artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

KETIKA POSEUR MENGGUGAT: Akuilah Kita Semua Poseur!!


By on 27.3.14

Ketika kami berkunjung ke kota Semarang pernah ada seorang teman bertanya kepada kami “Apa yang mesti kita sikapin ya ketika pada akhirnya Punk-Punk tua itu menjadi berkorporasi dengan mainstream?” kami menjawab “biar aja mas … dengan begitu kalian kan jadi ada kerjaan untuk mengkritisir kondisi scene … kalo di scene semua idealis, terus siapa yang mau dikritik? Hhe”. Nah. Apa hubungannya sama artikel yang akan kami tulis ini? Gak ada … ya gak ada hubungannya. Tapi kalo temen-temen nemuin korelasi atau hubungannya ya berarti ada (kali) hehe. Ya udahlah tadi kami cuma bingung mau mulai dengan kalimat apa, jadinya itu deh yang muncul … selamat membaca ya

Apa itu poseur?

Poseur (sering salah eja dan akhirnya biasa ditulis poser) adalah istilah yang biasa digunakan untuk merendahkan seseorang. Istilah ini sering digunakan dalam scene punk, heavy metal, hip hop, dan subkultur gothic, atau komunitas skateboard dan peselancar, untuk menggambarkan seseorang yang menjiplak dandanan, cara bicara, dan prilaku suatu kelompok atau subkultur tersebut. Kelakuan poseur ini biasanya memiliki maksud agar bisa diterima dalam sebuah kelompok yang berujung pada pencapaian popularitas baik dikelompoknya atau kelompok yang lain (intinya menjiplak biar eksis dan populerlah hehe), tapi sayangnya hal tersebut tetap tidak bisa diterima karena kurangnya pemahaman tentang latar belakang kelompok atau subkultur yang mereka tiru dandanan, cara bicara dan prilakunya tersebut (ya maklumlah gak diterima, mereka cuma menjiplak dengan maksud tertentu tanpa mau cari tau latar belakangnya).

Poseur dalam pengertian bahasa

Dalam terminologi bahasa Inggris, Poseur merupakan kata yang diambil dari bahasa Perancis, dimana digunakan pertama kali secara kiasan pada abad ke-19 dengan arti yang sama dengan yang digunakan dalam bahasa Inggris sekarang yang merujuk kepada orang-orang yang "affect an attitude or pose". Dalam kamu etimologi online (Etymonline), berpendapat bahwa "word is Eng.[English] poser in Fr.[French] garb", the term itself could thus "be considered an affectation" (dianggap sebagai kepura-puraan).

Dictionary.com mengatakan kata tersebut menunjuk kepada "a person who habitually pretends to be something he is not" Kamus Merriam-Webster mencatat bahwa istilah ini juga digunakan untuk merujuk kepada "person who pretends to be what he or she is not" atau "insincere person". The Encarta kamus menyatakan bahwa istilah yang digunakan untuk menggambarkan "pretentious person" atau "somebody who tries to impress others by behaving in an affected way". Cambridge Dictionary mendefinisikan "poseur" sebagai "someone who pretends to be something they are not, or to have qualities that they do not have".

Poseur dalam pandangan subyektif

Dari penjelasan diatas, poseur atau biasa dibilang borok atau abal-abal atau istilah terbaru alay (mngkin) sebenarnya bukan melulu masalah dalam ruang lingkup subkultur, tapi juga bisa lebih luas. Poseur ada dimana-mana dan setiap hari atau mungkin setiap jam atau mungkin setiap menit atau bahkan setiap detik poseur itu akan terus muncul. Selama informasi itu terus menyebar dan sampai kepada individu-individu yang (pada akhirnya) menerima informasi baik secara utuh atau setengah jadi, bisa dikatakan poseur akan terus muncul sebagai follow up penerimaan informasi tersebut. Jadi, bisa dikatakan disini, poseur adalah sebuah proses! Proses dimana mereka berusaha menerjemahkan informasi dalam bentuk seadanya (dengan apa yang mereka punya), dan gak kecil kemungkinan dengan berjalannya waktu, seorang poseur itu akan menjadi seorang yang justru ekspert ketika dia memahami atau mencintai apa yang dia jalani. Terus terang, dulu kami POSEUR!! Sekarang juga masih, karena kalo kami gak jadi poseur, kami cuma tau satu hal doang ... flat! Gak ada variasinya, membosankan. Nah, kalian yang merasa ekspert saat ini, ayo ngaku ... awalnya sebelum kalian tau bener apa yang kalian jalani sekarang, kalian poseur juga kan?? Hehehe ... Ya Poseur itu hak! lagipula bagi kami poseur itu umurnya lebih pendek dalam berkutat di satu bidang, karena mereka akan bosan dan beku juga mereka gak memiliki hasrat dan emosi lagi ketika mereka menghadapi kebuntuan, lalu mereka akan berpindah kemudian akan terus berpindah sampai menemukan apa yang nyaman bagi mereka. Kebanyakan disini malah berenti mencari justru ketika mereka menciptakan tantangan hidupnya sendiri, yaitu berkeluarga.

Kenapa Membenci Poseur??

Ah yang bener tuh punk membenci poseur? Kayanya subkultur lain juga membenci poseur ah, contohnya subkultur metal/Blacky (black metal)/Gothic juga benci ah ama poseur. Bahkan Hip Hop atau Jazz pun juga gak suka adanya poseur. Hehe oke deh ... sekarang gini, kami gakkan jauh-jauh ke subkultur lain diluar punk, karena apa? karena problematikanya sama, cuma kemasannya aja beda. Dan satu alasan lagi, kami lebih banyak tau (walau bukan pakar) tentang subkultur punk ketimbang metal atau hip hop, mungkin diluar sana ada yang bisa lebih menerjemahkannya lagi untuk hal ini. Lagian ini juga kebanyakan ngambil dari berbagai narasumber kok hehe alias copas (yang penting liat niatnya, bukan nyolongnya hehehe).

Begindang booo ceritanya. Jadi waktu itu ceu Mumun lagi diwarung ... ahay deh! Salah tulis maaf (tombol backspacenya rusak)... Alkisah akhir dekade 70’an di Inggris, dimana saat itu Punk Rock udah mulai menjadi sesuatu yang bisa dijual dan menghasilkan untung yang buesaarrr!! Dimana band-band seperti Sex Pistols, The Clash, dan lainnya udah menjadi sesuatu yang sangat mudah didapatkan dimanapun dan oleh siapapun, dimana para personil dari band-band punk rock (akhirnya) banyak yang menjadi bagian perjalanan keglamoran celebritis, dimana atribut yang seperti mereka kenakan itu sangat laku dijual walaupun itu hanya barang pabrikan. Disitulah muncul pertentangan-pertentangan yang sebenarnya sebuah penyesalan dari para penggiat scene, yang masih setia dengan jalur idealisnya, mereka seakan bertanya “kenapa mereka yang seharusnya menjadi pionir dari subkultur punk justru malah menjadi boneka lucu yang laku dijual??”

Nah, ketika masyarakat awam sadar bahwa Punk itu ternyata enak untuk dinikmati dan gak lagi menakutkan dan mengancam, maka banyaklah generasi punk selanjutnya muncul atau mengawali eksistensi-nya justru terinfluence dari band-band punk yang sudah menjadi mainstream. Ya, mereka justru meniru apa yang ‘sudah mati’ di scene Punk kalo menurut para Punk Ortodok (kami sebut ortodok, karena bingung nyari kata-katanya hehe) saat itu. Dan Poseur menjadi kata yang amat favorit disebutkan pada saat itu kepada generasi-generasi punk tersebut. 

Music journalist Dave Rimmer wrote that the first punks in London used "terms in which they expressed their disdain for hangers-on and those whose post-hip credentials didn’t quite make it came straight out of the authenticity movements: 'Poseurs' was the favorite epithet."

Kebanyakan sindiran-sindiran kepada poseur itu sendiri dituangkan pada karya-karya lagu yang mereka sengaja ciptakan. Seperti lagu I Am a Poseur milik X-Ray Spex, yang liriknya begini, “I am a poseur and I don't care/I like to make people stare/Exhibition is the name." Atau Television Personalities (ehm, band kesukaan kami nih hehe) yang judulnya Part Time Punks yang liriknya beranggapan bahwa “Television Personalities sendiri bukanlah punk dalam artian ortodok, begitu juga dengan yang lainnya”, dalam hal ini mereka beranggapan bahwa “ketika orang-orang menyatakan diri mereka sebagai Punk, maka sebenarnya mereka sendiri itu bisa menjadi Poseur atau Punk atau keduanya.” Dan dilagu Part Time Punks ini mereka meragukan keaslian konsep Punk-nya Joe Strummer. Ya lagu ini menghajar lansung sikap macho punk-punk di Inggris kala itu.

Kemudian ada Combat 84, salah satu band Oi! Yang juga memiliki lagu berjudul "Poseur" yang menggambarkan seseorang yang gak jelas juntrungannya berubah dari punk ke skinhead, dan kemudian menjadi Mod dan Ted. Liriknya maknyus loh ""Poseur poseur standing there/ You change your style every year." (Poseur poseur berdiri disana / Kau rubah gayamu setiap tahun).

Awal 1980-an band punk hardcore MDC menulis sebuah lagu berjudul "Poseur Punk", yang mengkritik Punker yang hanya mengadopsi gaya tanpa mengadopsi nilai-nilainya. Dan sebagai bagian dari tur ulang tahun ke 25 MDC di tahun 2000-an, frontman MDC Dave Dictor tetap mengusung lirik yang sebagian besar tetap sama dengan dulu yaitu tentang: politisi yang gila perang, tentang punk-punk poseur yang mata duitan (termasuk disini adalah Rancid, dimana disana ada Tim Armstrong yang juga pernah bekerja sebagai roadie-nya MDC) … waduh ini mah lagi trend di scene lokal sini malah hehehe dan satu lagi tentu saja, tentang polisi. NOFX dialbum The War on Errorism ada juga lagu "Decom-poseur", salah satu lagu bagian dari keseluruhan album tersebut yang mengkritik terhadap inkarnasi punk rock di abad ke-21.

Sebuah artikel di Drowned in Sound berpendapat bahwa tahun 1980-an-era hardcore adalah semangat sejati punk, karena setelah semua poseurs dan fashionista kacau pergi ke tren berikutnya hubungan merah muda dengan potongan rambut New Romantic, dan menyanyikan lirik lagu yang rapuh" . Ini menyatakan bahwa scene hardcore hanya terdiri dari orang-orang punk yang "benar-benar didedikasikan untuk etika DIY"; dimana kehidupan tanpa ambisi (popularitas dan uang), tapi untuk satu hari menetap ke dalam skenario studi-kerja-keluarga-rumah-pensiun-mati (hidup sederhana dan bertahan dalam kebahagiaan sempurna)" 

Dave Rimmer menulis bahwa dengan kebangkitan dari idealisme music punk yang dilecut diawal dekade 80’an dengan banyaknya bermunculan genre music yang lebih marah dan lebih cepat dari punk rock mulai memudar di awal 1990-an, dimana "Kurt Cobain, dan banyak anak-anak seperti dia, dan rock & roll ... mereka berani menyatakan: Apakah kalian sudah menjadi paling murni, setelah hari demi hari, tahun demi tahun, untuk membuktikan keaslian kalian, terus hanya memikirkan hidup untuk musik (atau yang lainnya) atau menjadi poseur, menjadi palsu, atau menjadi sellout? "

Dennis Lyxzén (Refused) dan Brett Gurewitz (Bad Religion) menggunakan istilah yang merujuk kepada awal decade 2000-an dimana penggemar pop punk adalah sebagai anak-anak atau lebih spesifik gelombang baru dari poseur punk yang datang ke scene melalui band-band seperti Good Charlotte. Mereka berpendapat bahwa para pendengar muda ini hanya ingin menggnakan musik sebagai pelarian , pelampiasan, dan tidak harus berpikir atau memikirkan macam-macam yang tidak ada urusan dengan mereka atau band mereka. (yang penting band gue dulu eksis, masalah scene ancur atau kaya apa itu urusan nanti – begonoh dah kira-kira hhe …), dan sayangnya cara ini justru banyak ditiru dan diikuti.

Joe Keithley, vokalis D.O.A. mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa: Untuk setiap orang menyematkan simbol anarki tanpa memahami apa arti symbol tersebut, pasti aka nada punk yang lebih tua (senior) yang berfikir mereka itu poseur. Kemudian Liisa Ladouceur, sang pewawancara kemudian berpendapat bahwa ketika sebuah kelompok atau scene meiliki pengikut yang jumlahnya makin berkembang,mereka yang aseli (mereka yang awal di scene tersebut) pasti akan meninggalkan scene tersebut, dengan alasan scene mereka sudah terlalu banyak menarik banyak poseur didalamnya atau dengan kata lain mereka yang original awal dari scene tersebut justru sudah tidak mau berhubngan dengan scene tersebut atau dengan kata lain (lagi) menjadi ELITIS dengan sekian macam alasannya.

Poseur: Diantara Berhenti atau Maju Terus.

Ahoyyy … gimenong cyiiinnn … sudah simak kan cerita akikah diatas ya jeng … Ehm! (jadi gagah lagi) kalo disimak diatas, Poseur itu sebenernya bisa dikatakan sebagai salah satu bentukkan kesalah kaprahan atau kesalah fahaman dalam penerimaan informasi. Poseur menurut mereka yang mengklaim dirinya Punk beneran itu Punk yang palsu, karena mereka meniru segala gaya dan kelakuan dari band-band punk yang sudah gak lagi murni sebagai band punk atau mungkin bisa dikatakan meniru sebagian band punk bentukkan media mainstream. Misalnya kalau disini banyak Punker yang cuma tau Marjinal, Suparjo Is Dead eh Superman Is Dead, terus Endang Soekamti atau apalah band-band Punk (atau yg masih berafiliasi dengan Punk) yang sering mondar mandir di TV, Radio atau Majalah Gahooolll hehe, secara referensi musikal. Kemudia dari gaya mereka meniru punk-punk dilampu merah (punk yang suka dilampu merah itu mainstream loh, karena mereka terlihat dengan jelas, gampang ditemui dan siapapun atau bahkan apapun –hehe maaf .. bisa meniru gaya mereka). Nah itu jelas poseur!!!

Lihat lagi diatas … siapa yang sering menyindir poseur?? Apakah mereka yang sejati atau aseli atau murni punk?? Bukan, tapi mereka yang lebih tua atau lebih senior dari para poseur itu, atau bisa dikatakan mantan poseur. Ya, mereka lupa, jauh sebelum punk rock menjadi barang dagangan yang laku, dan kemudian mereka membenci itu, kami yakin, merekapun mengadopsi gaya dari segala sesuatu yang mereka dapatkan seadanya ketika mereka muda. Ya dikoran yang ayah atau abangnya beli, ya ditelevisi, ya di radio, dan lain sebagainya. Ya kami yakin para penyindir poseur itu sendiri menikmati awal-awal perjalanan mereka dari band-band atau figure yang menjual idealisme mereka.

Fyuhhh … Ya, hidup ini hanyalah pengulangan, gak ada yang murni atau sejati, esensial hidup itu jatuh pada keyakinan masing-masing yang menjalaninya dan juga gak bisa maksain kepada pihak lain. Ya eyalaahh … hidup kita aja nyontoh dari orang lain (paling dekat ya orang tua) ngapain juga ngasih-ngasih atau memaksakan konsep hidup kita yang jelas-jelas colongan ke orang lain, yang ada malu-maluin hehe. Seperti kata Television Personalities diatas “ketika orang-orang menyatakan diri mereka sebagai Punk, maka sebenarnya mereka sendiri itu bisa menjadi Poseur atau Punk atau keduanya.” Dan kami menyikapinya seperti ini, kita masuk ke ranah punk, kemudian kita akan menjadi poseur, kalau kita gak jelas dan hanya berkutat disitu-situ aja ya kita bisa dianggap poseur selama kita gak mau berkembang dan gak punya keinginan untuk mencari lebih jauh lagi. Tapi kalau kita terus jalani apapun yang terjadi sampai kita menemukan titik pemahaman yang cukup dan kemudian mencintai apa yang kita jalani ya kita akan terus bertahan dan proses menjadi mantan poseur atau menjadi ekspert itupun akan berjalan seiring waktu. Percayalah, poseur itu proses bukan hal yang menakutkan, jika kita konsisten dengan apa yang kita jalani, pada saatnya nanti kita juga akan menikmati menyindir, mengkritik atau bahkan mencaci maki para poseur kok.

Akuilah kalau kita poseur

Dan menyindir, mengkritik, dan bahkan mencaci maki itu juga adalah bagian dari proses. Buat kalian yang pernah dapet cap sebagai poseur, jangan galau kaya andy lau … teruslah cari tau lebih jauh lebih jauh dan lebih dalam. Kicauan yang katanya kalian poseur itu anggap aja teguran dari seorang kakak yang lebih pengalaman kepada kita. Sesungguhnya para pengkritisir poseur itu sayang kepada para poseur mereka cuma mau ngingatin lewat teguran-tegurannya. Dan tapi … ini tapi loh ada dua alasan kenapa mereka menjadi pengkritisir poseur: 

  • Satu, karena alasan idealis, mereka mau meneruskan apa yang tersirat (esensi) dalam perjalanan subkultur punk itu sendiri. Mereka gak mau ada individu-individu yang masuk ke scene-nya membawa pengaruh dari Punk-punk yang sudah menjadi boneka dagangan. Kalo diambil sisi positifnya, sebenernya dengan kritik mereka itu secara tidak langsung adalah sebuah wacana tentang esensial subkultur punk itu sendiri. Buat para poseur: ambil hikmahnya, pelajari, dan jangan marah!! (cam kan itu!!)
  • Kedua, karena alasan eksistensi, sebenernya mereka ini poseur dan gak ngerti-ngerti amat tentang apa yang mereka jalanin, tapi entah karena mereka diseting jadi martyr oleh para seniornya atau emang rasa takutnya dibilang poseur sangat besar, mereka sering menyerang para poseur lain dengan kritikannya. Padahal udah jelas-jelas tertulis “sesama poseur jangan saling mendahului” hehehe … yah, namanya juga mau eksis tapi gak mau ribet, terpaksa mereka lakukan jalan instan tersebut. Yang penting eksis!! Hehe

Sekali lagi saudara-saudaraku baik yang aseli maupun yang poseur, udahlah … kalian itu dalam sebuah proses dan bagian dari perjalan scene. Pernah suatu hari kami browse di google dengan keywords “apa itu poseur?” wuih … buanyak!! Tapi isinya hampir sebagian besar kebencian dan kayanya jijik sama poseur. Poseur itu bukan penyakit, kalaupun itu penyakit masih bisa disembuhkan, buktinya banyak pengkritisir poseur dulunya juga poseur kok. Poseur itu bukan binatang buas, kalopun dia binatang buas masih bisa dijinakan, poseur itu bukan mahluk yang menakutkan, kalopun dia mahluk yang menakutkan toh masih bisa kita kalahkan dengan keberanian kita. Yang jelas, Poseur itu adik kita, anak kita, keponakan kita, anda, kamu, saya, kami, kita …. Ya, akui sajalah kalo KITA (PERNAH JADI) POSEUR!! … 

Sebagai catatan, Subkultur Punk ditulisan ini hanyalah sebagai rujukan mediasi kami. Karena apapun subkultur yang kalian jalankan sebenarnya problematikanya sama cuma kemasannya aja yang berbeda.

ditulis oleh: Alinea Provokatif (sebagian tulisan diambil dari wikipedia.com)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan