artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

HOMOSEKSUAL BUKAN PENYAKIT, HOMOFOBIA-LAH YANG PENYAKIT


By on 10.3.14

Sebuah tulisan, yang diambil dari berbagai sumber menginspirasi kami untuk mengangkatnya. Ini tentang dukungan kami terhadap kaum Gay, Transgender, Bi, atau apalah yang selalu didiskriminasi berdasarkan gender. Lingkup inspirasi kami sempit, yaitu dari beberapa teman yang kami temui dijalanan malam hari yang diantaranya adalah kaum Gay / Lesbian. Mereka selalu berkumpul disatu spot dalam kurun waktu tertentu, dan ini adalah suatu kebutuhan bagi mereka, karena ketika mereka berkumpul sama halnya dengan anda bertemu teman-teman anda disebuah gigs atau ditongkrongan. Mereka saling bertukar pikiran, bercanda, dan merasakan hidup diantara individu-individu yang se-nasib, se-jalur, se-rasa, se-asa. Ya, mereka melakukan itu lantaran mereka tidak mendapatkan tempat yang sama dalam kehidupan di masyarakat. Karena biar bagaimanapun, mereka manusia, sama dengan anda ... Atau bagaimana jika mereka adalah salah satu bagian dari keluarga anda?? Apakah anda akan menyingkirkan mereka?? Atau memperlakukan mereka seperti manusia bukan homo??

Ya, mereka bukanlah 'penyakit' berbahaya buat masyarakat, mereka itu bisa lebih berguna, bahkan lebih berguna dari anda untuk masyarakat. Ketika kami ditanya apakah homoseksual adalah penyakit? kami rasa bukan, karena itu dari hati dan kalau sudah masalah hati apa mesti dipaksakan?? Tapi itu kan DOSA?? sekali lagi, ini masalah hati dan gak bisa dipaksakan. itu tergantung keyakinan dan persepsi mereka tentang DOSA itu sendiri. Banyak justru yang bukan homo merugikan orang banyak dengan membagi-bagikan UANG PANAS ke lawan jenis pilihannya.

Ya, mereka (kaum homo) bukanlah penyakit. Yang penyakit adalah kalian yang Homofobia. Ya ... rasa takut berlebihan (fobia) itu adalah penyakit kejiwaan.

Apa itu Homofobia?

Homoseksualitas belakangan ini tampaknya sudah bukan merupakan isu yang tabu dibicarakan secara terbuka. Namun, mungkin belum semua orang mengetahui secara persis apa yang disebut dengan homofobia, suatu fenomena yang masih akan langgeng selama belum ada toleransi akan perbedaan orientasi seksual di antara manusia. Homofobia berasal dari kata “homos” (sama) dan “phobos” (takut). Beberapa istilah yang kurang lebih mengandung konsep yang sama adalah homoerotofobia, homonegativisme, antihomo, dan heteroseksisme.

Istilah homofobia yang dicetuskan oleh psikolog klinis George Weinberg pertama kali digunakan di majalah Time tahun 1969. Homofobia itu sendiri pada dasarnya adalah ketakutan atau kebencian pada homoseks dan homoseksualitas. Dalam prakteknya, homofobia diwujudkan antara lain dalam perasaan lain, seperti menghindar, ketidaksetujuan, diskriminasi, penghinaan atau pencelaan kaum homoseks, gaya hidup mereka, perilaku seks mereka, atau kulturnya dan sering dipakai untuk menekankan fanatisme. Oposisi terhadap seks sesama jenis dalam bidang politik, agama atau moral juga sering dilabel sebagai homofobia. Homofobia bergerak dari sikap dan perilaku seperti menghindari menyebutkan keterlibatan teman dengan organisasi homoseksual dan merasa jijik pada pertunjukan afeksi antara pria dan wanita homoseks di depan umum sampai manifestasi terburuknya yang berupa pemukulan dan pembunuhan kaum homoseks.

Homofobia paling sering dikaitkan dengan kekerasan terhadap kaum homoseks (dan biseksual, bahkan kadang-kadang juga transeksual) yang dilakukan oleh kaum heteroseks. Beraneka macam tindakan kekerasan, diskriminasi dan penghujatan terhadap kaum homoseks dianggap merupakan manifestasi homofobia. Fenomena ini muncul di berbagai belahan dunia dan ternyata bukan merupakan sesuatu yang baru. Di banyak negara Eropa, pelaku seks sejenis kerap dihukum dengan beragam jenis siksaan yang hampir di luar batas kemanusiaan. Perancis, Inggris, Jerman, Afganistan, Swiss dan Kekaisaran Romawi pernah memberlakukan hukuman mati terhadap aktivitas homoseksual. Sedangkan negara-negara yang sampai hari ini melakukannya adalah Iran, Mauritania, Nigeria, Pakistan, Arab Saudi, Sudan, Uni Emirat Arab dan Yaman. Di Amerika Serikat, pada tahun 2004 FBI mencatat tindak kriminal berdasarkan orientasi seksual sebesar 15,6 %. Ketertarikan seksual pada anggota dari jenis kelamin yang sama selalu ada sejak adanya manusia. Namun, dalam tradisi Yahudi-Kristen dan Islam, aktivitas homoseksual selalu dikecam. Sampai pertengahan abad ke-20, barulah banyak negara yang melegalkan perilaku homoseksual antar pria. Bagaimanapun, legislasi tidak melenyapkan prasangka orang-orang.

Homofobia biasanya dikaitkan dengan homoseksualitas pria. Dua pria yang tampak intim lebih mudah mengundang bisik-bisik sumir ketimbang dua wanita dengan tingkat keintiman yang sama. Disinyalir orang-orang yang homofobik justru memiliki gairah homoseks, tetapi mereka tidak menyadarinya atau malah menekannya. Orang-orang homofobik merasa bersalah karena memiliki gairah homoseks, sehingga ketika ditempatkan pada situasi yang mengingatkan mereka pada “gairah terlarang” tersebut, mereka bereaksi dengan kemarahan dan panik.

Jarang didapati kasus homofobia yang didiagnosis secara medis. Homofobia juga tidak termasuk dalam DSM IV (panduan diagnosis gangguan jiwa). Ada seorang ahli bernama Bumni Olatunji yang berpendapat bahwa homofobia mengandung permusuhan antihomoseksual dan sikap berprasangka yang lebih mirip dengan rasisme ketimbang fobia.

Dari berbagai sumber.

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan