artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

TENTANG NIHILISME


Nihilisme adalah sebuah doktrin filosofi dimana gagasan aspek nilai kehidupan luhur adalah hal yang (hampir) non-eksistensial. Nihilisme menolak ide putatif akan sebuah arti agung dari tujuan mulia hidup manusia. Nihilis menilai bahwa moralitas tidak secara inheren ada, bahwa nilai dan norma adalah sebuah hal artifisial. Dari hal tersebut dapat pula diartikan bahwa nihilisme cenderung tidak mengakui batasan moralitas dan dalam hal ini: agama. Jadi mungkin dapat disimpulkan bahwa Nihilisme adalah tentang eksistensi manusia yang tidak berarti. Bisa dibilang, not giving a shit.

Istilah nihilisme mulai dikenal khalayak umum pada era 70an hingga 90an, dimana tengah ada suatu gap atau kekosongan yang besar dalam kultur pada masyarakat. Dimulai dari era 70an. Setelah lewat gairah berontak rock ‘n roll ala generasi Chuck Berry dan The Beatles, dan bahkan rock ‘n roll pada masa itu dapat dikatakan sebagai musik populer, perlahan mulai surut. Masa pasca rock ‘n roll seakan telah kehilangan tujuan yang oleh generasi sebelumnya diserukan bak perang salib, sudah tidak ramai lagi. Sudah tiada hal lagi untuk berontak. Itulah titik permasalahannya.

Pada akhir 70an muncul musik ribut nir-arti yang kelak dikenal luas sebagai ikon anti-kemapanan: Punk. Berawal dari kesuksesan The Ramones, seniman pionir dari genre punk yang, saya pikir, berhasil membawa punk kepada gelombang mainstream, walaupun masih sangat terbatas. Seakan tidak mau kalah, Inggris turut ambil andil dalam kebangkitan punk lewat Sex Pistols dan The Clash, Misfits, Joy Division, Velvet Underground, Iggy Pop.

Situasi tersebut berlangsung terus hingga pada awal 80an dimana scene punk mencapai masa keemasannya. Awalnya konsep semangat punk masih berkutat tidak jauh dari akar ideologi rock ‘n roll. Namun dalam perkembangannya, gairah punk menjadi semakin keras yang terkadang dianggap ekstrim. Di Inggris misalnya, Sex Pistols mengekspresikan sentimen anti-perang (kala itu tengah panas konflik falkland antara UK dan Argentina) lewat lagu ‘God Save The Queen’. Dalam lagu tersebut, terdapat penggalan lirik seperti berikut:

God save the queen
The fascist regime
They made you a moron
Potential H-bomb

God save the queen
She ain’t no human being
There is no future
In England’s dreaming

Dan bajingan itu berasal dari Inggris, of all places. The Clash juga angkat bicara perihal menentang perang dengan lagu seperti ‘London Calling‘ dan ‘The Call Up‘. Sebenarnya sudah terlihat unsur nihilisme sebelum tema anti-perang diusung sebagai agenda utama dalam scene punk. Malah justru sebelum muncul tema anti perang, nihilisme lah tema sentral musik punk. Anarchy In The UK, White Riot. Nah buat saya, paling cocok menggambarkan situasi tersebut adalah penggalan lirik dari lagu White Riot:

White riot - I want to riot
White riot - a riot of my own

Sex Pistols punya Anarchy In The UK, Pretty Vacant, saya pikir kalian mengerti.

Gerombolan berandalan itu berusaha terlalu keras untuk berlagak tidak peduli. Maksud saya, what’s with them social protest songs? Career Opportunities? anti-war? fascist regime? sounds like a certain long-haired-ex-rockstar-turned-contemporary-prophet, Entahlah.

Pada akhir 80an dunia literatur juga turut terpengaruh oleh masuknya gagasan-gagasan nihilisme dan hal yang berkaitan seperti eksistensialisme dan kesendirian. Karangan macam Kafka dan Tolstoy mulai banyak digemari. Bahkan salah satu buku yang kelak kemudian hari menjadi karya legendaris, Norwegian Wood, a nostalgic story of loss, solitude, and sexuality, karya Haruki Murakami, menjadi sebuah fenomena ketika penjualan buku tersebut menembus rekor baik nasional maupun internasional, hingga sang penulis merasa ketenarannya sangat, sangat, mengganggu hinggai ia memutuskan untuk hidup di pengasingan (crete, yunani kalau tidak salah) hanya untuk menghindarinya. Untung saja tidak seperti seorang rocker depresif pecandu berat narkoba legendaris.

Nah, akhirnya sampailah pada Legenda (sayangnya bukan) generasi saya. Yah memang tidak bisa mengaku ‘Generasi X’ atau yang biasa dielukan the so-called generasi 90an, tapi saya dapat pastikan, pengaruh kuat nihilisme era masyhur kalian itu kurang lebih untuk saya, rasanya sama.

Nirvana. Hmm... Flanel, garage rock, heroin, nihilistic lifestyle, glorified self-worthlessness, nothing, whatever, nevermind, Dark, Depressive. Not giving a shit. Entahlah. Membenci diri merupakan motif tematik brutal yang berulang dalam konteks lirikal Nirvana. Dalam album Nevermind, Nirvana mengubah suara, tampilan, dan perasaan dari musik keras, merubahnya dari nuansa bombastis, flamboyan, dan hedonis berlebih (pikirkan Poison, Motley Crue, Whitesnake, dan musik ‘Hair Metal’ populer lainnya menjadi sesuatu yang sangat muram, gelap, dan luar biasa depresif.

Cobain mungkin telah memukul postur politik tertentu dalam cara kecil dan insignifikan, namun pada intinya ia tampak tidak begitu percaya. Nihilisme, ketika benar-benar dianut tanpa kompromi, pasti akan berakhir pahit. Dalam kasus Kurt, hal tersebut mengarah pada kecanduan narkoba, depresi, dan pada akhirnya bunuh diri. Bahkan cintanya pada bayi perempuannya itu tidak dapat menghalangi kejatuhannya hingga pada akhirnya mencapai titik kehampaan.

Nihilisme Kurt, saya pikir, merupakan sebuah kutukan pada keberadaannya, menyebabkan banyak kebiasaan dan pilihan buruk, dan akhirnya tindakan sangat tidak tercela berupa pemusnahan diri. Secara artistik, walau bagaimanapun, itu adalah ketidakpuasan diri tanpa henti terhadap semua pergerakan, kepercayaan, dan laknat ortodoks yang meminjamkan kekuatan dan semacam integritas berantakan.

Yah pada akhirnya, kita semua harus melewati kegelapan untuk mencapai cahaya di ujung lorong. Cobain tidak dapat keluar dari kegelapan itu, namun sementara tenggelam didalamnya, ia merekam kesuraman dan horor dari dalamnya secara cemerlang dan tanpa ampun. Nevermind telah menjadi pelipur lara untuk jiwa yang kesepian dan hampa dalam dua dekade terakhirva, hanya dengan mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian. Seberapa overrated yang bahkan Kurt Cobain sendiri berpikir demikian, pencapaian semacam itu selayaknya tidak dianggap rendah, saya pikir.

Nah sekarang bicara tentang anak jaman sekarang. Kan banyak tuh yang (ngakunya) suka Nirvana. Suka sex pistols. Suka punk. Suka lagak not giving a shit. Buat saya sih, lucu aja. Para cecunguk ini identik dengan atribut band-band diatas, terlepas dari suka atau tidak. Mereka biasa bergerombol. Yang jadi perkara adalah apakah perilaku demikian produktif? Saya pikir tidak. Heck, bahkan konsumtif. Defisit. Tapi itu diluar topik, lain waktu saya bahas.

Nah jadi apakah mereka-mereka ini yang disebut fanatik sex pistols? Nirvana? Ngerti musik katanya. Entah ya saya tidak mau generalisasi, tapi berdasarkan pengalaman saya interaksi dengan mereka, hal yang dipedulikan hanyalah sosial media online, berfoto, login path. Aduh. Tak perlulah jauh-jauh bicara anti-kemapanan. Nihilist? Ha. Fag.

Ada juga jenis ‘nihilist’ satu lagi. Jenis ini biasa ditemui di perempatan jalan besar. Dengan gaya yang terkadang lebih underground dari fans underground sejati, mereka biasa kumpul di tempat-tempat umum -tak peduli apakah kehadirannya diterima atau tidak. Biasanya mengaku fanatik punk.

Hmm Punk!!! walah. Ya toh tidak bisa menyatakan salah juga. Tapi persepsi punk di Indonesia beda sekali. Selalu identik dengan skate, aibon, anti-intelektual. Padahal, punk tidak -melulu- begitu. Butuh kapasitas berpikir yang cukup baik untuk dapat menciptakan sebuah karya remonstrasi. John Cale, Malcolm Mclaren, Taufiq Rahman. Intelek.

Ah jadi bicara punk. Ya sudahlah, mungkin sekian pandangan dangkal saya tentang nihilisme, yang kebawahnya agak keluar topik. Okelah.

Oh well, whatever, nevermind. (sumber)

BALANCING SOUND DENGAN MP3 GAIN (Download & Tutorial)



Kemunculan tulisan ini dilatar belakangi ribetnya seorang petualang scene yang sedang memulai usaha menjalankan label rekamannya sendiri. Doi kayanya ribet banget mau bikin kompilasi cuma sound yang doi dapetin beda-beda kualitas suaranya dari tiap band. Nah liat gelagat seperti itu, yang pertama gue dapet adalah risih, tapi kasian juga pada akhirnya. Gue risih gara-gara doi terkesan ekspert menggunakan beberapa software yang behurbungan dengan audio (itu juga gue belom liat dia kerja, soalnya cuma bilang "kata si ini atau kata si itu make ini make itu"), sampai sampai doi mau apgred tuh kompinya cuma buat dapetin hasil yang maksimal huaduh gak nahan jadinya buat bikin dia berfikir efisien deh ah. Secara gue juga dulu buta dan ngeraba, tapi gue gak seribet doi. 

Suatu hari gue kasian banget ama dia, akhirnya gue liatin aja software gratisan ini ke dia, sekalian gue kasih cara kerjanya disitu juga. Liat cara kerja yang efisien (mudah dan cepat), juga gratisan pula, dan hasil yang memuaskan, diapun akhirnya ketagihan menggunakan software ini dan software-software gratisan lainnya. Ya stidaknya mental dia yang cuma bisa bicarain "software ini bagus, cuma mahal ori-nya ..." udah jarang keliatan lagi deh  hehe ...

Preview



Cara Menggunakannya:
  • Instal terlebih dahulu MP3Gain.
  • Buka MP3Gain, lalu add file untuk membuka 1 file mp3 saja atau add folder untuk membuka mp3 dalam 1 folder.
  • Pada contoh kali ini, kita akan menggubah semua volume pada satu folder mp3, maka kliklah "add folder" dan pilih folder yang berisi kumpulan mp3 lagu favorit sobat.
  • Setelah itu, klik "Track Analysis" untuk menganalisa besaran volume pada masing-masing mp3.
  • Ubahlah angka pada kotak Target "Normal" Volume sesuai kehendak sobat. 
  • Setelah itu klik "Track Gain" untuk memulai proses untuk menyamakan volume. Dan tunggulah hingga proses selesai.
Oke deh, udah ya jeng ... silahkan coba dan semoga bermanfaat deh ah 

BELAJAR TEKNIK VOKAL ALA GRINDCORE/DEATH METAL (Part I - Growling)


Halo ... pada artikel ini saya mencoba untuk menjelaskan bagaimana kita menggunakan karakter vocal yang kasar atau dengan kata lain vocal yang gak bersih atau parau atau seperti yang digunakan band-band Death Metal/Grindcore pada umumnya. 

Oke. Mari kita mulai dengan tanpa asap rokok, ya paling enggak dikurangi dulu ngerokoknya ya, karena anda akan berhadapan dengan tehnik vocal yang sangat menguras kinerja tenggorokan anda. Kalopun anda memaksa untuk merokok dan berteriak-teriak, ya terserah si. Tapi saya tidak menjamin setelah anda membaca dan mempraktekan tulisan ini anda akan bisa berteriak lagi atau bahkan bicara sekalipun hehehe. 

Langka pertama sebelum anda memulai berteriak dengan suara yang nantinya sulit dicerna pendengar (beda sama nyanyi merdu soalnya hhe), anda harus kudu mesti ngerti dulu tentang sistem pernafasan dengan benar (kalopun gak bener-bener amat, setidaknya tau dan ngerti lah ...).


Begigi ... eh begini maksudnya ... sebagian besar orang bernapas dengan paru-paru. Tetapi jika Anda ingin bernyanyi (bernyanyi dengan cara apapun, tidak hanya di vokal yang keras), Anda harus bernapas dengan diafragma (diafragma thoraks harus tepat). Diafragma memisahkan rongga dada (jantung, paru-paru & tulang rusuk) dari rongga perut dan melakukan fungsi penting dalam respirasi Untuk informasi lebih lanjut silahkan cari di internet atau baca buku yang berkaitan dengan sistem pernafasan. Jadi, langka paling awal adalah, cobalah untuk menghirup udara ke diafragma Anda, letaknya dibagian perut Anda. Ketika Anda menarik napas, Anda akan melihat perut Anda bergerak naik, ketika Anda mengeluarkan napas, perut harus masuk ke posisi normal lagi. Anda bias rasakan sendiri dengan cara meletakkan lengan anda pada perut sehingga Anda bisa merasakan perut ketika itu naik. Dan cobalah untuk tidak menghirup udara di paru-paru Anda pada waktu yang sama. Nah, cobalah berulang-ulang sehingga anda merasa tolol melakukan hal tersebut. Itulah yang disebut bernafas dengan diafragma.

Sekarang, mulailah melatih asupan udara ke diafragma anda dengan cara berbicara dan kemudian bernyanyi (nyanyi yang gampang-gampang aja dulu). Caranya, tarik nafas anda, kemudian keluarkan sambil berkata-kata. Kalo anda kesulitan merangkai kata-katanya, ambil koran atau majalah, baca aja, atau Anda dapat melakukannya ketika berbicara dengan teman-teman. Jika Anda merasa tidak nyaman atau jika Anda takut keliatan tolol, bernyanyilah bersama dengan lagu, menggunakan diafragma Anda. Lakukan ini berulang ulang. Setelah beberapa waktu Anda akan mulai bernapas dengan diafragma Anda secara otomatis, tanpa Anda menyadarinya. Tapi karena hal ini membutuhkan waktu yang lama dan membosankan (kalo terlalu focus), jadi ini kita anggap tidak penting untuk saat ini. Sekarang kembali ke tujuan semula tulisan ini.

Oke, sekarang ketika Anda tahu bagaimana bernapas (menggunakan diafragma), dan ini belom masuk ke sesi latihan vocal sesungguhnya lo …. Dan sebelum Anda memasuki sesi latihan yang sesunggunya, saya ingin memberitahu Anda beberapa hal lagi. 
  • Pertama, tentu saja , NIAT dan KEMAUAN, setelah punya niat selanjutnya pasti anda ingin memutuskan apa yang akan anda latih (Tehnik Vokal). Nah, dari situ berarti Anda memiliki kemauan untuk berlatih, ketika anda memiliki kemauan itu, saya sarankan Anda juga lihat di beberapa video, bisa dari YouTube atau hanya mencari dengan Google. 
  • Kedua, sebelum Anda mulai berlatih , dan selama latihan, siapin air hangat. Karena tenggorokan Anda akan mendapatkan kering dan jika anda meremehkan hal ini saya jamin, Anda tidak akan bisa menyanyi lagi , itulah mengapa Anda harus minum banyak. Dan minuman favorit saya selama latihan adalah air hangat + madu. Kenapa madu? Madu membantu tenggorokan ketika luka atau radang, bahkan baik gunanya ketika Anda sedang sakit. Tapi ada beberapa teman yang minum susu selama latihan tersebut (mereka enak kalo latian ditemenin pabrik susu heehehe). Sumpah! Susu gak baik buat tenggorokan saya, susu itu lemak, dan besar kemungkinan itu akan “ngendek” (menutupi) tenggorokan . Tapi kalo ada hal lain yang lebih cocok buat anda (selain madu dan susu) silahkan dicoba aja. Tapi jangan lupa camurannya air hangat ya …. 
  • Jangan minum alkohol! (loh??) Kecuali dicampur cola! (Haha makin parah itu mah …). Tapi bener, buat pemula usahain jangan kena minuman mengandung alcohol ya? Karena itu akan ngerusak tenggorokan Anda dan konsentrasi Anda dalam berlatih. (Kasus: temen saya latihan vokal sambil minum anggur merah, eh dia malah teriak-teriak di atap masjid … Anda pasti tau lah cerita selanjutnya gimana).
Sebelum memasuki sesi latihan yang sesungguhnya kita harus tahu dulu beberapa karakter vocal kasar. Dan saya maklumi jika anda hanya tahu sebatas growl (geraman) dan screaming (teriak) saja. Sebenarnya masih ada lagi, seperti piggy squealing (babi memekik) atau inhale growling (geraman disedot) dan lain sebagainya. Jujur, Saya bukan pakar atau ahli dalam tehnik vocal kasar, saya hanya bisa dan menuju ke arah expert, karena saya sendiri masih terus mencari beberapa referensi untuk hal ini. Satu hal terpenting adalah “hampir 20 tahun jadi anak band dan megang vocal, selama itu saya gak pernah melakukan vokal growl sedot”, Dan memang disarankan jangan deh kalau belum cukup referensinya. Tehnik vocal inhale growling (growl sedot) bisa sangat berbahaya. Jangankan bernyanyi dengan tehnik vocal growl sedot, bahkan ketika Anda bernyanyi dengan tehnik vokal merdu (bersih) juga dapat merusak tenggorokan Anda jika Anda tidak menyanyi dengan baik. Tapi sampai sekarang saya masih melatih tehnik vocal growl dan screaming saya dan sekarang sedang terus melatih tehnik vocal Piggy squeals saya dikarenakan kebutuhan proyek baru saya dan sampai tulisan ini dibuat saya masih terus cari informasi tentang tehnik vocal ini, karena saya merasa belom cukup baik melakukannya. Jadi maaf kalo tulisannya Cuma terfokus pada tehnik growl dan scream saja.

Growling atau Menggeram

Growling adalah teknik favorit saya. Jika Anda tidak dapat memisahkan geraman dari teknik lain, mungkin satu video dari sekian video di Youtube ini akan mewakilkan tehnik vocal growling itu sendiri. Disini saya harap Anda dapat menerjemahkan bahwa: Growling (geraman) adalah vokal keras bernada rendah.


Sebelum Anda mulai Anda harus tahu bahwa tenggorokan Anda akan terasa nyeri diawal. Jangan memaksakan diri. Dimulai dengan menggeram selama 5-10 menit sehari MAKSIMAL (lakukanlah bahkan jika tenggorokan Anda tidak sakit sama sekali). Lakukan hal ini konsiten dan secara bertahap. Saya yakin anda akan mendapatkan kemampuan untuk menggeram lebih banyak waktu dan tenggorokan Anda tidak akan sakit lagi setelah 5 menit menggeram. Kalau tenggorokan Anda terasa kering, minum sesuatu yang hangat. Dan kalau tenggorokan anda terasa sakit (banget), berhentilah dulu, istirahat sambil cari-cari referensi lain. Nah, dalam waktu seminggu anda tidak mengalami progres yang lebih baik atau malah makin terasa sakit tenggorokannya, mungkin ada kesalahan atau anda melakukan sesuatu yang salah ketika latihan. Terakhir, kalau masih uga belum menemui cara itu untuk teknik vocal growling ini atau malah tenggorokan anda seperti ditusuk besi panas dan tersiksa seperti dineraka (lebehhh …) maaf saya cuma bias bilang, berhentilah untuk selamanya, silahkan coba tehnik vokal Screaming mungkin? Atau nyanyi rock melayu yang mendayu-dayu?? Huehuehue …

Oke, lupain dulu yang mendayu-dayu, kembali ke sesi latihan. Sekarang mari kita mulai. Diawali dengan posisi berdiri. Kemudian buka mulut Anda seolah-olah Anda sedang mencoba untuk mengatakan sesuatu seperti A dan U bersama-sama (seperti mengatakan “kauuuu”). Dorong udara dari diafragma Anda keluar (kadang-kadang akan membantu jika Anda sambil membungkuk, lihat aja beberapa vokalis band Death Metal/Grindcore sering membungkuk kan?). Kemudian, cobalah untuk mendapatkan suara Anda serendah mungkin. Sekarang Anda bisa mengatakan kata yang dengan nada yang sangat rendah, katakana lagi dan terus katakana lagi, tetapi cobalah untuk membuka lebar tenggorokan (coba saja) dan mendorong udara kami benar-benar keras (lagi dengan diafragma). Anda diharapkan untuk bernyanyi dengan pita suara palsu (false vocal chords). Keseringan harus sangat rendah (The Vocal Fry Register). The vocal fry register adalah register (lubang pengaturan nafas) vokal terendah dan diproduksi melalui penutupan glottal longgar yang akan memungkinkan udara untuk melalui gelembung secara perlahan-lahan dengan popping atau suara berderak pada frekuensi yang sangat rendah . Nah!! Ini adalah apa yang ingin kita capai.

Teorinya begini: Ketika berbicara normal, Anda harus merasakan getaran pita suara. Jika Anda berbicara dengan nada tinggi, hampir bernyanyi, getaran harus menghilang. Semakin rendah nada yang Anda hasilkan, semakin Anda merasakan getaran pita suara. Ketika menggeram , getaran ini harus sangat terasa. Anda harus merasakan getarannya diseluruh tenggorokan dan bahkan dalam tubuh. 

Teruslah berusaha. Karena Saya yakin Anda gakkan mungkin langsung bisa, bahkan saya yakin 10x mencobapun belum tentu bisa (curcol nih hehe). Tapi sekali lagi, Jangan menyerah ! Teruslah berusaha . Buka tenggorokan, dorong udara keluar , cobalah untuk menggeram. Praktekkan!!. Atau silahkan simak video diatas atau cari video lainnya. Sayapun harus butuh banyak waktu hanya untuk melakukan sesuatu yang terdengar seperti geraman. Jadi, disini Anda harus menemukan cara yang tepat. Bila Anda melakukannya , terus berlatih . 

Sekali lagi, biarkan saya mengatakannya lagi disini: di awal, kemungkinan besar Anda akan tahu hanya bagaimana mengatakan A dan U ketika menggeram. Sekali lagi, teruslah berlatih. Sayapun awalnya tidak bisa mengatakan vokal E, seperti “Errrghh”. Dan terus saya ulang dan terus berkata tapi tetap gak bias, sampai akhirnya saya marah pada diri sendiri. Akhirnya, saya belajar bahwa lagi. Disitu saya tau saya hanya butuh berlatih. Ya, latihan adalah kuncinya. (klik disini selanjutnya ...)

NOISEPEDIA: SLUDGE


Sludge atau lebih spesifik sering disebut Sludge Metal atau Sludgecore adalah subgenre hasil kawin silang dari dua genre yaitu Doom Metal dan Hardcore Punk, dan sedikit membias terinfluence oleh Grunge dan Noise Rock. Dan secara umum, sludge biasa digambarkan seperti ini: Tempo yang lambat dengan nuansa gelap, atmosfir pesimistis ala Doom Metal berpadu dengan agresi, teriakan vocal, dan kecepatan ala Hardcore Punk. 

"the moniker of sludge apparently has to do with the slowness, the dirtiness, the filth and general feel of decadence the tunes convey" - Mike Williams (Eyehategod) 

Banyak band sludge menciptakan karakter lambat dan berisikan isu-isu hardcore singkat pada lagunya. Namun, ada juga yang sengaja menciptakan tempo yang cepat dalam satu lagunya. Tapi yang tertangkap jelas secara umum karakter gitar dan bass dari band-band sluge ini disetting downtune (stem rendah) dan distorsi yang berat juga dan juga sering menciptakan sound feedback yang berlebihan, yang dimaksudkan agar menciptakan sound yang tebal dan kasar. Sedangkan pada karakter drum yang sangat khas dari band-band Sludge ini adalah Doom Metal, dan ketika memasukin part yang cepat biasanya menggunakan ketukan D-beat atau double pedal,atau dengan karakter breakdown (sangat lambat sekali) yang kuat (yang akhirnya menjadi karakteristik sound dari sludge). Untuk karakter vokal sendiri, dominannya teriak walau kadang menggeram dengan lirik-lirik keputus asaan kepada kondisi alam dan kehidupan, penggambaran penderitaan, penyalah gunaan obat-obatan, politik, dan kemarahan pada sistematis masyarakat. 

Dimulai dari pertengahan dekade 80an, dan Melvins band yang berasal dari Washington (mereka berasal dari scene Grunge), dinyatakan sebagai band pertama yang merekam lagu berkarakter Sludge ini. Album 6 Songs yang dirilis 1986 serta Gluey Porch Treatments (1987), menjadi pionir orsinalitas sludge ini. Dan kemudian Alice In Chain (yang juga berasal dari scene yang sama) pada albumnya Dirt


Pada awal 1990-an Sludge berkembang di Lousiana (khususnya scene metal di New Orleans). Mereka mengembangkan Sludge ketika semua harus bermain serba cepat di scene mereka (walau tidak diharuskan oleh peraturan, tapi kemauan playernya). Kadiran Melvins dengan album Gluey Porch Treatments, dan ini benar-benar menghancurkan kebakuan mindset di scene New Orleans yang serba harus bermain cepat. Maka muncullah Eyehategod (dibentuk pada tahun 1988), Crowbar (dibentuk pada tahun 1989 sebagai The Slugs) dan Acid Bath (dibentuk pada tahun 1991) selanjutnya mempelopori gerakan ini. Di Pantai Timur, Buzzov*en (dibentuk tahun 1989), 16 (dibentuk pada 1990) dan Grief (dibentuk pada tahun 1991) 

“Back in those days, everything in the underground was fast, fast, fast. It was the rule of the day. But when the Melvins came out with their first record, Gluey Porch Treatments, it really broke the mold, especially in New Orleans. People began to appreciate playing slower. With that, all the old Black Sabbath came back around and then you start digging and you come to your Saint Vitus, your Witchfinder General, your Pentagram, etc.” – Phil Anselmo (Pantera) 

Musisi apa yang sangat berpengaruh terhadap kelahiran subgenre Sludge ini? 

"The shorthand term for the kind of rock descending from early Black Sabbath and late Black Flag is sludge, because it's so slow and dense." The New York Times

Black Flag dan Black Sabbath, adalah dua band yang kental berpengaruh dengan kemunculan subgenre ini, selain masih ada Mississippi John Hurt, Lynyrd Skynyrd, Greg Ginn, Trouble, Carnivore, Saint Vitus, Gore, Righteous Pigs, Amebix, dan Swans. Sedangkan gelombang awal Sludge Metal meminyadur karakter band-band Industrial seperti: SPK, Throbbing Gristle, Chrome and Swans. Dan kalo diacak lagi Sludge bisa dikorelasikan dengan musik “Slow Punk”-nya Flipper dan Black Flag album My War

Di kawasan selatan Amerika Serikat, banyak band sludge menggabungkan unsur Southern Rock dan Blues dalam lagu mereka. Hal ini banyak dipertanyakan dan menjurus kontroversi, apakah karakter ini kemudian hanya menjadi gaya scene New Orleans, scene Selatan Amerika Serikat, atau milik para musisi/individu yang terinfluence Black Flag/Black Sabbath diseluruh dunia? Akhirnya kontroversi berujung pada kata Atmospheric Sludge yang mengadopsi lebih kearah pendekatan yang lebih eksperimental dan bernuansa Ambient Atmosphere dalam menulis lagu, dimana agresifitas dikurangi dan lirik lebih Pilosofis. Dan dari kasus ini pula banyak yang menyerempetkan antara Sludge Metal dan Stoner Metal. Padahal ada beberapa hal yang bersebrangan antara dua sub-genre ini, antara lain bahwa Sludge Metal lebih cenderung menghindari karakter Psychedelia dari Stoner Metal, karena Sludge Metal atau Sludgecore lebih banyak kemiripannya dengan Crust Punk dengan lirik politis dan sounds yang gelap, tebal, dan kasar.


disusun oleh: Grindhacker, dari berbagai sumber
==============================================================
KETERANGAN:
Penjelasan singkat ini hanyalah garis besar saja yang saya rangkum dari banyak sumber yang saya browse di google dan mesin pencari lainnya. Untuk lebih jelasnya secara detail mungkin bisa anda cari sendiri (saya bisa, kenapa anda enggak??), biar pengertian dan penalaran dari apa yang saya suguhkan di KAMUS SINGKAT ini gak baku adanya. Terimakasih

GIGS, Antara Pelarian Dari Kebosanan dan Pemenuan Kebutuhan Musik Live


Sering kita dengar teman-teman ngobrolin gigs, dan tidak sedikit yang mengerenyitkan dahi. Apa itu gigs? Gigs menurut wikipedia adalah musical performances atau pagelaran musik. Nah, diantara kita pasti semuanya pernah menyaksikan gigs ini, baik datang langsung atau lewat layar kaca. Hmm, disini saya lebih menyukai gigs yang live. Karena layar kaca lebih banyak menawarkan lipsync atau minus one dan jelas mengurangi excitement dalam menikmati kualitas sound dan instrumen dari performer nya. Memang akhir-akhir ini ada sebuah acara di tv merah yang menyajikan musik-musik live, dan itu sebuah pertanda bagus untuk sekedar menampar acara musik pagi yang dibumbui tarian cuci jemur yang kesohor itu. Not bad for a music show I guess. With a little annoying talkshow. Hahaha kidding mate.

Kenapa harus gigs yang live? Karena live itu jelas menawarkan sebuah experience yang berbeda. Jika kita dicekoki musik yang sama dan berulang-ulang dan lipsync dan basi dan lain-lainnya, tentu experience yang kita dapat sudah jelas. Bosan dan Klise. Coba bandingkan dengan datang ke sebuah gigs live, kita bernyanyi atau bersenandung, dimana kita secara tidak langsung berinteraksi dengan sesama penonton dan bahkan dengan performernya sekaligus .Gigs bukan sekedar datang , nonton dan pulang. Tapi ada sebuah proses kreatif di dalam nya. Dari segi penonton, mereka mencari info, datang ke venue, membeli tiket, mengapresiasi performer, dan pulang membawa experience berbeda. Dari segi penyelenggara atau panitia, mereka membuat konsep, menyiapkan venue dan alat, menentukan performer dan menyajikan yang terbaik bagi penonton. Ada dampak dari setiap gigs bagi masing-masing individu atau komunitas yang hadir. Gigs juga kerap menjadi ajang sosialisasi bagi mereka yang bosan akan doktrin televisi dan mencari kepuasan akan musik yang prima, senantiasa mencari dan memburu gigs yang berisi performer berkualitas. Kita sebut saja gigs hunter, gigs hunter ini akan berulang kali nampak di beberapa acara, jadi tidak aneh kalau gigs isinya orang-orang itu lagi, karena biasanya gigs jadi sarana kopi darat atau ajang temu kangen kawan-kawan lama yang memiliki selera musik sama.

Keistimewaan gigs juga biasanya si performer lahir dari salah satu penonton, misalnya fans salah satu performer yang terinspirasi, membentuk band dan akhirnya jadi regenerasi pada zaman selanjutnya. Gigs live mampu memberikan kejutan-kejutan dan cerita unik, mulai dari yang konyol sampai yang sedih sekalipun. Para performer pun hidup dari gigs ini, manggung dan jual merchandise jadi salah satu pemasukan untuk menjaga eksistensi dalam bermusik. Bukan rahasia umum kalo band DIY lebih banyak mengeluarkan uang sendiri daripada mendapatkannya. Semangat DIY, tidak tergantung uang. itulah kenapa band-band DIY terlihat lebih menarik dengan semangatnya bila dibandingkan dengan band yang memang sudah mapan dari awal terbentuknya. They wrote stories from zero and still cool even when they’re underrated. Jadi sebaiknya bila ada gigs yang gratis di bar atau café, tidak ada salahnya membeli merchandise sebagai dukungan buat mereka, atau sekedar membeli minuman di tempat itu. Mungkin dengan membeli sekedar minuman, bisa menjaga kelangsungan tempat gigs tersebut. Yah, disesuaikan dengan isi dompet juga tentunya. So, what are you waiting for? If there are no gigs that you want to come because the bands not suited for you, why don’t you create your own gigs? (Uphei)

PEMILU "WANI PIRO"




HASIL survei yang dilakukan Polling Center menunjukkan bahwa lebih dari separuh (52,1 persen) pemilih akan menerima uang dan barang dari kandidat dalam pemilihan umum. Apakah uang akan (lagi) berkuasa pada Pemilihan Umum 2014 yang akan datang ini?

Dalam pemilu, politik dan uang merupakan pasangan tak terpisahkan. Uang penting untuk membiayai kampanye karena kampanye berpengaruh pada hasil pemilu. Kampanye tidak akan berjalan tanpa uang meski uang tidak merupakan faktor satu-satunya untuk memperoleh keberhasilan.

Dalam sistem politik yang tidak demokratis, korupsi politik akan tumbuh subur dan menjadi tabiat kebanyakan politisi. Sama halnya dalam partai yang tidak ”sehat”, mereka akan mencari sumber-sumber pendanaan instan untuk menjalankan mesin politik, salah satunya melalui korupsi uang negara.

Atau melalui cara instan yang lain yang marak belakangan ini dengan menarik kekuatan pemodal (baca: pengusaha) ke dalam kongsi partai.

Hasil survei ”Politik Uang dalam Pemilu” yang dilakukan Polling Center (30/12/2013) tentu menjadi ”alarm bahaya” terkait dengan kualitas pemilu yang sudah di depan mata. Survei tersebut dilakukan terhadap 2.760 responden di enam daerah, yakni Aceh, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Hasilnya lebih dari setengah masyarakat akan menerima pemberian dalam bentuk apa pun. Politik uang dalam pandangan sebagian masyarakat dianggap rezeki musiman yang tidak seharusnya ditolak.

Maka, jamak diketahui para calon anggota legislatif (caleg) menyebarkan berbagai sogokan kepada masyarakat ”berbalut” bantuan. Saat bersamaan ramai pula ditemukan masyarakat berbondong-bondong mengejar para caleg dengan berbagai proposal, mulai dari proposal acara keramaian hingga pembangunan fisik sarana umum.

Tidak berpengaruh

Di tengah maraknya politik uang yang terjadi dalam kontestasi elektoral, sebuah pertanyaan besar bagi publik muncul. Apakah politik uang yang dilakukan kandidat linear atau sejalan dengan hasil pemilihan umum?

Jawabannya: tidak. Dilihat dari hasil survei, ternyata hanya 18,1 persen masyarakat yang terpengaruh dengan uang yang diberikan kandidat. Adapun 42,8 persen akan memilih sesuai dengan keinginan mereka. Bahkan, angka yang cukup mencengangkan, sebanyak 21,1 persen pemilih tidak akan memilih kandidat yang melakukan politik uang.

Publik saat ini semakin paham bahwa kandidat yang melakukan politik uang sangat berpotensi melakukan korupsi. Maka, kita saat ini sangat mafhum mendengar anekdot warga: ”Terima uangnya, jangan pilih orangnya”.

Di luar survei tersebut, realitas yang ditemukan oleh Indonesia Corruption Watch dalam pemantauan Pemilu 2009 dan pemantauan beberapa pemilihan umum kepala daerah (pilkada) menunjukkan juga fenomena identik bahwa politik uang tidak linear dengan hasil pemilihan. Petahana yang melipatgandakan alokasi bantuan sosial (bansos) dalam pemilu tidak serta-merta berhasil menang, baik dalam pemilu maupun pilkada.

Setidaknya ada dua pelajaran penting yang seharusnya dipahami para kandidat dalam pemilu mendatang, baik dari hasil survei maupun realitas hasil pemilu-pemilu sebelumnya. Pertama, masyarakat sudah semakin ”melek” politik. Walaupun diberi uang atau sogokan dalam berbagai bentuk, masyarakat relatif tetap memilih kandidat sesuai dengan keinginannya. Uang hanya memengaruhi sebagian kecil kelompok saja

Kedua, uang suap kandidat sering kali ”menguap”. Yang kenyang justru sering kali tim sukses atau lembaga survei. Saat ini tidak ada lagi jaminan yang memberi akan juga dipilih oleh rakyat.

Titik rawan

Semakin cerdasnya pemilih dalam pemilu tentu kabar baik bagi seluruh pihak yang ingin pemilu bersih dan jujur. Sebaliknya, ini tentu kabar buruk bagi politisi yang ingin menduduki jabatan publik dengan cara-cara kotor.

Namun, dengan semakin meningkatnya kualitas pemilih, tak berarti problem pemilu berakhir. Gagasan pemilu yang bersih dan jujur untuk melahirkan pemimpin berkualitas agaknya masih jauh dari harapan.

Mengapa? Karena potensi masalah justru semakin kuat bergeser dari pemilih kepada penyelenggara pemilu. Dahulu kandidat menebar uang kepada pemilih. Namun, sekarang ini yang bakal terjadi justru kandidat menebar uang kepada oknum penyelenggara.

Salah satu modus yang paling rentan adalah manipulasi formulir rekapitulasi penghitungan suara atau formulir C1. Kandidat bermain curang dengan oknum Panitia Pemungutan Suara (PPS) karena, tentu, hanya penyelenggara pemilu yang dapat melakukannya.

Kecurangan ini acap kali terjadi khususnya di tingkat kecamatan karena saksi penghitungan di kecamatan tidak sebanyak saat penghitungan awal di tempat pemungutan suara (TPS) sehingga oknum nakal penyelenggara dengan mudah dapat melakukannya.

Alhasil, yang terjadi, data awal dari TPS tidak sinkron dengan data hasil akhir karena ada penggelembungan jumlah suara untuk kandidat tertentu. Sekali lagi, manipulasi ini sangat berpotensi terjadi melalui kolaborasi kandidat tertentu dengan oknum penyelenggara nakal.

Di sinilah titik rentan pemilu mendatang terjadi. Hal ini sekaligus juga menunjukkan pergeseran titik rawan pemilu mendatang dari pemilih kepada penyelenggara pemilu.

Melihat persoalan di atas, maka hampir dipastikan kekuatan uang berpotensi akan kembali berkuasa pada tahun mendatang. Penyelenggara nakal berkuasa dalam pemilu, wani piro? (sumber)

SEDIKIT TENTANG SEJARAH GOLPUT


Kita tahu istilah Golput ini adalah singkatan dari Golongan Putih. Mereka adalah pemilih dalam Pemilu yang tidak menggunakan hak pilihnya. Awalnya, Golput adalah gerakan protes dari para mahasiswa dan pemuda untuk memprotes pelaksanaan Pemilu 1971. Ini adalah Pemilihan Umum pertama di era Orde Baru. Pesertanya 10 partai politik, jauh lebih sedikit daripada Pemilu 1955 yang diikuti 172 partai politik.

Tokoh yang terkenal memimpin gerakan ini adalah Arief Budiman. Sepanjang Orde Baru, ia dianggap pembangkang dan sulit mendapatkan pekerjaan walau ia seorang doktor lulusan Harvard. Ia kemudian menjadi dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan Universitas Melbourne.

Namun, pencetus istilah “Golput” ini sendiri adalah Imam Waluyo. Dipakai istilah “putih” karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian putih pada kertas atau surat suara. Di luar gambar partai politik peserta Pemilu. Ini tentu bagi yang datang ke bilik suara. Namun, di masa itu, jarang ada yang berani tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena akan ditandai. Maklum, baru saja Orde Baru selesai melakukan “konsolidasi” dengan melibas habis bukan saja pendukung PKI (Partai Komunis Indonesia) tapi juga para pendukung rezim Orde Lama dan para Soekarnois. Pemilu 1971 adalah sarana bagi rezim Orde Baru untuk memantapkan kekuasaannya di negeri ini.

Kebanyakan tokoh pencetus Golput sendiri adalah “Angkatan ‘66”. Ini adalah sebutan bagi mahasiswa dan pemuda yang ikut dalam demonstrasi massa besar menuntut penjungkalan Soekarno. Sebagian dari tokoh “Angkatan ‘66” diakomodasi Orde Baru ke dalam sistem. Mereka ada yang menjadi anggota DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong), bahkan kemudian ada yang menjadi Menteri. Namun, yang tetap kritis melawan rezim baru yang dianggap mengingkari janji itu.

Maka, setelah Golput, ada pula gerakan menolak pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Juga ada Gerakan Anti Kebodohan, hingga Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1975. Orde Baru kemudian memberangus potensi mahasiswa melakukan tindakan kritis dengan memberlakukan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus) pada tahun 1978. Adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Letjen (Purn.) Prof. Dr. Nugroho Notosusanto yang berperan besar dalam hal ini. Kebijakan ini antara lain membatasi masa studi mahasiswa dan mengetatkan kehidupan kampus. Berbagai organisasi massa mahasiswa terusir dari dalam kampus. Didirikan Senat Mahasiswa sebagai pengganti Dewan Mahasiswa. Kontrol kampus diperketat.

Ini semua merupakan ekses dari gerakan Golput yang semula dimulai di Pemilu 1971 dan ternyata terus berlanjut hingga Pemilu 1977, bahkan di sepanjang Pemilu Orde Baru. Kini, setelah reformasi 1998, Golput disematkan pada siapa pun warga negara yang tidak menggunakan hak pilihnya. Bukan saja kepada mereka yang peduli dengan kondisi politik dengan sengaja tidak memilih, tapi juga yang apatis dan tidak peduli karena tidak datang ke TPS dan malah memilih berlibur atau beraktivitas lain. (sumber)

MEMILIH UNTUK TIDAK MEMILIH


Pesta demokrasi 2014 sudah di depan mata. Seperti lazimnya, pertanyaan yang kerap muncul, partai apa yang bakal menjadi kampiun pada pesta lima tahunan di negeri ini? Siapa pula figur yang bakal menjadi penguasa di negeri ini? Sejatinya, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu, sudah lebih dulu muncul di tengah-tengah publik, sejak dua tahun terakhir. Mulai dari analisis para praktisi politik, dan lembaga-lembaga pengolah jejak pendapat yang dua tahun terakhir ini getol meneliti fenomena pesta politik lima tahunan.

Kita melihat apa yang dilakukan praktisi atau lembaga-lembaga jejak pendapat sebagai sesuatu yang wajar dalam iklim demokrasi modern. Namun, tentunya di balik itu semua, tidak bisa kita mengatakan itu sebuah upaya yang sukarela. Jujur saja, iklim politik di negeri ini belum mengenal arti sukarela. Sebab, memang tidak ada yang gratis alias cuma-cuma berpartisipasi dalam dunia politik di negeri ini.

Gambaran paling sederhana, bagaimana para calon wakil rakyat memamerkan kenarsisan mereka kepada publik. Saban hari kita seolah ‘dipaksa’ untuk menyaksikan promo potret diri si Fulan, si ‘Gombloh’ atau yang lainnya yang terpampang melalui spanduk, baliho di hampir semua sudut kota, kampung, desa, bahkan dusun terpencil. Tidak jarang potret aneh-aneh para calon wakil rakyat itu seliweran di jalan-jalan raya.

Dalam masyarakat kita, promo pamer diri model konservatif seperti ini masih menjadi jualan paling efektif. Setidaknya, kenarsisan diperlukan para calon wakil rakyat untuk ‘menjual diri’ sekaligus mengobral setumpuk janji dan harapan kepada publik. Dan, keramaian model demikian memang sudah menjadi tradisi demokrasi di negeri ini. Tidak hanya untuk mereka yang ingin duduk di kursi legislatif, tapi juga mereka yang mengincar tahta kekuasaan di eksekutif, mulai di pusat hingga ke daerah.

Yang selalu menggelitik kita saban pemilu digelar, bukan dari pesta yang menelan begitu banyak rupiah. Tapi, fenomena mereka yang cuek-bebek dalam setiap gelaran pesta lima tahunan tersebut. Bukan apa-apa. Sejak pesta keramaian itu digelar pada 1955 silam, angka pemilih yang tidak menggunakan haknya tidak pernah menyusut. Bahkan, bisa dikatakan persentase cuek-bebek para pemilih mendekati angka 50 persen!

Fenomena ini mengisyaratkan kecuekan para pemilih menyikapi setiap gelaran Pemilu, seolah sudah menjadi tradisi. Tentunya cara pandang mereka yang cuek-bebek atau dalam bahasa Arif Budiman disebut golput (golongan putih) itu bukanlah sebuah pengingkaran dari demokrasi. Fenomena golput bisa dikatakan sebagai bentuk ‘gerakan protes’ terhadap sistem politik di negeri ini yang masih berorientasi pada kekuasaan. Masih tingginya angka golput, itu sebagai suatu tanda zaman; “Ada apa dengan dinamika demokrasi kita?”

Yang pasti mengapa orang bersikap cuek-bebek dalam setiap pemilu, tentu bukan tanpa kesadaran dan pertimbangan yang rasional. Alasan paling sederhana, adalah sikap apatis banyak masyarakat yang berpikir memilih atau tidak, tidak ada perbedaan yang akan dia rasakan. Siapa pun yang terpilih baik menjadi wakil mereka di lembaga rakyat atau di eksekutif, tidak memberi pengaruh apa-apa.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai lembaga sakral, wadahnya para wakil rakyat yang diharapkan menjadi pembela rakyat, justru telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. Belum lagi perilaku buruk para anggota DPR yang hidup bermewah-mewah di tengah kemiskinan rakyat. Dan, paling konyol dan paling menyakitkan, mereka secara berjemaah dengan tega merampok uang rakyat! Rasa kecewa rakyat itulah yang selalu terakumulasi melalui momentum pembalasan pada setiap pesta lima tahunan.

Padahal, seperti dikatakan Endang Tirtana, peneliti pada Maarif Institute, pemimpin sesungguhnya sebuah negara demokrasi bukanlah presiden, DPR ataupun DPD, tapi rakyat yang menjadi pemilih. Hanya saja, dalam sistem demokrasi kita, itu sepertinya masih menjadi utopia. Golput hadir karena memang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor yang melatarbelakangi semua itu. Golput adalah pilihan politik, sekaligus senjata politik untuk mempengaruhi sebuah proses politik. Bagaimana juga Golput telah menentukan pilihannya: yakni tidak memilih! 

Judul aseli: Golput juga memilih


ELEKTABILITAS PARTAI DAN POLITISI KORUP: KORELASI DAN INTERPRETASINYA


Menyimak twitwar mengenai data korupsi politisi, rasanya akan sangat mudah membawa kita pada situasi perdebatan konyol soal dukung mendukung partai ini itu. Menarik sebetulnya jika kita mencoba keluar dari "kemelut" seperti itu dan memandangnya sebagai seorang akademisi dengan mencoba membuat analisis yang seobyektif mungkin.

Data mengenai politisi yang telah dipidana korupsi (perkaranya sudah diputus oleh hakim tipikor) baik di pusat maupun di daerah (DPR, DPRD Propinsi, DPRD Kab/Kota) sejauh ini yang tersedia dalah sebagaimana tersaji berikut ini (data sampai akhir tahun 2013) :


sumber : http://chirpstory.com/li/184257 (pada tautan akan dijumpai lampiran berupa daftar nama politisi dimaksud)

Memang ada data lain yang dirilis Sekretaris Kabinet, DR Dipo Alam per September 2012 yang diambil dari data izin pemeriksaan yang dikeluarkan oleh Presiden untuk politisi DPR. Data tersebut memiliki tiga kelemahan. Pertama, mereka yang diperiksa belum tentu dipidana. Kedua, tidak ada lampiran nama-namanya. Ketiga, data tersebut hanya menyangkut politisi DPR saja, karena ijin pemeriksaan anggota DPRD Propinsi dikeluarkan oleh Mendagri atau anggota DPRD Kab/Kota oleh Gubernur. 

Data dimaksud adalah :
  1. Partai Golkar 64 orang (36 %)
  2. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 32 orang (18 %)
  3. Partai Demokrat 20 orang (11 %)
  4. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 17 orang (9,65 %)
  5. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 9 orang (5 %)
  6. Partai Amanat Nasional (PAN) 7 orang (3,9 %)
  7. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 4 orang (2,27 %)
  8. Partai Bulan Bintang (PBB) 2 orang (1,14 %)
sumber : http://politik.kompasiana.com/2012/09/29/inilah-partai-terkorup-menurut-seskab-dipo-alam-497273.html

Mengamati kedua data, sebetulnya kita bisa menarik kesimpulan awal adanya kemiripan pola, meski urutannya tidak persis sama. Dengan berbagai alasan tersebut di atas maka untuk selanjutnya kita akan mengelaborasi data pertama.

Langkah selanjutnya yang bisa kita lakukan untuk analisis adalah membagi jumlah politisi korup dari partai tertentu dengan perolehan suara pada Pemilu 2009. Ini diperlukan untuk menghilangkan bias perbedaan jumlah populasi suara per partai. Partai mayoritas tentu akan mengatakan begini : jelas saja koruptor di partai kami lebih banyak kan kami partai besar (yang politisinya lebih banyak). Oke, mari kita bagi jumlah politisi dengan jumlah suara dan darinya kita akan mendapatkan semacam "rasio korupsi" atau "indeks korupsi" yang sudah terurut dari besar ke kecil sebagai berikut :


Indeks Korupsi (politisi korup/1 juta suara pileg 2009)

Indeks korupsi ini bisa diartikan sebagai "jumlah koruptor per satu juta suara", yang bisa dibaca juga sebagai peluang "dihasilkannya" koruptor dari partai tertentu jika jumlah indeks dibuat jadi 100%.


Peluang Adanya Politisi Korup di Setiap Parpol

Menarik jika kita melihat data di atas dengan memilah dua jenis partai : partai-partai yang sudah ada semenjak Orde Baru (partai Orba : Partai Golkar, PDIP, dan PPP) dan partai-partai yang berdiri pasca Reformasi (partai Reformasi). Terlihat bahwa Partai Orba menduduki posisi-posisi puncak, dengan pengecualian PAN. Interpretasi saya barangkali begini : Politisi dari partai-partai Orba sepertinya belum bertobat dari korupsi, bahkan kemudian mengajak dan mengajari "adik-adiknya" dari partai Reformasi untuk turut korupsi. Ingat, korupsi dalam banyak moda harus dilakukan secara "berjamaah" supaya lebih aman. Juga bisa dilihat bahwa PAN dalam hal ini adalah "adik yang bisa belajar dengan cepat dari kakak-kakaknya".

ANALISIS KORELASI

Bagi yang pernah mengikuti kuliah Dasar-dasar Statistik (Statistics 101) tentu sudah mengenal analisis korelasi. Kita bisa melangkah lebih jauh dengan data di atas untuk melihat korelasi (keterkaitan/ hubungan) antara data jumlah suara pada Pileg 2009 dengan jumlah koruptor di partai dimaksud.

Menarik bahwa hasil analisis korelasi Spearman terhadap kedua variabel menunjukkan hubungan yang kuat secara signifikan (Spearman's ρ = 0,756, p-value = 0,007; lihat lampiran untuk rincian perhitungan). Fakta ini mengejutkan karena jika kita benar-benar anti korupsi maka seharusnya diindikasikan dengan nilai korelasi yang negatif atau paling tidak mendekati nol. Ini tandanya positif dan angkanya mendekati 1.

Kalau kita baca secara hati-hati, ini bisa diartikan bahwa : suara rakyat yang makin besar terhadap suatu parpol, 76% nya akan berhubungan dengan makin banyaknya koruptor di partai itu ! Waduh, ini kok mengerikan ya.

Kalau kita memakai bagan kira-kira beginilah ilustrasi prosesnya :



Apakah itu berarti bahwa : rakyat Indonesia sebenarnya mendukung politisi (dan partai) yang korup?

Hemat saya, bisa diasosiasikan seperti itu kalau prosesnya kita balik. Jadi, rakyat harus diberitahu/diedukasi terlebih dahulu profil korupsi setiap parpol. Jika kemudian rakyat tetap memilih parpol yang korup, maka sesungguhnya korupsi politisi memang didukung oleh rakyat.

Jadi, urutan prosesnya sepertinya harus seperti ini

1) Sebelum April 2014 : beritahu rakyat soal grafik di bawah ini


2) Tanggal 9 April 2014 : Pemilu Legislatif
3) Hasil Pileg : Jika ranking indeks korupsi berkorelasi positif dengan ranking perolehan suara, mak a sesungguhnya rakyat Indonesia mendukung politisi dan partai yang korup

Kesimpulannya : tanggal 9 April 2014 kita akan melakukan sebuah eksperimen raksasa untuk menguji apakah sebetulnya rakyat Indonesia mendukung korupsi atau tidak.

Saya sendiri tidak sabar untuk mengetahui jawabannya.

Salam Anti Korupsi.

Penulis: RAHMAT MULYANA, pengajar manajemen keuangan dan metodologi penelitian keuangan, profesional di bidang keuangan, mantan direktur keuangan sebuah BUMN, mahasiswa S3 di bidang manajemen keuangan.

=======================================================================

CATATAN TAMBAHAN PER 09 FEBRUARI 2014 

Tepat 11 hari setelah artikel ini dipublikasikan tanggal 29 Januari pkl 11 malam, menurut statistik blogspot telah terdapat sebanyak 12.400 akses dengan banyak komentar dan masukan yang konstruktif. Selain itu saya mendapat info bahwa seluruhnya maupun sebagian isi artikel banyak juga disebarluaskan melalui berbagai milis. Juga terima kasih buat Pak nano Suratno yang telah membuat review atas artikel ini di kompasiana. Alhamdulillah

Sebagai sebuah ide awal, saya sangat bergembira ternyata apa yang terkandung dalam artikel ini kemudian bergulir menjadi perdebatan, dan ditindaklanjuti dengan beragam aksi oleh berbagai pihak. Akun @KPKwatch_RI misalnya melakukan elaborasi data dan merilis koreksi datanya (silakan follow di twitter-nya), juga mengevaluasi data tambahan dari berbagai sumber, silakan lihat di http://linkis.com/chirpstory.com/li/BrujG dan http://chirpstory.com/li/188931 

Pada intinya, parpol yang berpengalaman akan lihai mengeliminasi isu korupsi politisi agar tidak berimbas pada partainya. Ingat ketika Akil Mokhtar ditangkap, ada background suara kru sebuah TV swasta yang bocor ke pemirsa yang berbunyi "PARTAI X -nya jangan disebut ya". Penangkapan Ratu Atut yang ketua DPP dan Ketua DPD di Banten sedikit sekali dikaitkan dengan parpolnya. Kejadiannya agak sedikit berbeda dengan yang terjadi pada PKS dan PD yang habis-habisan di media. Padahal, dengan data dan fakta terlihat bahwa sebetulnya PKS bahkan PD sekalipun bukanlah yang teratas dalam indeks korupsi. Inilah tujuan utama dituliskannya artikel ini, yaitu untuk memilah fakta dan menarik konklusi yang tidak bias dalam menilai praktek korupsi parpol dan politisi. Apa yang bergaung di media seringkali tidak menggambarkan yang sebenarnya. Statistik memang bisa menipu, namun tanpa statistik semua pihak akan dengan bebas melakukan penyesatan opini.

Beberapa pihak tertarik untuk mengembangkan studi ini, ada beberapa yang mengirimkan email meminta data untuk melakukan analisis dengan pendekatan yang berbeda. Saya menerimanya dengan terbuka. Hasil diskusi sejauh ini terdapat beberapa masukan bagi penyempurnaan ke depan untuk studi yang lebih komprehensif diantaranya :
  1. Perbaikan data, baik dari segi akurasi, periode, maupun pemilahan data berdasarkan strata DPR, DPRD
  2. Dimasukkannya unsur kerugian/jumlah korupsi
  3. Perbaikan perhitungan indeks dengan memasukkan berbagai variabel lain. Masukan yang telah diterima adalah agar angka Indeks Korupsi dihasilkan dari komposit dua unsur utama, yaitu OUTPUT dan PROSES. 
Jumlah politisi korup adalah salah satu unsur output, selain tentunya jumlah rupiah kerugian negara yang terjadi. Sementara dari sisi proses, kita perlu melihat bagaimana kebijakan partai dalam mencegah dan menyikapi politisinya yang korup. 

Parta yang membuat pakta integritas dan mewajibkan politisinya mundur ketika menjadi tersangka tentunya perlu diapresiasi dalam indeks, dibanding partai yang malah terkesan melindungi dan menutupi kasus korupsi kadernya.

Dengan demikian nantinya angka indeks korupsi parpol akan lebih komprehensif karena sudah memotret berbagai variabel penting. Studi berikutnya tentu berlanjut pada bagaimana membuat konsepsi GCG untuk parpol, katakanlah semacam GPG (Good Party Governance). Masa sih, sebuah organisasi yang akan turut menghitamputihkan negeri ini dikelola bagaikan perusahaan keluarga atau bahkan sebuah CV yang didominasi 1-2 orang saja tanpa transparansi yang memadai, terutama berkaitan dengan apa kriteria mereka memajukan caleg-calegnya sehingga menjadi menu yang harus dipilih oleh masyarakat yang nantinya akan menjadi wakil rakyat di DPR.

Paragraf terakhir saya kira akan disisakan untuk sebuah apologi. Posisi saya yang amatiran di bidang politik dan amanah-amanah yang diemban rasanya tidaklah memungkinkan bagi saya untuk terus berada di depan dalam perkembangan yang saya uraikan di atas. Karenanya saya sangat gembira ketika data awal artikel inipun sudah ada yang memperbaikinya, kemudian banyak menambahkan grafik dan analisis yang baru. Rasanya sejak saat ini sampai 8-9 bulan ke depan akan tumbuh berbagai variasi kajian dari artikel ini. Saya bersyukur kepada Allah Swt bahwa saya bisa mengambil bagian dalam menginisiasinya. Salam 

===============================================================

DISCLAIMER
  1. Garbage in garbage out. Adanya data yang lebih baik tentunya akan membuat analisis ini jadi lebih baik
  2. Mungkin akan ada yang mengkritik dengan mengatakan "yang penting kan berapa jumlah yang dikorup bukan jumlah politisinya". Silakan saja dianalisis oleh yang bersangkutan dan sampaikan alternatif analisisnya. Mencoba meranking berdasarkan jumlah uang yang dikorup bisa jadi bermasalah juga, data siapa yang mau dipakai untuk menghitung kerugian dan adakah datanya? 
  3. Meski sangat bisa diinterpretasikan secara politis, maksud kajian singkat ini sebetulnya lebih diniatkan untuk pencegahan korupsi. Dan untuk soal motif dan interpretasi ini, terus terang saya belum menemukan alat ujinya
  4. Saran, masukan, kritik, sangat diapresiasi.
  5. Saya harus mohon maaf kepada partai peserta pemilu yang baru di tahun 2014. Kita lihat pada pemilu berikutnya. Terima kasih
LAMPIRAN DAN RUJUKAN, LAMPIRAN HASIL PERHITUNGAN DATA



RUJUKAN

1) https://www.dropbox.com/s/ui9r4ct4gw7myu8/correlation.pdf

Spearman rank correlation is used when you have two measurement variables and one"hidden" nominal variable. The nominal variable groups the measurements into pairs; if you've measured height and weight of a bunch of people, "individual name" is a nominal variable. You want to see whether the two measurement variables covary; whether, as one variable increases, the other variable tends to increase or decrease. It is the non-parametric alternative to correlation, and it is used when the data do not meet the assumptions about normality, homoscedasticity and linearity. Spearman rank correlation is also used when one or both of the variables consists of ranks.

You will rarely have enough data in your own data set to test the normality and homoscedasticity assumptions of regression and correlation; your decision about whether to do linear regression and correlation or Spearman rank correlation will usually depend on your prior knowledge of whether the variables are likely to meet the assumptions.

Null hypothesis
The null hypothesis is that the ranks of one variable do not covary with the ranks of the other variable; in other words, as the ranks of one variable increase, the ranks of the other variable are not more likely to increase (or decrease).

The Pearson correlation coefficient is the most widely used. It measures the strength of the linear relationship between normally distributed variables. When the variables are not normally distributed or the relationship between the variables is not linear, it may be more appropriate to use the Spearman rank correlation method.

ANOTHER STUDY PLEASE CHECK : http://en.wikipedia.org/wiki/Spearman's_rank_correlation_coefficient

========================================================

JANGAN PILIH CALON PEMIMPIN YANG MINTA DIPILIH ( Refleksi Terhadap Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz)


A. Pendahuluan

Profesi sebagai seorang pemimpin saat ini sungguh sangat menggiurkan. Hampir semua orang yang aktif dalam organisasi public, organisasi bisnis, organisasi birokrasi dan organisasi politik menginginkan kue kekuasaan yang disebut “PEMIMPIN”. Dan ternyata memang, makhluk yang bernama “PEMIMPIN” itu, mampu menyedot perhatian banyak orang, dari kelas teri sampai kelas kakap.

Di ruang public yang bernama sekolah seorang siswa kepingin jadi “Ketua Kelas”, di Perguruan Tinggi seorang mahasiswa kepingin jadi “ Ketua BEM”, di lingkungan bisnis seorang pengusaha kepingin jadi “ Ketua Kadin”, di lingkungan profesi seorang dokter kepingin jadi “Ketua IDI”, dan lain-lain. Bahkan rakyat jelatapun kini sudah boleh bermimpi jadi PRESIDEN.

Hatta di kota yang bernama Jakarta, kota nan cantik, molek, seksi, kaya financial sekaligus kaya masalah, metropolis nan populis, yang menjadi tujuan investasi paling menarik di bidang perdagangan, wisata, industry dan lain-lain, kini mejadi sorotan public lantaran sebentar lagi akan menghelat PILKADA. Penulis yakin hampir setiap orang sedang bermimpi bagaimana meretas jalan menuju kursi “Gubernur”. Persoalannya, ada yang berani maju karena didukung oleh beberapa factor, antara lain; kekekuatan politik, kekuasaan, financial, hegemoni kelompok, dukungan masyarakat tertentu, dan lain-lain. Dan ada yang tidak berani maju karena tidak punya basis politik, tidak punya fulus, tidak kuat dukungan akibat tidak punya basis politik dan fulus.

Jaman edan seperti sekarang ini; pintar, cerdas, intelek, punya dukungan massa, punya integritas, terkenal dan lain-lain, tidak menjamin seseorang bisa maju dalam kancah pertarungan politik yang kita sebut “PILKADA”. Karena filosofi Negara yang berlaku saat ini adalah filosofi; siapa yang kuat hebat. Kuat disini maksudnya; kuat dukungan politik, kuat financial, kuat ‘molitikin’ lawan, kuat berjanji manis, kuat menutupi kebohongan diri, kuat mempromosikan diri yang baik-baik dan kuat mensiasati atau menjegal popularitas lawan atau rival.

Kasus menjelang pelaksanaan Pilkada di jakarta, semua kandidat menyusun kalimat paling indah untuk menjerat perhatian public, semisal ; Berdaya Bareng - Bareng, Jakarta Jangan Berkumis, Tiga Tahun Bisa, Jakarta Maju Terus, Beresin Jakarta, dan lain-lain. Memperhatikan jargon-jargon kampanye mereka, sungguh sangat menggelitik dan menggiring masyarakat kepada sebuah pertanyaan; Lho, bagaimana membuktikannya, menjabat saja belum pernah, ello sudah menjabat, apa yang ello bangun, emang ello amanah selama ini menjabat, siap melayani rakyat tidak harus dibuktikan setelah menjabat, mestinya buktikan dulu sebelum menjabat. Pertanyaan itu pasti mengalir demikian derasnya di kalangan masyarakat, tapi pasti hanya sebatas di pikiran saja. Tidak sampai meluap ke permukaan.

Intinya dengan berbagai cara mereka berusaha untuk dipilih dan terpilih. Anehnya, cara-cara yang dilakukan seringkali tidak edukatif, tidak bermartabat dan tidak menunjukkan sebagai seorang yang professional. Cara-cara yang dilakukan seringkali menabrak etika kepemimpinan, menabrak batas – batas kemanusiaan, menabrak sendi-sendi keagamaan. Dimanapun, di Indonesia ini, seringkali calon pemimpin membangun eksistensi dirinya tidak dengan mengedepankan esensi dari sebuah kampanye. Kampanye hanya dimanfaatkan untuk membangun sebuah opini yang tidak ada kaitannya dengan visi-misi.

Coba perhatikan, bila ada seorang kandidat bernyanyi dan berjoget dalam sebuah pesta, sambil nyawer, manabur lembaran rupiah kepada biduanita, kepada pengunjung, kepada anak-anak, terus apa yang dihasilkan dari kampanye seperti ini, selain orang akan berkata; anda ini seorang calon pemimpin, tetapi kok kelakuannya urakan? Uang anda ini dari mana? Terus kalau misalnya anda nanti jadi pemimpin, kota ini akan dibawa kemana? Anda ini sepertinya dermawan, apakah anda akan tetap seperti ini jika anda tidak berkepentingan ingin jadi pemimpin? Dan banyak lagi pertanyaan yang pasti mengusik benak kita semua. Ini menurut penulis, cara-cara kampanye yang melanggar batas-batas kemanusiaan. Karena berusaha membeli perhatian public dengan uang. Bukan dengan visi-misi, bukan dengan kerja nyata.

Ada juga calon yang mencoba membeli perhatian public dengan mencitrakan dirinya sebagai sosok agamais, islamis, reformis dan segala yang is lainya. Membangun citra dirinya melalui kegiatan keagamaan, ritual keagamaan dan kegiatan sosial. Itu bagus. Tapi tidak semestinya dilakukan setelah adanya kepastian pencalonan dirinya. Supaya apa yang dilakukannya itu benar-benar berangkat dari sebuah karakter, kebiasaan dan dari akhlaq yang mulia. Tidak karena tendensi apapun.

Maaf , keritik yang dilakukan penulis ini tidak dalam rangka memojokkan siapapun, tidak untuk mendiskriditkan siapapun. Tapi ini hak partisipasi warga, agar kita semua dan siapapun untuk meluruskan niat, memperbaiki niat, untuk kota Jakarta yang kita cintai bersama. Penulis sangat cinta dan sangat mendukung para calon pemimpin masa depan. Tentunya calon pemimpin yang benar-benar ikhlas dari lubuk hati ingin mengabdi dan berpihak kepada kepentingan rakyat.

B. Kepemimpinan Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar Bin Abdul Aziz

Mungkin ini hanya sebuah refleksi saja, bahwa pada masa kepemimpinan Islam ada beberapa pemimpin yang sangat ideal untuk kita jadikan ‘ibroh’, untuk kita jadikan guru dan kaca perbandingan. Abu Bakar as-Shiddiq misalnya. Beliau terpilih menjadi pemimpin bukan karena ambisi. Tidak melalui siasat yang secara sadar dipersiapkan sebelumnya. Tidak neko-neko. Tetapi karena situasi menginginkan beliau jadi pemimpin, maka beliau terima dengan lapang dada, dengan semangat mengemban amanah, dengan semangat meneruskan perjuangan Rasulullah SAW. Sikap tersebut beliau tunjukkan pada pidato perdananya di hadapan kaum muslimin, berbunyi ;

“Saya telah dinobatkan menjadi pemimpin kalian. Tapi saya bukan orang terbaik diantara kalian. Jika saya berbuat baik, maka dukunglah saya. Jika saya tersesat, maka luruskanlah saya. Bila saya melakukan perbuatan di jalan Allah, taatilah saya. Tetapi bila saya berkhinat kepada Allah, tidak ada kewajiban kalian taat kepada saya. Jika ada kekurangan dalam diri saya, maka sempurnakan kekurangan itu dengan kelebihan yang ada pada diri kalian. Jika ada kekurangan pada diri kalian, maka saya akan menutupinya dengan kelebihan yang ada pada diri saya”.

Ini adalah pidato politik pemimpin paling bermartabat dalam sejarah. Pidato yang memberikan pesan bahwa kekuasaan itu bukan untuk menguasai dan kepemimpinan itu bukan untuk menjajah hak-hak warga. Pemimpin harus sadar betul bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa dukungan rakyatnya. Ia tidak akan mampu membangun tanpa pajak rakyat. Ia tidak bisa membuat proyek super mega tanpa uang rakyat. Ia tidak bisa menjadi pemimpin tanpa dipilih rakyat. Berkat rakyatlah pemimpin itu menjadi pemimpin.

Para calon pemimpin semestinya juga belajar kepada sejarah kepemimpinan Umar Bin Abdul Aziz yang sangat fenominal. Seorang tokoh pemimpin yang hanya dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun lima bulan, mampu mengatasi berbagai persoalan negerinya dengan sangat baik.

Dari garis keturunan ayahnya beliau adalah putra Marwan bin Hakam. Sementara dari garis ibunya beliau putra Ummu ‘Ashim binti Ashim bin Umar bin Khattab. Jadi beliau adalah cucu Umar bin Khattab, khalifah kedua setelah Abu Bakar as-Shiddiq. Beliau terkenal sebagai Umar as Tsani (Umar kedua) dan namanya selalu dinisbatkan kepada kakeknya. Beliau juga terkenal sebagai ‘Amirul Mukminin’ kelima setelah terputusnya system kepemimpinan demokrasi Islam pasca terbunuhnya Sayidina Ali RA. Sebutan itu dilekatkan kepada beliau karena dalam pemerintahannya beliau menerapkan system demokrasi islami, walaupun beliau berada dalam system pemerintahan monarki.

Beliau diangkat menjadi khalifah berdasarkan wasiat pamannya sebelum meninggal dunia, Sulaiman bin Abdul Malik, tanpa sepengetahuannya. Ketika surat wasiat itu dibacakan di hadapan seluruh kaum muslimin yang berkumpul di masjid, beliau berada di sana bersama kaum muslimin. Dan ketika ditengah pembacaan surat wasiat itu nama beliau disebut untuk melanjutkan kepemimpinan Bani Umayah, beliau sepontan tersungkur dan menangis. Dengan isyarat dan kata-kata, beliau berusaha untuk menolak penunjukan itu. Tapi surat wasiat sudah dibacakan dan umat muslim sangat mendukung. Maka tiada jalan lain kecuali menerima amanah itu, suka atau tidak suka.

Sampai pulang ke rumahnya beliau masih terus menangis. Terbayang beban dan tugas berat menantang di hadapannya. Bukan karena takut dengan tugas, tapi takut tidak dapat melaksanakan amanah itu dengan baik. Takut kekuasaan itu membuatnya melupakan Allah. Takut kekuasaannya itu membuatnya terpedaya bujuk rayu syetan. Takut kekuasaannya tidak menyentuh ke seluruh masyarakat yang dipimpinnya dan menyebabkan murka Allah.

Pada masa kepemimpinannya yang singkat, Umar bin Abdul Aziz menghadapi karut-marutnya system pemerintahan, kebiasaan hidup berfoya-foya, banyak pejabat merampas tanah rakyat, merajalelanya perjudian dan pesta pora minuman keras. Kondisi itu berlangsung secara turun temurun akibat besarnya kekuasaan Bani Umayyah dan kekayaan yang melimpah ruah. Budaya hidup materialisme dan hodonisme sedemikian kental menyatu dalam prilaku kehidupan masyarakat.

Menghadapi kondisi tersebut Umar bin Abdul Aziz melakukan perubahan monumental mulai dari rumah tangganya. Langkah pertama beliau meninggalkan cara hidup bermewah mewahan dan menjadi seorang yang zahid dan abid. Menyerahkan semua harta kekayaannya, termasuk berlian yang dipakai istrinya ke Baitul Maal, serta mengharamkan dirinya mengambil sesuatupun dari Baitul Maal.

Reformasi pemerintahan dilakukannya dengan mengganti pejabat yang tidak amanah, pejabat yang korup, pejabat yang bermewah mewahan, pejabat yang tidak mau mengerti kehendak rakyatnya, serta mengembalikan hak-hak rakyat yang dirampas pejabat dan mengembalikannya ke Baitul Maal.

Pada masanya tanah dan ladang tidak produktif dihidupkan, sumur-sumur digali dan masjid-masjid dibangun. Zakat, infaq dan shadaqah didistribusikan dengan cara yang benar, sehingga kemiskinan sulit dijumpai. Dan bahkan pada masa pemerintahannya banyak orang kaya yang kesulitan menyalurkan zakat, infaq dan shadaqahnya karena tidak ada lagi orang miskin.

C. Larangan Berambisi Menjadi Pemimpin

Meskipun menjadi pemimpin kelihatan jumawa, kelihatan berkuasa dan kelihatan bergengsi, ternyata pekerjaan memimpin mengandung banyak kemudlaratan. Kekuasaan dapat menggelincirkan orang kepada sifat sombong dan ujub. Kekuasaan dapat menyeret orang kepada sifat korup. Dan kekuasaan dapat menjerat manusia kepada perbuatan-perbuatan nista; seperti main perempuan, pesta narkoba, minuman keras dan lain-lain. Oleh karenanya Rasulullah dalam beberapa kesempatan melarang sahabat-sahabatnya berambisi menjadi pemimpin, sebagaimana sabdanya ;

Dari Abdurahman bin Samurah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Wahai Abdurahman bin Samurah, janganlah kamu minta kepemimpinan! Jika kamu diberi atas permintaanmu, niscaya akan dipasrahkan kepadamu. Namun jika kamu diberi tanpa meminta maka kamu akan diitolongnya”.

Sabda Rasulullah yang lain ;

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya kalian berambisi terhadap kepemimpinan dan itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat. Sungguh nikmat kehidupan orang yang menyusui dan sungguh sengsara kehidupan orang yang disapih”.

Hadist Nabi riwayat lain ;

Dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu, ia berkata, "Aku datang menghadap Rasulullah SAW bersama dua orang lelaki dari kaumku”, maka salah satu dari kedua orang tersebut berkata, “Berilah kami kepemimpinan wahai Rasulullah.” Orang yang lainpun mengatakan demikian. Beliau bersabda, “Sesungguhnya kami tidak memberikan kepada yang meminta dan juga tidak memberikan kepada yang berambisi.”

Dari beberapa hadis yang diriwayatkan oleh tiga sahabat Nabi diatas, sangat jelas sekali bahwa kepemimpinan itu tidak baik diberikan kepada orang yang berambisi dan meminta.

Secara filosofis religious, sesuatu yang diperoleh dengan ambisi, dapat dipastikan pengendalinya adalah syetan. Syetan pasti menjerumuskan. Ambisi melahirkan sikap tidak mau kalah. Tidak mau kalah melahirkan siasat dan tipu muslihat untuk meraih kemenangan. Mengahalalkan berbagai cara untuk mendapatkan yang diinginkannya.

Teori ini secara filosofis akan mendorong orang kepada kesombongan. Karena ia menganggap bahwa kemenangannya dan kesuksesannya itu dari usahanya sendiri, tanpa intervensi Tuhan. Akan melahirkan orang yang serakah (korup) karena ia memperoleh semuanya dengan modal, maka modal harus dikembalikan. Akan melahirkan orang yang munafik, karena di depan manusia ia harus berpura-pura adil, bersih, tidak korup, tapi dibelakang ia memimpin sidang para pejabat korup. Di depan masyarakat ia mengatakan pendidikan agama itu penting, tapi diatas mejanya ia mencoret anggaran-anggaran untuk pendidikan agama, pembangunan masjid, pembangunan madrasah dll. Akan membuat hatinya terpenjara, karena satu sisi ia ingin berpihak kepada kepentingan rakyat, tapi pada sisi yang lain ia harus menunaikan janjinya memuluskan proyek-proyek pengusaha pendukungnya. Akan mendorongnya menjadi pelupa. Lupa akan janjinya, lupa keluarganya, dan bahkan lupa Tuhannya.

Kondisi inilah yang mungkin dikhawatirkan Rasulullah dengan sabdanya:

Dari Ma’qil bin Yassar Radhiyallau Anhu, ia berkata; “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba pun yang Allah beri wewenang untuk mengatur rakyat kemudian meninggal di hari kematiannya dalam kondisi menipu rakyatnya, niscaya Allah haramkan baginya masuk sorga.”


D. Penutup


Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yang diperoleh dengan meminta atau dengan ambisi akan melahirkan pemimpin yang tidak baik. Maka ada baiknya masyarakat dalam memilih pemimpin mulai bersikap rasional, tidak pragmatis. Masyarakat harus mulai memilih dengan hati nurani. Dan bahkan lebih radikal lagi, masyarakat harus mulai memperhatikan; siapa calon pemimpin yang tidak berambisi, yang tidak meminta, dan bahkan calon pemimpin yang berani berkata; “ Jangan Pilih Saya”.


Penulis: AH.Mansur,SE,M.Pd.I, adalah Dosen Tetap Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhaar Lubuklinggau dan kandidat Doktor Pendidikan Islam pada Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor.


GOLPUT DAN ANARKISME


Proses pesta demokrasi (pemilu) pemilihan anggota legislatif sudah hampir tahap akhir. Dalam Pemilu legislatif kali ini masih banyak menyisakan berbagai masalah, mulai dari validitas Daftar Pemilih Tetap (DPT) sampai pada kontroversi metode perhitungan suara. Ini menandakan proses pemilu kali ini masih sangat jauh dari sempurna. Atas ketidakberesan proses pemilihan legislatif terjadi saling tuding dan saling lempar tanggung jawab.

Dalam tulisan ini, penulis tidak akan memaparkan masalah tersebut di atas, tetapi yang tidak kalah penting adalah sisi lain dari proses pemilihan ini adalah jumlah golput yang diperkirakan mencapai 40%. Walapun, tidak ada data pasti tentang keberadaan golput ini, tetapi perlu disosoti mengapa animo golput ini begitu tinggi.

Untuk mengantisipasi jumlah golput ini, sebelum dilaksanakan pemilihan legislatif telah dilaksanakan tindakan preventif. Tindakan nyata untuk menghindari meningkatnya jumlah golput ini adalah fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Golput “haram”. Pernyataan ini sedikit konstroversi karena dasar hukumnya lemah dan ternyata tidak ada pengaruhnya pada jumlah golput. Sisi lain yang akan dikemukan dalam tulisan ini adalah masalah anarkisme.

Ditinjau dari teori sebab akibat antara golput dan anarkisme memiliki kesamaan orientasi, yaitu ketidakpercayaan terhadap pemerintah (negara). Namun, sikap golput sifatnya temporer. Sikap politiknya dapat dilihat pada saat pemilihan umum dan cenderung ketidakpercayaannya pada personal yang akan dipilih memimpin negara/pemerintah. Sedangkan anarkisme, sikap politik yang tidak percaya pada pemerintah (negara) sebagai sistem. Karena menurut pandangannya negara (pemerintah) dengan segala kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuhsuburkan penindasan terhadap kehidupan. Siapapun orangnnya yang memimpin negara (pemerintah) sikap ini cenderung tidak berubah. Sebagaimana dinyatakan oleh Errico Malatesta (1853–1932) menyatakan "Penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas"

Apakah golput sebagai embrio anarkis?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut di atas, perlu kiranya memahami esensi anarkisme. Pada awalnya anarkisme sebagai sebuah ide dan selanjutnya berkembang menjadi teori politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik, ekonomi, maupunsosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki, ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial. Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya. Atau, dalam tulisan The Political Philosophy of Bakunin, Mikhail Bakunin yang terkenal:

"kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan"
Pandangan sekarang tentang anarkisme identik dengan kekerasan. Padahal kekerasan merupakan metode untuk mencapai tujuan politiknya. Tokoh Anarkisme yang tidak sepaham dengan hal itu adalah pemikir anarkis Alexander Berkman (1870-1936) dalam bukunya What is Communist Anarchist, menulis:

"Anarkisme bukan Bom, ketidakteraturan atau kekacauan. Bukan perampokan dan pembunuhan. Bukan pula sebuah perang di antara yang sedikit melawan semua. Bukan berarti kembali kekehidupan barbarisme atau kondisi yang liar dari manusia. Anarkisme adalah kebalikan dari itu semua. Anarkisme berarti bahwa anda harus bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda, menjadi majikan anda, merampok anda, ataupun memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang anda mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan yang anda mau serta hidup didalamnya tanpa ada yang mengganggu, memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian dan harmoni seperti saudara. Berarti tidak boleh ada perang, kekerasan, monopoli, kemiskinan, penindasan, serta menikmati kesempatan hidup bersama-sama dalam kesetaraan."
Kekerasan tetaplah bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme, sehingga anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna tentang anarkisme yang banyak dikenali banyak orang. Bagaimanapun kekerasan merupakan suatu pola tingkah laku alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja dari kalangan apapun.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka golput dan anarkisme adalah dua hal yang berbeda. Yang satu adalah pernyataan sikap yang merupakan respon terhadap ketidakpercayaan kepada para pengelola negara/pemerintah yang sifatnya temporer dan apatis. Sedangkan anarkisme merupakan suatu ajaran politik yang menentang terhadap keberadaan negara/pemerintah sebagai sistem. Oleh karena itu, sulit sangat jauh untuk menyatakann golput merupakan embrio anarkis.

Golput merupakan sikap politik dalam satu sistem pemerintahan yang sangat berkaitan dengan pendidikan dan budaya politik suatu negara. Oleh karena itu, khawatir terhadap golput merupakan sebagai gerakan anti pemerintah/negara terlalu jauh. (WG)

 
Bagikan