seorang warga yang tinggal dekat lokasi pabrik PT. Semen Gresik di Tuban, Jawa Timur) 

“Di Tuban, warga sekitar pabrik semakin miskin setelah tanah-tanah mereka dibeli pabrik. Lingkungan menjadi rusak, debu pabrik beterbangan, bunyi ledakan bukit-bukit kapur merontokkan genteng, dan air mengering. Lapangan kerja di pabrik juga sulit dimasuki.” (Fokus Pabrik Semen, Kompas, Jum’at, 1 Agustus 2008)

Kita sadari bersama bahwa penambangan secara liar maupun legal sudah terbukti berdampak buruk pada berbagai bencana sosial dan lingkungan. Begitu juga dengan kondisi yang ada di pegunungan Kendeng, Kabupaten Blora. Kalau dulu potensial menjadi kawasan lindung, maka saat ini kondisinya sangat memprihatinkan dan perlu perhatian kita semua.

Upaya penyelamatan dan pelestarian lingkungan membutuhkan peran siapa saja, baik itu dari pemerintah maupun dari masyarakat yang ada. Dengan tujuan bahwa penyelamatan pegunungan Kendeng untuk melestarikan alam dan lingkungan hidup agar tetap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, generasi sekarang dan yang akan datang.

Karena hal ini juga selaras dengan visi Bupati dan Wakil Bupati Blora Masa Bhakti 2010-2015 yaitu mewujudkan pemerintahan yang bersih menuju masyarakat Blora yang sejahtera, dengan salah satu misinya yaitu mewujudkan perlindungan kelestarian alam.

Kalau memang Bupati dan Wakil Bupati mengatakan, “Lho, kami kan juga mempunyai misi untuk mewujudkan iklim investasi yang baik dan meningkatkan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat Blora?” Iya, benar, kami juga mendukung, tapi menurut hemat kami hal teknis yang musti dilakukan adalah pembangunan pabrik yang padat karya, bukan padat modal; apalagi mengeksploitasi sumber daya alam tak terbaharukan yang rawan bencana ekologi serta sosial dan jelas bukan merupakan amanat Pancasila dan UUD ’45. 

Dampak langsung dari aktifitas pemanfaatan kawasan karst yang tidak terkendali akan menyebabkan menurun bahkan hancurnya fungsi alami kawasan karst. Beberapa contoh dampak yang timbul di antaranya adalah hilangnya atau rusaknya laboratorium alam untuk kemajuan ilmu pengetahuan tentang karst yang sangat besar sumbangannya bagi ilmu pengetahuan dunia, hilangnya atau rusaknya potensi ekonomi akibat rusaknya habitat walet, sriti dan kelelawar sehingga koloni satwa tersebut tak akan tinggal di lingkungan goa karst yang telah rusak, hilangnya sumber mata air akibat pemanfaatan kawasan karst yang dilakukan secara serampangan tanpa memperhitungkan aspek kelestarian dan kesinambungan, rusaknya aspek artistik dari suatu objek wisata karst hasil bentukan alam selama jutaan tahun dan rusaknya lahan pertanian sebagai sumber kehidupan penduduk yang tinggal di kawasan karst.

Untuk menghindari bencana dan dampak yang ditimbulkan ada beberapa hal yang penting untuk segera dilakukan yaitu menghentikan praktek-praktek lapangan yang dapat merusak keberlangsungan keanekaragaman hayatinya. Dari apa yang telah dilakukan yang lalu saja tentunya sudah bisa kita rasakan bersama sekarang. Pembabatan vegetasi karst, mengakibatkan erosi, berkurangnya kesuburan tanah, dan debit sumber air karst. Penggalian batu gamping untuk dibakar menjadi kapur, dan saat ini terus menerus dieksploitasi untuk keperluan perusahaan-perusahaan, termasuk industri semen akan membawa akibat menyusutnya debit sumber air karst, hilangnya keindahan dan keunikan lansekap karst, perubahan iklim setempat, kehilangan fungsi satwa liar, berkurang dan hilangnya lahan pertanian, pengotoran lingkungan oleh debu dan polusi asap yang meningkatkan penyakit saluran nafas. Dan dalam waktu dekat sumber daya batu kapur akan hancur total atau habis menyisakan lahan rusak, gersang, tidak dapat ditanami, masyarakat kehilangan mata pencaharian, menyebabkan pemiskinan total warga setempat, dan pada akhirnya masyarakat kawasan pegunungan Kendeng Utara Kabupaten Blora akan diangkut ke luar Jawa untuk ditransmigrasikan.

Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 tentang RTRW Nasional menyatakan bahwa kawasan karst masuk dalam areal kawasan lindung Nasional. Padahal kita semua tahu bahwa kawasan lindung mustinya harus dilestarikan dan tidak boleh ditambang. Ini adalah regulasi yang mengatur dan melarang penambangan di pegunungan Kendeng, akan tetapi kenapa hal ini tidak diindahkan? 

Pembangunan yang selama ini dilakukan umumnya masih didasarkan atas perhitungan-perhitungan ekonomi. Perhatian masih kurang untuk kepentingan kelestarian ekologi serta sosial. Akibatnya penurunan kuantitas dan kualitas terus berlanjut. Berbagai masalah sosial dan bencana alam pun terus terjadi seiring dengan meningkatnya budaya pembangunanisme yang berkedok kemajuan bangsa. Kenyataan hingga saat ini telah banyak membuktikan bahwa kegiatan industrialisasi telah banyak menyebabkan kerusakan lingkungan, mulai hilangnya mata air, polusi udara, polusi suara dan berkurangnya vegetasi, degradasi keanekaragaman hayati serta terkuak pula kebohongan-kebohongan perusahaan yang pada awalnya menjanjikan hal yang sama, yakni kesejahteraan masyarakat dan peningkatan ekonomi namun faktanya menyatakan sebaliknya, yaitu menciptakan kerusakan lingkungan dan kemiskinan global.
Selama semua pihak masih memandang kawasan karst dari segi ekonomi dan sektoral, maka laju pengrusakan kawasan karst tidak akan terkendali. Sangat tidak diinginkan jika pemerintah daerah yang dipilih oleh masyarakatnya lebih mendambakan penghasilan jangka pendek, apalagi jika sampai berhasil diiming-imingi oleh investor pertambangan berupa retribusi besar untuk peningkatan pendapatan asli daerah tanpa sedikitpun menyadari bahwa jenis pertambangan itu mempunyai jangka waktu eksploitasi. Di mana setelah bahan tambangnya habis, pemerintah daerah hanya mewarisi lingkungan alam yang gersang, porak poranda, masyarakat yang bertambah miskin dan berpenyakitan. 

Persoalan lingkungan hidup bukan merupakan isu tersendiri, melainkan merupakan bagian integral dari pembangunan berkelanjutan. Perubahan paradigma terhadap kawasan karst dari semua orang yang merasa hidup di atas bumi dan hidup dari meminum air dan makan dari apa yang dikeluarkan oleh bumi ini menjadi modal utama dalam prinsip pengelolaan sumber daya alam. Konservasi kawasan hutan termasuk flora dan fauna serta keunikan alamnya perlu dilakukan untuk melindungi keanekaragaman hayati. Terpeliharanya kawasan konservasi seperti wilayah sumber mata air dan daerah aliran sungai merupakan bekal bagi kehidupan yang berkelanjutan.

Lihat! Pegunungan Kendeng dan lingkungan karst yang sangat sensitif dan rentan itu saat ini sudah cukup rusak. Hal yang perlu secara serius dilakukan untuk menyelamatkannya adalah dengan mengembalikan daya guna pegunungan tersebut sebagai hutan lindung dan sumber mata air yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Mari bersama kita tumbuhkan kesadaran dan berpartisipasi untuk menghijaukan dan melestarikan pegunungan ini agar kembali dapat memberi manfaat positif bagi kehidupan masyarakat Blora dan sekitarnya. Bagian langsung dari dukungan penyelamatan lingkungan hidup ini salah satunya adalah dengan menghentikan rencana pembangunan pabrik semen di kawasan pegunungan Kendeng Utara.

Semoga apa yang kami paparkan ini bisa dijadikan masukan yang bermanfaat bagi kebaikan Blora saat ini dan masa mendatang. 

Hadirin yang saya hormati. Demikian beberapa hal yang perlu saya sampaikan pada kesempatan ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan kekuatan serta meridhoi niat baik kita semua.

Sekian. Terima kasih.

Rahayu. Sami hamemayu hayuning bawono sak isine.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

GERAM (Gerakan Rakyat Menggugat)


KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan