artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

GIGS, Antara Pelarian Dari Kebosanan dan Pemenuan Kebutuhan Musik Live


By on 24.2.14

Sering kita dengar teman-teman ngobrolin gigs, dan tidak sedikit yang mengerenyitkan dahi. Apa itu gigs? Gigs menurut wikipedia adalah musical performances atau pagelaran musik. Nah, diantara kita pasti semuanya pernah menyaksikan gigs ini, baik datang langsung atau lewat layar kaca. Hmm, disini saya lebih menyukai gigs yang live. Karena layar kaca lebih banyak menawarkan lipsync atau minus one dan jelas mengurangi excitement dalam menikmati kualitas sound dan instrumen dari performer nya. Memang akhir-akhir ini ada sebuah acara di tv merah yang menyajikan musik-musik live, dan itu sebuah pertanda bagus untuk sekedar menampar acara musik pagi yang dibumbui tarian cuci jemur yang kesohor itu. Not bad for a music show I guess. With a little annoying talkshow. Hahaha kidding mate.

Kenapa harus gigs yang live? Karena live itu jelas menawarkan sebuah experience yang berbeda. Jika kita dicekoki musik yang sama dan berulang-ulang dan lipsync dan basi dan lain-lainnya, tentu experience yang kita dapat sudah jelas. Bosan dan Klise. Coba bandingkan dengan datang ke sebuah gigs live, kita bernyanyi atau bersenandung, dimana kita secara tidak langsung berinteraksi dengan sesama penonton dan bahkan dengan performernya sekaligus .Gigs bukan sekedar datang , nonton dan pulang. Tapi ada sebuah proses kreatif di dalam nya. Dari segi penonton, mereka mencari info, datang ke venue, membeli tiket, mengapresiasi performer, dan pulang membawa experience berbeda. Dari segi penyelenggara atau panitia, mereka membuat konsep, menyiapkan venue dan alat, menentukan performer dan menyajikan yang terbaik bagi penonton. Ada dampak dari setiap gigs bagi masing-masing individu atau komunitas yang hadir. Gigs juga kerap menjadi ajang sosialisasi bagi mereka yang bosan akan doktrin televisi dan mencari kepuasan akan musik yang prima, senantiasa mencari dan memburu gigs yang berisi performer berkualitas. Kita sebut saja gigs hunter, gigs hunter ini akan berulang kali nampak di beberapa acara, jadi tidak aneh kalau gigs isinya orang-orang itu lagi, karena biasanya gigs jadi sarana kopi darat atau ajang temu kangen kawan-kawan lama yang memiliki selera musik sama.

Keistimewaan gigs juga biasanya si performer lahir dari salah satu penonton, misalnya fans salah satu performer yang terinspirasi, membentuk band dan akhirnya jadi regenerasi pada zaman selanjutnya. Gigs live mampu memberikan kejutan-kejutan dan cerita unik, mulai dari yang konyol sampai yang sedih sekalipun. Para performer pun hidup dari gigs ini, manggung dan jual merchandise jadi salah satu pemasukan untuk menjaga eksistensi dalam bermusik. Bukan rahasia umum kalo band DIY lebih banyak mengeluarkan uang sendiri daripada mendapatkannya. Semangat DIY, tidak tergantung uang. itulah kenapa band-band DIY terlihat lebih menarik dengan semangatnya bila dibandingkan dengan band yang memang sudah mapan dari awal terbentuknya. They wrote stories from zero and still cool even when they’re underrated. Jadi sebaiknya bila ada gigs yang gratis di bar atau cafĂ©, tidak ada salahnya membeli merchandise sebagai dukungan buat mereka, atau sekedar membeli minuman di tempat itu. Mungkin dengan membeli sekedar minuman, bisa menjaga kelangsungan tempat gigs tersebut. Yah, disesuaikan dengan isi dompet juga tentunya. So, what are you waiting for? If there are no gigs that you want to come because the bands not suited for you, why don’t you create your own gigs? (Uphei)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan