artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

KITA SEMUA TERLAHIR GELISAH. DAN KALIAN TAU APA YANG DILAKUKAN PARA PEMASAR TERHADAP KITA??


By on 5.3.13

Jumat malam minggu kemarin, terdampar karena hujan deras di salah satu pusat service gadget /elektronik di bilangan mega kuningan, bersama seorang teman lama yang mulai intense lagi menjalin contact beberapa minggu lalu. Hujan yang terasa akan awet ini membuat saya mencoba mencari beberapa bahan obrolan yg juga kira-kira akan menstimuli sebuah percakapan yang awet pula. Kebetulan teman saya ini beragama budha. Jadi saya mulai saja dengan one basic question, cerita dong sedikit aja, apa sih filosofi yang diajarkan oleh budhism. 

Dan diantara gemerlap lampu etalase yang bercampur dengan diversifikasi high heels para wanita mandiri pekerja kantoran, dicumbui peluh para petugas keamanan komplek yang riuh redam ditelan ritual macet, teman saya mulai bercerita.. Di bibir drop off taksi dia bersemangat.

Saya rangkumkan untuk kamu ya. Dalam budhism, menurutnya ada beberapa fase dalam kehidupan, namun yang cukup menarik adalah 3 fase besar yang akan saya simpulkan dan rangkaikan sesuai dengan kebutuhan penjabaran saya mengenai anxiety dan desire ini.


(FASE HEWAN – FASE MANUSIA – FASE SPIRITUAL).


Menurutnya, di dalam dunia hewan tidak ada kecemasan, tidak ada anxiety, tidak ada keresahan. Karena mereka akan menjadi sebagaimana mereka diciptakan. Makan, minum, berburu, hibernasi, bertelur ataupun menyusui. Mereka hidup dan lalu kemudian mati, mati karena populasi mangsa alami mereka hilang, mati karena sakit, di mangsa predator alami, mati di konsumsi manusia, atau mati terseleksi alam.. Mereka tidak perlu menjadi “mereka”.
Mereka terlahir demikian dan demikian lah adanya..tidak ada keinginan untuk menjadi sesuatu yang bukan mereka. Seekor domba adalah seekor domba, dan seekor harimau adalah seekor harimau, seekor domba tidak akan pernah menginginkan untuk menjadi seekor harimau, begitupun sebaliknya. Mereka tidak diliputi konsep to be or not to be, mereka tidak terpaut oleh hasrat-hasrat menjadi sesuatu yang bukan diri mereka, mereka tidak dibelenggu oleh term-term pembentukan dan pengelolaan image, karena tanpa ada atau tidak adanya keterlibatan, “mereka akan menjadi mereka”, harimau adalah harimau dan domba adalah domba,  mereka tidak dipengaruhi oleh kewajiban untuk bertata krama atau ber pantas-tidak pantas di tengah masyarakat. Mereka tidak perlu mengikuti perkembangan fashion terbaru untuk bisa diterima di dalam kelompoknya. Keinginan-keinginan yang mereka miliki adalah murni keinginan yang dipautkan ke dalam mereka secara alamiah. By nature, seekor harimau akan memiliki keinginan untuk berburu.


kecakapan tubuh yang ia miliki akan menunjang keinginan (nature design nya) untuk menjadi pemburu yang handal..), seekor domba tidak akan menyempatkan waktu 2 jam sampai 3 jam sehari berkutat di gym untuk workout membentuk dan atau merubah kecakapan tubuhnya untuk menjadi seperti Harimau. Domba akan bertahan hidup dengan cara nya, dan begitu juga dengan seekor harimau..


Jika kamu berpendapat bahwa hewan pun memiliki keinginan-keinginan layaknya manusia, mungkin ini akibat dari komodifikasi kisah-kisah fabel (fabel : cerita yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia) yang seringkali di ceritakan pada kita semasa kanak-kanak. Saat kita diajarkan bahwa hewan-hewan memiliki kharakteristik watak/perangai yang bisa diasosiasikan pada sifat-sifat yang dimiliki manusia, burung hantu – bijaksana, singa – pemberang, musang – Lihai cenderung ke licik, atau apaun..
Berbeda dengan dunia hewan, dunia manusia adalah tempat dimana anxiety, atau keresahan dilahirkan…manusia dituntut untuk menjadi sesuatu yang terkadang bukan diri nya sendiri. kita dihantui oleh konsep-konsep to be or not to be, akan menjadi apa kita nanti, menjadi ini? atau menjadi itu? Sejak kecil kita telah di insisi oleh pertanyaan-pertanyaan, ingin jadi apa kita nanti setelah tumbuh dewasa? Kita diwajibkan untuk memiliki cita-cita, seiring dengan bertambahnya usia, kita akan diajarkan untuk mengerti dan memahami serangkaian panduan (do and dont’s) untuk mencapai cita-cita yang kita inginkan (yang mostly diarahkan oleh orang tua dan society).


Kita sulit diberi ruang untuk benar-benar menjadi diri kita sebenar-benarnya.  Benar-benar diberi ruang untuk memilih apa yang kita inginkan.. kehidupan memaksa kita untuk mencerna semua nya..(preferensi kelompok, aturan, konsep benar dan salah, tata krama, hukum negara, peraturan di rumah, bla ini, bla itu dan apapun)..terkadang apa yang dipaksakan atau diajarkan kepada kita, tidak sepenuhnya kita amini di dalam hati. Hal ini memposisikan kita untuk senantiasa berada di tengah persimpangan di antara semua kemungkinan yang terbuka. Dan memilih salah satu dari pilihan tersebut akan menimbulkan efek kontradiktif bagi pilihan yang lain. Pilihan A yang kita pilih memunculkan ketakutan bahwa barang kali apa yang kita pilih ternyata adalah sebuah kesalahan di kemudian waktu, dan ternyata pilihan B yang kita tinggalkan jangan-jangan justru adalah sebuah kebenaran. Vice versa. Berkebalikan dan begitu seterusnya.

Ditengah kegamangan kita.. muculah suara-suara ini, yang berteriak memanggil-manggil.. Orang tua mu berkata.. jangan disana, mereka tidak baik untuk mu.Teman-teman mu berkata, pergi bersama kami..mereka (orang tua mu) tidak benar-benar pedulli kepada mu..

Mari datang kesini, jalan ini yang baik. muncul suara di sebuah sudut  bersahutan dengan suara lain di seberang sana,tidak jangan kesana, mereka salahIkuti kami. Jalan kamilah yang paling benar. Agama, Islam, Hindu, Budha, Kristiani dan bermacam aliran kepercayaan yang muncul di dalam kehidupan dunia manusia..

Kita yang kebingungan lalu terpaku, terdiam ditengah persimpangan ini. Pertanyaan pun bergulir di dalam benak kita. Siapa yang harus kita ikuti? Siapa yang harus kita dengarkan dan kita percayai? Bagaimana kita bisa dengan pasti mengetahui bahwa apa yang kita pilih adalah suatu kebenaran? Bagaimana jika mereka salah? Benak kita merancukan celoteh kecurigaan yang segera berkolaborasi dengan ketakutan yang muncul sebagai nature dari ketidakpastian dan lalu meninggalkan kita dalam kondisi resah yang luar biasa.. great suspicion, great doubt, great anxiety.

Lalu jauh dalam kegilaan kita berujar..haruskah kita kembali saja.. kembali menjadi hewan. Merenggut buruan kita dengan liat dan mencabik isi perutnya dengan semau kita..lalu menjilat dan menikmati setiap tetes darah yang keluar dari pembuluh yang tercabik..kemudian berlalu pergi tanpa beban.. dan apakah ini, menjadi hewan kinda things ini akan mampu menyelamatkan kita (manusia) dari kondisi so-called the great anxiety ini?

Tiba-tiba *Snap*, mata saya terpejam dan benak saya merancu cepat singgah di tengah-tengah cluster memori, saat histeria kumpulan jemaat yang menggemakan Katarsis berselaput puja-pujian bertemu dengan dentuman audio-visual sekelas event david guetta di Djakarta Warehouse Project.. Mereka liat terhanyut dalam lantunan khotbah dan rintihan orkestra senadung dewa-dewi. Mengangkat kedua tangan mereka sambil bersorak-soray seolah melafalkan “BEHOLD..HERE COMES OUR SAVIOUR”

Bukan-bukan.. saya bukan sedang mengikut ESQ atau upacara ritual cult aliran kepercayaan baru. Ini kalau tidak salah adalah acara konferensi tahunan para pemasar yang diselenggarakan oleh salah satu consulting firm di bidang pemasaran cukup terkemuka di kota saya.  Dan disinilah panjang lebar penjelasan teman saya yang seorang budhist itu menemukan pembenaran nya.. Disini pula untuk pertama kalinya saya mengetahui bagaimana para pemasar ini telah lebih dahulu mengetahui dan membaca gelagat kegelisahan (Anxiety) yang kita semua rasakan, mempelajari nya dengan seksama dan kemudian merumuskan sebuah metode-metode untuk mentransformasi ANXIETY tersebut menjadi apa yang dinamakan dengan DESIRE… Hasrat untuk membeli..hasrat untuk mengkonsumsi.. Dan saya merasa ZONK sekali mengetahui hal ini..


(tat-taratat-tat-tat* Tarik tirai, bunyi suara terompet) we welcome you* take a bow untuk para ceo dan pemasar ulung berjubah musang ,berkalung surban ala sufi, dengan erat segenggam kitab berisi jutaan trik psikologi, bergelar sang juru selamat.. Para messiah perangkat survey. Para penginjil kultus merek dan craftmenship yang gentayangan seperti seven-eleven. memberikan kita sejumput rasa nyaman dan perasaan akan penerimaan yang kental seperti duduk di sofa ruang tengah bersama keluarga.

Mereka masuk, menghunus tepat dijantung titik terapuh dan fundamental dari diri kita. Mereka menyusupi kegelisahan kita.. mereka mengkomodifikasi keresahan kita. Memanipulasi kekhawatiran dan rasa takut. Mereka membasuh tangis dan kegalauan kita dengan ilusi ketenangan selevel senandung nina bobo ibu muda di penghujung malam yang syahdu.  Mereka berbisik di telinga kita seperti desahan mesra seorang kekasih…tenang ya dear.. semua akan baik-baik saja…, kamu akan segera diselamatkan..tidak akan ada yang salah dari diri kamu jika.. ya,jika..


Jika saja kamu memakai parfum ini, jika kamu membeli kosmetik ini, jika kamu menggunakan sepatu ini.. maka kamu akan terlihat cantik, tampan, atau apapun yang kamu inginkan. As you wish dear, tapi yang pasti kamu akan terlihat sesuai untuk bersanding bersama mereka (para supermodel, para teen idols dan manusia sempurna versi pemasar)..kamu pasti akan diterima dalam society, bahkan dengan label-label yang pasti akan kamu sukai. Fashionista, Indy moguls, Club hoppers, Young and Famous, Sosialita atau apapun, you name it. Tidak perlu berterima kasih dear, anggap saja itu bonus…Semua nya pasti akan mudah.. Semuanya akan baik-baik saja..percayalah dear. Kami tidak bermaksud jahat terhadap kamu. Kami hanya ingin kamu terlihat lebih baik, lebih cantik, lebih berkilau, lebih bidang, lebih girly, lebih manly..dan lebih lainnya. That’s because we care about you..that’s because we love you more than you know. Tidak akan ada yang salah dari diri kamu setelahnya..



Dan apa yang benar-benar terjadi..


Kamu berkerja siang dan malam, kesakitan mu semakin parah hari demi hari..kepedihan berulang-ulang yang lalu terbasuh dengan kesenangan singkat yang juga berulang. lalu muncul perasaan merasa bersalah ini..yang lebih mirip seperti abstraksi penyesalan dari ketidakmampuanmu menahan libido untuk mengkonsumsi.. tapi toh ini kan demi menghilangkan kegelisahan itu. Demi terbebas dari anxiety itu. Jadi kenapa harus merasa bersalah.


Membuatmu lebih tenang melewati setiap bulan, dalam belenggu rutinitas dan penyeragaman bawah sadar dalam tirani office hour. Jeritan mu terbasuh setetes nominal dan program-program promo se-tempting terbang murah bersama di airasia.com. Dan akhirnya termanifesto pada wall of fame koleksi slip gaji,dan beberapa lembar tagihan kartu kredit yang sepertinya tidak pernah lunas.

Dan..entah hilang sudah penat yang 26 hari kerja itu. melebur dalam akuisisi jiwa mu yang mirip penertiban pedagang kaki lima tapi sepersuasif upaya lobbying seorang missionaris.
Kegelisahanmu terbasuh nominal yang bertambah setiap habis bulan dan habis kembali setiap awal bulan. Rekening hello goodbye, yang tiap muncul langsung di rampas untuk menyumpal lubang-lubang kegelisahan dan keresahan di diri kamu. 

Bulan ini, pokoknya wajib punya christian louboutin yang model itu. Bulan depan mau tas hermes yang model itu.. couple months of bone slamming hard work (baca : kerja - keras banting - tulang), top to toe akhirnya komplit sudah. Seharusnya semua sudah beres kan. You supposed to look awesome dong. Dan keresahan nya hilang dong..  Wait-wait..tapi tunggu dulu.. siapa dalam pantulan cermin itu, seonggok daging padat dan gembul berbalut semua aksesori mewah ini.. “saya masih kurang pantas..betis saya masih kurang kecil untuk dipangku oleh christian louboutin ini.. lengan saya masih terlalu besar mengepit sang hermes..” kamu berkata.. Dan pada saat itu pula..another anxiety has arrived at your very door again.. dan sekarang yang kamu butuhkan mungkin adalah sedikit advice dari dokter grace (shape indonesia), dengar dari seorang teman katanya dia cukup mumpuni mengkebiri timbunan lemak yang bercokol di tubuh. 2-3 kali kontrol ditambah cardio rutin tiap sore di fitness center terdekat, rasanya cukup efektif untuk menghilangkan keresahan-keresahan yang berakar di pikiran kamu.


Ternyata tetap saja muncul kegelisahan dan keresahan itu.. merangkak tertatih tapi pasti dibawah selimut rasionalitas dan rencana-rencana investasi masa depan.  Siap menerkam mu tiap kali mata mu terpejam..


Nb : Habis ini,  mungkin kamu bisa menonton film “Requiem for a dream” yang di adaptasi dari novel karya hubert selby, Jr. untuk mendapatkan mood bagaimana mengerikan nya visualisasi dari kegelisahan dan keresahan yang terbasuh oleh desire yang bersifat artificial itu terjadi di tengah kehidupan kita.

(Ayudhia Virga)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan