artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

"MABUK ADALAH KUTUKAN BAGI KELAS PEKERJA" mengungkap kesenjangan yang sesungguhnya terselip di balik aktivitas mabuk.


By on 15.2.13

"Work is the curse of the drinking classes "- Oscar Wilde.

Kira-kira apa yang terlintas dalam benak kalian, saat mendengar atau membaca kutipan tersebut. Quote atau kutipan yang jika diartikan dalam bahasa indonesia kurang lebih adalah “Bekerja merupakan kutukan bagi kelas pemabuk/Peminum (kegiatan mengkonsumsi minuman keras)"

Secara cepat saja, mungkin kita berucap, “ya iyalah borr..gila apa gw lagi kobam gini disuruh kerja, lemes bor..lagi enak nih..”

Bagaimana mungkin dapat bekerja ketika kita sedang mabuk, mabuk tentu membuat kita tidak mampu berkonsentrasi penuh, not to mention efek lunglai yang hinggap mengkudeta dan mentransformasi setiap belikat di tubuh kita menjadi presto (baca : seperti tanpa tulang) 

..atau mungkin, bagaimana sebuah kewajiban untuk bekerja membuat aktivitas mabuk kita menjadi terganggu. Di tengah dosting alkohol atau ganja, bahkan kegiatan berjalan menuju kamar mandi pun seringkali menjadi sebuah petaka luar biasa. Disaat mabuk entah kenapa badan kita bersubstansi mengikuti sifat-sifat air..

Mengalir dari tempat yang tinggi menuju ke tempat yang lebih rendah dan mampu berubah wujud mengikuti bentuk wadahnya.. 
ketika kita merebahkan badan kita..apapun sandaran/wadah yang menopang nya, badan kita akan meliuk melakukan penyesuaian bentuk terhadap kepadatan materi si wadah..membuat apapun akan terasa luar biasa nyaman. Mau itu tembok keras atau pagar besi,mau itu tumpukan buku di dalam tas backpack atau sweater yang digulung-gulung,. Semua nya akan terasa extra nyaman..

Tentu seorang seperti Oscar Wilde tidak akan dengan mudah saja mengutip kata-kata tersebut dengan maksud seperti yang kita jabarkan diatas.. kalau hanya mengutip sambil melihat realitas mèlèk- mèlèk, babe Amung seorang preman betawi di wilayah kota bambu selatan, yang sering saya jumpai di warung jamu dekat rumah pun terbilang cukup lawas untuk membuat kutipan-kutipan tentang hidup. 

Mungkin apa yang coba disampaikan oleh Oscar Wilde (saya terjemahkan secara subyektif), lebih dalam ketimbang arti penjelasannya secara harfiah.. Melainkan sebuah satir yang sengaja diperuntukan untuk menginsisi realitas di tengah masyarakat kita, mengungkap kesenjangan yang sesungguhnya terselip di balik aktivitas mabuk. 

Untuk mencoba memahami maksud dari kutipan tersebut, bagaimana jika kita balik kata-kata nya menjadi “Mabuk/Aktivitas minum-minuman keras adalah kutukan bagi kelas pekerja”

Bagi kelas pekerja, mungkin dengan mabuk , mereka akhirnya cukup legitimate (baca : pantas) untuk mencicipi secuil kesenangan yang juga di rasakan oleh para borjuis, aristokrat dan kelas menengah. Membuat banyak dari mereka lupa untuk menyadari bahwa pada saat yg bersamaan mungkin para borjuis dan aristokrat juga tengah berpesta dalam kondisi penghamburan orgiastik yang mungkin 10 x lipat lebih dahsyat dari mereka. 

Dan di ujung sadar para borjuis terbangun dengan kemurahan dan keramah-tamahan yang diberikan realitas padanya. Sementara kelas pekerja dibangunkan oleh tamparan keras realitas kehidupan sehari-hari yang mencekik di tengah desakan kebutuhan sosio – ekonomi. Memaksa mereka untuk kembali memerah keringat dan darah untuk kemudian terjerumus kembali dalam kegiatan “indulge” (kegiatan memanjakan diri, kepasrahan mengikuti desire) dan aktivitas orgiastik yang berulang. Kepedihan berulang-ulang yang lalu terbasuh dengan kesenangan singkat yang juga berulang. 

Bagi borjuis, aristokrat dan kelas menegah, mabuk adalah sebuah kepantasan yang memang hanya tepat diperuntukan bagi mereka. Kelayakan yang di mumpuni hanya untuk kaum THE HAVE sebagai bentuk rekreasi jiwa berlabel LIVE LIFE TO THE FULLEST. Namun bagi kelas pekerja dan kaum pinggiran mabuk adalah stigma. Negativitas yang menyerat mereka kedalam pelabelan tidak produktif, pemalas, kriminal , dan mengancam bagi keamanan masyarakat. Sebuah penghamburan yang tidak pantas. 


Mabuk bagi kelas pekerja bukan lah rekreasi atau hiburan melainkan kutukan dan cacian. 


Mengapa demikian.. tentu jawaban nya adalah karena para borjuis, aristokrat, dan kelas menengah lebih pantas atas penghamburan dan rekreasi.. mereka melakukan nya dengan proper (layak, pantas)..dengan "ningrat".. dengan santun dan anggun menuangkan sang Cabernet Souvignon dan lalu bersama mengangkat gelas wine yang mewah sambil berkata "Cheers for good fortune".. bersulang untuk keberuntungan dan masa depan yang lebih cemerlang.. Sementara di sisi lain kaum pinggiran tergeletak mabuk anggur murah berlumur muntahan nya sendiri. Lari dari realitas yang tak pernah ramah baginya..

Sekarang..apakah kamu merasakan perbedaan maknanya? (Ayudhia Virga)


KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan