artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

SEDIKIT TENTANG SEJARAH GOLPUT


By on 20.2.14

Kita tahu istilah Golput ini adalah singkatan dari Golongan Putih. Mereka adalah pemilih dalam Pemilu yang tidak menggunakan hak pilihnya. Awalnya, Golput adalah gerakan protes dari para mahasiswa dan pemuda untuk memprotes pelaksanaan Pemilu 1971. Ini adalah Pemilihan Umum pertama di era Orde Baru. Pesertanya 10 partai politik, jauh lebih sedikit daripada Pemilu 1955 yang diikuti 172 partai politik.

Tokoh yang terkenal memimpin gerakan ini adalah Arief Budiman. Sepanjang Orde Baru, ia dianggap pembangkang dan sulit mendapatkan pekerjaan walau ia seorang doktor lulusan Harvard. Ia kemudian menjadi dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan Universitas Melbourne.

Namun, pencetus istilah “Golput” ini sendiri adalah Imam Waluyo. Dipakai istilah “putih” karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian putih pada kertas atau surat suara. Di luar gambar partai politik peserta Pemilu. Ini tentu bagi yang datang ke bilik suara. Namun, di masa itu, jarang ada yang berani tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena akan ditandai. Maklum, baru saja Orde Baru selesai melakukan “konsolidasi” dengan melibas habis bukan saja pendukung PKI (Partai Komunis Indonesia) tapi juga para pendukung rezim Orde Lama dan para Soekarnois. Pemilu 1971 adalah sarana bagi rezim Orde Baru untuk memantapkan kekuasaannya di negeri ini.

Kebanyakan tokoh pencetus Golput sendiri adalah “Angkatan ‘66”. Ini adalah sebutan bagi mahasiswa dan pemuda yang ikut dalam demonstrasi massa besar menuntut penjungkalan Soekarno. Sebagian dari tokoh “Angkatan ‘66” diakomodasi Orde Baru ke dalam sistem. Mereka ada yang menjadi anggota DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong), bahkan kemudian ada yang menjadi Menteri. Namun, yang tetap kritis melawan rezim baru yang dianggap mengingkari janji itu.

Maka, setelah Golput, ada pula gerakan menolak pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Juga ada Gerakan Anti Kebodohan, hingga Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1975. Orde Baru kemudian memberangus potensi mahasiswa melakukan tindakan kritis dengan memberlakukan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus) pada tahun 1978. Adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Letjen (Purn.) Prof. Dr. Nugroho Notosusanto yang berperan besar dalam hal ini. Kebijakan ini antara lain membatasi masa studi mahasiswa dan mengetatkan kehidupan kampus. Berbagai organisasi massa mahasiswa terusir dari dalam kampus. Didirikan Senat Mahasiswa sebagai pengganti Dewan Mahasiswa. Kontrol kampus diperketat.

Ini semua merupakan ekses dari gerakan Golput yang semula dimulai di Pemilu 1971 dan ternyata terus berlanjut hingga Pemilu 1977, bahkan di sepanjang Pemilu Orde Baru. Kini, setelah reformasi 1998, Golput disematkan pada siapa pun warga negara yang tidak menggunakan hak pilihnya. Bukan saja kepada mereka yang peduli dengan kondisi politik dengan sengaja tidak memilih, tapi juga yang apatis dan tidak peduli karena tidak datang ke TPS dan malah memilih berlibur atau beraktivitas lain. (sumber)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan