artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MEREKA BUKAN UNTUK KITA, DAYAT


By on 29.6.14



Lantunan suling bambu yang sayup sayup terdengar dari tepi pesawahan di desa Cikahuripan disiang yang memang agak kurang cerah saat itu. Terlihat disana seorang anak usia kisaran 10 tahun berbadan kecil memakai baju yang lebih besar dari ukuran badannya dan celana merah yang merupakan seragam sekolahnya. Dayat, nama anak itu, sedang asik melantunkan tembang-tembang Sunda dengan suling bambunya. Dayat seperti menikmati suasana siang yang memang kurang begitu terik saat itu, jari jemari dan olahan nafas yang dihembuskan dari mulutnya terus bermain memainkan harmonisasi dari laras pelog walau kadang beberapa nada harus diulang karena kesalahan yang tidak disengaja. 

Dayat ternyata tidak sendiri, dia bersama ayahnya yang disaat bersamaan sedang bercengkrama dengan kesibukannya membelah sedikit dan menutup lagi pematang-pematang sawah guna membagi air agar merata. Abah Oman, orang yang selalu Dayat temui di siang hari semenjak kakaknya Daryo berangkat ke kota diajak oleh pamannya, Mang Yeye untuk masuk ke pelatihan Militer, karena sebelumnya Daryo mendaftarkan diri masuk kemiliteran dengan alasan ingin mengangkat harkat derajat orang tua walaupun hanya sebagai prajurit. Sudah 6 bulan Dayat menggantikan posisi Daryo mengantar makan siang untuk Abah Oman, ayah tercinta yang sepertinya setiap hari disibukkan oleh banyak hal disawah desa Cikahuripan ini. Maklum, Abah Oman diberikan tanggung jawab sebagai pemimpin untuk mengelola ‘sawah bersama’ milik warga Desa Cikahuripan tersebut. Sawah bersama adalah konsep sawah kolektif yang dikerjakan bersama-sama oleh warga desa Cikahuripan dan hasilnya dibagi rata setiap panen kepada warga desa yang ikut mengelola sawah bersama. Ini adalah kesepakatan warga desa Cikahuripan sebagai tindak lanjut dari kelakuan rakus Juragan Cakim yang selalu menawar murah lahan pesawahan atau membeli murah hasil panen dengan segala cara. 

Kembali ke nada suling si Dayat yang kali ini memainkan lagu Bajing Luncat yang dia improve menjadi agak sedikit lambat. Namun belum sempat masuk ke bar kedua, tiba-tiba suara suling itu lenyap, hanya tertinggal suara dedaunan dan batang pepohonan yang bergesekan pelan tertiup angin, dan suara burung-burung sawah yang terdengar dari kejauhan. Kenapa berhenti? Mari kita tengok Dayat, kenapa dia menghentikan lagu Bajing Luncat yang belum selesai itu? Ouw …. Ternyata Dayat sedang menatap kosong ke depan, sementara sulingnya tetap tergenggam diposisi seperti dia memainkannya cuma tidak ditiup dan pelan-pelan entah sadar atau tidak suling itu ada diatas kedua pahanya dengan posisi tangan yang agak berubah sedikit dari posisi genggamannya. Mata Dayat menatap kosong kedepan, entah apa yang ada dipikirannya, iya hanya menatap lurus kedepan ke alam terbuka pesawahan. Tidak ada objek dikejauhan yang memancing pandangan mata dia, tak ada sinar yang memancing perhatian tatapan matanya, tak ada hal aneh yang menarik perhatian didepan si Dayat, hanya hamparan padi dan pegunungan dikejauhan, sebuah pemandangan yang lumrah sebenarnya bagi seorang anak desa seperti Dayat ini.

Hampir dua menit dia menatap kosong kedepan sampai pada akhirnya …

“Dayat? ..” dan berakhirlah tatapan kosong si Dayat karena diinterupsi oleh suara agak berat yang tidak asing. Suara agak berat yang selalu memunculkan kalimat-kalimat yang menginspirasi hidup Dayat, suara agak berat yang sangt penuh wibawa bagi seorang anak bernama Dayat ini, suara berat yang berasal dari sosok tangguh bernama abah Oman, ayahnya tercinta.

“Engg … Eh Abah, abah dari mana? Bukannya tadi abah ada gak jauh didepan Dayat? Kok tiba-tiba ada dibelakang Dayat?” Dayat membalas sedikit terkejut. 

“Iya … abah dari tadi juga ada didepan kamu kok, abah lewat pematang tepat didepan kamu hehe …” abah menjawab sambil tersenyum sembari menyandarkan cangkul yang dia bawa ke pohon yang sedari tadi merindangi tempat dimana Dayat duduk.

“Masa? Kok Dayat gak liat sih bah?” Dayat penasaran 

“Kamu menatap, tapi gak lagi menatap apa yang ada didepan kamu, kamu lagi jauh menerawang ke alam pikiranmu … makanya kamu gakkan bisa liat apa yang nyata ada didepan kamu … kamu lagi ngelamun kalo bahasa mudahnya mah …” abah Oman coba menjelaskan dan menjawab rasa penasaran Dayat.

“Emang lagi ngelamunin apa sih kamu Dayat?” Abah bertanya sambil membuka rantang makanan yang sebelumnya bersama Dayat dibawa dari rumah.

“Gak tau bah … Dayat juga bingung mikirin apaan hhe … cuma lagi mikirin gambar dipagar sekolahan tadi pagi yang dipasang anak buah juragan Cakim …” kata Dayat sambil membantu abah membereskan posisi rantang agar si Abah bisa melihat gamblang menu apa yang Ambu Ukat bikin buat Abah Oman hari ini.

“Gambar kampanye pemilu maksudnya?” abah menegaskan kalimat Dayat sebelumnya.

“Iya bah … presiden” Dayat coba menambahkan.

“Kenapa dengan gambar itu Yat?” tanya Abah Oman sembari tangannya sibuk mengaduk nasi sesuapan dengan sambel terasi dan ikan asin yang beberapa saat kemudian itu akan menjadi suapan pertama yang akan masuk kemulut Abah Oman.

“Ah enggak bah … Dayat cuma mikir, kita kok gak dikasih tugas ya sama calon-calon presiden itu untuk ikut nempel-nempel gambar seperti yang dilakuin juragan Cakim?” Dayat coba menjelaskan sambil menyiapkan air minum untuk si Abah.

Abah Oman tidak langsung menjawab, dia sedang sibuk dengan kunyahan dimulutnya, otak dan hatinya sesaat sedang menikmati perpaduan rasa antara sambel terasi, Ikan asin, dan nasi buatan Ambu Ukat istrinya tercinta. Kemudian beberapa saat kemudian tegukkan pertama air teh tawar melancarkan masuknya ketenggorokan perpaduan menu yang sudah halus dengan kunyahan gigi si Abah. Hingga akhirnya, jawaban dari pertanyaan Dayat tadipun muncul, tapi kurang memuaskan sepertinya bagi Dayat, karena hanya dijawab dengan mimik muka tersenyum oleh Abah Oman.

Dayat hanya diam dan memperhatikan si abah yang sibuk mencubit sedikit ikan asin, mencolek sedikit sambal terasi dan disatukan ke nasi yang sebelumnya sudah menumpuk sedikit daun kemangi diatasnya, kemudian si abah mengaduk itu semua. Dayat masih menunggu jawaban yang pasti.

“Pemilu itu bukan buat kita Dayat …” akhirnya jawaban yang ditunggu itu keluar juga, tapi tetap, Dayat belum merasa puas sampai pada akhirnya dia melamparkan pertanyaan.

“Kenapa bah? Kok gitu? Kata Bu guru itu hak kita sebagai Warga Negara Indonesia loh …” Dayat seakan mencoba memancing jawaban yang lebih masif dari mulut sang Abah ang sibuk mengunyah.

Ditengah-tengah kunyahannya tadi, abah mencoba menyingkirkan pelan-pelan rantang nasinya dan beberapa rantang yang berisi menu pendukung nasi tersebut kemudian mengambil gelas berisi air teh tawar dan meneguknya sambil menggeser duduknya agak lebih dekat dengan Dayat. Gelaspun diletakkan, dan kemudian …

“Dayat anak abah nu bageur … anu kasep … begini ya … Kita, berarti kamu, Abah, Ambu, Aa Daryo, Teteh Uci, Mang Duyeh, Mang Yeye, semua warga desa ini dan semua orang dinegeri ini yang sama dengan kita hanyalah RAKYAT …” Abah Oman manjelaskan dibarengi dengan senyuman.

“Termasuk Juragan Cakim?” sela Dayat

“Iya! Termasuk beliau …” tukas Abah

“Bu Guru?” sela Dayat lagi

“Iya … Bu Guru juga …” Abah Oman membalas

“Terus kenapa kita memposisikan diri kita sebagai RAKYAT bah?” Dayat bertanya kembali

“Karena ada NEGARA disana …” Abah menjawab sambil tersenyum dan tangan kanannya menunjuk kea rah barat dimana Kota Bandung atau Kota Jakarta berada.

“Kalo ada NEGARA … pasti ada RAKYATnya …” jelas Abah lagi.

“Kalo gak ada NEGARA??” makin penasaran Dayat bertanya

“Ya gak ada RAKYAT pastinya …” ucap Abah

“Terus adanya apa dong bah?” tanya Dayat lagi

“Umat manusia, penduduk … mungkin itulah namanya” kali ini jawaban abah kurang konsentrasi, karena dia disibukkan oleh selembar daun kaung kering dan kotak tembakau serta korek kaleng berbahan bakar minyak tanah dengan sumbu kapas (zippo lokal) miliknya. Abahpun mulai memainkan jarinya melinting tembakau. Sementara sambil menunggu si abah dengan kegiatannya, Dayat seperti menyiapkan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

“Abah … kalo kita RAKYAT, berarti kita WARGA NEGARA dong??” Dayat seperti tak sabar melontarkan pertanyaan, dan walhasil? Jawaban tidak langsung didapat, karena si Abah sedang sibuk dengan asap dan bara diujung rokok kawung yang baru disulutnya.

Hembusan asap rokok kaung pertama dari si Abah, kemudian …

“Mungkin … karena gak semua RAKYAT sadar kalau mereka itu WARGA NEGARA, tapi ada juga yang sadar tapi justru menolak menjadi WARGA NEGARA yang baik … seperti Abah ini …” sepertinya Abah Oman mulai serius kali ini.

“Jadi Abah memilih menolak menjadi WARGA NEGARA yang baik? Kenapa bah?” Dayat melampiaska penasarannya.

“Abah miskin … itu jawabannya, semua warga didesa ini miskin ditengah kekayaan alam yang belimpah … Kita tetap miskin ditengah hasil panen yang melimpah ruah … kalo kita miskin, yang jelas kita gak dapat dan gak punya apa-apa, yang ada NEGARA dalam hal ini Pemerintah hanya bisa menampung keluh kesah kita, dan ditempatkan kita didaftar tunggu di nomer urut entah nomer berapa karena selalu diselak oleh kepentingan-kepentingan orang yang lebih kaya …” Jawaban Abah kali ini agak sedikit menggebu walau sembari senyum.

“Tapi Dayat pernah baca Koran, pemerintah memberikan bantuan buat kaum miskin bah … terus ada juga malah yang mendapatkan bea siswa langsung dari pemerintah …” Dayat memahami maksud si Abah dan mencoba menjelaskan memori otak dia sehubungan dengan pernyataan si Abah yang terakhir.

“Bantuan bulanan maksud kamu ya? Hehe …” sahut Abah dengan senyuman yang berusaha agak sedikit meringankan suasana.

“Iya bah … BLT itu bah namanya, kalo gak salah Ambu sama Abah pernah dapat ya?” Dayat meneruskan.

“Hehe … begini kasep … lihat saja kita, lihat saja warga desa disekeliling kamu, ada perubahan setelah program BLT tersebut? Ada yang dalam beberapa bulan hidupnya sejahtera dari sebelumnya setelah menerima BLT?” Abah bertanya balik.

“Enggak bah …” sahut Dayat.

“Kalo kaya gini. berhasilkah BLT bagi rakyat? Jelas-jelas tidak, yang ada sebagian dari kita akan menjadi ‘manja’ dan tergantung dari BLT tersebut … ini jelas-jelas tidak mendidik … lagian duit segitu mah sekarang warga desa Cikahuripan ini bisa dapetin tiap seminggu sekali bukan lagi sebulan sekali … itu lantaran kita gak terlalu tergantung sama yang namanya …” 

“Juragan Cakim!” Dayat menyela si Abah seakan tahu benar arah kalimat si Abah 

“Bukan … tapi Pemerintah! Tepatnya hehe …” Abah meneruskan dan meluruskan tujuan kalimatnya yang disela Dayat tadi.

“Maksud Abah setelah berdirinya Koperasi WTC bah??” Dayat mencoba menebak lagi.

Abah tersenyum kemudian mengusap-ngusap agak kasar rambut jagoan bontotnya sambil berkata …

“Iya … mungkin … sejak berdirinya Koperasi Warga Talaga Cikahuripan atau disingkat koperasi WTC, setidaknya kita agak sedikit bisa bernafas dan melangkah walaupun dalam kemiskinan …” 

“Abah … tadi kenapa abah bilang kalo pemilu bukan buat kita? Jujur, Dayat belom puas sama jawaban Abah tadi” kali ini Dayat bertanya sambil membereskan rantang bekas abah makan walau hanya dua suapan.

“Jawabannya tadi … karena kita Rakyat dan Miskin pula … Pemilu disini itu untuk memilih struktur yang menjalankan NEGARA, yaitu Parlemen (DPR/MPR) dan Pemerintahan (Kepala Negara, Kepala Daerah). Ketika kampanye, mereka selalu mengatas namakan suara Rakyat, tapi rakyat yang mana?? Rakyat yang di Kota? Rakyat yang punya bisnis dengan mereka? Rakyat yang masih kerabat mereka? Atau Rakyat yang punya pasukan?Atau Rakyat yang bersedia dikebiri kebebasannya demi kebijakan gak masuk akal yang mereka buat? …” kata Abah yang sekarang malah sembari sibuk ngerokin tanah dari cangkulnya.

“Terus kita gak termasuk kedalam rakyat yang Abah sebutkan tadi ya bah?” rantang terakhr ditumpuk dan pertanyaan berikutnya dari Dayatpun terlontar.

“Iya … kita hanyalah RAKYAT JELATA, Rakyat yang gak diperhitungkan oleh mereka, Rakyat yang selalu dibela mereka atas nama praktek POLITIK NYARI SIMPATI, atau POLITIK CUCI TANGAN dan kemudian akan disingkirkan atau dikorbankan ketika ada kepentingan lain yang lebih berpengaruh …” Jawaban Abah masih sambil disibukkan dengan cangkulnya.

“NEGARA atau Pemerintahan itu ternyata JAHAT ya bah …” kali ini Dayat mulai terpaku dengan apa yang diucapkan si Abah.

“Hehe … Abah gak bilang itu ya … kamu ang bilang … Abah cuma jelasin apa yang udah terjadi sama diri Abah selama hidup 66 tahun ini , cuma jelasin apa yang terjadi sama temen-temen Abah baik yang disini atau di kota, baik yang jadi petani dikampung atau pedagang kaki lima di kota … itu aja sih … itu yang Abah rasain dan pikirin selama ini tentang NEGARA, sebuah lembaga yang terlahir dari rahim ke-ABSOLUT-an, hasil kawin silang dari KERAKUSAN DAN KEMUNAFIKAN … bahkan keputusan AGAMA-pun pada akhirnya disahkan oleh NEGARA melalui lembaga-lemabaganya … ah udahlah yat … Abah mau nemuin Mang Duyeh dulu di lumbung, kamu pulang … istirahat … bilag Ambu, abah pulang agak sore, soalnya mau ke Koperasi sekalian …” sepertinya cangkul abah sudah bersih setelah terlontar kalimat diatas.

Kemudian Dayat berdiri dan menyelipkan suling di celananya, sambli mengangkat rantang dan siap berjalan bersamaan denga si Abah. Karea arah rumah Abah Oman melewati Koperasi dimana Lumbug warga desa letakya disitu juga. Tapi baru satu lagkah Dayat kembali melemparkan pertanyaan …

“Abah … menurut Abah seperti apa sih sosok pemimpin yang baik?” Tanya Dayat

“Sosok pemimpin yang baik adalah Orang Tua kita … karena Orang tua itu selalu tanpa pamrih … orang tua itu selalu berfikir yang terbaik buat rakyatnya dalam hal ini anaknya … orang tua itu rela lapar demi rakyatnya … dan bukan orang tua namanya andai dia hanya membuat anaknya segsara lahir bhatin, walaupun sedarah” sahut Abah yang berjalan dibelakang Dayat sambil memperhatikan langkah anaknya dipematang sawah yang memang hanya setapak langkah lebarnya. 

Mereka melanjutkan pembicaraan sambil berjalan menuju tepi pesawahan, tapi apa yang mereka bicarakan makin lama makin tak terdengar dan hilang bersamaan sosok mereka yang sudah tak nampak lagi. Kini yang tertinggal hanya suara dedaunan dan batang pepohonan yang bergesekan pelan tertiup angin, dan suara burung-burung sawah yang terdengar dari kejauhan.

Penulis: Dimas Djoenaedi Jr.

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan