artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

BACA DAN JANGAN NEKAT KALO MAU JADI PROFESIONAL


ENTAH mengapa, belakangan ini keinginan saya untuk membaca buku-buku yang berhubungan dengan industri musik begitu menggebu. Repotnya, mencari rilisan lokal seperti mencari jarum di pantai. Susahnya minta ampun. Hanya sedikit wartawan [musik] yang berani menulis buku [apapun] berkaitan dengan musik. Sayang sekali.

Beberapa buku –mungkin kawan-kawan yang lebih gila baca sudah membacanya—ingin saya sharing-kan lewat tulisan sederhana ini. Terlepas dari kekurangan yang ada, setiap tulisan yang saya publikasikan sebenarnya hanya inging berbagi wawasan saja. Siapa tahu bermanfaat. Kalau tidak suka, ya lewati saja tulisan saya ini. Mudah bukan?

Kali ini saya ingin berbagi soal label. Mungkin kita familiar dengan istilah major label, indie label, “label-labelan”, minor label. Banyak istilahnya. Semuanya sebenarnya bermuara pada kekuatan pendanaan untuk mempromosikan artis yang dirilis. Termasuk soal distribusi, link promosi, sponsorship. Tapi perhatikan, belakangan ini makin banyak label baru bermunculan. Mereka mengklaim punya strategi yang diambil dari “kesalahan” atau “kekurangan” label-label yang sudah ada sebelumnya. Apalagi, biasanya label baru itu lahir dengan “menggaet” pentolan label yang sudah eksis sebelumnya.

Daylle Deanna Schwartz, seorang penulis buku laris tentang industri musik di Amerika Serikat, dalam bukunya Start & Run Your Own Record Label memaparkan dalam risetnya, bagaimana belakangan ini label rekaman independen tumbuh pesat di seantero dunia. Label rekaman ini tumbuh berkembang dan kabarnya lebih mandiri secara distribusi dan pendanaan. Beberapa diantaranya berkembang besar dan akhirnya menjadi pemain utama di industri musik global [atau nasional].

Di Indonesia, ada banyak label berlabel independent seperti FFWD Record, Spills Record, Blossoms Record, Rottrevore Record, demajors. Beberapa diantaranya punya spesifikasi jenis musik yang mereka edarkan. Masih banyak label baru bermunculan, datanya bisa kamu tambahkan sendiri.

Deanna memulai paparannya dengan mengatakan, memulai dan melahirkan sebuah label rekaman bukanlah perkara gampang. Kalau hanya hitung-hitungan angka dan ber-ide dalam format kertas bisnis, memang tidak sulit. Tapi ketika kemudian kudu mengembangkan dan membentuk core bisnis secara lebih serius, itu yang sulit.

Tapi tentu bukan halangan kalau kamu memang punya kemauan, akses, akuntabilitas dan kemampuan di industri yang kamu tekuni. Hambatan dan pengembangan itu bisa menjadi suatu tantangan. Masuk ke industri musik sendiri adalah sebuah prestasi apalagi dengan memiliki label rekaman sendiri, akan membuat kamu bisa menjadi satu kekuatan industri independent yang dihormati. Kalau semua dijalan dengan benar.

Memang memiliki label rekaman sendiri juga memberi manfaat ekonomis. Selain orang akan melihat kamu lebih serius dan membantu menunjukkan tingkat profesionalisme-mu. Kamu akan belajar bagaimana bekerja sama dengan banyak pihak [distribusi misalnya]. Mempromosikan label kamu tidak berbeda dari mempromosikan diri sebagai musisi, dalam versi yang berbeda. Selain itu, ilmu marketing dan public relations akan sangat bermanfaat kalau bisa kamu pelajari juga.

Sebelum “nekat” mendirikan label sendiri, kamu perlu memiliki pemahaman yang baik tentang bisnis musik. Deanna menyarankan, kamu juga kudu berkonsultasi dengan seorang pengacara yang dapat membantu menyiapkan sisi hukum bisnisnya. Coba juga cari kawan seorang akuntan, karena akan berhubungan dengan aturan bisnis yang kamu lakukan. Meskipun dengan label independent.

Deanna menambahkan dalam bukunya, memulai satu label rekaman bukan pekerjaan muda. Ada banyak proyeksi-proyeksi yang harus kamu persiapkan. Misalnya, apakah kamu memulai label rekaman ini hanya untuk mempromosikan diri sebagai satu-satunya artis [alias narsis] atau kamu juga ingin menambahkan artis lain sebagai investasi masa depan? Apakah kamu memiliki rencana pemasaran bagi artis atau musisi yang nantinya bernaung di bawah label kamu? Lalu apakah kamu akan membuat berbagai departemen untuk membantu pembagian tugas-tugas tertentu atau kamu akan lakukan semua ini sendiri (publisitas, A & R, radio, dll)? Semua itu adalah pertanyaan yang harus kamu tahu jawabannya sebelum memulai proses memulai sebuah label rekaman.

Setelah kamu mempunyai ide dan gagasan itu, menggulirkannya tidaklah sulit asal tidak grusa-grusu dan punya kepekaan atau intuisi. Memiliki label rekaman sendiri, memberi kamu kebebasan untuk melakukan apapun yang kamu inginkan kepada musisimu. Tentu dengan perencanaan yang tidak asal-asalan ya.

***

Dalam bahasa Deanna, bisnis musik adalah binatang dalam dirinya sendiri. Mengunyah dan meludahkan seniman [baca: musisi] dari hari ke hari seenaknya. Mungkin itulah alasan mengapa banyak seniman yang tidak [mau] mengerti banyak bisnis itu sendiri (baik karena mereka tidak ingin atau mereka tidak pernah benar-benar mendapat informasi dengan benar). Kalau kamu adalah salah seorang seniman yang tidak memahami “bisnis” ini, kamu perlu untuk mengubah persepsi itu dengan CEPAT!

Usaha di industri musik bisa menjadi rumit (terutama setelah kamu mulai masuk ke urusan publishing, royalti, lisensi, dll). Percaya deh, itu semua tidak bisa dipelajari seperti ujian mahasiswa dulu, sistim kebut semalam. Perlu waktu khusus untuk memahami seluk beluk bisnis ini secara keseluruhan. Tentu saja, belajar dan mencari tahu informasi ini sangat penting, terutama jika kamu adalah seorang musisi independen. Tapi sebenarnya, ini berlaku untuk semua musisi yang serius hidup dari dunia musik.

Banyak musisi mengabaikan sisi bisnis musik, karena mereka memilih untuk tidak kehilangan fokus atau memiliki kreativitas mereka mengganggu. Kamu termasuk musisi yang mana? (Djoko)

judul aseli artikel ini: Buat Kamu Yang ‘Nekat’ Bikin LABEL MUSIK Sendiri!!

PANJANG UMUR PARA PEMBANGKANG!!


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata pembangkang adalah orang yang melawan dan menentang perintah atau nasehat. Sedangkan kata pembandel berasal dari kata bandel. Arti kata bandel adalah bersikap tidak mau menurut nasehat (terutama dari orangtua). Mirip? Iya, kalo diartiin secara umum memang inti keduanya mengarah kepada sikap tidak patuh, tidak mau tunduk, atau tidak mau diatur. Tapi sebenarnya ada perbedaan antara kedua kata ini.

Begini, ketika kita yang melanggar perintah yang sudah ditetapkan orang tua dirumah atau guru di sekolah atau boss di tempat kerja kemudian kita diberi peringatan sekali, dua kali tapi tetap melanggar padahal kita sudah jelas-jelas mendengar apa yang diperingatkan oleh mereka kepada kita, maka kita bisa dibilang pembandal (bandel, nakal). Nah kalo pembangkang?? Kalo pembangkang adalah ketika kita sudah dalam level melawan balik, mengkritik balik, atau menyanggah, apa yang sudah diperintahkan kepada kita dengan alasan yang masuk akal tentunya. Nah, dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa perbedaan pembangkang dan pembandel adalah: Pembangkang itu adalah orang yang melawan nasihat/perintah dengan mengkritiknya. Sedangkan pembandel itu adalah orang yang melawan nasehat/perintah tetapi dia tidak pernah mengkritik nasehat itu.

Membangkang itu adalah sebuah kenakalan, ketidak patuhan, pembandelan yang diawali sebuah pertanyaan "kenapa kita harus membangkang ini (hal yang kita harus bangkang)?". Intinya, selama kita masih mempunyai alasan kenapa harus membangkang, maka membangkanglah. Selama kita memiliki kesadaran kenapa kita harus membangkang, maka membangkanglah!! PANJANG UMUR PARA PEMBANGKANG!! (Dimz)

MENJADI PEREMPUAN PEMBANGKANG


CATATAN DISKUSI NURANI PEREMPUAN TENTANG TUBUH-TUBUH DAN GLOBALISASI

Saat ini setidaknya di Kota Padang sa­ngat sulit kita mencari kepala perempuan yang bebas dari tusukan jarum atau untaian manik-manik dan segala ak­sesoris lainnya, terutama pada jam-jam kerja. Perempuan PNS, perempuan guru, perem­puan dosen, perempuan maha­siswa, perempuan dokter, perempuan politik, siswi sekolah rata-rata berdandan cenderung sama; Rambut di kucir tinggi lalu dibungkus dengan kain berbahan kaos yang diikat ketat. Belum cukup puas dengan tutup seperti itu, rambut dan kepala ditimbuni lagi dengan jilbab warna warni dan dipaku de­ngan peniti rumbai-rumbai, alasannya: Modis.

Tetapi dari mana mun­culnya keinginan tampil modis dengan jilbab ala India dan Timur Tengah setidaknya India/Timur Tengah yang mereka imajinasikaan itu?

Ini jelas tak ada hubu­ngannya langsung dengan perintah tuhan tetapi ini erat kaitannya dengan Perda ber­busana muslim yang ada di kota ini. Perda itu telah mengkondisikan tubuh perem­puan dalam pengawasan penguasa, un­tuk tampil seba­gai­mana yang dikehendaki; Berjilbab. Ketika tekanan ‘wajib jilbab’ muncul berba­rengan dengan keharusan untuk tampil modis yang gencar dikampanyekan media, maka muncullah bera­gam gaya orang dalam berjil­bab. Inilah yang dipandang sebagai bentuk kreatifitas. Tetapi sesungguhnya itu tak lain dari kreatifitas yang lahir dari kungkungan.

Bermula dari Perda-Perda yang dibuat oleh penguasa, kehidupan masyarakat kota Padang ini kemudian menjadi terkendalikan dalam sebuah sistem pengawasan (surveil­lance) global. Kita seolah-olah berada dalam sebuah penjara yang sipirnya adalah kita sendiri. Bayangkan saja, betapa menyedihkannya kondisi ter­sebut. Tiba-tiba saja kita merasa canggung jika anak-anak kita pergi ke sekolah tanpa jilbab, merasa bersalah ketika pergi ke kantor tidak membungkus kepala dengan jilbab tetapi tidak me­rasa terganggu ketika jilbab itu digantung selepas jam sekolah atau jam kerja dan meng­gantinya dengan pa­kaian mu­sim panas yang serba longgar dan terbuka jika ingin ke warung atau berbual dengan tetangga.

Memang hal ini tam­paknya sederhana dan seolah-olah bersesuaian dengan perintah agama, tetapi se­sungguhnya di balik itu ada sebuah jebakan yang telah disiapkaan oleh pemegang kekuasaan yang sangat sadar bahwa tubuh sesungguhnya adalah keku­atan. Karena itu wacana pengaturan tubuh baik tubuh sosial maupun tubuh individu sangat pen­ting. Tubuh perlu dikontrol dan diawasi serta didi­sip­linkan agar mudah ‘diken­dalikaan’. Itulah yang sedang dialami oleh manusia, dan sesungguhnya yang paling rentan dalam pengaruh peng­awasan ini adalah tubuh perempuan. Lalu siapa yang muncul sebagai hero (yang mengeruk keuntungan) diba­lik semua fenomena ini? Tentu saja pembuat pera­turan. Kondisi ini kemudian diklaim oleh penguasa seba­gai keberhasilan mereka mengatur masyarakat. Kepa­tuhan masyarakat menjadi modal untuk memperta­hankan kekuasaan.

Pembicaraan-pembica­raan di atas mengemuka dalam diskusi bertemakan tubuh perempuan dan globa­lisasi yang digelar LSM Nurani Perempuan (NP), Jumat (6/4) lalu. Dalam diskusi yang dihadiri oleh para aktivis pe­rempuan, aka­demisi dan bu­dayawan tersebut, Drs. Fadlillah.M.Si, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand Padang yang hadir sebagai pembicara mengajak perem­puan untuk membebaskan dirinya dari kungkungan keku­a­saan yang meng­hegemoni tubuh perempuan lewat penge­tahuan. “Diperlukan sebuah sistem pendidikan yang mem­bebaskan. Perlu ada sekolah untuk perempuan,” ujar Fa­dlil­lah dalan closing state­mentnya.

Tekanan yang tercipta dari sebuah sistem otoritas hannya bisa dibongkar dengan me­wacanakan hal baru yang mencerahkan. Perempuan harus diajak keluar dari lingkaran kekuasaan yang mengkonstruksi kehidupan mereka dan kemudian mem­bebaskan mereka dari tuhan-tuhan palsu yang berwujud pemerintah, senat dan perda-perda, demikian pendapat Dra. Ranny Emilia M.Phil, akademisi dari FISIP Unand. “Kerusakan masyarakat ini sudah sistemik. Kita harus melawannya dengan mende­konstruksi sistem yang ada. Membongkar kekeliruan berpi­kir pemerintah, akade­misi dan politikus yang tampil sebagai pemegang kekuasaan yang korup. Pe­rem­puan mesti mengambil peran dalam pro­ses dekons­truksi ini,” ujarnya antusias.

Rezki Khainidar dari Yaya­san Anak Indonesia berpen­dapat bahwa penguasaan terhadap tubuh sebenarnya tidak hanya terhadap perem­puan, tetapi juga terhadap anak-anak dan lelaki. “Pokok­nya disemua lini kehidupan kita telah dijajah oleh sistem kekuasaan besar. Bahkan untuk melahirkan anak saja yang merupakan proses sa­ngat alamiah, kita tidak punya kesanggupan lagi. Sega­lanya harus dengan keputusan dokter. Tuhan kita telah diambil alih. Rukun iman kita juga telah ber­tam­bah!” ujar dokter yang memutuskan jadi aktivis ini.

Melengkapi wacana yang berkembang dalam diskusi, Rusli Marzuki Saria menge­mukakan bahwa yang harus diupayakan adalah memuncul­kan sikap kritis perempuan. “Perempuan itu mestinya jadi pembangkang. Jangan menu­rut saja,” ujar penyair yang akrab dengan sapaan Papa ini. Dengan membangkang terhadap arus utama yang deras, maka perempuan bisa membebaskan dirinya. Tidak terbawa arus begitu saja. Hal inilah yang menurut Papa belum banyak muncul di Padang.

Menanggapi Papa, Jend­rius, kandidat doktor Univer­sitas Malaya berpendapat bahwa yang sangat perlu dibebaskan itu adalah perem­puan kelas menengah yang ada dalam sistem birokrasi pemerintahan, karena berda­sarkan penelitian, merekalah yang sangat rentan di penga­ruhi, karena mereka berada langsung di bawah naungan sistem sekaligus menjadi agen (aktor) dari sistem tersebut. Ini menunjukkan bahwa sis­temlah yang membuat perem­puan tak berdaya. Buktinya One-One pedagang sayur di Pasar Raya malah tidak terpengaruh oleh segala ma­cam model jilbab tersebut. Mereka, kaum perempuan yang dipan­dang kelas bawah itulah yang berani membangkang pada pemerintah juga terhadap sistem besar yang jauh lebih mapan. “Bahkan menceraikan suami yang tidak memberikan penghasilan, atau menikah sampai tiga-empat kali bagi mereka hal biasa. Coba, mana ada perempuan kelas mene­ngah yang seberani mereka?” tunjuk Jendrius yang bekerja sebagai peneliti dan dosen di FISIP Unand.

Diskusi dengan tema-tema pembebasan di atas memang menarik untuk diikuti sebagai dinamika sosial. Persoalannya adalah, bagaimana membawa ide-ide yang muncul saat diskusi ke dalam sebuah gerakan sosial yang mem­bumi. Di sinilah seringkali kelemahannya. Ide yang mun­cul menjadi impoten (layu) ketika dibenturkan dengan sistem yang sedang berjalan. Ada ‘kemalasan’ untuk berbu­at, ada rasa tidak berdaya ketika yang dituntut adalah kerja keras. Kalau sudah begini maka apa boleh buat.

Namun menurut saya, apa yang dilakukan oleh Nurani Perempuan, dengan menggelar diskusi seperti ini adalah sebuah kerja awal yang baik. Membuka ruang-ruang bagi publik (public space) untuk membicarakan masalah mere­ka, perempuan membicarakan tubuh mereka. Ruang publik penting sebagai tempat individu-individu merumuskan diri mereka sendiri, wujud dari perlawanan terhadap sistem dan kolonialisasi baru yang menjajah kehidupan.

Semoga saja LSM Nurani Perempuan dan LSM-LSM lainnya di kota ini mampu mengagendakan kegiatan diskusi-diskusi terbuka seperti ini secara rutin. Dan kita sebagai warga masyarakat jangan sampai melewatkan keberadaan ruang-ruaang diskusi tersebut. Inilah bentuk sederhana dari sekolah perempuan (Sakola Padusi) yang kita cita-citakan.


KA’BATI
(Penulis Novel Padusi dan Mahasiswa Sosiologi Pascasarjana Unand)

MENULIS ITU MENYENANGKAN


Seperti penulis lain, Priska ingin menghasilkan karya tulisan yang hebat! Priska duduk manis menghadap komputer dan menunggu jari-jarinya menari ajaib di atas papan ketik. Dia heran mengapa keajaiban itu tidak kunjung datang. Setelah lewat beberapa menit, dia menyerah dalam pergulatan dengan pikirannya sendiri. Dia pun tergoda untuk menelepon teman, menonton televisi, menyapu ruangan, mencuci baju, menguras bakmandi, dan melakukan apa saja yang tidak berhubungan dengan menulis. Dia tampak lega ketika berhasil menyelamatkan diri dari arena tulis-menulis yang menyebalkan!

Menyebalkan?

Ini masalahnya. Pertalian paradigma bahwa menulis itu menyebalkan perlu dirombak total. Proses tulis-menulis akan berlangsung dengan efektif jika kita menganggap menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan. Anggapan awal kita tentang proses menulis merupakan tenaga yang membakar hasrat diri untuk terus mencipta. 

Menyenangkan?

Beberapa penulis, seperti Andrea Hirata atau Raditya Dika menulis demi kepuasan pribadi. Beberapa karya mereka ternyata sangat laris terjual. Ada juga beberapa penulis yang berniat memublikasikan tulisannya dan ditolak. Akan tetapi, mereka tidak berhenti menulis karena terlanjur jatuh cinta dengan aktivitas menulis ini. Tulisan mereka memang gagal dipublikasikan, tetapi mereka tidaklah gagal. Hernowo, penulis buku "Mengikat Makna", mengatakan bahwa menulis dapat mengantarkan kita menuju kebahagiaan hidup. Ada tiga kebahagiaan yang ditawarkan oleh proses menulis:

1. Menulis untuk Mengenali Diri Sendiri

Kita dapat mengabadikan harta perjalanan hidup kita dalam tulisan. Kita bisa mulai menulis tentang tetesan embun, keindahan pemandangan kota, sahabat, dan banyak hal-hal menarik lainnya. Tidak hanya itu, Anda juga bisa memotret hal-hal yang sifatnya abstrak. Lampiaskanlah pesona perasaan atau emosi yang sedang bergejolak dengan menulis. Mengapa? Menurut pakar psikologi Amerika Serikat, Dr. James W. Panebaker, mencurahkan seluruh isi hati dengan menulis dapat memberikan pengaruh positif pada perasaan, pikiran dan juga berfungsi sebagai terapi jiwa. Apa yang membuat Anda senang? Apa yang membuat Anda gusar? Mengapa Anda gusar atau mengapa Anda senang? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memaksa Anda untuk berpikir dan membantu Anda memahami keberadaan diri Anda dengan lebih baik.

Mulailah dengan sebuah jurnal. Karena rajin menulis perjalanan spiritual mereka dalam jurnal, nama-nama besar seperti Mahatma Gandhi, Ernest Hemingway, Ernesto Che Guevara begitu populer dan dipuja dunia. Begitu pula di Indonesia, kita mengenal sosok Soe Hok Gie lewat "Catatan Seorang Demonstran" yang begitu menggugah. Kegiatan menulis jurnal itu menyenangkan, mudah, dan sederhana karena berisi curahan hati tentang realitas sosial dan pengalaman pribadi. Tulis, tulis, dan tulis apa pun tentang diri Anda! Hanyutkan diri Anda dalam proses penulisan dan pengembangan ide dari refleksi pribadi Anda. Semakin banyak Anda menulis, semakin Anda mengetahui mimpi, pemikiran, keinginan, dan impian Anda.

2. Menulis untuk "Berbicara" kepada Publik

Proses menulis memberikan kepuasan bagi penulis karena tulisan merupakan alat komunikasi yang teramat berharga. Penulis dapat mengekspresikan aspek-aspek pemikirannya terhadap lingkungan sosial melalui kata-katanya. Penyair William Stafford mengatakan bahwa seorang penulis bukan hanya seorang yang mengatakan sesuatu, tetapi dia juga orang yang tahu cara untuk mengatakannya. Proses menulis tidak hanya berhubungan dengan diri penulis sendiri, tetapi sebuah tulisan juga menjalin pertalian dengan banyak orang di sekitarnya. Bayangkan, lewat satu artikel saja, penulis bisa menjangkau ribuan orang. Bahkan sebuah kalimat saja mungkin bisa menginspirasi kehidupan seseorang.

Penulis adalah saksi zaman yang mencatat kenyataan di sekelilingya. Dia perlu menjadi pengamat yang peka saat melakukan seleksi, analisis, dan penilaian dalam tulisan-tulisannya. Seperti para seniman lainnya, para penulis juga mengangkat pertanyaan-pertanyaan untuk membuat publik merenung. Tidak jarang juga penulis menyumbangkan ide-ide yang bermanfaat bagi lingkungannya. Sungguh mengasyikkan sekali, dengan menulis kita terlibat dalam gerak komunikasi di lingkungan sekitar, di seantero dunia yang luas ini!

3. Menulis untuk Mengasah Kreativitas

Ide-ide kreatif muncul seperti api yang melahap sumbu kembang api; kemudian, luapan kegembiraan pun mengikutinya seperti percikan cahaya yang menghiasi kegelapan malam. Demikian halnya dalam ranah tulis-menulis, kesenangan mengikuti proses menciptakan ide-ide kreatif.

Berpikir kreatif berarti berani menciptakan sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya dengan mengerahkan kekuatan daya imajinasi kita. Proses menciptakan sesuatu berarti melontarkan pertanyaan-pertanyaan, menyelami keraguan dan akhirnya menemukan pemecahan yang kreatif. Aktivitas menulis mendorong kita untuk berpikir kreatif dalam menjawab pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru untuk ditanyakan. Dengan membiasakan diri berkecimpung dalam dunia ini, penulis pun akan terbiasa menikmati saat-saat bermain dengan huruf yang menciptakan kata, kata yang menciptakan kalimat, kalimat yang menciptakan paragraf, dan paragraf yang menciptakan makna.

Teruslah berkarya karena menulis memberikan kepuasan dan kesenangan di mana saja dan kapan saja. Michael Crichton mengatakan bahwa, "Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik [untuk menulis], teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya."

Akhir kata, menulislah! Berkaryalah!

Ditulis oleh: Truly Almendo Pasaribu

Referensi:
  • Bryant, Roberta Jean.1999.Anybody Can Write. USA: Barnes & Noble
  • Hernowo. 2002. Mengikat Makna. Bandung: Kaifa.
  • Mirriam-Goldberg, Caryn. 2003. Daripada Bete, Nulis Aja! Bandung: Kaifa.
  • Pranata, Xavier Quentin. 2002. Menulis dengan Cinta. Jogjakarta: Yayasan ANDI
  • Saltzman, Joel. 1993. If You Can Talk, You Can Write. USA: 1993.

MANIFESTO DI-EWE (kepeleset lidah maksud sebenarnya DIY) #2



V. APAKAH DENGAN BER-DIY, KITA HARUS MENJADI PRIMITIF.

Nah, sekarang kamu sudah diberi informasi ,jadi kalau ada kakak-kakak mohawk bertato yang bilang? Ah, hari gini mah lu ga bakal bisa DIY boii. Emang lu bisa jahit pakaian lu sendiri, emang alat band yang lu mainin itu lu bikin sendiri? kaga kan broh..jadi ngapain lu musti sok ber DIY. Ngebend mah ngebend aja. Gak usah pakai anti-antian segala. anti korporasi atau anti kapitalisme mah udah lewat.

Yuuk Cyiin *tepok jidat sambil nyeka ingus terus bilang rame-rame “Masih kaku aja bro, kayak kanebo kering” 

Dan lalu apakah saya yang misalnya ingin ber-DIY ini, harus muncul ke pesta pernikahan teman dekat saya dengan berbalut busana kulit musang yang saya padankan dengan rajutan daun kering halaman belakang rumah yang saya rancang dan kerjakan sendiri hingga tengah malam tadi. Belum cukup ANEH. Tunggu hingga mereka melihat, sendal akar bahar tali temali dengan akses bunga bakung kering hasil BUAH TANGAN SAYA SENDIRI. *saya merasa seperti shreek.

Keanehan tersebut tentu akan memukau para tamu undangan yang hadir di pesta teman saya pada hari itu. Dan hampir dapat dipastikan teman dekat saya akan mengutuk dan membenci saya seumur hidupnya. *Membayangkan saja sudah membuat saya kehilangan selera makan. Karena jujur mas bro jika terminologinya sekaku itu. Saya bener. Ngga sanggup. Ampun deh.. Bahkan saya berani jamin ngga akan ada satupun manusia modern di scene jakarta raya ini yang bisa betul-betul ber-DIY dalam hidupnya. Dan kalau pun memang ternyata ada seseorang yang berhasil melakukannya. Sudah barang tentu kita akan kesulitan untuk menemui doski, sekedar minta info atau berbagi pengalaman pasti akan sulit.. Handphone ga punya cyin, sosial media ngga ada, pingin janjian, bingung musti janjian dimana? Maklum dong mas vroh, secara kemana-mana doski harus jalan kaki. Ya kan ga boleh naik kendaraan kalau bukan bikinan sendiri. * ya kaleee mobil bisa bikin sendiri.

VI. SALAH ADALAH SALAH

Tentu tidak sedangkal itu cara berfikirnya. Itu terminologi-terminologi lama. Itu cara-cara lama yang sering dipakai untuk mencibir orang-orang yang masih percaya DIY. Seperti lampu exit yang menyala terang dalam sebuah ruang gelap, cara-cara ini seringkali digunakan sebagai jalan pintas ditengah kebuntuan mereka menemukan pembenaran-pembenaran yang bisa digunakan untuk tidak ber-DIY. Saat godaan demi godaan (popularitas, uang, atau bahkan cabe-cabean bercelana gemes) nampak begitu lezat sehingga sedemikian sulitnya bagi mereka untuk bertahan, jalan termudah tentu adalah segera terjun merengkuhnya, tanpa perlu lagi berfikir panjang. Yang menunggu selanjutnya adalah konsekuensi dari hal-hal yang menggoda tersebut. Mengantisipasi konsekuensi logis yang muncul sebagai “dosa” akibat ketidakmampuan menahan godaan, mereka bersiasat, berfikir dan berkontemplasi untuk kemudian memanipulasi dosa tersebut menjadi sesuatu yang sepertinya “bukan dosa”. Dibuat biasa saja. Dibuat legal. Dibuat terdengar low-impact (baca : berdampak minor), dan yang terpenting adalah dibuat LOGIS, dibuat sangat masuk akal sekali. Begitu canggih pembenaran-pembenaran dari “dosa” itu diperbaharui setiap harinya, sehingga membuat bangsa kita yang memang sejak dahulu kala dikenal paling juara soal ber-toleransi ini, menjadi sedemikian toleran terhadap “dosa-dosa” yang mereka lakukan. Sikap toleran ini semakin menemukan pembenarannya ketika berhadapan dengan fakta bahwa para pendosa adalah juga teman-teman kita di scene ini juga. Bersenyawa dengan ignorance (*ingnorance : ketidak pedulian akibat kurangnya pengetahuan akan sesuatu) sudah barang tentu hal ini menjadi komposisi yang luar biasa pas untuk terciptanya kondisi “salah” ini. Dan apalah lagi artinya berbuat dosa di lingkungan para pendosa. Berdosa belum tentu berarti melakukan sebuah dosa dilingkungan para pendosa.

Sedih lho dear rasanya, mengetahui bahwa masih ada teman-teman di scene yang seringkali menanyakan : apakah masih perlu ber-DIY? Untuk sebagian orang yang “begitu dalam” percaya, pertanyaan semacam itu terdengar sama seperti pertanyaan : “Apakah kamu masih islam-islaman atau hari gini kamu masih aja kristen-kristenan aja.”

Buat mereka yang percaya,maknanya dalam sekali bro.. Penafsiran-penafsiran hanya kata-perkata atau sepotong-potong itu yang sebenarnya membuat sedih. Seperti ormas garis keras yang seringkali menggunakan potongan-potongan surat dari kitab suci mereka untuk dijadikan sebagai dasar pembenaran dari tindakan-tindakan mereka yang sebetulnya fasis. Terkadang suatu kepercayaan mendalam (dalam hal ini terkait DIY) tentu tidak bisa dimaknai hanya dari bentuknya yang paling harfiah.

Saat kamu, misalnya dengan perangkat pemikiran, daya nalar, field of experiences, frame of refrences atau segala apapun namanya yang kamu miliki tidak lagi mampu menemukan sebuah “pembenaran” (baca : telah kehilangan pegangan/terlepas dari suatu kepercayaan yang semula dipegang teguh) terhadap suatu hal. misal nya : D.I.Y, sikap anti korporasi dan anti kapitalisme adalah sesuatu yang relevan diterapkan dalam realitas kehidupan kamu yang katanya telah habis dilacuri korporat, apakah kemudian hal ini menjadikan kami (yang lain diluar diri kamu tetapi masih bagian dari realitas dunia), yang mungkin saja dengan segenap hati masih percaya bahwa hal tersebut masih relevan, kemudian tidak lagi memiliki tempat di dalam realitas dunia ini?

Lucu, kalau misalnya semua orang yang memeluk suatu agama kepercayaan tertentu, kemudian langsung saja kamu anggap bodoh, hanya semata karena kamu tidak mampu melakukan sesuatu seperti apa yang mereka lakukan ataupun menemukan pembenaran yang bisa menguatkan kamu untuk mampu melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Jika kamu tidak bisa atau tidak mampu “jujur” kan tidak berarti “jujur” adalah kemudian menjadi sesuatu yang salah dan lalu “bohong” kemudian menjadi sesuatu yang benar. Ketidakmampuan kita melakukan suatu tindakan yang kita tau adalah “baik” tidak bisa membuat kita lantas saja mengganti makna dari tindakan tersebut menjadi “buruk” hanya karena kita tidak mampu melakukannya. Yang benar tentu akan tetap terasa benar. Yang benar tidak akan menjadi salah hanya karena kamu tidak bisa melakukannya dengan benar.

Jadi, kakak yang baik hati.. salah adalah tetap salah, dan yang benar adalah tetap benar sesuai domainnya masing-masing, tidak ada alasan bagi kakak yang misalnya telah sadar diri “salah” untuk mengatakan kepada yang lain bahwa yang salah adalah sebuah kebenaran. Apakah itu namanya, selain keinginan kakak untuk turut menjerumuskan kami, newbie ciklet bercelana gemes ini untuk terjun bebas kedalam domain dimana kakak sendiri sebetulnya telah terjerembab begitu dalam ke-dasarnya. Hingga kakak bahkan tidak mampu untuk sekedar merangkak keluar dari pusarannya yang begitu gelap dan bertenaga.. sebuah domain yang kakak sendiri sebetulnya sudah merasa ini “salah”.

Salah adalah salah kak. Saat kakak sadar bahwa kakak telah salah. Pilihan yang lain, yang ada sebagai konsekuensi dari pilhan yang kakak pilih adalah tetap lepas dari lekatan benar dan salah menurut kakak,hingga akhirnya nanti di afirmasi oleh sang pengambil pilihan. Menjadi salah, seharusnya tidak membuat kakak kemudian membenarkan yang salah dan atau mempersalahkan yang benar karena kakak telah salah. Dan yang benar sebagaimana yang salah adalah masih murni sebuah pilihan bebas buat teman yang lain di scene. Soal kenapa yang ini salah, dan yang itu benar tentu masih tetap layak mendapatkan sebuah penjelasan yang berimbang terkait domainnya masing-masing. Janganlah dibuat kami ini seolah-olah tidak punya pilihan lain selain menjadi “salah”.

Misalnya, saya adalah seorang pencuri yang mencuri (*pastinya) untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya. Saya yang dalam hati merasa bahwa saya tidak punya pilihan lain selain mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, tidak akan membenarkan “tindakan mencuri” yang saya lakukan untuk kemudian saya teruskan kepada anak-anak saya. Saya, jika saya adalah seorang bapak yang baik atau minimal sayang kepada anak-anak saya, tentu akan tetap mengatakan bahwa tindakan saya “mencuri” bahkan untuk tujuan yang baik (memenuhi kebutuhan hidup keluarga) adalah sebuah tindakan yang salah. Saya tidak akan membenarkan apa yang saya lakukan semata-mata karena saya tidak punya pilihan lain selain menjadi salah. Saya yang telah merasa salah ini, pastilah mengatakan bahwa meskipun bapak telah salah nak, kalian, anak-anak bapak, berhak untuk mendapatkan pilihan yang benar diluar “salah”nya bapak.

Jadi jelas, saat kakak mungkin sudah merasa lelah untuk apa namanya itu, BER-DIY. Plisss,pliss banget..jangan hasut teman-teman lain di scene termasuk dedek-dedek ciklet bercelana gemes seperti saya ini untuk juga ikut-ikutan menyerah seperti kakak.. Kan belum tentu, kami-kami ini memiliki semangat yang lebih mudah luntur ketimbang milik kakak sekalian. Akan lebih mulia, jikalau kakak sekalian, apabila tidak lagi mampu melanjutkan perjuangan ini atau minimal memiliki sebuah petuah yang cukup bijak untuk memandu kami BER-DIY, mungkin akan terasa lebih jantan untuk segera saja menepi. Yap betul, menepi saja.. Biarlah kami melanjutkan pertarungan yang mungkin telah gagal kalian menangkan. “Karena buat saya menepi adalah jauh lebih ningrat ketimbang menjadi bagian dari sesuatu yang dahulu kalian lawan sendiri.”

Sudahlah mas bro *cupcup, sambil usap-usap bahu... tidak usah naif mengakui bahwa memang seluruh lini kehidupan kita ini sudah maksimal digagahi segala varian produk korporat dengan tanpa pelumas. Habis sudah keperjakaan kita direnggut mereka. Jantan dan akui bahwa sudah ngga jaman lah mas bro, membenturkan pertanyaan-pertanyaan mendasar terkait keyakinan, dengan jawaban sedangkal itu. Saya yakin teman-teman di scene juga sudah tidak di level sekerdil itu lagi pemahamannya. Sebagaimana bentuk penindasan dan budaya mainstream terus ber-evolusi, maka begitu juga seharusnya dengan pemikiran dan pergerakan teman-teman. Bang Amung lulusan sd, mantan preman kota bambu yang sering saya temui di warung jamu dekat rumah juga tau, bahwa sekarang apa sih di kehidupan kita yang tidak di lacuri korporat mas bro?

Nah, kalau memang tidak ada lagi ruang di kehidupan kita yang terlepas dari jerat kapitalisme, lalu kenapa musti repot-repot harus ber-DIY segala. Kita tidak punya pilihan mas bro? Hmm...Tentu ada. Sebagaimana perubahan itu abadi, maka begitupun juga dengan pilihan yang menyertai sebagai ekses dari perubahan. Kita akan selalu punya pilihan. Tentu pertanyaannya adalah, apakah kita cukup berani untuk memilih mana yang baik atau jika tidak bisa sepenuhnya baik, ya minimal mendekati “baik” ?

Lalu apakah menjadi tidak baik jika kita memilih untuk berkolaborasi dengan si business interest abadi ini mas vroh? Padahalkan tentu akan banyak sekali keuntungan atau benefit yang mungkin kita terima jika kita memilih untuk bekerjasama dengan mereka (baca : korporasi dan media kapitalis). Akan ada kemudahan dalam bentuk segala pengurusan perizinan dan tetek bengek pembiayaan event-evet kita di scene (mau bentuknya fresh money, kontraprestasi dalam bentuk equipment,atau pengamanan extra ketat melibatkan aparat gabungan, menjamin event-event kita bebas dari ancaman premanisme). Bila itupun belum cukup, jangan sedih.. tentu akan ada kekuatan publisitas dan promosi untuk acara-acara kakak sekalian di scene. Akan ada gaung maksimal mengenai “musik keras dan lirik militan yang kakak bawakan”. Duh...pasti akan banyak dedek-dedek unyu bercelana gemes hadir di acara kakak nanti. Dijamin bukan cuman batangan gondrong bau anggur deh yang akan muncul. Di jamin scene ini akan lebih “berwarna”

VII. RUANG MURNI

Jika semua dalam hidup kita telah dilacuri korporat lalu buat apa repot-repot ber-DIY segala mas bro? Hmm...bagaimana jika kita balik pertanyaan-nya menjadi : Jika semua hal dalam hidup kita telah dilacuri korporat, apakah kemudian kita tidak berhak tetap memilih untuk ber-DIY? Apakah karena semua ruang di hidup kita ini telah disusupi oleh korporat, kita lantas tidak memiliki hak atas sebuah ruang murni dimana korporasi kehilangan daya tawarnya? Sebuah ruang dimana kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa terpaut hal-hal berbau profit. Sebuah ruang steril yang bebas dari tipu daya para pemasar dan strategi-strategi pemasaran taktis. Wah, apa mungkin ada ruang seperti itu mas bro? Kalau kamu tanya saya, saya jawab mungkin sekali. Kenapa, karena uang bisa menjadi uang seperti yang kita kenal selama ini adalah karena situasi sosial yang memungkinkan “uang” tersebut diberi nilai. Tanpa relasi sosial yang mensituasikannya, uang tersebut tidak lebih dari selembar kertas biasa. Dan apabila nilai komoditasnya lenyap sebagai akibat dari lenyapnya relasi sosial yang menopangnya, maka akan lenyaplah pula uang sebagai sarana pertukaran, pembayaran dan atau penyimpanan nilai. Jika kita di scene ini bersama-sama bersepakat untuk tidak berada di dalam relasi sosial yang mensituasi-kan komoditas nilai yang direpresentasikan oleh uang tersebut, maka dengan demikian “uang” akan kehilangan fungsinya sebagai “alat tukar”. Setelah fungsi uang hilang, maka hilang pulalah kemampuan-nya untuk menindas. kita dapat dengan leluasa menentukan cara-cara lain yang dapat digunakan untuk bertukar. Cara-cara yang lebih bebas dan lebih terasa adil.

Saya masih percaya pada sebuah ruang dimana kita seharusnya tidak perlu berusaha merubah diri kita menjadi seperti orang lain supaya kita diterima masuk kedalamnya. Kita tidak perlu repot-repot menitipkan segala eksistensi diri kita pada ruang tersebut, karena kita adalah juga bagian-bagian yang membentuk ruang itu sendiri. Sebuah ruang yang di dalamnya terdapat kehendak-kehendak murni yang melatari kehendak untuk memilih menjadi bagian dari ruang tersebut. Ruang dimana kita diajarkan untuk bergerak berdasarkan kehendak yang paling murni. Tidak ada kenistaan se-nista pencitraan ala juru kampanye parpol yang tersembunyi dibalik aksi-aksi militan atau segala bentuk kemalasan berkedok anti korporasi.

Ini sebabnya mengapa kamu perlu membakar pulau-nya, membakar semua jembatan yang menempel pada pulau tersebut. Ini mengapa kamu perlu membakar semua pegangan, karena kehilangan semua pengangan adalah suatu jalan yang mungkin dirasa begitu kejam, namun cukup ampuh untuk memberikan "kehancuran" yang memungkinkan terciptanya sebuah pilihan-pilihan yang di dasari oleh suatu kehendak murni. Setelah hancur dan ikhlas menerima kehancuran-mu, kamu akan tersusun kembali menjadi pribadi-pribadi yang berkuasa atas kehendak dalam menjalani hidupmu sendiri. Kehendak ini yang sangat berperan dalam menentukan bagaimana tindakanmu di-nilai. Jadi buat saya, ini bukan lagi soal DIY atau tidak DIY, bukan lagi soal siapa lebih militan atau siapa lebih anti dari siapa. Yang terpenting adalah apa yang melandasi itu semua berjalan. Ini tentang esensi yang menggerakan teman-teman untuk berpegang teguh pada pilihan tersebut. Ber-DIY dari ujung rambut sampai pangkal jembut, jika output-nya tetap berorientasi meraup keuntungan, tentu akan terasa lebih bangsat ketimbang mereka yang sejak awal jujur menempatkan posisi mereka. "Memilih menjadi domba dan menjalani kehidupan sebagai domba tidak akan membuatmu terlihat seperti serigala, dan begitupun sebaliknya.”

Jadi bro, sudah cukuplah usaha kamu untuk membuat kami terlihat bodoh dengan semua strategi dan pembenaran-pembenaran-mu yang membingungkan. Jauh dalam hati, saya yakin kamu sebenarnya turut meng-amini bahwa saat garis sudah ditarik, mau kamu itu keturunan count dracula, mau kamu itu sparing partner-nya genghis khan, salah adalah tetap salah. Kamu tidak akan mendapatkan pembelaan-pembelaan layaknya koruptor di negeri jahanam ini. Mau itu Magrudergrind, mau itu Napalm Death, atau bahkan band-band lokal yang dulu memperkenalkan kamu terhadap DIY, kalau sekarang mereka salah ya tetap salah. Tidak ada abu-abu. Dan seperti pilihan bebas : mau jilat pantat atau tendang pantat? Sebagaimana kami menghargai teman-teman lain yang memilih untuk jilat pantat, maka demikian juga teman-teman seharusnya menghargai pilihan kami untuk tendang pantat. Se-sederhana itu.

Nah, jika kamu bertanya : kalau misalkan saya ngga pingin ribet-ribet DIY mas bro, saya cuma pingin having fun aja, atau saya pingin jadi musisi aja, terus gimana mas bro? Ya tentu saja bebas banget. Asli deh bebas. Mau nanti kamu masuk industri mainstream terus lagu-lagu band kamu digubah menjadi RBT, itu bebas sekali bro, itu adalah murni pilihan kamu sendiri. Yang bangsat itu, kalau kamu mengaku diri kamu ber-DIY, tapi kelakuan kamu bertentangan sama sekali dengan apa yang dipahami dalam DIY itu sendiri. Ini baru namanya bangsat. Kamu berarti tidak menghargai apa yang dipercayai dan dipegang teguh oleh teman-teman lain sebagai suatu kebenaran. Tidak masalah kamu itu mau percaya tuhan, percaya matahari, atau penyembah batu sekalipun. Tapi tolong jangan hina kepercayaan teman lain dengan bilang ah, ngapain sih lo masih aja DIY-DIY'an. Atau sengaja menggunakan dan berlindung dibalik kepercayaan seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan yang sebetulnya bertentangan dengan kepercayaan tersebut. Sebenarnya, se-simple itu bro.

VIII. KAMU PASTI LUPA BAHWA DULU KAMU PERNAH INGAT 

Kamu ingat tidak, dulu kamu lho yang pingin main musik dan bikin band seperti sekarang ini? 

Kamu ingat tidak waktu dulu, kamu antusias sekali lho meminta sambil “setengah memaksa” temen-temen kamu untuk mendengarkan dan berkomentar soal lagu-lagu band kamu?

Kamu lupa ya? Waktu kamu sempat ketahuan ibu guru saat asik mencorat-coret font band kamu di buku tulis waktu jam pelajaran sekolah. Waktu itu, kamu tidak sabar pingin cepet pulang dan ngumpul di rumah gitaris kamu sambil ngulik-ngulik materi lagu band kamu.

Kamu lupa nih pasti? Waktu kamu dan teman-teman band mu, berburu studio recording untuk merekam materi lagu pertama band kamu. Beruntung kamu bertemu abang-abang operator studio yang asik, atau kebetulan punya band dengan genre sama seperti kamu. Disana kamu kelihatan bahagia sekali bertukar pikiran dengannya sepanjang recording. Kamu sibuk nanya-nanya soal mekanisme teknis terkait recording sampai influence musik si abang operator. Tidak lupa kamu bawa sample band yang pingin kamu contoh kharakter soundnya.

Kamu lupa ya? Dulu kamu ikhlas banget patungan bareng temen-temen band kamu yang lain untuk bayar latihan, padahal uang yang kamu punya cuma segitu-segitunya untuk menyambung hidup 1 minggu ke depan.

Kamu bahkan dengan semangat membara membuat copy kaset (biasanya rip-off kaset LIA) atau cd demo band kamu dan membagikannya secara GRATIS kepada teman-teman kamu, tanpa sibuk berhitung soal biaya produksi yang keluar dari kantong kamu pribadi.

Tidak ada yang lebih membahagiakan buat kamu selain melihat ada teman-teman di scene yang menyukai lagu-lagu band kamu..

Kamu pasti lupa deh? Waktu itu kamu lho yang dengan segenap keteguhan hati pingin men-tatto seluruh badan kamu, katamu untuk menunjang “MACHO” nya kamu saat memainkan musik galak yang kamu pilih itu.

Kamu dulu pernah bilang kalau kamu benci sekali kapitalis, kamu benci karena mereka selalu saja profit oriented, maunya hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya. Tidak peduli mau teman, keluarga, atau siapapun, selama masih bisa mendatangkan keuntungan, ya akan dihisap terus.. Sedemikian benci kamu terhadap kapitalis, sampai kamu selalu ingin mengutarakan rasa benci kamu lewat lirik-lirik lagu yang kamu dan band kamu mainkan. Lewat lirik-lirik tersebut, kamu berharap teman-teman di scene bisa menyadari bahwa yang nama-nya kapitalis itu adalah sesuatu yang buruk.

Kamu ingat tidak? saat pertama kali kamu memutuskan untuk masuk ke scene ini. Kamu saat itu sadar bahwa memilih scene ini berarti memilih untuk berada di domain yang berseberangan dengan korporasi dan media-media kapitalis. Kamu yang dulu, sadar betul bahwa scene ini "ada" sebagai oposisi dari industri kapitalis. Berlawanan dan bukan berdampingan.

Sampai disini apakah kamu sepakat bahwa semua hal diatas itu adalah tentang pilihan yang kamu pilih sendiri. Jika ya, sekarang apakah hal-hal dibawah ini adalah benar adanya?

Apakah kami (teman-teman kamu plus newbie-newbie ciklet bercelana gemes) pernah meminta kamu untuk membuat musik seperti yang ingin kamu buat sekarang ini kan?

Apakah kami pernah memaksa kamu untuk memilih jalan hidup seperti yang kamu pilih sekarang?

Apakah kami pernah memintamu membuat band dengan genre seperti yang kamu pilih sekarang ini?

Apakah kami pernah memintamu membuat merchandise seperti yang ingin kamu buat sekarang ini?

Apakah kami pernah memaksamu untuk menghabiskan seluruh uangmu untuk membeli bermacam perlengkapan penunjang dan lalu masuk studio untuk merekam seluruh materi lagu band kamu?

Apakah kami pernah datang kerumahmu sambil bawa pisau untuk mengancam kamu supaya kamu tidak berhenti memainkan musik seperti yang kamu mainkan sekarang ini?

Nih, supaya kamu ingat. Semua hal diatas itu, tidak pernah dilakukan oleh kami terhadap kamu. Jadi, secara logika sederhana, jika semua ternyata adalah tentang hal-hal yang membuat kamu bahagia, pantaskah kamu meminta kami (orang lain diluar kamu yang mungkin tidak ikut merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan itu) untuk ikut membayar luar biasa mahal untuk “sesuatu” yang sesungguhnya membuat kamu bahagia? Terasa aneh?

Misalnya, waktu kamu kecil, kamu bercita-cita menjadi polisi. Kamu bahagia sekali membayangkan dirimu dengan seragam cokelat, topi aneh mirip ufo plus ikat pinggang yang tak luput di gelayuti si bongkok (baca : pistol) yang siap sedia beraksi saat bahaya dan ancaman datang. Kamu bahagia sekali membayangkan dirimu menjadi seorang polisi. Kamu berjanji jika suatu saat nanti tuhan semesta alam mengabulkan keinginanmu untuk menjadi polisi, kamu akan dengan tulus mengabdi, mengayomi dan melindungi masyarakat dari segala bentuk tindak kejahatan. Dan hingga saat itu datang padamu. Kamu sudah menjadi polisi seperti yang kamu inginkan sekarang. kamu sudah gagah dengan seragam dan topi kebesaranmu itu. Sudah macho sekali dimata Prapti, gadis lugu, kembang desa idaman semua lelaki dusun mu itu.

Tetapi kamu (entah lupa atau ingkar) justru memanfaatkan wewenang yang kamu miliki untuk balik menindas atau mengeruk manfaat dan keuntungan dari masyarakat yang seharusnya kamu lindungi. Kamu sibuk memikirkan gimana caranya “balik modal” supaya impas jerih payah (bisa dalam bentuk uang,waktu,atau tenaga) yang dulu kamu keluarkan untuk menjadi polisi. Lha, kan lucu bro. Kan kamu sendiri yang pingin jadi polisi. Kamu padahal sudah tau konsekuensi jadi polisi itu pasti harus siap tugas 24 jam,siap di tempeleng senior kalau kurang ajar,siap dinas luar kota meninggalkan keluarga dirumah atau bahkan siap mati ditembak teroris saat tengah bertugas. Nah, saya jadi bertanya-tanya? Dulu kamu itu ingin menjadi polisi apa tujuannya ya? Pertanyaan yang sama saya ajukan kepada teman-teman di scene ini. Dulu tujuan kamu masuk ke scene ini apa sih sebenarnya? Apakah kamu ingin menjadi musisi besar? Apakah kamu ingin menjadi rockstar dan terkenal? Apakah kamu ingin dipuja-puja? Ingin dikelilingi kimcil-kimcil? Ingin punya uang banyak untuk mabuk dan bersenang-senang? 

Lho kok, kamu tanya begitu sih mas bro? Soalnya sekarang kamu itu sadar atau tanpa sadar memaksa kami membayar harga setinggi langit untuk sekedar memiliki merchandise band kamu itu. Sekarang, kamu memaksa kami merogoh kocek sedalam mungkin untuk harga tinggi tidak masuk akal yang kamu pasang hanya untuk mendengarkan materi rekaman band kamu yang mungkin kamu lupa dahulu itu kamu bagikan secara cuma-cuma dalam bentuk "demo" supaya kami lebih mengenal kamu.

Saat scene ini masih menginginkan band-mu untuk tetap ada, maka biarlah mereka mendukungmu dengan setulus hati tanpa perlu menetapkan berapa jumlah nominal yang harus mereka berikan untuk mendukung mu. Dan jika scene ini tidak lagi menginginkan band mu, ya biarlah.. terima saja dan tetap lakukan apa yang kamu suka. Karena toh memang dari awal ini semuanya adalah untuk kebahagiaan kamu sendiri. Bukan untuk orang lain. Sampai disini sudah ingat apa yang kamu lupakan?

“Menetapkan harga yang sangat tinggi untuk mendapatkan rilisan atau merchandise sebuah band hanya akan menjadikan kualitas KULT pada rilisan diukur sebatas kemampuan untuk MEMBELI rilisan tersebut. Siapapun dengan kemampuan financial lebih mumpuni akan menjadi lebih KULT diantara teman-teman lain yang mungkin berdaya-beli lebih rendah dari mereka. “

IX. MENYADARI BAHWA TANPA TEMAN-TEMAN DI SCENE. SAYA BUKAN SIAPA-SIAPA

Mau se-jago apapun, mau se-hebat apapun kamu memainkan alat musik atau mau se-enak apapun materi lagu band kamu, kalau di seluruh dunia ini yang ada hanya kamu (*dan anggota band mu tentunya) beserta makhluk sejenis ganggang. Tentu semua ke-ke’an yang diakui dan dipahami dalam konsepsi dunia manusia, tentu tidak akan ada lagi artinya bro. Si ganggang dan teman-teman ganggang ini (*pastinya) tidak akan mampu memberikan bermacam bentuk apresiasi seperti yang kamu inginkan. Mereka mungkin akan asik sendiri ber-fotosintesis ria sementara kamu jungkir-balik setengah mati beraksi diatas panggung membawakan materi terbaru band kamu yang menurut kamu luar biasa ciamik itu. Kamu akan terlihat “tidak ada artinya” dimata kawanan ganggang tersebut bro. Kamu bisa memperoleh suatu bentuk penghargaan seperti yang kamu rasakan saat ini, adalah karena kamu berada diantara kami, dan bukan diantara ganggang.

Jadi tolong berhenti narsis dong say.. Berhenti meng-klaim kalau materi lagu atau musik yang kamu buat itu adalah yang paling enak, paling gokil, paling ciamik, paling kult aau paling-paling yang lain lah. Sebetulnya tidak ada salahnya memang memuji hasil karyamu sendiri, tapi yang saya takut adalah klaim-klaim berlebihan ini nantinya akan berhujung pada perasaan “merasa pantas” untuk menjual rilisan atau merchandise band kamu dengan harga yang sangat tinggi. Ingat bro, “paling” menurut kamu belum tentu “paling” menurut saya atau paling menurut yang lain. Apa kamu tidak malu merasa “paling”, padahal tanpa saya, mereka dan yang lain, “paling” nya kamu itu tidak akan ada artinya sama sekali. Kalau kamu masih belum percaya, coba deh kamu tanya sama ganggang :)

Ckreesss *bakar lintingan puntung sambil aduk teh.. Yuk ah, mari kita coba bahas dan diskusikan bersama satu persatu poin-poin yang mungkin bisa menjadi bahan kontemplasi untuk menentukan pilihan atau sekedar membaca situasi. Karena abang-abang gondrong sangar penuh tatto diujung sana yang masih saja asik memodusi kimcil-kimcil tidak akan memberi kamu jawaban apa-apa, maka biarlah selinting ganja puntung bekas semalam ini membuat kamu merenung..

#ingat ya dear, semua yang saya katakan tidak bersifat imperatif, bebas sekali bagaimana kamu menyikapinya. yaah, anggap saja ini curhatan galau teman diskusi kamu yang sudah “keluesan” karena kebanyakan ciu. Karena apa, ya karena saya bukan bapak-mu atau seorang polisi moral yang memaksa kamu untuk ikut peraturan, melarang kamu berkelahi atau meminta kamu untuk bermosh-pit secara tertib. Ini beda mas bro, memanfaatkan teman-teman di scene untuk meraup keuntungan maksimal sambil eksis melakukan agitasi untuk melawan subject penghisap adalah suatu bentuk blunder dan pengkhianatan paling khianat yang tidak pernah terbesit di benak kenakalan saya yang paling liar sekalipun. (AVB)

-- Download Pdf artikel ini --

 
Bagikan