artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MENJADI CANTIK BUKAN MENJADI BUDAK KOSMETIK


By on 2.7.14


Redaksi NoiseblastMedia

MElihat barisan foto diatas, kami memberikan judul diatas hampir mirip dengan judul postingan ini. Postingan kami kali ini berisi tulisan dengan judul: CANTIK YANG MENAKUTKAN ditulis oleh seseorang yang bernama Eko Pujianto. Dalam tulisan ini dia berusaha mengutarakan kengeriannya tentang proses yang bisa dibilang instan untuk menjadi cantik menurut standarisasi modern. Teknologi untuk menjadi cantik itu sangat canggih dan sangat beragam dan memang pada akhirnya menjadi suatu kebutuhan dan keharusan bagi mereka yang mengikuti perkembangan jaman. Keinginan untuk menjadi cantik menurut standar (secara fisik berarti langsing, putih, bibir tipis, hidung mancung, mata lentik dan rambut lurus) mengakibatkan mereka buta akan dampak yang ditimbulkannya. Ya, anda bisa lihat sendiri mereka yang gagal dengan upaya cantik dengan silikonnya ... wajah mereka bukannya cantik malah jadi mirip satu sama lain, kadang kamipun berfikir, mereka yang gagal dengan silikon diwajahnya itu seperti ras baru akibat kegagalan dari sebuah upaya untuk cantik. Disini teknologi tidaklah bisa disalahkan 100%, tapi justru 'keinginan' atau 'hasrat' atau 'hawa nafsu' dari si individu-lah semua ini pada akhirnya terjadi. Mau disalahin teknologi, ya memang mereka yang mau, mau menyalahkan diri sendiri alias menyesal juga ya tidak merubah keadaan. Penyesalan, itu seperti polisi di filem India, datangnya belakangan, dan menjadi cantik itu gak selamanya harus ditopengi oleh kosmetik dan operasi pelastik, menjadi cantik adalah bijak dalam memenej penampilan, menjadi cantik seharusnya alami, menjadi cantik itu bukan berati harus menjadi BUDAK KOSMETIK. Karena mereka yang cantik itu tidak pernah menyadari kalau dirinya cantik ... selemat membaca.

Cantik Yang Menakutkan

Perempuan cantik tentu menjadi idaman setiap laki-laki. Tak hanya laki-laki, para perempuan juga mendambakan dirinya cantik. Secantik apakah cantik itu?

Membahas cantik sejatinya membincang mindsetkolektif mengenai cantik itu sendiri. Cantik itu tidak bisa dipukul rata. Ada beberapa pandangan. Ya, memang ada pandangan yang mendominasi. Misalnya, cantik itu putih dan langsing. Pandangan lain tentu tak boleh dikesampingkan.

Masih terngiang dalam ingatan dalam sebuah kontes kecantikan dunia, seorang kontestan dipilih menjadi pemenangnya meski secara fisik tak begitu “cantik” dibanding kontestan lainnya. Ia dipilih oleh juri karena dapat menampilkan pribadinya yang mempesona, otak yang cemerlang dan tentunya moral yang tidak rendahan. Hal ini ia sebut sebagai inner beauty alias kecantikan yang memancar dari dalam diri. Kecantikan yang tulus. Tidak dibuat-buat oleh bedak, lipstik, dan aneka rupa treatmen bahan dan alat kecantikan.

Anda boleh setuju atau menyangkal bahwa kecantikan seperti itu hanya omong kosong. Hanya wacana. Terlalu idealis. Toh, kecantikan pertama kali dilihat tentu dari fisiknya. Mana sempat lihat isinya. Cantik, ya, untuk dilihat dan dinikmati kecantikannya. Yang dapat dilihat, ya, fisiknya. Jika benar begitu berarti Anda termasuk orang yang suka menilai sesuatu dari “cover”-nya atau “chassing”-nya.

Apakah salah? Tentu tidak. Kalau dari sononya cantik, ya, cantik. Hanya orang munafik sajalah yang “menyalahkan” pandangan seperti itu. Marilah kita rayakan perbedaan pandangan. Apalagi kalau kita dapat saling menghargai perbedaan itu.

Bagi saya, cantik itu anugerah yang patut disyukuri. Namun yang menjadi sorotan saya adalah proses menjadi cantik, terutama cantik fisik. Bagi kebanyakan orang Indonesia cantik secara fisik berarti langsing, putih, bibir tipis, hidung mancung, mata lentik dan rambut lurus. Hal ini dapat dilacak dengan mudah. Nyalakan televisi dan tonton iklan satu per satu. Buat daftar iklan yang berkaitan dengan kecantikan. Lebih banyak mana antara iklan pelangsing tubuh dengan penggemuk tubuh? Lebih banyak mana antara pemutih kulit dengan penggelap kulit? Iklan pelurus rambut atau pengkriting rambut?

Bagi orang Indonesia kebanyakan, kulit putih itu mahal harganya. Betapa tidak? Indonesia terletak di daerah tropis. Tuhan menganugerahkan kepada kita sinar matahari yang berlebihan. So, kulit gelap itu sudah biasa. Untuk menjadi putih, perlu perawatan yang tidak murah harganya.

Saya mendadak takut mendengar cerita tentang cara memutihkan wajah. Saya membayangkan seorang suami yang tidur bersebelahan dengan istrinya yang wajahnya dilumuri oleh entah bahan apa. Pemutih wajah instan juga mengancam dengan kandungan zat kimia yang berbahaya, seperti merkuri.

Memang kosmetik dapat menjadikan seseorang tampak cantik. Tapi, saya mendakak takut dan merinding ketika mendapati seseorang yang biasanya menempeli wajahnya dengan kosmetik lalu ketahuan tanpa kosmetik. Sungguh menakutkan. Seram! (Ekopollac)


KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan