artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MENIKMATI KESEDERHANAAN


By on 15.3.13

Malam telah larut, suasana menjadi sepi hanya beberapa orang yang lalu lalang di gang kenanga yang sempit itu. Dengan langkah pelan, Parjo melangkah menuju rumahnya. Tangan kanannya menggenggam bungkusan kresek hitam. Pikirannya melayang memikirkan anak sulungnya yang sebentar lagi masuk SMP. Memang katanya pendidikan sudah gratis untuk sekolah negeri. Namun pada prakteknya banyak pungutan sana-sini dengan berbagai alasan. Sementara anak bungsunya merengek minta sepatu baru karena sepatu lamanya sudah jebol.

ilustrasi saja
Sesaat kemudian sampailah ia di depan sebuah rumah kontrakan kecil merukuran 3×12 meter. Lampu depan terlihat masih menyala tampaknya istrinya belum tidur.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam” jawab seorang wanita dari dalam.

Pintu terbuka, tampak seorang wanita berumur sekitar 35 tahun mengenakan daster lusuh. “Tumben kok pulang malam Bang?” tanya Siti istrinya. “Iya ngejar setoran, hari ini sepi penumpang udah banyak orang yang pake sepeda motor. Anak-anak sudah pada tidur?”

“Sudah Bang, mungkin mereka kelelahan setelah nonton karnaval di alun-alun tadi sore. Aku buatin kopi ya Bang”

“Ya…jangan terlalu manis, kan ada kamu”

“Ih Abang bisa aja..”

Parjo duduk di sofa tua sambil memandangi istrinya yang menghilang dibalik tirai ruang tengah. Dalam hati ia merasa bersyukur punya istri seperti Siti. Ia begitu setia menemaninya, rela hidup sederhana, tinggal di kontrakan sempit bersama kedua anaknya. Sehari-hari Siti bekerja membersihkan kos-kosan mahasiswa di gang sebelah. Setelah itu ia menjahit sprei borongan di rumahnya. Hasil dari pekerjaan itu hanya cukup untuk memberi uang saku anak-anaknya.

“Nih Bang kopinya” kata Siti sambil meletakkan secangkir kopi di meja.

“Makasih Dik, Oh iya aku punya sesuatu untukmu” kata Parjo sambil mengulungkan bungkusan plastik kresek hitam ke Istrinya.

“Apa ini Bang?”

“Udah buka aja”

Siti membuka bungkusan plastik kresek tersebut. Sebuah kerudung paris berwarna biru dengan renda-renda sederhana di pinggiran yang membuatnya tampak indah. Parjo mendapatkan kerudung tersebut dari Mbak Sri tukang kredit keliling yang jadi langganan angkotnya dengan pembayaran dicicil sebanyak tiga kali.

Mata Siti tampak berbinar, sudah lama ia mengidam-idamkan kerudung paris yang halus seperti ini. Biasanya ia cuma pakai kerudung biasa, kalaupun kerudung paris paling yang KW2 yang tipisnya mirip kain penyaring ampas tahu. Baginya kebutuhan anak-anaklah yang diutamakan. Soal pakaian Ia dan Parjo bisa cari yang murah-murahan. Entah darimana Parjo tahu keinginan Siti ini.

“Makasih Bang, Abang dapat ini darimana? Apa nggak kemahalan? Gimana dengan sepatu Dika yang sudah rusak?” Siti memberondong suaminya.

“Sudahlah, nggak usah dipikir abang dapet ini dengan cara halal kok, soal sepatu si Dika abang udah cari di pasar tapi stoknya habis lagian besok hari libur jadi nggak keburu-buru. Besok tepat 13 tahun pernikahan kita, anggap saja ulang tahun kecil-kecilan. Maaf, Abang cuma bisa ngasih itu, Abang lihat setiap kamu lewat Tokonya Bu Risma selalu melihat kumpulan kerudung di manekin, semoga kamu suka.”

“Makasih Bang, ternyata abang masih inget. Iya saya kepengin punya kerudung yang halus kayak gini, tapi kan kebutuhan anak-anak lebih penting Bang. Dika butuh sepatu baru sedangkan Bayu sebentar lagi SMP.” air mata bening meleleh dari sudut mata Siti. Ia tak mampu menahan haru. Di tengah-tengah kesulitan hidup yang mereka alami, suaminya masih sempat memperhatikannya. Ia rebahkan kepalanya di dada suaminya.

“Sudahlah tak usah terlalu dipikirkan. Anak itu rejeki dari Tuhan, setiap anak lahir dengan membawa rejekinya masing-masing. Percayalah Tuhan sudah mempersiapkan rejeki untuk kita esok hari asal kita mau berusaha. Janganlah ketakutanmu akan masa depan membuatmu tak menikmati hari ini. Tetap berusaha dan optimis namun jangan terlalu tegang. Seandainya Tuhan menggariskan keadaan kita akan seperti ini selamanya, lalu kapan kita dapat menikmati hidup jika kita terlalu tegang”.

Siti merasa tenang mendengar penuturan Parjo. Kata-kata suaminya telah menguatkan mentalnya kembali. Memang selama ini ia terlalu memikirkan kedua anaknya hingga ia sering lupa mengurus dirinya sendiri. Badannya kurus, wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Berbeda sekali ketika baru saja menikah. Parjolah yang sering mengingatkannya agar tidak terlalu tegang.

“Besok bangunkan anak-anak lebih pagi. Kita jalan-jalan ke pasar pagi di alun-alun, jangan lupa kerudungnya dipakai biar tambah cantik” kata Parjo sambil tersenyum.

“Emang Abang nggak narik Bang?”

“Hadeeeh. Narik kan bisa siangan dikit, sekali-kali jalan-jalan mumpung anak-anak lagi libur. Dah, tidur dulu sudah malam, jangan sampai besok bangun kesiangan”

Mereka kemudian beranjak dari tempat duduknya. Siti mematikan lampu ruang tamu kemudian mereka bersama-sama menuju kamar untuk mengarungi mimpi menyambut esok hari. 

Jagatawangawang,09022013

penulis: Cah Kuper

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan