artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MELAWAN PENJUAL, MELAWAN KONSUMERISME


By on 10.2.13

Judul Buku : 
Melawan Penjual

Penulis : 

Penerbit : 
Elex Media Komputindo

Cetakan : 
2011

Tebal : 
232 halaman

Peresensi : 


Di jaman dimana orang ramai-ramai mengemukakan ide tentang strategi pemasaran, strategi meningkatkan keuntungan, tips-tips memotivasi diri dan tetek bengek semacamnya dimana ujung-ujungnya adalah bagaimana mengumpulkan sebesar-besar keuntungan dengan modal sekecil-kecilnya, maka tulisan yang bercerita tentang hal yang seratus delapan puluh derajat bertolak belakang dengan arus besar (mainstream) tentu bukanlah pilihan yang mudah. Tetapi itulah pilihan yang dijatuhkan oleh Arin Swandari, salah satu anak muda pacitan berbakat. Arin menulis dari sudut pandang yang berbeda dari umumnya; konsumen. Dalam bukunya, Melawan Penjual dia memaparkan tips dan trik melawan iklan massif yang menurut Emha Ainun Najib bahkan disebut sebagai manifestasi dari Da’jal. Alih-alih sebagai kampanye marketing, buku ini justru membawa kita lebih jauh lagi pada pertanyaan mendasar yang menarik untuk kita renungkan bersama seputar budaya konsumerisme: Apakah kita memang memerlukan barang-barang itu? Apakah kita ditakdirkan sebagai konsumen dari mulai kita lahir sampai dengan mati nanti? Apakah kita kerja membanting tulang siang dan malam hanya untuk mengumpulkan uang dan kemudian kita habiskan membeli barang-barang? Apakah kerja itu merupakan kebutuhan manusia ataukah kita dipaksa bekerja agar dapat belanja? Tentu pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak akan dijumpai secara tertulis dalam buku ini, akan tetapi berkembang dalam pikiran sesuai dengan kreativitas dan pengalaman individu masing-masing.

Arin pun saya kira tidak sedang dalam ambisi untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut, buku ini lebih tepat untuk dibilang sebagai pemantik menuju kesadaran posisi kita sebagai konsumen. Kesadaran manusia tentang bahaya konsumerisme itu telah melahirkan banyak gagasan perlawanan mulai dari gerakan penyadaran konsumen sampai dengan anti konsumerisme semacam aksi Buy Nothing Day (Hari Tanpa Belanja) ataupun D.I.Y (Do It by Yourself) yang lekat dengan tradisi komunitas punk dan gerakan-gerakan kontra kultur lainnya. Bahkan di beberapa Negara pemikiran ini berkembang secara ekstrim menjadi gerakan primitivism dimana mereka menolak tehnologi yang dianggap sebagai biang keladi kerusakan bumi. Beberapa yang lain berkembang ke arah pada apa yang mereka sebut dengan gerakan Ethical Consumerism, konsumen etis yang tidak akan membeli barang-barang yang dihasilkan oleh produsen yang memperlakukan buruhnya semena-mena, produsen yang merusak lingkungan, mempekerjakan anak-anak, melecehkan perempuan dan seterusnya. Tentu buku ini tidak juga hendak mengajak kita untuk melakukan boikot menjadi konsumen, tetapi buku ini lebih banyak mengajak kita untuk menjadi pembeli (konsumen) yang kritis, konsumen yang berdaya yang tidak melulu terbuai oleh iklan bombastis di berbagai media yang diam-diam telah mencuci otak kita. Akan menjadi menarik apabila Arin nanti menulis seri lanjutan mengenai bagaimana kerja iklan yang mampu menghipnotis manusia menjadi zombie-zombie yang menjalani siklus rutin kerja, belanja dan kemudian mati.

Selamat menulis buku selanjutnya untuk Arin Swandari!
(Catatan: Arin Swandari adalah jurnalis sebuah kantor berita dan juga alumni SMA Negeri 1 Pacitan)

Sinopsis Buku 

Menjadi pembeli adalah takdir manusia, seberapa pun uang yang dimilikinya atau tidak punya uang sekalipun. Para ibu hanya menjalankan takdir itu ketika berbelanja keperluan bayi yang akan dilahirkan.

Takdir selanjutnya menjadi pembeli dilakoni si bayi hingga tua, seumur hidup, maaf bahkan sampai mati. Pembelian terakhir kita mungkin kain kafan dan peti mati (tentu saja orang lain yang membelikannya, seperti ibu yang membelikan kita popok selagi kita masih di gembolannya).

Takdir menjadi pembeli tak selalu diikuti takdir menjadi penjual. Sebagian memang iya, menjadi penjual sekaligus pembeli. Sebagian adalah pembeli saja.

Pada sebuah keluarga, akan lebih banyak anggota yang berperan menjadi pembeli ketimbang penjual. Istri atau suami yang bekerja, akan menjalankan takdirnya menjadi penjual sekaligus pembeli. Lainnya adalah pembeli tulen.

Anak-anak akan menjadi pembeli tulen, sampai ia bekerja.Istri yang mengandalkan gaji suami juga menjadi pembeli saja, begitu juga suami yang dihidupi istri.

Tetu, bukan nama saya. Tapi saya memutuskan memakainya, khusus dalam buku ini, dengan alasan yang sedikit mengada-ada.

Ibu saya, yang orang Jawa menegur suatu ketika “Nek arep tetukon, mbok dipikir dhisik.” Kalau mau membeli mbok dipikir dulu. Jadi saya asal menyomot Tetu, dari teguran itu sebagai penokohan saya, tidak peduli nyambung atau tidak. Teguran itu yang membuat saya menulis buku ini, dan potongan kata itu yang menurut saya paling paling cocok dicomot dijadikan nama.

Tetu selesai membaca buku ketiga tentang penjualan. Semakin banyak informasi tentang trik promosi dan strategi pemasaran, semakin Tetu penasaran bagaimana nasibnya sebagai pembeli. Dan kalau dipikir-pikir, konsumen juga punya andil besar membuat kesalahan dalam pembelian. Dalam buku ini Tetu mencoba mengajak Anda untuk mengingatnya, berfikir sejenak, agar bisa memperbaikinya dan bersikap rasional menghadapi penjual, yang sudah muncul sejak kita membuka mata di pagi buta.

Kalau Anda sering tergoda diskon, bolehlah sekali-sekali mengambil napas lalu membuat hitungan sederhana, supaya yakin bahwa tawaran diskon bukan tipuan semata. Dan jika dirugikan, silakan memilih salah satu jalur komplain.

Kalau Anda “gemas” dengan sales kartu kredit atau sales asuransi yang kerap ngotot, tenang… Anda punya banyak teman. Tip-tip mereka dibagi di sini. Barangkali, ini saatnya bagi Anda menggunting kartu kredit dan menyisakan 1 atau 2 saja, seperti sahabat Tetu, Frau, raja penghambur. Sebaliknya, mulailah memikirkan bagaimana mengalokasikan dana untuk membeli penghiburan. Bagaimana kalau 10% dari gaji?

Menjadi ratu atau raja belanja? Hmm tentu boleh. Tapi, sebaik-baiknya ratu atau raja adalah raja atau ratu yang bijaksana, bukan?

Buku ini dikemas dalam bentuk cerita-cerita ringan, dan mungkin sebagian cerita keseharian Anda. Untuk para penjual, bukankah perlu mengetahui juga kegalauan para pembeli? Selamat membaca…

Keterangan: Resensi buku ini sengaja saya ambil dari beberapa situs toko buku sebagai bahan pertimbangan kalian untuk memilih sebuah buku bacaan yang mungkin anda sedang cari atau mungkin anda minati.

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan