artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

PRAMOEDYA ANANTA TOER DIMATA SEORANG TEMAN


By on 14.3.14



Pramoedya Ananta Toer, di dunia kesusastraan, luar dan dalam negeri –kecuali di kota kelahirannya: Blora, sosok individualis kontroversial kelahiran 6 Februari 1925, ini sudah tak asing. Karya-karyanya berbentuk novel, artikel, cerpen, maupun puisi yang didasari atas penyelidikan sejarah kebudayaan dari ketidakadilan dan kesengsaraan bangsa di bawah kuasa penjajahan sudah banyak bertebaran di toko buku, ruang baca maupun perpustakaan. Cercaan maupun penghargaan menghampirinya. Dengan gaya penulisan yang historis-romantis, hingga tragis-ironis, pandangan-pandangannya merangsang para pembaca untuk berfikir, menyelidiki dan memberikan penilaiannya sendiri. 

Apa yang dialaminya selama hampir dua dekade dalam tahanan dari penjara ke penjara adalah sebuah pertanggungjawaban buah pemikiran dan renungannya. Namun seperti juga halnya pembakaran karya hingga perampasan hak-haknya tak menghentikan komitmen perjuangannya, hingga maut menjemput tanggal 30 April 2006 silam. 

Perjuangannya melawan bentuk-bentuk kekuasaan penindas seperti dominasi dan eksploitasi, diawalinya dengan merubah kesadaran tentang hakikat ‘membaca’. Dan berbicara tentang implementasi karya Pramoedya adalah perlawanan: subversif! Bicara jujur di dunia yang korup penuh kebohongan, bertindak sederhana di tengah gaya masyarakat konsumtif adalah sebuah pemberontakan dan ancaman bagi keberlangsungan sistem yang mapan. 

Kekeliruan terbesar dan bebal adalah membaca tulisan-tulisannya tanpa pernah melakukan perubahan. Namun, bagi orang yang berhasrat akan buah karya ilmu pengetahuan, kebijaksanaannya tersimpan rapi dalam bahasa, tanpa mendikte kita dituntut menerjemahkan kembali sesuai dengan kondisi dan situasi saat ini. Hingga menjadi suatu anjuran, “Jika karya dan tulisan Pram yang kalian baca dan punya tak membuat kalian menjadi berani, bebas, produktif dan mandiri, maka bakarlah, kertas-kertas itu tak lebih dari sekeranjang sampah!” Seperti halnya tanpa membuat gemetar para birokrat, tanpa membuat nyala api jiwa individu dan massa terbakar hingga memerindingkan bulu kuduk para korporat, sastra adalah bangkai. 

Pram telah tiada. Sang maestro itu telah pergi setelah dari masa ke masa menjadi gesekan tandingan untuk melawan ketidakadilan pada diri, keluarga, dan bangsanya. Tokoh yang telah tutup usia di umur 81 tahun tersebut adalah bagian penting dari sejarah budaya perlawanan, nasional maupun internasional. Bukan hanya sastrawan, tapi pejuang yang cerdas, kuat dan bertanggungjawab pada akal sehat dan kepekaan kemanusiaan. “Everything could be a weapon if you hold it right.” Dia telah dengan baik memegang pena, kertas dan mesin ketiknya, begitu juga tugas nasional serta pribadi, kehendak bebas, hasrat terdalam dan desakan batin telah ia tunaikan. Ia telah mengambil peran utama, yang luhur dan bertanggung jawab. Mungkin hal tersebut adalah kutukan sekaligus pemberkatannya. 

Seperti semua mahluk hidup, semua manusia termasuk sastrawan mempunyai hak –bahkan kewajiban, untuk bergerak dan melawan –selain makan, bernafas, berak dan berkembang-biak; apalagi di hadapan tiran, kekuasaan dan kesewenangan. 

Apakah dunia sekarang baik-baik saja? Di manakah sosok pribadi kreatif, berani dan berpengetahuan?

Seperti seekor lebah yang mengumpulkan terlalu banyak madu, Pram telah memberi dan membagikan. Bersyukurlah kawan-kawan yang masih sempat dipertemukan dengan orang bijak yang menjadi tuan atas dirinya sendiri, yang dengan sadar dan berani menempatkan hidupnya dalam bahaya untuk perjuangannya terhadap kedaulatan kemanusiaan. Beruntunglah kalian, masih bisa belajar dari seorang tokoh besar yang namanya dikenal di mancanegara walau tak ada prasasti di kotanya sendiri. Saya menyatakan respek terdalam bagi orang yang telah mengamini dan mencintai kehidupan dengan banyak kepedihan dan luka yang dikandungnya.

Namun, dalam era kapitalisme global seperti saat ini, dengan sifat dan pola pikir masyarakat yang sakit dan sadomasokis, maka seperti sepenggal aforisme seorang filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche:

“Kini aku mati lantas membusuk.. dalam sekejap aku akan jadi ketiadaan… Tapi sebab-musabab rumit yang menjeratmu akan terulang kembali—ia akan menciptakan aku kembali! Aku akan kembali… Tapi ketika mereka tidak juga mengerti: aku bukan mulut untuk telinga-telinga ini.”

Judul Aseli: Making Pram A Threat Again


KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan