artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MEMILIH UNTUK TIDAK MEMILIH


By on 20.2.14

Pesta demokrasi 2014 sudah di depan mata. Seperti lazimnya, pertanyaan yang kerap muncul, partai apa yang bakal menjadi kampiun pada pesta lima tahunan di negeri ini? Siapa pula figur yang bakal menjadi penguasa di negeri ini? Sejatinya, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu, sudah lebih dulu muncul di tengah-tengah publik, sejak dua tahun terakhir. Mulai dari analisis para praktisi politik, dan lembaga-lembaga pengolah jejak pendapat yang dua tahun terakhir ini getol meneliti fenomena pesta politik lima tahunan.

Kita melihat apa yang dilakukan praktisi atau lembaga-lembaga jejak pendapat sebagai sesuatu yang wajar dalam iklim demokrasi modern. Namun, tentunya di balik itu semua, tidak bisa kita mengatakan itu sebuah upaya yang sukarela. Jujur saja, iklim politik di negeri ini belum mengenal arti sukarela. Sebab, memang tidak ada yang gratis alias cuma-cuma berpartisipasi dalam dunia politik di negeri ini.

Gambaran paling sederhana, bagaimana para calon wakil rakyat memamerkan kenarsisan mereka kepada publik. Saban hari kita seolah ‘dipaksa’ untuk menyaksikan promo potret diri si Fulan, si ‘Gombloh’ atau yang lainnya yang terpampang melalui spanduk, baliho di hampir semua sudut kota, kampung, desa, bahkan dusun terpencil. Tidak jarang potret aneh-aneh para calon wakil rakyat itu seliweran di jalan-jalan raya.

Dalam masyarakat kita, promo pamer diri model konservatif seperti ini masih menjadi jualan paling efektif. Setidaknya, kenarsisan diperlukan para calon wakil rakyat untuk ‘menjual diri’ sekaligus mengobral setumpuk janji dan harapan kepada publik. Dan, keramaian model demikian memang sudah menjadi tradisi demokrasi di negeri ini. Tidak hanya untuk mereka yang ingin duduk di kursi legislatif, tapi juga mereka yang mengincar tahta kekuasaan di eksekutif, mulai di pusat hingga ke daerah.

Yang selalu menggelitik kita saban pemilu digelar, bukan dari pesta yang menelan begitu banyak rupiah. Tapi, fenomena mereka yang cuek-bebek dalam setiap gelaran pesta lima tahunan tersebut. Bukan apa-apa. Sejak pesta keramaian itu digelar pada 1955 silam, angka pemilih yang tidak menggunakan haknya tidak pernah menyusut. Bahkan, bisa dikatakan persentase cuek-bebek para pemilih mendekati angka 50 persen!

Fenomena ini mengisyaratkan kecuekan para pemilih menyikapi setiap gelaran Pemilu, seolah sudah menjadi tradisi. Tentunya cara pandang mereka yang cuek-bebek atau dalam bahasa Arif Budiman disebut golput (golongan putih) itu bukanlah sebuah pengingkaran dari demokrasi. Fenomena golput bisa dikatakan sebagai bentuk ‘gerakan protes’ terhadap sistem politik di negeri ini yang masih berorientasi pada kekuasaan. Masih tingginya angka golput, itu sebagai suatu tanda zaman; “Ada apa dengan dinamika demokrasi kita?”

Yang pasti mengapa orang bersikap cuek-bebek dalam setiap pemilu, tentu bukan tanpa kesadaran dan pertimbangan yang rasional. Alasan paling sederhana, adalah sikap apatis banyak masyarakat yang berpikir memilih atau tidak, tidak ada perbedaan yang akan dia rasakan. Siapa pun yang terpilih baik menjadi wakil mereka di lembaga rakyat atau di eksekutif, tidak memberi pengaruh apa-apa.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai lembaga sakral, wadahnya para wakil rakyat yang diharapkan menjadi pembela rakyat, justru telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh rakyat. Belum lagi perilaku buruk para anggota DPR yang hidup bermewah-mewah di tengah kemiskinan rakyat. Dan, paling konyol dan paling menyakitkan, mereka secara berjemaah dengan tega merampok uang rakyat! Rasa kecewa rakyat itulah yang selalu terakumulasi melalui momentum pembalasan pada setiap pesta lima tahunan.

Padahal, seperti dikatakan Endang Tirtana, peneliti pada Maarif Institute, pemimpin sesungguhnya sebuah negara demokrasi bukanlah presiden, DPR ataupun DPD, tapi rakyat yang menjadi pemilih. Hanya saja, dalam sistem demokrasi kita, itu sepertinya masih menjadi utopia. Golput hadir karena memang tidak bisa dilepaskan dari faktor-faktor yang melatarbelakangi semua itu. Golput adalah pilihan politik, sekaligus senjata politik untuk mempengaruhi sebuah proses politik. Bagaimana juga Golput telah menentukan pilihannya: yakni tidak memilih! 

Judul aseli: Golput juga memilih


KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan