artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MEREKA BUKAN UNTUK KITA, DAYAT




Lantunan suling bambu yang sayup sayup terdengar dari tepi pesawahan di desa Cikahuripan disiang yang memang agak kurang cerah saat itu. Terlihat disana seorang anak usia kisaran 10 tahun berbadan kecil memakai baju yang lebih besar dari ukuran badannya dan celana merah yang merupakan seragam sekolahnya. Dayat, nama anak itu, sedang asik melantunkan tembang-tembang Sunda dengan suling bambunya. Dayat seperti menikmati suasana siang yang memang kurang begitu terik saat itu, jari jemari dan olahan nafas yang dihembuskan dari mulutnya terus bermain memainkan harmonisasi dari laras pelog walau kadang beberapa nada harus diulang karena kesalahan yang tidak disengaja. 

Dayat ternyata tidak sendiri, dia bersama ayahnya yang disaat bersamaan sedang bercengkrama dengan kesibukannya membelah sedikit dan menutup lagi pematang-pematang sawah guna membagi air agar merata. Abah Oman, orang yang selalu Dayat temui di siang hari semenjak kakaknya Daryo berangkat ke kota diajak oleh pamannya, Mang Yeye untuk masuk ke pelatihan Militer, karena sebelumnya Daryo mendaftarkan diri masuk kemiliteran dengan alasan ingin mengangkat harkat derajat orang tua walaupun hanya sebagai prajurit. Sudah 6 bulan Dayat menggantikan posisi Daryo mengantar makan siang untuk Abah Oman, ayah tercinta yang sepertinya setiap hari disibukkan oleh banyak hal disawah desa Cikahuripan ini. Maklum, Abah Oman diberikan tanggung jawab sebagai pemimpin untuk mengelola ‘sawah bersama’ milik warga Desa Cikahuripan tersebut. Sawah bersama adalah konsep sawah kolektif yang dikerjakan bersama-sama oleh warga desa Cikahuripan dan hasilnya dibagi rata setiap panen kepada warga desa yang ikut mengelola sawah bersama. Ini adalah kesepakatan warga desa Cikahuripan sebagai tindak lanjut dari kelakuan rakus Juragan Cakim yang selalu menawar murah lahan pesawahan atau membeli murah hasil panen dengan segala cara. 

Kembali ke nada suling si Dayat yang kali ini memainkan lagu Bajing Luncat yang dia improve menjadi agak sedikit lambat. Namun belum sempat masuk ke bar kedua, tiba-tiba suara suling itu lenyap, hanya tertinggal suara dedaunan dan batang pepohonan yang bergesekan pelan tertiup angin, dan suara burung-burung sawah yang terdengar dari kejauhan. Kenapa berhenti? Mari kita tengok Dayat, kenapa dia menghentikan lagu Bajing Luncat yang belum selesai itu? Ouw …. Ternyata Dayat sedang menatap kosong ke depan, sementara sulingnya tetap tergenggam diposisi seperti dia memainkannya cuma tidak ditiup dan pelan-pelan entah sadar atau tidak suling itu ada diatas kedua pahanya dengan posisi tangan yang agak berubah sedikit dari posisi genggamannya. Mata Dayat menatap kosong kedepan, entah apa yang ada dipikirannya, iya hanya menatap lurus kedepan ke alam terbuka pesawahan. Tidak ada objek dikejauhan yang memancing pandangan mata dia, tak ada sinar yang memancing perhatian tatapan matanya, tak ada hal aneh yang menarik perhatian didepan si Dayat, hanya hamparan padi dan pegunungan dikejauhan, sebuah pemandangan yang lumrah sebenarnya bagi seorang anak desa seperti Dayat ini.

Hampir dua menit dia menatap kosong kedepan sampai pada akhirnya …

“Dayat? ..” dan berakhirlah tatapan kosong si Dayat karena diinterupsi oleh suara agak berat yang tidak asing. Suara agak berat yang selalu memunculkan kalimat-kalimat yang menginspirasi hidup Dayat, suara agak berat yang sangt penuh wibawa bagi seorang anak bernama Dayat ini, suara berat yang berasal dari sosok tangguh bernama abah Oman, ayahnya tercinta.

“Engg … Eh Abah, abah dari mana? Bukannya tadi abah ada gak jauh didepan Dayat? Kok tiba-tiba ada dibelakang Dayat?” Dayat membalas sedikit terkejut. 

“Iya … abah dari tadi juga ada didepan kamu kok, abah lewat pematang tepat didepan kamu hehe …” abah menjawab sambil tersenyum sembari menyandarkan cangkul yang dia bawa ke pohon yang sedari tadi merindangi tempat dimana Dayat duduk.

“Masa? Kok Dayat gak liat sih bah?” Dayat penasaran 

“Kamu menatap, tapi gak lagi menatap apa yang ada didepan kamu, kamu lagi jauh menerawang ke alam pikiranmu … makanya kamu gakkan bisa liat apa yang nyata ada didepan kamu … kamu lagi ngelamun kalo bahasa mudahnya mah …” abah Oman coba menjelaskan dan menjawab rasa penasaran Dayat.

“Emang lagi ngelamunin apa sih kamu Dayat?” Abah bertanya sambil membuka rantang makanan yang sebelumnya bersama Dayat dibawa dari rumah.

“Gak tau bah … Dayat juga bingung mikirin apaan hhe … cuma lagi mikirin gambar dipagar sekolahan tadi pagi yang dipasang anak buah juragan Cakim …” kata Dayat sambil membantu abah membereskan posisi rantang agar si Abah bisa melihat gamblang menu apa yang Ambu Ukat bikin buat Abah Oman hari ini.

“Gambar kampanye pemilu maksudnya?” abah menegaskan kalimat Dayat sebelumnya.

“Iya bah … presiden” Dayat coba menambahkan.

“Kenapa dengan gambar itu Yat?” tanya Abah Oman sembari tangannya sibuk mengaduk nasi sesuapan dengan sambel terasi dan ikan asin yang beberapa saat kemudian itu akan menjadi suapan pertama yang akan masuk kemulut Abah Oman.

“Ah enggak bah … Dayat cuma mikir, kita kok gak dikasih tugas ya sama calon-calon presiden itu untuk ikut nempel-nempel gambar seperti yang dilakuin juragan Cakim?” Dayat coba menjelaskan sambil menyiapkan air minum untuk si Abah.

Abah Oman tidak langsung menjawab, dia sedang sibuk dengan kunyahan dimulutnya, otak dan hatinya sesaat sedang menikmati perpaduan rasa antara sambel terasi, Ikan asin, dan nasi buatan Ambu Ukat istrinya tercinta. Kemudian beberapa saat kemudian tegukkan pertama air teh tawar melancarkan masuknya ketenggorokan perpaduan menu yang sudah halus dengan kunyahan gigi si Abah. Hingga akhirnya, jawaban dari pertanyaan Dayat tadipun muncul, tapi kurang memuaskan sepertinya bagi Dayat, karena hanya dijawab dengan mimik muka tersenyum oleh Abah Oman.

Dayat hanya diam dan memperhatikan si abah yang sibuk mencubit sedikit ikan asin, mencolek sedikit sambal terasi dan disatukan ke nasi yang sebelumnya sudah menumpuk sedikit daun kemangi diatasnya, kemudian si abah mengaduk itu semua. Dayat masih menunggu jawaban yang pasti.

“Pemilu itu bukan buat kita Dayat …” akhirnya jawaban yang ditunggu itu keluar juga, tapi tetap, Dayat belum merasa puas sampai pada akhirnya dia melamparkan pertanyaan.

“Kenapa bah? Kok gitu? Kata Bu guru itu hak kita sebagai Warga Negara Indonesia loh …” Dayat seakan mencoba memancing jawaban yang lebih masif dari mulut sang Abah ang sibuk mengunyah.

Ditengah-tengah kunyahannya tadi, abah mencoba menyingkirkan pelan-pelan rantang nasinya dan beberapa rantang yang berisi menu pendukung nasi tersebut kemudian mengambil gelas berisi air teh tawar dan meneguknya sambil menggeser duduknya agak lebih dekat dengan Dayat. Gelaspun diletakkan, dan kemudian …

“Dayat anak abah nu bageur … anu kasep … begini ya … Kita, berarti kamu, Abah, Ambu, Aa Daryo, Teteh Uci, Mang Duyeh, Mang Yeye, semua warga desa ini dan semua orang dinegeri ini yang sama dengan kita hanyalah RAKYAT …” Abah Oman manjelaskan dibarengi dengan senyuman.

“Termasuk Juragan Cakim?” sela Dayat

“Iya! Termasuk beliau …” tukas Abah

“Bu Guru?” sela Dayat lagi

“Iya … Bu Guru juga …” Abah Oman membalas

“Terus kenapa kita memposisikan diri kita sebagai RAKYAT bah?” Dayat bertanya kembali

“Karena ada NEGARA disana …” Abah menjawab sambil tersenyum dan tangan kanannya menunjuk kea rah barat dimana Kota Bandung atau Kota Jakarta berada.

“Kalo ada NEGARA … pasti ada RAKYATnya …” jelas Abah lagi.

“Kalo gak ada NEGARA??” makin penasaran Dayat bertanya

“Ya gak ada RAKYAT pastinya …” ucap Abah

“Terus adanya apa dong bah?” tanya Dayat lagi

“Umat manusia, penduduk … mungkin itulah namanya” kali ini jawaban abah kurang konsentrasi, karena dia disibukkan oleh selembar daun kaung kering dan kotak tembakau serta korek kaleng berbahan bakar minyak tanah dengan sumbu kapas (zippo lokal) miliknya. Abahpun mulai memainkan jarinya melinting tembakau. Sementara sambil menunggu si abah dengan kegiatannya, Dayat seperti menyiapkan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

“Abah … kalo kita RAKYAT, berarti kita WARGA NEGARA dong??” Dayat seperti tak sabar melontarkan pertanyaan, dan walhasil? Jawaban tidak langsung didapat, karena si Abah sedang sibuk dengan asap dan bara diujung rokok kawung yang baru disulutnya.

Hembusan asap rokok kaung pertama dari si Abah, kemudian …

“Mungkin … karena gak semua RAKYAT sadar kalau mereka itu WARGA NEGARA, tapi ada juga yang sadar tapi justru menolak menjadi WARGA NEGARA yang baik … seperti Abah ini …” sepertinya Abah Oman mulai serius kali ini.

“Jadi Abah memilih menolak menjadi WARGA NEGARA yang baik? Kenapa bah?” Dayat melampiaska penasarannya.

“Abah miskin … itu jawabannya, semua warga didesa ini miskin ditengah kekayaan alam yang belimpah … Kita tetap miskin ditengah hasil panen yang melimpah ruah … kalo kita miskin, yang jelas kita gak dapat dan gak punya apa-apa, yang ada NEGARA dalam hal ini Pemerintah hanya bisa menampung keluh kesah kita, dan ditempatkan kita didaftar tunggu di nomer urut entah nomer berapa karena selalu diselak oleh kepentingan-kepentingan orang yang lebih kaya …” Jawaban Abah kali ini agak sedikit menggebu walau sembari senyum.

“Tapi Dayat pernah baca Koran, pemerintah memberikan bantuan buat kaum miskin bah … terus ada juga malah yang mendapatkan bea siswa langsung dari pemerintah …” Dayat memahami maksud si Abah dan mencoba menjelaskan memori otak dia sehubungan dengan pernyataan si Abah yang terakhir.

“Bantuan bulanan maksud kamu ya? Hehe …” sahut Abah dengan senyuman yang berusaha agak sedikit meringankan suasana.

“Iya bah … BLT itu bah namanya, kalo gak salah Ambu sama Abah pernah dapat ya?” Dayat meneruskan.

“Hehe … begini kasep … lihat saja kita, lihat saja warga desa disekeliling kamu, ada perubahan setelah program BLT tersebut? Ada yang dalam beberapa bulan hidupnya sejahtera dari sebelumnya setelah menerima BLT?” Abah bertanya balik.

“Enggak bah …” sahut Dayat.

“Kalo kaya gini. berhasilkah BLT bagi rakyat? Jelas-jelas tidak, yang ada sebagian dari kita akan menjadi ‘manja’ dan tergantung dari BLT tersebut … ini jelas-jelas tidak mendidik … lagian duit segitu mah sekarang warga desa Cikahuripan ini bisa dapetin tiap seminggu sekali bukan lagi sebulan sekali … itu lantaran kita gak terlalu tergantung sama yang namanya …” 

“Juragan Cakim!” Dayat menyela si Abah seakan tahu benar arah kalimat si Abah 

“Bukan … tapi Pemerintah! Tepatnya hehe …” Abah meneruskan dan meluruskan tujuan kalimatnya yang disela Dayat tadi.

“Maksud Abah setelah berdirinya Koperasi WTC bah??” Dayat mencoba menebak lagi.

Abah tersenyum kemudian mengusap-ngusap agak kasar rambut jagoan bontotnya sambil berkata …

“Iya … mungkin … sejak berdirinya Koperasi Warga Talaga Cikahuripan atau disingkat koperasi WTC, setidaknya kita agak sedikit bisa bernafas dan melangkah walaupun dalam kemiskinan …” 

“Abah … tadi kenapa abah bilang kalo pemilu bukan buat kita? Jujur, Dayat belom puas sama jawaban Abah tadi” kali ini Dayat bertanya sambil membereskan rantang bekas abah makan walau hanya dua suapan.

“Jawabannya tadi … karena kita Rakyat dan Miskin pula … Pemilu disini itu untuk memilih struktur yang menjalankan NEGARA, yaitu Parlemen (DPR/MPR) dan Pemerintahan (Kepala Negara, Kepala Daerah). Ketika kampanye, mereka selalu mengatas namakan suara Rakyat, tapi rakyat yang mana?? Rakyat yang di Kota? Rakyat yang punya bisnis dengan mereka? Rakyat yang masih kerabat mereka? Atau Rakyat yang punya pasukan?Atau Rakyat yang bersedia dikebiri kebebasannya demi kebijakan gak masuk akal yang mereka buat? …” kata Abah yang sekarang malah sembari sibuk ngerokin tanah dari cangkulnya.

“Terus kita gak termasuk kedalam rakyat yang Abah sebutkan tadi ya bah?” rantang terakhr ditumpuk dan pertanyaan berikutnya dari Dayatpun terlontar.

“Iya … kita hanyalah RAKYAT JELATA, Rakyat yang gak diperhitungkan oleh mereka, Rakyat yang selalu dibela mereka atas nama praktek POLITIK NYARI SIMPATI, atau POLITIK CUCI TANGAN dan kemudian akan disingkirkan atau dikorbankan ketika ada kepentingan lain yang lebih berpengaruh …” Jawaban Abah masih sambil disibukkan dengan cangkulnya.

“NEGARA atau Pemerintahan itu ternyata JAHAT ya bah …” kali ini Dayat mulai terpaku dengan apa yang diucapkan si Abah.

“Hehe … Abah gak bilang itu ya … kamu ang bilang … Abah cuma jelasin apa yang udah terjadi sama diri Abah selama hidup 66 tahun ini , cuma jelasin apa yang terjadi sama temen-temen Abah baik yang disini atau di kota, baik yang jadi petani dikampung atau pedagang kaki lima di kota … itu aja sih … itu yang Abah rasain dan pikirin selama ini tentang NEGARA, sebuah lembaga yang terlahir dari rahim ke-ABSOLUT-an, hasil kawin silang dari KERAKUSAN DAN KEMUNAFIKAN … bahkan keputusan AGAMA-pun pada akhirnya disahkan oleh NEGARA melalui lembaga-lemabaganya … ah udahlah yat … Abah mau nemuin Mang Duyeh dulu di lumbung, kamu pulang … istirahat … bilag Ambu, abah pulang agak sore, soalnya mau ke Koperasi sekalian …” sepertinya cangkul abah sudah bersih setelah terlontar kalimat diatas.

Kemudian Dayat berdiri dan menyelipkan suling di celananya, sambli mengangkat rantang dan siap berjalan bersamaan denga si Abah. Karea arah rumah Abah Oman melewati Koperasi dimana Lumbug warga desa letakya disitu juga. Tapi baru satu lagkah Dayat kembali melemparkan pertanyaan …

“Abah … menurut Abah seperti apa sih sosok pemimpin yang baik?” Tanya Dayat

“Sosok pemimpin yang baik adalah Orang Tua kita … karena Orang tua itu selalu tanpa pamrih … orang tua itu selalu berfikir yang terbaik buat rakyatnya dalam hal ini anaknya … orang tua itu rela lapar demi rakyatnya … dan bukan orang tua namanya andai dia hanya membuat anaknya segsara lahir bhatin, walaupun sedarah” sahut Abah yang berjalan dibelakang Dayat sambil memperhatikan langkah anaknya dipematang sawah yang memang hanya setapak langkah lebarnya. 

Mereka melanjutkan pembicaraan sambil berjalan menuju tepi pesawahan, tapi apa yang mereka bicarakan makin lama makin tak terdengar dan hilang bersamaan sosok mereka yang sudah tak nampak lagi. Kini yang tertinggal hanya suara dedaunan dan batang pepohonan yang bergesekan pelan tertiup angin, dan suara burung-burung sawah yang terdengar dari kejauhan.

Penulis: Dimas Djoenaedi Jr.

KEKECEWAAN RAKYAT NEGERI SAMBA DALAM GAMBAR


Gambar gambar dibawah ini adalah sekedar refleksi kami terhadap apa yang terjadi dibalik meriahnya penelenggaraan Piala Dunia 2014 Brazil. Ya, kami mengumpulkan gambar-gambar yang kami cari sumbernya dari google. Dan masalah pertentangan antara Rakyat dengan Pemerintahan dan FIFA bukan hanya terjadi di Piala Dunia Brazil ini, sebelum-sebelumnya pun kesenjangan dan ketidak adilan terjadi.

Inilah wajah modern dunia sepakbola, dimana sebuah olahraga permainan mulai bergeser menjadi ajang meraup keuntungan bagi para pemodal. Sepakbola bukan lagi sekedar olahraga, sepakbola adalah SHOWBIZ, bisnis entertaiment yang di akomodir oleh korporat melalui kaki tangannya, satu diantaranya yang paling berpengaruh adalah FIFA.

Semoga hal hal seperti ini tidak terjadi di negeri ini ... ya mudah-mudahan ... eh! enggak ding ... gak bakal terjadi kok ... karena kalopun iya negeri ini dicalonin jadi penelenggara, palingan belom sempet sampe ke piala dunia duitnya paling abis dibagi-bagi ke rekening pribadi kroco-kroco panitianya hehehe ...















KONSPIRASI KEMAKMURAN UNTUK MENGKUDETA DOMINASI KAPITALIS GLOBAL




Salju tengah turun dengan deras ketika seorang pria paruh baya tampak berdiri di sudut sebuah perpustakaan di kotanya. Pria paruh baya itu berambut ikal, dengan janggut dan brewok yang memenuhi sekujur dagunya.

Diantara rak-rak buku dgn koleksi ribuan buku, ia tampak menatap tajam cover bukunya yang baru saja ia rilis. Sambil mengelus-elus brewoknya yang tebal, ia menatap cover buku itu dengan bahagia.

Ia layak bangga, sebab karyanya itu kelak dikenang sejarah sebagai salah satu “konspirasi kemakmuran yang paling gemilang dalam melakukan kudeta terhadap dominasi kapitalisme global”. Ia berharap, karyanya itu mampu menghindarkan dunia dari statusiasi ekonomi yang labil.

Cover buku itu bersahaja. Hanya tertulis judulnya : Das Kapital. Dibawahnya tertulis : disusun oleh Karl Marx. Berlin tahun 1869.

Karl Marx, pria brewokan itu mungkin memang layak bersuka cita dengan bukunya itu. Sebab sejarah kelak mencatat : buku itulah yang paling gigih melawan eksploitasi kelas buruh oleh kelas pengusaha kapitalistik.

Maka simaklah kalimat-kalimat berikut yang tertuang dalam karyanya itu. Kaum pekerja selamanya hanya akan jadi sekrup dalam mesin kapitalisme yang terus menggilas, demikian ia pernah menulis.

Kelas pekerja/buruh akan terus jadi alat produksi (tidak beda dengan mesin) yang akan dieksploitasi oleh kaum pebisnis borjouis. Kaum pekerja hanya akan bermakna dalam nomer (nomer induk pegawai acap lebih penting dari nama orang).

Dalam deretan angka nomer induk pegawai itu, kaum buruh manusia lalu terpelanting dalam proses “dehumanisasi” dan “depersonalisasi”. Kaum buruh/pekerja itu diam-diam berubah menjadi “benda mati”, dan disedot “nilai produktivitasnya” demi kemakmuran para juragan bisnis.

Dengan kata lain, setiap tetes keringat kaum buruh/karyawan akan diperas demi akumulasi profit kaum bisnis kapitalis.

Dalam kelas-kelas seminar tentang entrepreneurship, sering diajarkan taktik leverage/daya ungkit. Leverage artinya : kita menggunakan tenaga ratusan orang lain untk menciptakan profit bagi kita sebagai pemilik bisnis.

Karl Marx menulis cara seperti itu tak beda dengan perbudakan. Modern slavery. Dan kaum pekerja yg akan terus jadi budak-budaknya.

Kini, ketika kaum pebisnis kian kapitalistik (ingat praktek outsourcing yang kian marak), kalimat-kalimat Marx itu mungkin tetap bergema.

Lewat buku Das Kapital itu, ia lalu menyodorkan alternatif : socialist economy. Ia menulis sebuah bisnis akan lebih mulia jika 100% sahamnya dimiliki oleh pekerja secara bersama-sama.

Itulah saat ketika tidak ada lagi kelas juragan dan kelas buruh. Sebab semua pekerja bersama-sama memiliki bisnis.

Koperasi mungkn model bisnis yang paling mirip dengan gagasan sosialisme Marx. Dan keadilan bisnis mungkn bisa dipeluk dengan jalan itu.

Sebab, betapa indahnya kalau 100% saham Telkomsel dimiliki oleh koperasi karyawannya.

Betapa elegannya, jika 100% saham Astra International dimiliki oleh koperasi karyawannya.

Dan sungguh, keadilan bisnis akan berkibar-kibar jika 100% saham Indofood, Aqua, dan Bank BCA dimiliki oleh koperasi karyawan mereka.

Karl Marx sudah memimpikan model bisnis seperti itu sejak 140 thn silam. Diantara butiran salju di kota Berlin.

Sungguh, gagasan itulah sejatinya yang layak disebut sebagai “konspirasi kemakmuran”. Sejenis konspirasi yang bisa mengkudeta labilnya ekonomi dunia yang kapitalistik.

Sayang, model bisnis impian seperti itu acap jatuh menjadi utopia (ilusi). Gagal di-ejawantah-kan menjadi realitas. Namun model bisnis seperti itu mungkin layak terus digaungkan. Sebab keadilan bisnis yang hakiki hanya bisa terwujud via jalan tersebut.

Inilah saat munculnya “class-less society” yang pernah diimpikan oleh Karl Max. Saat tiada lagi pertentangan kelas juragan vs kelas buruh. Saat tak ada lagi pembedaan antara kaum entrepreneur yang sok heroik dengan kaum pekerja yang terus ditindas.

Salju terus turun di kota Berlin. Ditemani secangkir kopi hangat, Marx terus merenungi isi bukunya, Das Kapital. Gagasan Marx tentang keadilan bisnis mungkin masih akan terus jadi fatamorgana, terjepit dalam hegemoni kapitalisme global.

Pagi itu, dingin yg membeku kian menyergap kota Berlin. Marx tampak menikmati tegukan terakhir kopi hangatnya.

Semangat pagi, teman. Silakan diminum kopi atau teh hangatnya.

Photo credit by : JD Hancock @ flickr.com


KARNAVAL KAPITALISME GLOBAL DAN SELEBRASI KOLONIALISME MODERN




Pagi itu langit yang cerah membayangi sebuah kedai buku kecil di salah satu sudut kota.

Di kedai buku yang bersahaja itu, tampak seorang pria paruh baya tersenyum riang. Ia bahagia sebab, di pagi yang terang itu, buku yang telah ia kerjakan dengan sepenuh perjuangan akhirnya diluncurkan juga.

Tak ada kilatan lampu media. Tak ada acara book signing. Tak juga hadir selebriti penuh gaya. Hanya ada sang penulis buku sambil ditemani beberapa rekannya. Di sebuah kedai buku yg bersahaja.

Sejarah kemudian mencatat, buku yang dilucurkan dari kedai yang sederhana itu kelak dianggap sebagai salah satu buku paling dahsyat sumbangannya bagi peradaban modern.

Kedai buku itu ada di kota Glasgow, Skotlandia. Acara peluncuran buku itu berlangsung di pagi yang cerah di tahun 1776. Itu artinya 237 tahun telah berlalu.

Judul buku itu The Wealth of Nations, sebuah buku yg dari rahimnya lahir anak kandung bernama ideologi kapitalisme dan free market economy.

Pria paruh baya yang tersenyum itu adalah bapak Adam Smith, yang kelak dikenal sebagai the Father of Modern Capitalism.

Ikon-ikon kapitalisme global kini kian menyeruak : Coca Cola, Nike, McD, KFC, Google, Samsung, Apple, Toyota, Twitter, hingga Unilever.

Ikon-ikon kapitalisme global itu terasa begitu dekat dengan keseharian kita. Kita semua adalah peserta yang tenggelam penuh sukacita dalam karnaval kapitalisme global.

Diam-diam, dalam parade kapitalisme global itu, kolonialisme modern terus dirayakan : brand-brand asing terus menyerbu pasar lokal, merenggut sumber daya ekononimi domestik, dan lalu profitnya dibawa ke tempat asal dimana mereka berada. Entah di New York, Tokyo atau Amsterdam.

Lalu kepada siapa ikon-ikon kapitalisme global itu harus berhutang budi? Kepada siapa mereka mereka harus berucap terima kasih dengan tulus?

Pada siapa lagi kalau bukan kepada Pak Adam Smith, penulis buku the Wealth of Nations, buku yang jadi pilar lahirnya ide capitalism.

Sebab tanpa ideologi kapitalisme dan free market economy, tak akan pernah lahir McD, Nike, dan KFC.
Tanpa ideologi kapitalisme dan free market economy, tak akan pernah lahir Google, Apple, Android dan Toyota.

Dan tanpa ideologi kapitalisme/free market economy, kolonialisme modern tak akan pernah bisa berdansa serta menari-nari dalam selebrasi penuh kemeriahan.

Esensi ajaran capitalism/free market economy yang ditulis pak Adam Smith dalam bukunya yang legendaris itu amat bersahaja. Ia menulis : roda ekonomi dan bisnis akan berjalan hanya, dan hanya jika didasarkan pada prinsip self interest.

Tanpa prinsip self interest, roda ekonomi akan macet dan termehek-mehek. Tanpa pemujaan pada kepentingan diri sendiri (self interest principle), bangunan kapitalisme global akan kolaps.

Ajaibnya, prinsip self interest itu yang terus mendorong sejarah peradaban dan kemajuan bisnis.

Contoh : parade inovasi yang brilian oleh Apple atau Google itu sejatinya demi self interest mereka. Sebab dengan itu, kepentingan untk menumpuk profit terus terjaga.

Contoh lain : inisiatif green business oleh beberapa perusahaan itu pertama-tama bukan demi kelestarian lingkungan. Namun demi self interest mereka : agar bisnisnya tetap tumbuh karena tidak kehabisan sumber daya alam.

Inisiatif CSR (corporate social respnsibility) juga bukan tentang solidaritas sosial, namun demi self interest perusahaan itu. Agar bisnisnya “aman” dan “lestari”.

Tanpa prinsip self interest, barangkali memang tak akan pernah lahir juga inovasi-inovasi gemilang yang mewarnai perjalanan sejarah bisnis.

Prinsip self interest demi lestarinya proses akumulasi modal : inilah pilar dari kapitalisme global.

Prinsip self interest dalam jubah free market economy yang berjasa melahirkan Samsung, sabun Lifebouy, ayam goreng Kentucky, hingga sebutir pil Viagra.

Adam Smith penulis buku the Wealth of Nations yang jadi pilar ajaran kapitalisme/free market economy mungkin tak pernah menduga. Ia tak akan mengira, buku yang ia tulis 237 tahun silam itu akan menjadi landasan filosofis yang kokoh bagi tumbuhnya peradaban kapitalisme global.

Pagi beranjak siang, ketika kedai buku di Glasgow itu mulai ramai dikunjungi orang. Di sudut kedai, pak Adam Smith mengajak temannya bersulang, merayakan buku the Wealth of Nations yang baru saja ia terbitkan.

Maka, mari di pagi yang cerah ini, saya mengajak Anda semua untuk juga ikut bersulang : merayakan kemenangan parade kapitalisme global dalam kehidupan sehari-hari kita.

Mari diminum air putih, kopi atau teh hangatnya. (air mineral Aqua Danone, kopi dari Nescafe atau teh sariwangi dari Unilever. Tiga-tiganya juga adalah ikon kapitalisme global)



TENTANG COCA COLA, Bagian II


Sebenarnya banyak situs yang membahas soal Bahaya di Balik Minuman Cocacola ini, namun penulis coba berusaha mengingatkan kembali dengan sedikit mengupas tentang permasalahan ini lebih jauh.

Sebelumnya kita juga pernah membahas bagaimana tentang kecenderungan pegawai pabrik Cocacola yang suka [maaf] mengencingi wadah penampungannya yang berlokasi di Bekasi jawa barat (baca selengkapnya disini), kali ini pembahasannya akan sedikit berbeda. dimana disini lebih di tekankan tentang Efek- efek yang di timbulkan minuman tersebut..Berikut kutipannya.

Ternyata selain sebagai minuman pelepas dahaga ( slogan iklan ), ada beberapa kegunaan dari Cocacola yang mungkin tidak kita ketahui sebelumnya yang justru akan membuat kita tercengang dan mungkin bikin kita miris..ini dia yang berhasil penulis kumpulkan :
  • Untuk membersihkan keramik : Tuangkan sekaleng Coca-Cola ke dalam toilet. Tunggu sejam, kemudian siram sampai bersih. Asam sitric dalam Coca-Cola menghilangkan noda - noda dari keramik .
  • Untuk membersihkan karburator mobil : Campur sekaleng Coca-Cola ke dalam karburator. Panaskan mesin 15-30 menit. Dinginkan mesin, setelah itu buang air karburator. Anda akan melihat karat yang rontok bersama air tersebut.
  • Untuk menghilangkan titik karat dari bumper, chrom, mobil : Gosok bumper dengan gumpalan alumunium foil yang direndam dalam Coca-Cola.
  • Untuk membersihkan korosi dari terminal aki mobil : Tuangkan sekaleng Coca-Cola di atas terminal aki untuk membersihkan korosi.
  • Untuk melonggarkan baut yang berkarat : Gosokkan kain yang direndam dalam Coca-Cola pada baut yang berkarat .
  • Untuk menghilangkan noda-noda lemak pada pakaian : Tuangkan sekaleng Coca-Cola ke dalam tumpukan cucian yang bernoda lemak, tambahkan detergent, dan putar dengan putaran normal. Coca-cola/Pepsi akan menolong menghilangkan noda lemak. 
  • Juga berguna untuk menghilangkan kabut pada kaca mobil.

Untuk kita renungkan:

Untuk Perhatian Kita PH rata-rata dari softdrink, a.l. Coca-Cola & pepsi adalah 3.4. Tingkat keasaman ini cukup kuat untuk melarutkan gigi dan tulang! Tubuh kita berhenti menumbuhkan tulang pada usia sekitar 30th. Setelah itu tulang akan larut setiap tahun melalui urine tergantung dari tingkat keasaman makanan yang masuk.



Semua Calcium yang larut berkumpul di dalam arteri, urat nadi, kulit, urat daging dan organ, yang mempengaruhi fungsi ginjal dalam membantu pembentukan batu ginjal. Soft drinks tidak punya nilai gizi (dalam hal vitamin dan mineral). Mereka punya kandungan gula lebih tinggi, lebih asam, dan banyak zat aditif seperti pengawet dan pewarna.

Sementara orang suka meminum soft drink dingin setelah makan, coba tebak apa akibatnya? Akibatnya?Tubuh kita mempunyai suhu optimum 37 derajat supaya enzim pencernaan berfungsi. Suhu dari soft drink dingin jauh di bawah 37 derajat, terkadang mendekati 0. Hal ini mengurangi keefektivan dari enzim dan memberi tekanan pada sistem pencernaan kita, mencerna lebih sedikit makanan. Bahkan makanan tersebut difermentasi.

Makanan yang difermentasi menghasilkan bau, gas, sisa busuk dan racun, yang diserap oleh usus, di edarkan oleh darah ke seluruh tubuh. Penyebaran racun ini mengakibatkan pembentukan macam-macam penyakit. 

Kasus-kasus yang pernah terjadi:

Beberapa tahun yang lalu lalu, ada sebuah kompetisi di Universitas Delhi? Siapa dapat minum Coca-Cola paling banyak?? Pemenangnya meminum 8 botol dan mati seketika karena kelebihan Karbondioksida dalam darah dan kekurangan oksigen.Setelah itu, Rektor melarang semua soft drink di semua kantin universitas.

Seseorang menaruh gigi patah di dalam botol pepsi, dan dalam 10 hari gigi tersebut melarut! Gigi dan tulang adalah satu-satunya organ manusia tetap utuh selama tahunan setelah manusia mati. Bayangkan Apa yang minuman tersebut pasti lakukan pada usus dan lapisan perut kita yang halus.

Dan yang paling extream adalah penelitian yang di lakukan oleh sekelompok anak muda yang melakukan uji coba pada tahun 2006 di sebuah episode di MythBusters (salah 1 program populer dari Discovery Channel) menemukan bahwa kafein, potassium benzoate, aspartame, dan CO2 yg terkandung dalam coca cola diet dan gelatin serta bahan arabic dari mentos menyebabkan efek “jet” atau ledakan bila dicampur.

Sebagai tambahan , MythBusters menyimpulkan bahwa struktur fisikal dari mentos adalah yang paling berpengaruh dari ledakan itu. Ketika mentos rasa buah itu di tes perlahan lahan dengan air berkarbonasi , tidak ada reaksi yang terjadi. Tapi ketika mentos standar (rasa mint) ditambahkan ke air berkarbonasi , maka menimbulkan letupan kecil.


Mereka menambahkan dan mengkonfirmasi teori letupan tersebut. Menurut MythBusters, permukaan dari mentos rasa mint dialasi dengan banyak lubang kecil yang membuat gelembung CO2 terbentuk dengan sangat cepat dengan jumlah yang banyak , yang menyebabkan letupan “jet” itu terjadi.



Teori ini juga didukung ketika garam padat digunakan sebagai subtitusi (pengganti) dari mentos serta sedikit dari alkohol atau minuman keras dari berbagai jenis juga bisa menyebabkan ledakan tersebut terjadi.

Karena itu mari kita sebar luaskan tentang kehebatan dan kekuatan tersembunyi dari minuman Coca cola yang di tutup-tutupi oleh pihak produsen nya, karena tidak adil rasanya kalau masyarakat sampai tidak mengetahui tentang kehebatan dan kekuatan tersembunyi dari minuman Coca cola. untuk melihat kasus- kasus menarik lainnya yang di sebabkan Cocacola silahkan anda lihat situs yang khusus membahas soal ini di : http://www.killercoke.org/


TENTANG COCA COLA, Bagian I




Siapa yang tidak mengenal Coca cola, hampir dipenjuru dunia tak terkecuali daerah terpencil pun terdapat minuman ini. Sebuah perusahaan pelopor minuman cola yang paling terkenal didunia.

Namun selama ini kita tidak pernah tahu bagaimana proses pembuatan produk minuman cola tersebut, dibawah berikut adalah penuturan salah satu kenalan penulis yang bekerja di perusahaan tersebut yang berada di Bekasi. Silahkan disimak.

PROLOGUE :

Ini di peroleh dari informasi seorang kenalan yang mensupplai Filter disana dan teman yang kerja jadi buruh di pabrik Coca Cola Bekasi. Engga ada maksud apa-apa, cuma mau konfirmasi untuk cari kebenaran. Kalau ini benar, silakan bapak bapak dan ibu ibu waspada meminumnya.

Pabrik Coca Cola / Fanta/ Sprite di Bekasi itu sterilisasi dan sanitasinya ternyata tidak terjamin. Wadah penampungan "deposit glucose" nya tidak pernah dibersihkan secara details, dan serangga seperti kecoa,cicak, rambut, ketombe dan sebangsanya tidak jarang tercebur kedalam cairan gulanya. Pengawasan dari supervisor juga kurang dilakukan seksama karena kurangnya orang yang bisa men "supervisi" masalah ini. 

Diantara sesama buruh pabriknya sendiri ada suatu rahasia tahu sama tahu diantara mereka (sekarang sudahbukan rahasia lagi) kalau ada satu/dua buruh iseng yang pernah beberapa kali -(maaf)- mengencingi wadah penampung formula minuman Coca Cola yang sedang diproses pembuatannya karena "marah" dengan management Coca Cola. Kalau kita pikirkan cara pelampiasan "amarah" mereka tidak beralasan yaitu, mengencinggi tempat penampungan BIKARBONAT dan Deposit Glucose Tank. Dan sejauh ini pihak dan management Coca Cola tidak bisa melakukan tindakan apa apa karena ini dilakukan oleh "mahkluk hidup" yang ternyata susah di control emosinya, jika mereka di tegur... buruh lapangan yang berpenghasilan cuman Rp. 150 rb per bulan ini akan marah besar dan sering kali sampai terjadi perkelahian.

Penulis sendiri pernah di beri tau oleh teman dekat saya yang dari Amerika yang bekerja disana untuk tidak mengkonsumsi minuman ini, dan ia sangat menghimbau saya agar dapat memberikan masukan ini juga kepada keluarga saya. "Don't worry, we are strong enough in market already, we have the market ow, impossible we will down because of this" jelas dia. Aku hanya senyum saja karena membayangkan sudah berapa botol diet Coke yang aku konsumsi yang ternyata itu adalah campuran air kencingnya "marno".... 

Dalam kasus perbuatan iseng buruh ini, memang hanya jenis minuman Coca Cola yang jadi sasaran. Sebab jenis minuman ini berwarna hitam pekat dan beraroma bikarbonat yang keras, sehingga hasil perbuatan amoral itu tidak bisa dideteksi mata dan hidung.

Sejauh yang diketahui, perbuatan itu tidak dilakukan pada jenis minuman Sprite dan Fanta. Tapi bukan berarti pula kedua jenis mereka berasal dari satu pabrik yang sama. Para buruh yang bekerja dipabriknya pun mengaku mereka sendiri tidak pernah mengkonsumsi minuman-minuman tersebut sehari-harinya (karena sudah tahu apa saja yang sebetulnya tercampur dalam proses pembuatannya).

Anda masih mau meminumnya ? (sumber)


BRAZIL: PERJUANGAN KELAS PEKERJA MENGALAHKAN PERHELATAN BESAR OLAHRAGA




Selama berdekade kritikus sosial telah mengeluhkan pengaruh tontotan olah raga dan hiburan dalam “mengalihkan” buruh dari perjuangan untuk kepentingan klasnya. Menurut analisa tersebut, “kesadaran kelas” digantikan oleh kesadaran “massa”. Mereka berpendapat bahwa individu yang teratomisasi, dimanipulasi oleh media massa, dirubah menjadi konsumen pasif yang mengidentifikasikan dirinya dengan pahlawan olah raga, tokoh utama opera sabun dan selebriti film miliarder.

Kulminasi dari “mistifikasi” ini – pengalihan massa – adalah “kejuaraan dunia” yang ditonton oleh miliaran orang diseluruh dunia dan disponsori serta didanai oleh perusahaan miliarder : World Series (Baseball), Piala Dunia (sepak bola), dan Super Bowl (American football). Hari ini, Brazil adalah sanggahan nyata dari garis analisa kebudayaan-politik tersebut. Rakyat Brazil digambarkan sebagai “penggila bola”. Timnya adalah yang paling banyak memenangkan Piala Dunia. Pemainnya didambakan oleh pemilik tim-tim sepak bola paling penting di Eropa. Penggemarnya dikatakan “hidup atau mati bersama sepak bola”… Atau begitu kata mereka.

Namun adalah di Brazil dimana terjadi protes terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Sejak satu tahun sebelum Piala Dunia, dijadwalkan Juni 2014, telah ada demonstrasi massa hingga satu juta rakyat Brazil. Dalam beberapa minggu terakhir ini, pemogokan oleh guru, polisi, buruh konstruksi dan pegawai kota telah berkembang. Mitos pertunjukan media massa yang memukau massa telah dibantah – setidaknya di Brazil hari ini. Untuk memahami kenapa pertunjukan massal telah menjadi kegagalan propaganda adalah penting untuk memahami konteks politik dan ekonomi dimana propaganda itu dilancarkan, serta biaya dan keuntungan dan perencanaan taktik dari gerakan popular.

Konteks Politik dan Ekonomi : Piala Dunia dan Olimpiade.

Pada tahun 2002, kandidat Partai Buruh Brazil, Lula da Silva memenangkan pemilihan presiden. Dua periode kepresidenan dia (2003-2010) dicirikan dengan menganut dengan teguh kapitalisme pasar bebas bersama dengan program kemiskinan populis. Dibantu oleh aliran masuk skala besar dan kapital spekulatif, yang tertarik dengan suku bunga yang tinggi, serta harga komoditi tinggi untuk eksport agro mineralnya, Lula melancarkan program kemiskinan masif dengan menyediakan sekitar 60 USD sebulan bagi 40 juta rakyat miskin Brazil, yang membentuk bagian dari basis elektoral Lula.

Partai Buruh mengurangi pengangguran, meningkatkan upah dan mendukung pinjaman konsumen dengan bunga rendah, menstimulasi “boom konsumen” yang menggerakan ekonomi kedepan. Bagi Lula dan penasehatnya, Brazil menjadi kekuatan global, menarik investor kelas dunia dan memasukan rakyat miskin kedalam pasar domestik. Lula dipuji sebagai “orang kiri pragmatis” oleh Wall Street dan seorang “negarawan brilian” oleh Kaum Kiri!

Sejalan dengan visi megah ini (dan sebagai tanggapan untuk semakin menumpuknya penjilat presiden dari Utara dan Selatan), Lula percaya bahwa kenaikan Brazil ke ketenaran mendunia membutuhkannya untuk menjadi ‘tuan rumah’ bagi Piala Dunia dan Olimpiade dan dia memulai kampanye agresif…Brazil kemudian dipilih. Lula memperindah dirinya dan memberikan wejangan: Brazil, sebagai tuan rumah, akan mencapai pengakuan simbolik dan penghargaan material yang layak didapatkan oleh kekuatan global.

Kebangkitan dan Kejatuhan Ilusi Besar

Naiknya Brazil didasarkan atas aliran asing dari kapital yang dikondisikan oleh suku bunga diferensial (menguntungkan). Dan ketika tingkat suku bunga tersebut berubah, kapital bergerak keluar. Ketergantungan Brazil terhadap permintaan tinggi untuk eksport agro mineralnya didasarkan atas keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dua digit di Asia. Ketika ekonomi Cina melambat, permintaan dan harga jatuh, demikian juga pendapatan eksport Brazil.

“Pragmatisme” Partai Buruh berarti menerima struktur politik, administratif dan regulasi yang diwarisi dari rejim neoliberal sebelumnya. Institusi ini telah diserap oleh pejabat-pejabat korup yang memiliki hubungan dengan kontraktor bangunan yang terkenal jahat untuk melebih-lebihkan biaya dan penundaan panjang atas kontrak Negara. Lebih dari itu, mesin elektoral “pragmatis” dari Partai Buruh dibangun dari penyuapan dan gratifikasi. Sejumlah besar dana disedot dari layanan publik ke kantung pribadi.

Besar kepala dengan retorikanya sendiri, Lula percaya kebangkitan ekonomi Brazil di tingkat dunia adalah “sudah pasti”. Dia menyatakan bahwa kompleks olah raga model firaun – miliaran uang rakyat yang digunakan untuk puluhan stadion dan infrastruktur yang berbiaya besar – akan “balik modal sendiri”.

“Efek Demonstrasi” Yang Mematikan : Kenyataan Sosial Mengalahkan Kemegahan Global

Presiden baru Brazil, Dilma Rousseff, anak didik Lula, telah mengalokasikan miliaran Real untuk mendanai proyek pembangunan masif pendahulunya: stadion, hotel, jalan raya dan bandara udara untuk mengakomodasi dan mengantisipasi banjir penggemar sepak bola luar negeri. Perbedaan antara ketersediaan mudah akan sejumlah besar dana publik untuk Piala Dunia dan kondisi abadi kekurangan uang untuk layanan publik penting yang memburuk (transportasi, sekolah, rumah sakit dan klinik) telah menjadi kejutan besar untuk rakyat Brazil dan sebuah provokasi untuk aksi massa di jalanan.

Selama berdekade, mayoritas rakyat Brazil, yang tergantung pada layanan publik untuk transportasi, pendidikan dan layanan kesehatan, (klas menengah atas mampu untuk mendapatkan layanan swasta) diberitahu bahwa “tidak ada dana”, bahwa “anggaran harus diseimbangkan”, “surplus anggaran dibutuhkan untuk memenuhi perjanjian IMF dan membayar hutang”. Bertahun-tahun dana publik telah dialihkan oleh pejabat politik korup untuk membayar kampanye elektoral, yang berakibat pada transportasi yang penuh sesak, jorok, sering macet dan penundaan komuter, dalam bus-bus yang sesak panas dan antrian panjang di stasiun.

Selama berdekade, sekolah-sekolah amburadul, guru-guru terburu-buruh berpindah dari sekolah ke sekolah yang lainnya untuk bisa hidup dengan upah minimum menyedihkan yang berakibat pada pengabaian dan pendidikan berkualitas rendah. Rumah sakit publik kotor, berbahaya dan penuh sesak; doktor dengan upah rendah sering sekali mengobati pasien-pasien secara pribadi sebagai sampingan, dan obat-obatan yang penting jarang tersedia di rumah sakit publik dan berharga mahal di apotik-apotik.

Publik marah dengan perbedaan carut marut antara kenyataan klinik rusak berjendela pecah, sekolah yang penuh sesak dengan atap bocor dan transportasi massal yang tidak bisa diandalkan bagi rata-rata rakyat Brazil dengan stadion baru yang besar, hotel-hotel mewah dan bandara udara untuk penggemar olah raga dan pengunjung dari luar negeri yang kaya raya. Publik marah dengan kebohongan resmi yang terang-terangan: pernyataan bahwa ‘tidak ada dana’ untuk para guru ketika miliaran Real dengan tiba-tiba tersedia untuk membangun hotel-hotel mewah dan kotak-kotak kursi stadion indah untuk penggemar sepak bola yang kaya raya.

Pemicu terakhir untuk protes jalanan massal adalah kenaikan biaya bis dan kereta untuk menutupi kerugian – setelah bandara udara dan jalan raya publiktelah dijual murah kepada investor swasta yang menaikan biaya dan pungutan. Para pemrotes bergerak melawan kenaikan biaya bus dan kereta api bergabung dengan puluhan ribu rakyat Brazil yang menolak prioritas Pemerintah : Miliaran untuk Piala Dunia dan recehan untuk layanan kesehatan, pendidikan, perumahan dan transportasi publik!

Tidak menyadari tuntutan popular, pemerintah terus maju untuk menyelesaikan “proyek prestisius”-nya. Meskipun begitu, pembangunan stadion-stadion terlambat dari jadwal karena korupsi, inkompetensi dan mismanajemen. Kontraktor gedung, yang ditekan, menurunkan standart keamanan dan mendorong buruh bekerja lebih keras, mengakibatkan meningkatnya kecelakaan dan kematian ditempat kerja. Buruh konstruksi keluar dari tempat kerja mereka memprotes percepatan dan memburuknya keselamatan kerja.

Skema megah rejim Rousseff telah memprovokasi rangkaian protes baru. Gerakan Rakyat Tuna Wisma menduduki tanah-tanah kapling di kota dekat stadion Piala Dunia yang baru menuntut ‘perumahan sosial’ untuk rakyat ketimbang hotel-hotel bintang lima yang baru untuk pecinta olah raga asing yang makmur. Biaya yang membengkak untuk komplek olah raga dan meningkatnya pengeluaran pemerintah telah memicu pemogokan serikat buruh untuk menuntut upah yang lebih tinggi melampaui target rejim. Guru dan perawat telah bergabung dengan buruh pabrik dan pegawai upahan mogok di sektor-sektor strategis, seperti layanan transportasi dan keamanan, yang dapat secara serius mengganggu Piala Dunia.

Dukungan PT (Partai Buruh Brazil) pada pertunjukan olah raga megah, bukannya menegaskan “debut sebagai kekuatan global” dari Brazil, telah menyoroti perbedaan besar antara sepuluh persen yang kaya dan aman di kondominium mewah mereka di Brazil, Miami dan Manhattan, dengan akses untuk klinik swasta berkualitas tinggi dan sekolah luar negeri dan swasta eksklusif untuk anak-anak mereka, dengan massa rata-rata rakyat Brazil, tergencet berjam-jam berkeringat didalam bus-bus yang penuh sesak, didalam ruang gawat darurat yang suram hanya menunggu aspirin dari doktor yang tidak ada dan dalam membuang-buang masa depan anak-anak mereka didalam ruang kelas bobrok tanpa guru yang memadai dan full time.

Kesimpulan

Elit politik, terutama sekali rombongan disekitar Kepresidenan Lula-Rousseff telah korban dari khayalan mereka sendiri tentang dukungan popular. Mereka percaya bahwa sogokan kebutuhan hidup (keranjang makanan) kepada mereka yang sangat miskin akan membuat para elit tersebut dapat membelanjakan miliaran uang rakyat untuk pertunjukan olah raga untuk menghibur dan membuat kagum elit global. Mereka percaya bahwa massa buruh akan begitu terpesona oleh prestise sebagai tuan rumah Piala Dunia di Brazil, sehingga mereka akan mengabaikan kesenjangan antara pengeluaran pemerintah untuk pertunjukan megah elit dan ketiadaan dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari buruh Brazil.

Bahkan serikat buruh, yang terlihat terikat dengan Lula, yang membanggakan masa lalunya sebagai pemimpin buruh metal, memecah ikatan tersebut ketika mereka menyadari bahwa “uangnya ada disana” – dan bahwa rejim, ditekan oleh deadline pembangunan, dapat ditekan agar menaikan upah untuk menyelesaikan pekerjaan.

Jangan salah, rakyat Brazil menyukai olahraga. Mereka rajin mengikuti dan mendukung tim nasional mereka. Namun mereka juga sadar atas kebutuhan mereka. Mereka tidaklah puas secara pasif menerima kesenjangan sosial besar yang terungkap oleh perebutan gila saat ini untuk menyelenggarakan Piala Dunia dan Olimpiade di Brazil. Pengeluaran pemerintah yang besar untuk Pertandingan tersebut telah membuat jelas bahwa Brazil adalah negeri yang kaya dengan banyak kesenjangan sosial. Mereka telah belajar bahwa sejumlah besar dana tersedia untuk memperbaiki layanan dasar dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka sadar bahwa, meskipun retorikanya, “Partai Buruh” memainkan permainan prestis boros untuk mengesankan penonton kapitalis internasional. Mereka sadar bahwa mereka memiliki pengaruh strategis untuk menekan pemerintah dan memprotes beberapa ketidakadilan dalam perumahan serta upah melalui aksi massa. Dan mereka telah memukul. Mereka menyadari bahwa mereka pantas untuk menikmati Piala Dunia didalam perumahan publik yang layak dan terjangkau serta berangkat kerja (atau ke pertandingan tertentu) dengan bus-bus serta kereta yang pantas. Kesadaran klas, dalam kasus Brazil, telah mengalahkan pertunjukan massal. “Roti dan sirkus” telah menghasilkan protes massa.

(Tulisan aseli dalam bahasa Inggris oleh James Petras dan diterjemahkan oleh Ignatius Mahendra Kusumawardana dari The James Petras Website).


 
Bagikan