artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MASSA BAYARAN: Aksi Massa Wani Piro??


By on 22.3.14

Redaksi NoiseblastMedia - Hehe ... postingan ini terinspirasi para tetangga yang kemaren lusa ramai-ramai mau menghadiri kampanye sebuah partai dan mengenakan kaos berwarna biru, dan siang ini mereka bergerombol di gang dan kebetulan melewati tempat kami sambil membawa atribut lengkap seperti kemarin lusa (bendera, spanduk, pamflet, dll). Tapi hari ini mereka berseragam kuning ... Hloh!??

Penasaran kami melihat ini kemudian kami cari tau atau bahasa anak sekarangnya kebo eh, kepo hehe. Soalnya setahu saya disini basis masanya kuat dengan salah satu ormas Islam (sok) radikal yaitu FPI. Terlihat dari ibu-ibu dan anak-anak gadisnya berjilbab dan beberapa korlapnya juga kadang muncul di Majelis Ta'lim dibawah (tempat kami diatas atau agak tinggi) dimana itu merupakan tempat penggojlokan kader FPI disekitaran wilayah Depok. Setelah sekian lama jadi kepo-ers akhirnya dapet juga informasi yang bisa dipercaya. Ternyata emang didaerah dimana kami tinggal itu ada semacam organisasi yang menawarkan jasa mobilisasi massa dan ini sudah berlangsung sejak pemilu 2009 lalu. Dan benar, mereka terorganisir, seperti layaknya sebuah perusahaan, cuma dikamuflasekan tentunya.

Dan jauh mundur sebelumnya pada 2009 lalu, ketika salah seorang crew kami terlibat menjadi tim suksesnya seorang caleg DPRD Jakarta (sebagai tukang desain) dan juga seorang artis/celebritis/bekas pembawa berita juga, dia bercerita bahwa caleg ini sebut saja mbak WeHa banyak dihampiri oleh beberapa organisasi yang mengaku bisa mensukseskan perjalanan kampanye seorang mbak WeHa ini. Kalau menang mereka juga meminta bonus tambahan. Untungnya mbak WeHa ini modalnya pas-pasan dan dia fikir untuk DPRD aja dia tidak butuh hal-hal seperti itu, dia sadar kalau dia itu memang sudah publik figure jadi dia tidak butuh massa bayaran, dia akhirnya menggunakan ke-celebritisannya untuk akhirnya gol menjadi anggota DPRD Jakarta.

Well, dog eat dog concept, ya ... kami sebut demikian karena disini sekumpulan srigala licik berhasil mengumpulkan sekelompok anjing kampung yang lapar untuk dimangsakan ke anjing-anjing peliharaan yang kaya raya dan mengejar tahta. Jual-beli suara, Jual-beli massa, jual-beli manusia bahkan jual-beli harga diri itu seperti sesuatu hal yang lumrah. Yang jadi pertanyaan adalah massa yang mau dijual dengan bayaran seadanya itu sebenarnya bodoh atau lapar ya?? Kalo kami mending memilih jadi tukang ketoprak deh seperti mas Hasan Busri pedagang ketoprak yang sudah 15 tahun berdagang disekitaran Monas yang ternyata sudah mengamati tentang hal ini dan ini lebih down to earth daripada bertanya langsng dengan pakar atau ahli massa aksi hehe. Tulisan yang kami ambil dari kompas.com yang terunggah pada tanggal 14 Oktober 2011.... silahkan.

"Gampang Ketahuan Mana Massa Bayaran"

KOMPAS.com — Sudah bukan rahasia lagi jika organisasi massa ataupun mahasiswa tertentu lebih sering menggunakan massa bayaran dalam berunjuk rasa. Tidak seperti kebanyakan masyarakat awam, bagi Hasan Busri tidak sulit membedakan mana massa anggota organisasi/kelompok serta mana yang dibayar untuk sekadar hadir dan meramaikan unjuk rasa.

"Gampang ketahuan mana massa bayaran. Lihat saja, kalau massanya banyak, tetapi sedikit yang nyentuh dagangan makanan, itu massa bayaran," kata Hasan sambil tertawa lepas saat ditanyai Kompas.com tentang sejumlah kelompok massa yang sedang berunjuk rasa di depan Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (13/10/2011) siang.

Sebagai pedagang ketoprak, Hasan telah 15 tahun mencari rezeki di tengah kumpulan massa yang berunjuk rasa di sekitar kawasan silang Monas. Bersama istrinya yang mendagangkan mi ayam, pria asal Madura ini setia berada di bawah terik matahari menanti datangnya pembeli. Karena itu, ia mengaku sudah benar-benar mengenal wajah para demonstran bayaran dan tingkah pola mereka.

"Kalau (pembeli) ramai kayak tadi yang demo soal Freeport, itu artinya kebanyakan massanya memang dari kelompok itu sendiri," katanya.

Massa bayaran, tutur Hasan, biasanya sudah membawa serta minuman ringan dan lebih irit. Mereka juga tidak terlihat serius saat menyanyi ataupun mengikuti komando koordinator aksi.

Ciri lain yang disebutnya adalah orang-orang yang dibayar biasanya langsung bubar mencari tempat berteduh, tidak lama setelah berada di lokasi. "Harus dikomando berkali-kali baru pada ngumpul lagi," tuturnya. Menurut dia, pergantian kostum, bendera, nama organisasi, dan embel-embel lainnya tidak membuat ciri khas tersebut hilang.

Ia lantas menunjuk ke kelompok tertentu yang terlihat tertib mengikuti kegiatan unjuk rasa serta antusias menyambut dan menanggapi setiap orasi. Aksi massa yang demikian, menurut Hasan, benar-benar memperjuangkan apa yang dituntutnya.

Sementara itu, aksi massa tiga kelompok lain yang berunjuk rasa soal reshuffle kabinet diragukan keseriusannya. "Ini masih (massa bayaran) yang sama dengan kemarin dan dua hari lalu. Cuma nama kelompok yang berubah," katanya menunjuk ke arah massa aksi tertentu.

Jadi, apakah kebanyakan unjuk rasa hanya permainan kelompok tertentu? "Ha-ha-ha.... Mungkin begitu," kata Hasan sambil mendorong gerobak dagangannya pergi ke tempat mangkalsebenarnya di dekat Gedung Pertamina, Gambir.


KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan