artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

SAMPAI KAPAN MAU TERUS MENYALAHKAN FILEM PORNO??


By on 11.3.14

Well ... artikel lama ketemu juga di hardisk lama hehe. Tapi, sebelum kami mengangkat artikel ini ke web/blog ini, kami sempat terlibat perdebatan ringan walau sebatas dua individu saja (sepert biasalah ... satu sisi jadi iblis dan satu sisi jadi malaikat hehe). Dan pada akhirnya perdebatan ringan yang merupakan proses yang biasa disebut 'pertimbangan' itu memunculkan persetujuan untuk dimunculkannya artikel ini pada akhirnya. Kenapa pada akhirnya dimunculkan? apakah artinya inii kekalahan untuk sisi yang menjadi malaikat? atau kemenangan buat sisi yang menjadi iblis? Hehehe ... Gak juga tuh, tidak ada yang menang atau kalah dalam hal ini, karena perdebatan ini hanya melibatkan dua anak manusia yang jelas-jelas mereka bukan iblis atau malaikat. Kebanyakan poin pertimbangannya itu masalah siap atau tidaknya pembaca menerima wacana ini. Yang jelas, kenapa dimunculkan juga pada akhirnya bertujuan setidaknya sebagai wacana pembelajaran dimana kami menyadari bahwa kebanyakan dari kita banyak yang terlalu gampang dipengaruhi apa yang kita lihat/tonton. Ya jangankan nonton flem porno, filem hooligan kemudian muncullah hooligan-hooliganan dimana mana (hooligan taunya West Ham doang hehe) ... nonton flem Romper Stomper kemudan muncullah ... maaf bukan muncul, tapi diangkat lagi lah kebencian-kebencian terhadap etnis terntentu namun dibalut ekslusif dengan ke-Skinhead-an mereka (fenomena akhir dekade 90an) ... habis nonton filem-filem dokumenter tentang blac blok, lantas deh semua mau jadi blac block, berdandan hitam-hitam lengkap dengan cadar ... lucunya, ketika aksi long march dan kebetulan melewati waralaba atau restoran cepat saji bersekala internasional sempet-sempetin deh berpose dan berfoto didepannya kemudian dipasang di akun jejaring sosialnya biar terkesan "gue blac block looohh cyiiinnn" ... dia gak menyadari secara tidak langsung dia mempromosikan label yang disebut-sebut 'kapitalis' tersebut ... kenapa cuma berpose? kenapa sekalian hancurin aja tempat 'kapitalis' tersebut terus difoto deh ... kami jamin, EKSIS DEH LAHIR BHATIN! hehehehe ....  atau mungkin anda bisa menambahkannya? ya, tambahkan aja sendiri ya ... hhe.

Ya, gampang kedoktrin kalau bahasa pasar di scene mah ... maaf tadi sedikit ngelantur, kita kembali ke bahasan ah ... Oke, kita masih mudah terangsang oleh tontonan yang sebenarnya itu sendiri hanyalah sebatas drama, hiburan atau kasarnya dagangan yang mereka buat. Bahkan katanya nih, ada yang sampai mencabuli anaknya sendiri gara-gara filem porno. Terus, sampai kapan kita mau nyalahin filem porno kalau sudah begini?? sedangkan peredaran filem porno tersebut aja masih masif disini. Bahkan negeri ini sudah mulai memproduksi dan menampilkan putra-putrinya dalam beradegan sex. Atau yang lebih parah mereka membuat sendiri filem porno-nya (DIY ethic?? hehe)!! walau akhirnya gak menhasilkan uang tapi malah jadi aib atau bahkan dipenjarakan, Atau yang lebih parah lagi, bosan mendengarkan pidato atau bosan dengan suasana rapat, anggota DPR tertangkap sedang asik nonton filem porno. Atau yang lebih lebih parah lagi kondom bekas banyak ditemukan di gedung DPR. Sekali lagi ... sampai kapan kita mau menyalahkan filem porno kalau orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab menjaga moralitas bangsa ini ternyata sama gilanya dengan bintang-bintang porno ... fyuuhhh cape hehe.

Kami tidak menolak filem porno, kami juga menontonnya, bahkan sampai bosan menontonnya (gayanya gitu-gitu doang, cuma pemeran, latar belakang, dan ceritanya doang yang beda ... sama dengan sinetron ... eh lebih parah sinetron malah huehuehue ...). Kami masih mengkoleksi filem porno dan sukurnya kami belum pernah memperkosa atau diperkosa gara-gara filem porno, karena bagi kami itu hanyalah sekedar referensi, entertain ... dan juga ujian. Kok Ujian?? Iya, ujian ... ujiannya begini ... sampai sejauh mana anda akan bisa me-maintenance libido anda setelah terpancing adegan sex di filem porno. Intinya, semua kembali kepada diri kita masing-masing ... sampai sejauh mana anda menyikapi dengan bijak apa yang anda lihat, apa yang anda simak dan apa yang anda rasakan (keren gak bahasanya hehe ...).

Sungguhankah Seks dalam Film Porno?

Saya tidak tahu statistiknya, tapi saya kira kebanyakan orang dewasa pada suatu masa hidupnya sudah pernah menonton film porno (baik sengaja maupun tidak, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan). Barangkali ada yang berpikir bahwa film porno merupakan bentuk pendidikan seks karena lewat film pornolah seseorang awalnya terpapar materi tentang seksualitas. Kemudian, karena sebagai orang dewasa amat sedikit kesempatan untuk melakukan perbincangan jujur dan terbuka tentang seks dengan orang dari berbagai latar belakang, boleh jadi apa yang disajikan dalam film porno dianggap merepresentasikan aktivitas seksual yang umum dilakukan dan otentik oleh banyak orang. Kedua asumsi tersebut, bila dibicarakan dalam konteks pornografi arus utama, sesungguhnya keliru.

Pertama, walaupun orang menonton film porno, mengambil ide dari situ lalu mempraktekkannya, hal itu berbeda dari pendidikan seks. Dan yang kedua, dalam film porno yang termasuk arus utama sangat sedikit yang merepresentasikan aktivitas seksual umum. Namanya juga film, film porno sejatinya tak jauh beda dengan film Hollywood. Coba saja Anda lihat, mana ada dunia nyata yang semua manusianya bertampang rupawan (film Hollywood) atau hubungan seksual yang jarang pakai kondom dan dilakukan oleh manusia-manusia yang senantiasa tampak sempurna dalam posisi apapun (film porno). Kalau Anda kurang yakin dengan pernyataan di atas, berikut ini adalah beberapa alasan yang menjelaskan bahwa pornografi arus utama tidak merepresentasikan pengalaman seksual manusia pada umumnya.

1. Film porno tidak dibikin untuk aktornya
Sekali lagi, ini dalam konteks pornografi arus utama, bukan seperti video seks dua (atau lebih) kekasih. Kalau hubungan seksual bertujuan untuk memuaskan pelakunya, film porno sebaliknya. Kala orang dibayar untuk berhubungan seksual di depan kamera, mereka itu bekerja dan pekerjaannya bukan untuk memuaskan diri mereka, melainkan penontonnya (dan mesti menghemat biaya pembuatan filmnya, serta memudahkan kerja sutradara dan editor).

2. Kebanyakan film porno dibuat tanpa konteks
Pengalaman seksual aslinya terjadi dalam konteks sosial. Setiap kali manusia berhubungan seksual dia membawa pengalaman terdahulu dan nilai-nilai yang dianutnya. Film porno tidak begitu. Kemudian, perilaku seksual dapat menjadi bentuk komunikasi antar manusia yang rumit sementara pornografi tidak.

3. Tubuh aktor-aktrisnya tidak nyata
Karena itu, jangan bandingkan tubuh Anda dengan aktor-aktris dalam film porno. Sederhana saja, mereka memang dipilih untuk main film porno karena bentuk/ukuran tubuhnya. Rata-rata ukuran penis bintang porno tidak mewakili ukuran pria pada umumnya (para pria boleh bernafas lega), begitu juga ukuran payudara (dan bokong dan apapun yang bisa dipermak) milik aktris porno.

4. Manipulasi
Selain operasi plastik dan memilih pemain dengan tubuh sempurna, pembuat film porno memakai berbagai macam trik agar tubuh para pemain filmnya tampak lebih besar, halus dan indah dari aslinya. Caranya bisa dengan mengatur pencahayaan, sudut pengambilan gambar, make up dan bahkan model cukuran rambut pubis.

5. Posisi seks untuk kamera
Posisi seksual yang disajikan dalam film porno dipilih karena berbagai alasan, di antaranya variasi pemandangan dan memungkinkan akses kamera menjangkau bagian tersembunyi sampai sedetil-detilnya (yang bahkan bisa menyorot bagian yang tidak bisa dilihat si pemain film itu sendiri). Jadi, posisi seksual dalam film porno tidak mewakili apa yang umumnya orang lakukan, bahkan beberapa di antaranya membuat si bintang porno tidak nyaman.

6. Tujuan film porno
Film porno dibikin untuk merangsang dan mengejutkan pemirsanya, sehingga apa yang ditampilkan di dalam film porno memang sudah dirancang untuk memenuhi tujuan itu. Di samping itu, para pembuat film porno juga merasa perlu untuk meyakinkan penonton bahwa adegan seks dalam film itu adalah sungguhan, sehingga adegan ejakulasi eksternal (cum shots, istilahnya) selalu ada dalam film porno meskipun hal itu tidak terlalu umum dilakukan orang.

7. Film porno ada editornya
Kebanyakan film porno tidak diambil gambarnya secara berkesinambungan dari awal sampai akhir. Ada jeda dan interupsi selama menyorot satu adegan dan mungkin pengambilan gambarnya tidak urut. Yang Anda lihat adalah hasil akhirnya yang sudah diedit dan bukan adegan seks yang sebenarnya terjadi.

Meskipun adegan seks dalam film porno tidak bisa dibilang betul-betul nyata dan umum, kita tidak dapat langsung mengatakan bahwa menonton film porno itu buruk dan salah. Ada beberapa ahli yang sepakat bahwa menonton film porno merupakan ekspresi seksual manusia dewasa yang sehat. Jadi, itu tergantung pada bagaimana diri kita menilai dan menempatkan film porno secara proporsional.

Sumber:
WebMD.com

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan