artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

KARNAVAL KAPITALISME GLOBAL DAN SELEBRASI KOLONIALISME MODERN


By on 25.6.14



Pagi itu langit yang cerah membayangi sebuah kedai buku kecil di salah satu sudut kota.

Di kedai buku yang bersahaja itu, tampak seorang pria paruh baya tersenyum riang. Ia bahagia sebab, di pagi yang terang itu, buku yang telah ia kerjakan dengan sepenuh perjuangan akhirnya diluncurkan juga.

Tak ada kilatan lampu media. Tak ada acara book signing. Tak juga hadir selebriti penuh gaya. Hanya ada sang penulis buku sambil ditemani beberapa rekannya. Di sebuah kedai buku yg bersahaja.

Sejarah kemudian mencatat, buku yang dilucurkan dari kedai yang sederhana itu kelak dianggap sebagai salah satu buku paling dahsyat sumbangannya bagi peradaban modern.

Kedai buku itu ada di kota Glasgow, Skotlandia. Acara peluncuran buku itu berlangsung di pagi yang cerah di tahun 1776. Itu artinya 237 tahun telah berlalu.

Judul buku itu The Wealth of Nations, sebuah buku yg dari rahimnya lahir anak kandung bernama ideologi kapitalisme dan free market economy.

Pria paruh baya yang tersenyum itu adalah bapak Adam Smith, yang kelak dikenal sebagai the Father of Modern Capitalism.

Ikon-ikon kapitalisme global kini kian menyeruak : Coca Cola, Nike, McD, KFC, Google, Samsung, Apple, Toyota, Twitter, hingga Unilever.

Ikon-ikon kapitalisme global itu terasa begitu dekat dengan keseharian kita. Kita semua adalah peserta yang tenggelam penuh sukacita dalam karnaval kapitalisme global.

Diam-diam, dalam parade kapitalisme global itu, kolonialisme modern terus dirayakan : brand-brand asing terus menyerbu pasar lokal, merenggut sumber daya ekononimi domestik, dan lalu profitnya dibawa ke tempat asal dimana mereka berada. Entah di New York, Tokyo atau Amsterdam.

Lalu kepada siapa ikon-ikon kapitalisme global itu harus berhutang budi? Kepada siapa mereka mereka harus berucap terima kasih dengan tulus?

Pada siapa lagi kalau bukan kepada Pak Adam Smith, penulis buku the Wealth of Nations, buku yang jadi pilar lahirnya ide capitalism.

Sebab tanpa ideologi kapitalisme dan free market economy, tak akan pernah lahir McD, Nike, dan KFC.
Tanpa ideologi kapitalisme dan free market economy, tak akan pernah lahir Google, Apple, Android dan Toyota.

Dan tanpa ideologi kapitalisme/free market economy, kolonialisme modern tak akan pernah bisa berdansa serta menari-nari dalam selebrasi penuh kemeriahan.

Esensi ajaran capitalism/free market economy yang ditulis pak Adam Smith dalam bukunya yang legendaris itu amat bersahaja. Ia menulis : roda ekonomi dan bisnis akan berjalan hanya, dan hanya jika didasarkan pada prinsip self interest.

Tanpa prinsip self interest, roda ekonomi akan macet dan termehek-mehek. Tanpa pemujaan pada kepentingan diri sendiri (self interest principle), bangunan kapitalisme global akan kolaps.

Ajaibnya, prinsip self interest itu yang terus mendorong sejarah peradaban dan kemajuan bisnis.

Contoh : parade inovasi yang brilian oleh Apple atau Google itu sejatinya demi self interest mereka. Sebab dengan itu, kepentingan untk menumpuk profit terus terjaga.

Contoh lain : inisiatif green business oleh beberapa perusahaan itu pertama-tama bukan demi kelestarian lingkungan. Namun demi self interest mereka : agar bisnisnya tetap tumbuh karena tidak kehabisan sumber daya alam.

Inisiatif CSR (corporate social respnsibility) juga bukan tentang solidaritas sosial, namun demi self interest perusahaan itu. Agar bisnisnya “aman” dan “lestari”.

Tanpa prinsip self interest, barangkali memang tak akan pernah lahir juga inovasi-inovasi gemilang yang mewarnai perjalanan sejarah bisnis.

Prinsip self interest demi lestarinya proses akumulasi modal : inilah pilar dari kapitalisme global.

Prinsip self interest dalam jubah free market economy yang berjasa melahirkan Samsung, sabun Lifebouy, ayam goreng Kentucky, hingga sebutir pil Viagra.

Adam Smith penulis buku the Wealth of Nations yang jadi pilar ajaran kapitalisme/free market economy mungkin tak pernah menduga. Ia tak akan mengira, buku yang ia tulis 237 tahun silam itu akan menjadi landasan filosofis yang kokoh bagi tumbuhnya peradaban kapitalisme global.

Pagi beranjak siang, ketika kedai buku di Glasgow itu mulai ramai dikunjungi orang. Di sudut kedai, pak Adam Smith mengajak temannya bersulang, merayakan buku the Wealth of Nations yang baru saja ia terbitkan.

Maka, mari di pagi yang cerah ini, saya mengajak Anda semua untuk juga ikut bersulang : merayakan kemenangan parade kapitalisme global dalam kehidupan sehari-hari kita.

Mari diminum air putih, kopi atau teh hangatnya. (air mineral Aqua Danone, kopi dari Nescafe atau teh sariwangi dari Unilever. Tiga-tiganya juga adalah ikon kapitalisme global)



KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan