artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

VAGINA MONOLOG: KISAH DAN KELUHAN VAGINA KITA


By on 16.1.13

Vagina bukan hanya sebagai alat kelamin. Organ intim yang menjadi pembeda paling khas antara perempuan dan laki-laki ini sudah go public, bukan lagi topik tabu untuk dibicarakan atau pantang disebutkan dalam volume suara tinggi.

Menyebutkan langsung “vagina” untuk menamakan alat kelamin malah sudah dikampanyekan luas sebagai pendidikan seksual terdasar untuk anak-anak. Generasi sekarang nggak lagi “diharamkan” untuk menyebut “saya punya vagina, dan kamu punya penis”. Sungguh berbeda di era 80-an dan 90-an dimana saya mengalami sendiri bahwa menyebut alat kelamin sendiri dengan sebutan pengganti seperti “anu” yang ambigu. Aksi “go public” vagina juga terlihat dari vagina yang bisa ditulis di halaman depan sampul majalah atau buku, lalu menjadi poin “jualan” untuk memperlaris eksemplar majalah dan buku, atau menjadi sebuah label komersialisme untuk nama acara di televisi nasional.

Tapi, mari kembali ke pertanyaan mendasarnya terlebih dahulu. Apakah vagina itu sebenarnya? Sasi, 27 tahun, Staf Kementrian Departemen Luar Negeri, mengatakan bahwa anggapannya tentang vagina nggak pernah konstan di satu makna, kian berkembang seiring dengan transformasinya sebagai seorang perempuan.

“Dulu saya pikir vagina hanya untuk buang air kecil, bertambah besar saya lalu tahu vagina dipakai untuk berhubungan seksual, dan setelah merasakan bercinta, saya bisa bilang bahwa vagina adalah sumber kenikmatan. Kemudian setelah melahirkan, saya menganggap vagina adalah salah satu kebesaran Tuhan karena dari situ keluar jabang bayi yang merupakan anugerah sekaligus amanah. Semakin dewasa, saja juga memahami bahwa selain menjadi amanah yang harus dijaga, vagina juga bisa menjadi fitnah,” urainya.

Selain punya banyak arti dan penambahan fungsi, vagina adalah area dimana perempuan bisa berekspresi sesuka hati. Pilihannya pun nggak berbeda jauh seperti memilih potongan rambut untuk mahkota kepala kita, mau dibiarkan panjang, dibentuk sedemikian rupa, atau dibabat habis sekalian. Pubis atau rambut kemaluan, adalah hak penuh perempuan sebagai pemilik tunggal vagina, yang punya hak veto untuk memutuskan akan dibuat seperti apa. Pembahasan ini pernah dibawa ke dalam salah satu episode serial “Sex and the City”musim kedua, saat Samantha Jones (Kim Catrall) menyuarakan keberatannya tentang konstruksi kecantikan pada vagina, yang umumnya dianggap bahwa standar keindahan vagina adalah tanpa pubis, padahal nggak semua perempuan menyukai hal yang sama.

“Kamu nggak bisa membiarkannya tumbuh lebat lagi. Ada sebuah bisnis yang dikhususkan untuk memelihara dan mengatur rambut kemaluan. Pubis menjadi penentu karakter layaknya sepasang sepatu,”, bunyi dialog yang berlangsung Antara Samantha dengan Miranda Hobbes (Cynthia Nixon).

Bagian dari episode serial tersebut, menyuarakan bahwa perempuan harus punya kendali atas vagina, termasuk keputusan menumbuhkan atau mencukur pubis.

“Saya sebenarnya lebih suka vagina dengan pubis, jadi nggak akan mau menghabiskannya dengan cara apapun, kalau dirapikan oke. Keinginan pasangan yang lebih suka vagina tanpa pubis, ternyata bisa ditengahi dengan mengembalikan keputusannya pada saya. Saya sebagai pemiliknya, menentukan dan memutuskan vagina saya ingin seperti apa,” lanjut Sasi.

Pilihan mempercantik vagina pun lalu meluas seiring dengan makin liberalnya pemikiran perempuan dan publik tentang referensi mempercantik vagina. Bukan hanya dibersihkan atau dibentuk lucu dengan waxing, vagina didandani dengan vatooing –membuat tato temporer di bagian atas vagina menggunakan airbrush dan bertahan 7-10 hari- dan vajazzling –mengaplikasikan batu berlian tiruan di area vulva-, dengan satu tujuan yang sama, mengapresiasi vagina layaknya area tubuh lainnya yang kasat mata. Tersembunyi dan rahasia, bukan berarti vagina nggak dipercantik, kan?

Lalu, bagaimana dari sisi kedokteran tentang mempercantik vagina? Apakah kontra dengan kepuasan kita saat melihatnya cantik dihias?

“Asal dikerjakan oleh tenaga ahli dan profesional itu sama sekali nggak masalah. Sebenarnya, masalah mempercantik vagina seperti membuat tato, piercing, atau batu hiasan di alat kelamin sudah dilakukan sejak zaman purbakala dan terbukti nggak ada masalah sama sekali. Jadi asal dikerjakan dengan benar, bersih, dan oleh yang ahli, itu boleh-boleh saja, tergantung selera masing-masing,” urai dr. Karno Suprapto Sp. OG, yang rutin berpraktek di Rumah Sakit Pondok Indah.

Lebih lanjut ia menambahkan juga bahwa perempuan sebenarnya dikaruniai sebuah organ kelamin yang “pintar” dan nggak butuh perawatan merepotkan untuk menjaganya tetap sehat.

“Sebetulnya Tuhan menganugerahkan sebuah alat kelamin yang nggak perlu diapa-apakan. Malah banyak ditemukan masalah bagi perempuan yang terlalu sering membersihkan vaginanya dengan cairan pembersih, karena mengganggu keseimbangan mikroorganisme alat kelamin. Selama terdapat cairan yang nggak berbau dan gatal, itu masih hal normal, karena ibaratnya organ mata yang selalu berair, bila kemasukan debu akan lebih berair untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Sama halnya dengan vagina, yang mungkin sedikit berlendir setelah berhubungan seksual karena itu sebenarnya mekanisme pembersihan yang secara otomatis akan terjadi,” jelasnya.

Kesimpulannya, ia tersembunyi, punya banyak makna, namun mampu “tampil cantik” apa adanya: itulah vagina kita. So, cheers for all vaginas out there!

Ditulis oleh: Iera Sipahutar
Yang dimuat di: http://www.fimela.com

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan