artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

DEATH BLOOD EVERMORE, The Profile



BIOGRAPHY

Terbentuk pada akhir tahun 2010an,,Pencetus Awal terbentuk band inidari Guguff yang inigin membentuk band Grindcore,mengikuti idola idola dan halusinasinya, dan Tak berangsur lama Mengajak teman seperjuangan Terbentuk lah (DBE) A.k.a DEATH BLOOD EVERMORE dengan formasi Guguff (Guitar), Lutfi( Vokal) dan Bancet (Drume). namun tak bertahan hanya 6 bulan saja, dan menghasilkan beberapa lagu. setalah itu pertengahan 2011 hingga 2015 mulai banyak perubahan pergantian yang keluar atau masuk personil. Dan personil yang masih Aktif bertahan hingga sekarang adalah:

Guguff ( Guitar )
Nganga ( Drums )
Lingga ( Vocal )

CONTACT:

CP : Guguff – 08972814045 PIN:D0972A02
Email guguff0811@gmail.com

DEATH BLOOD EVERMORE, band asal wilayah timur Kabupaten Bogor ini adalah salah satu band yang berpartisipasi di kompilasi YANG PENTING BERISIK!! #5 (link)


INHUMANITY WARFARE, split Tumor Ganas / Dysphonic (sedikit review dan informasi)




DARI REDAKSI NOISEBLASTMEDIA
Well, ini adalah rilisan ketujuh dari Tumor Ganas dalam tengat waktu 15 bulan terakhir, begitu kata fanpage facebooknya ... ini juga album terlengkap Tumor Ganas setelah Reality Inverter yang dirilis 2013 lalu. begitu yang kebaca dari apdetan akun pribadi personilnya. Lantas bagaimana dengan Dysphonic?? Ya, Dysphonic band grindcore berasal dari Kalimantan Selatan tepatnya di kawasan Tanjung, Tabalong ini seperti dilansir sebenarnya sedang mengumpulkan materi buat full albumnya. Dikomporin oleh si-empunya Grinding Like A Maniacs Records buat ditemuin sama Tumor Ganas akhirnya 9 lagu masuk ke proyek splitan ini.

Tumor Ganas dengan karakter grindcore kasar kasar adem atau bahasa inggrisnya harshpowergrindcore (hahaha gak nyangkut) dan Dysphonic yang didominasi riff riff crossovernya mengangkat tema tentang kegilaan perang atau ketidakmanusiawiannya perang, dan kebanyakan arahnya ke Timur Tengah (tengok list lagunya). Oh iya dari 9 lagu yang dibawain Dysphonic, ternyata Tumor Ganas cuma nampilin 5 lagu doang, ini lantaran ada satu lagu yang durasinya hampir sepuluh menit (liat lagi di list lagunya deh).

Proyek splitan ini di motorin oleh: Grinding Like A Maniacs dan House Of Grind. dan dibantu rilis oleh: Grindtoday Records dan Endless Torture Records.

Oke gitu aja deh ah pembuka dari kita, selanjutnya silahkan brooo ...



ABOUT INHUMANITY WARFARE

Produced by: Dysphonic & Tumor Ganas 
Released & Distributed by: Grinding Like A Maniacs Records, House Of Grind, Grindtoday Records, Endless Torture Records
Supported Labels: Waroeng BW, Bantan Skateshop 
Media Support: Grindcore Worldwide 
Release Date: June 10, 2016

Track 1 - 09 written by : Dysphonic | Recording at: Mortify Records | Mixing & Mastering at: Mortify Records, Date: September 2015 | Soundclip mixed by: Noiseblastudio, Date: April-May 2015
Track 10 - 13 written by : Tumor Ganas, except track 14 written by: SxOxBx| Poems at La Ostata’ An Taslem! Lan Taslem! taken from: Syria, a poetry by: Amal Kassir | Recording at: Noiseblastudio (home recording) | Mixing & Mastering at: Noiseblastudio Date: March-April 2016, except track 10, date: January 2014 | Soundclip mixed by: Noiseblastudio, Date: April-May 2016

All tracks Length: 36 Minutes 
Coverworks by: Goredblast (IG: goredblast)

Tracklist:
01. DYSPHONIC - Palestine (02:40)
02. DYSPHONIC - Kolonial Lalat (01:18)
03. DYSPHONIC - Mobil Perang (01:51)
04. DYSPHONIC - Penjahat Perang (02:09)
05. DYSPHONIC - Krisis Suriah (01:53)
06. DYSPHONIC - Konflik (01:05)
07. DYSPHONIC - Tembak Mati (02:08)
08. DYSPHONIC - Hujan Peluru (02:28)
09. DYSPHONIC - Noda Darah Dan Sorban (03:14)
10. TUMOR GANAS - La Ostata' An Taslem! Lan Taslem! (09:50)
11. TUMOR GANAS - Euforia Dalam Bara (02:02)
12. TUMOR GANAS - Terbelenggu Kebebasan (02:48)
13. TUMOR GANAS - Jadah Dajjal (01:12)
14. TUMOR GANAS - Shoot Mind (01:50)


DYSPHONIC
Genre: Crossover Grindcore | Country: Indonesia | Location: Tabalong ( South Borneo ) | Formed: 2012 | Lyrical Themes: War, conflik, Politic, Goverment .

Members: 
Senophaty ( Voc ), Donny ( Guitar Lead ), Rudhy ( Guitar Rythm ), Jhepry ( Bass ), Robby ( Drum )


TUMOR GANAS
Genre: HarshPowerGrindcore | Country: Indonesia | Location: Depok, Jawa Barat | Formed: 2002 | Lyrical Themes: Hate, Anti War, Anti Politics, Anti Dogma, Alcohol, Street Life, Shit, Puke, Fuck Off and Die!

Members: 
Gagak Hitam: All Instrument (Digital), Throath, Screaming, Arranging

IG: tumorganasxgrindcore


DISTRIBUTION LINK:

DEPOK

GRINDING LIKE A MANIACS RECORDS
http://glamxrecs.blogspot.co.id
FB: Grinding Like A Maniacs Records
IG: glamgrindrecs

TRUELESS MERCHANDISE
Jl. Tole Iskandar No. 4 Depok, Jawa Barat http://trueless.bigcartel.com
http://www.facebook.com/truelessmerch
IG: truelessmerch

A.N.D. MERCHANDISE
Jl. Mekarsari Raya No.14, Cimanggis - Depok IG: a.n.d_merchandise

JAKARTA

LIBERAE MERCHANDISE
http://www.facebook.com/liberaemerch
IG: liberae_merchandise

CIPANAS

GRINDCROT MERCHANDISE
Kp. Cibadak Rt03/02 No.40, Ds. Sukanagalih, Kec. Pacet, Cipanas - Cianjur
IG: m.arif_gunawan | FB: Oyot Out

PATI

GRINDTODAY RECORDS
PO. BOX 101, 59100, Indonesia
FB: Grindtoday Records
IG: grindtodayrecords
www.grindtoday.com

KEDIRI

ENDLESS TORTURE RECORDS
c/o Mahfudz Abadi
RT 01/01 Biro - Wonorejo, Puncu Kab. Kediri 64292, Indonesia
IG: endlesstorturerecords
FB: Endless Torture Records
www.endlesstorturerecords.com

SURABAYA

KANDANGXAPI
Jalan Menanggal IV No.28 Surabaya
FB: Kandang Xapi Records & Distribution

TABALONG (Kalimantan region)

HOUSE OF GRIND
Komplek Perumahan Surya Mabu’un Indah
No. 14B Mabu’un 71571, Murung Pundak, Tabalong, Kalimantan Selatan
IG: hog.grind.merchandise

sumber: http://glamxrecords.blogspot.co.id/


NBR 027/2016 SOCIALOBSERVERS - Negara Tanpa Wibawa


Dari Redaksi NoiseblastMedia

Hari ini, ya hari ini kesampean juga gue "ngebuang" satu judul dari folder band grindcore asal selatan kota Jakarta nan produktif ini dari PC gue. Ya, saking produktifnya, banyak bener lagunya numpuk digue dan belom sempet dirilis. Niat rilis album Negara Tanpa Wibawa inipun lantaran buat ngisi tenggang waktu nunggu materi kompilasi YANG PENTING BERISIK!! #6 ngumpul. Dan bukan itu juga, gue bayat utang janji sama dedengkot band ini emang mau rilis free download album yang ini jauh sebelum hari ini. Nah, ini mumpung daahhh ... mumpung lagi semangat sama NoiseblastMedia ayolah dienjot materi-materi numpuk di PC hehe ...

Oke gitu aja dah ceritanya, selanjutnya silahkan disimak apa aja dan bagaimana isi album dari band yang bulan ini mau ngeluarin CD split albumnya sama Dispater yang dirilis Grinding Like A Maniacs Records ... 

SOCIAL OBSERVERS. Negara Tanpa Wibawa

Tracklist:
01. dialectical historical and materialism
02. a movement
03. junkfood anjing!!
04. pembangkang
05. goverment
06. negara tanpa wibawa
07. keadilan bertuah dusta
08. katanya tanah surga
09. fuck socialita!!
10. berdiri untuk mati
11. you suckers !!

Produced by: Socialobservers
Released Free Download by: Noiseblast Recordings
Date: July 12, 2016

All Tracks written by: Social Observers
Live DIY Recording at: Wazzap std (track 1-4), Efsound std (track 5-11)
Mixing and Mastering at: home studio
Date: during 2011-2015

All tracks Length: 8 Minutes

Coverwork by: GOREBBLAST (ig: goredblast). concept art by: LIBERAE

SOCIAL OBSERVERS

Genre: Grindcore
Country: Indonesia
Location: Jakarta
Formed in: 2008
Lyrical Themes: Social/Politics
Member: Ncop - Guitar & Vocals
Gatet - Drums & Vocals

STREAMING

Download SOCIALOBSERVERS - Negara Tanpa Wibawa (Mp3 320kbps)


SILAHKAN
PS: For split, compilation or another relases project please contact to: noiseblast.media@gmail.com 


HUNUS - Menghunus ep 2016



HUNUS - Menghunus ep.

Tracklist:
01. Sacrifice For Nothing (04:21)
02. Menghunus Karma (09:22)
03. Destruksi Imaji, Rekonstruksi Dogma (06:54)
04. Dawn Of The Blessing Slavery (03;42)
05. Boneka Mulia Para Pedagang Tuhan (02:18)
06. Hate Is The Law (03:30)
07. Antichrist (03:35)
08. Eurynomos (03:48)

Produced by: Hunus
Released by: Hunus On, May 10th, 2016
All Tracks written by: Hunus, except track 06 by: Darkthrone, track 07 by: Sepultura, track 08 by: Hellhammer
Recording & Mixing at: Noiseblastudio
Date: February - April 2016
All tracks Length: 40 Minutes
Coverworks by: Goredblast (Instagram: Goredblast)

HUNUS:

Genre: Black Metal/Crust/Grind
Country: Indonesia
Location: Depok City
Formed in: 2015
Lyrical Themes: Hate, Satyr, Critics, Desperation, Anti-Dogma, Darkness, War. etc
Member: Kerta Anarka - all instruments & vocals

For Lyrics, Bio, Friendship, split, compilation, interview, etc.
just go to: https://www.facebook.com/hunusDCLXVI

NO MASTERS! NO GODS! NO SATAN! NO POLITICS! NO ISMS!
JUST THANKS FOR YOUR SUPPORT!!









PENDIDIKAN TANPA SEKOLAH: Kritik Rekonstruksi Pembelajaran


Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, maka pedidikan diidentikkan dengan sekolah. Dengan kata lain, pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai lembaga tempat mendidik atau mengajar. Jadi, perspektif sempit ini membatasi proses pendidikan berdasarkan waktu atau masa pendidikan, lingkungan pendidikan maupun bentuk pendidikan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Lalu, bagaimanakah tindakan efektif menjadikan manusia sebagaimana mestinya manusia? Apakah dengan adanya sekolah kita bisa mewujudkan hal tersebut.

Sebagaimana sejarah pendidikan, yaitu suatu proses yang dilakukan diwaktu luang. Tapi saat ini pendidikan bukanlah proses yang dilakukan di waktu luang, dalam sejarahnya, pendidikan juga telah menghilangkan aspek pengetahuan holistik. sehingga ilmu pun dipecah-pecah, menjadi mata pelajaran, menjadi SKS, dan lain-lain. Hal ini menghasilkan efek yang menanangkan tuntutan kapitalisme bahwa ilmu harus dipecah-pecah seiring dibutuhkannya tenaga kerja yang terdirensiasi agar baut-baut dan onderdil mesin kapitalisme berjalan.

Inilah yang menyebabkan, semakin modernnya zaman sehingga pendidikan diturunkan ke dalam bentuk formal sekolah dan pengajaran, sebenarnya ia telah meninggalkan komprehensifannya sebagai proses kemanusiaan. Ketika pendidikan telah direduksi menjadi sekolah dan terinstitusionalisasi serta terspesikasi dalam bidang-bidang dan jurusan-jurusan, maka hal ini menyulitkan para murid dan insan pendidikan agar dapat memahami masalah-masalah kemanusiaan secara holistis.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ivan Illich dalam konsep karyanya, Deschooling Society (Masyarakat Tanpa Sekolah) bisa dipandang sebagai penolakan komprehensif terhadap sekolah formal yang memasung kebebasan dan perkembangan manusia. Sekolah dianggapnya sama sekali tidak memadai bagi perkembangan anak-anak dan kaum muda. Illich sangat yakin tujuan penolakan sekolah dalam masyarakat akan menjadikan siswa dapat memperoleh kebebasan dalam belajar tanpa harus memperjuangkan untuk memperolehnya dari masyarakat. Setiap orang harus dijamin kepribadiannya dalam belajar, dengan harapan dia akan menerima kewajiban membantu orang lain untuk tumbuh sesuai kepribadiannya.

Illich mengolok-olok kaum yang mengatakan bahwa hanya dari sekolahlah pengetahuan dan keterampilan didapat, pada kenyataanya sekolah bukanlah satu-satunya lembaga modern dengan tujuan utama membentuk pandangan manusia mengenai realita. Kurikulum terselubung (Hidden curriculum) dalam kehidupan keluarga, wajib militer, pelayanan kesehatan dan apa yang disebut profesionalisme ataupun media, memainkan peranan penting dalam manipulasi institusional dunia manusia, visi, bahasa-bahasa, dan kebutuhannya.

Illich pun menegaskan kembali bahwa “sekolah jauh lebih memperbudak orang dengan cara yang lebih sistematis, karena hanya sekolah yang dianggap mampu untuk melaksanakan tugas utama, anehnya sekolah melakukan tugas tersebut dengan cara membuat pemahaman tentang diri sendiri, tentang orang lain dan tentang alam, menjadi tergantung pada proses yang sudah dibentuk terlebih dahulu. Begitu dahsyat pengaruh sekolah atas diri kita sehingga tidak seorang pun diantara kita dapat berharap bahwa ia dapat dibebaskan dari padanya oleh sesuatu yang lain”.

Tampaknya pendidikan justru bermakna jika konsepsi Ivan Illich terwujudkan. Bayangkan jika ada masyarakat yang setiap hari, tanpa adanya sekolah yang kaku dan formal, setiap orang yang pengetahuannya lebih matang bisa menjadi guru. Setiap orang bisa belajar setiap waktu dan dimanapun tempatnya. Seperti halnya membicarakan dunia kehidupannya, alam yang terjadi dengan kontradiksinya, masalah sosial dan masalah politik yang tengah terjadi. Tentunya, akan ada banyak guru bagi anak-anak, dengan mendapatkan pengetahuan dan keteladanan kapanpun dan dimanapun berada. Sehingga Insan pendidikan akan menghadapi kawan-kawan yang menantangnya untuk bernalar, bersaing tanpa distandarisasi dengan adanya rapor, bekerja sama dan sebagainya.

Perspektif sempit inilah, yang menyebabkan terbatasnya proses pendidikan. Sehingga akan membawa dampak-dampak buruk pendidikan tersendiri; Pertama, karena hampir semua orang menganggap pendidikan dipahami melalui lembaga sekolah, maka cara berfikir formalistik merasuk dalam pemikiran orang. Pada akhirnya para orang tua melihat pendidikan anaknya hanya dapat diandalkan dari sekolah. Mereka melihat di sekolahlah tempat satu-satunya bagi anak-anaknya untuk memperoleh pengetahuan dan pembentukan mental dan karakter. Hal buruknya adalah orangtua tidak mau mendidik anaknya karena sudah mendapatkan pendidikan di sekolah dan tidak mempedulikan pendidikannya diluar sekolah. Kedua, sekolah dijadikan satu-satunya lembaga yang sah bagi masyarakat sebagai jalan mobiltas sosial. Seakan-akan sudah baku bahwa jika ingin mendapatkan pekerjaan harus masuk dan lulus sekolah terlebih dahulu, syarat formalnya adalah mendapatkan ijazah. Jadi, tidak heran ketika banyak bisnis ijazah atau bisnis pendidikan tanpa melibatkan si terdidik dalam proses belajar mengajar. Padahal formalitas bukanlah esensi.

Oleh karena itu, ijazah ataupun output sekolah tidak menunjukkan adanya mutu. Tidak jarang pula, orang yang bersekolah tingkatan tinggi, tetapi kecerdasannya rendah, mentalnya rusak, karakternya kerdil, dan jiwanya koruptif. Sehingga sekolah akan melahirkan manusia-manusia “dehuman” yang akan merampok potensi kemanusiaan manusia.

Pandangan ekstrem seperti ini, yang tidak membutuhkan sekolah tentunya tidak dapat dilihat sebagai pasimisme, tetapi harus dipandang sebagai “kritik” pada dunia pendidikan. Artinya, semua orang harus dapat mengenyam pendidikan dan dapat mengekspresikan kepentingannya dalam dunia pendidikan. Pendidikan haruslah menjadi milik masyarakat, tanpa adanya batas-batas kelas, ras, agama, maupun bentuk fisik education for all. (sumber)

100 ALBUM GOREGRIND TERBAIK SEPANJANG WAKTU



100 ALBUM GOREGRIND TERBAIK SEPANJANG WAKTU ... hmmm ... judulnya kayanya tidak cukup tepat di atas hehe, saya pikir judul yang tepat adalah 100 ALBUM GOREGRIND TERBAIK YANG PERNAH SAYA DENGAR. Secara umum, seluruh daftar di sini bukan berarti yang terbaik atau yang paling populer, atau paling "dijual", tapi saya di sini hanya untuk bersenang-senang untuk menulis dan menulis apa yang kita dapatkan Jadi, jika ada kesenjangan dengan persepsi Anda, mohon dimengerti, atau lebih baik Anda membuat sendiri versi ... cheers dan salam !!

Jadi ini adalah daftarnya .... slahkani:
  1. EXHUMED - Gore Metal (1998)
  2. IMPETIGO - Horror of the Zombies (1992)
  3. GENERAL SURGERY - Left Hand Pathology (2006)
  4. DEAD INFECTION - A Chapter of Accidents (1995)
  5. LYMPHATIC PHLEGM - Show-Off Cadavers - The Anatomy of Self Display (2007)
  6. DEAD INFECTION - Brain Corrosion (2004)
  7. REGURGITATE - Sickening Bliss (2006)
  8. HAEMORRHAGE - Anatomical Inferno (1998)
  9. IMPETIGO - Ultimo Mondo Cannibale (1990)
  10. CATASEXUAL URGE MOTIVATION - The Encyclopedia of Serial Murders (1996)
  11. GENERAL SURGERY - Corpus in Extremis: Analysing Necrocriticism (2009)
  12. HAEMORRHAGE - Emetic Cult (1995)
  13. DEAD INFECTION - Surgical Disembowelment (1993)
  14. GENERAL SURGERY / THE COUNTRY MEDICAL EXAMINERS - split (2003)
  15. NECRONY - Pathological Performances (1993)
  16. CARCASS - Reek of Putrefaction (1988)
  17. THE COUNTRY MEDICAL EXAMINERS - Olidous Operettas (2007)
  18. LAST DAYS OF HUMANITY - Putrefaction in Progress (2006)
  19. JIG-AI - Jig-Ai (2006)
  20. BILE - Camp Blood (2005)
  21. PATHOLOGIST - Grinding Opus of Forensic Medical Problems (1994)
  22. INHUME - Chaos Dissection Order (2007)
  23. REGURGITATE - Carnivorous Erection (2000)
  24. HAEMORRHAGE - Grume (1997)
  25. LYMPHATIC PHLEGM - Pathogenesis Infest Phlegmsepsia (2002)
  26. INHUME - In for the Kill (2003)
  27. GORED - Human (2008)
  28. SQUASH BOWELS - No Mercy (2004)
  29. HEMDALE / EXHUMED - In the Name of Gore (1996)
  30. Various Artists - Requiems of Revulsion: Tribute to CARCASS (2001)
  31. INHUME - Decomposing From Inside (2000)
  32. MANIAC KILLER - Amusing Anecdotes for the Depraved (2004)
  33. CARNAL DIAFRAGMA - Space Symphony Around Us (2006)
  34. AHUMADO GRANUJO - Splatter-Tekk (2003)
  35. INHUME - Moulding the Deformed (2010)
  36. PATHOLOGIST - Putrefactive and Cadaverous Odes About Necroticism (1992)
  37. THE COUNTRY MEDICAL EXAMINERS - Forensic Fugues and Medicolegal Medleys (2002)
  38. SQUASH BOWELS - Love Songs (2005)
  39. EXULCERATION / PUTRID OFFAL - split(1991)
  40. TO SEPARATE THE FLESH FROM THE BONES - Utopia Sadistica (2004)
  41. EMBALMING THEATRE - Sweet Chainsaw Melodies (2003)
  42. GRUESOME STUFF RELISH - Horror Rises From the Tomb (2008)
  43. JIG-AI - Katana Orgy (2008)
  44. FOETOPSY - Dyspartum (2003)
  45. SUBLIME CADAVERIC DECOMPOSITION - Sublime Cadaveric Decomposition (2001)
  46. SUBLIME CADAVERIC DECOMPOSITION - 2 (2003)
  47. GRUESOME MALADY - Infected With Virulent Seed (2003)
  48. LAST DAYS OF HUMANITY - Hymns of Indigestible Suppuration (2000)
  49. BODIES LAY BROKEN - Eximinous Execration of Exiguous Exequies (2003)
  50. GENERAL SURGERY / BUTCHER ABC - split (2009)
  51. PORKY VAGINA - Bukkageddon (2011)
  52. BLUE HOLOCAUST - Twitch of the Death Nerve (2004)
  53. SQUASH BOWELS - The Mass Rotting - The Mass Sickening (2002)
  54. PURULENT JACUZZI - Vanished in the Cosmic Futility (2010)
  55. AHUMADO GRANUJO - Chemical Holocaust (2004)
  56. EXHUMED - Garbage Daze Re-Regurgitated (2005)
  57. ROTTEST SLAG - Let Be Us Corrupt (1992)
  58. Various Artists - 100 Way Splatter Fetish (2007)
  59. RETCH - Ben-Wa Baby Heads (2002)
  60. ROMPEPROP - Gargle Cummics (2010)
  61. CLITEATER - The Great Southern Clitkill (2010)
  62. EMBALMING THEATRE - The World Is a Stage...For Murder! (2005)
  63. GRUESOME STUFF RELISH - Teenage Giallo Grind (2002)
  64. NEUROPHATIA - Satan Is a Cunt (2005)
  65. CLITEATER - Eat Clit or Die (2005)
  66. DISGORGE - Chronic Corpora Infest (1998)
  67. THE DAY EVERYTHING BECAME NOTHING - Invention : Destruction (2006)
  68. STOMA - Scat Aficionados (2005)
  69. ROMPEPROP - Hellcock’s Pornflakes (2003)
  70. DEAD - You'll Never Know Pleasure... Until You've Tasted Pain (1995)
  71. SANITYS DAWN - Mangled in the Meatgrinder (1998)
  72. ASS TO MOUTH - Kiss Ass (2008)
  73. NEGLIGENT COLLATERAL COLLAPSE - Paranormal Nanodivision (2003)
  74. NEGLIGENT COLLATERAL COLLAPSE - Sick Atoms (2005)
  75. ANAL BLEEDING - Two Cocks in the Same Hole (2002)
  76. TU CARNE - Culto a la muerte (2007)
  77. NEGLIGENT COLLATERAL COLLAPSE - R.S.D.E. (2002)
  78. ROMPEPROP / TU CARNE - Just a Matter of Splatter (2004)
  79. HYMEN HOLOCAUST - Necromance (2006)
  80. GORESOERD - Goremarket Mid-Prices (2007)
  81. DEAD INFECTION - Start Human Slaughter (1992)
  82. THE DAY EVERYTHING BECAME NOTHING - Brutal (2008)
  83. CLITEATER - Clit 'em All (2004)
  84. CLITEATER - Scream Bloody Clit (2008)
  85. GUTALAX - Shit Beast (2011)
  86. GORE BEYOND NECROPSY - Noise-A-Go Go!!! (1998)
  87. XXX MANIAK / COFFINS - The Cracks of Doom (2008)
  88. HYMEN HOLOCAUST - Blood Feast (2006)
  89. GUT - Odour of Torture (1995)
  90. SQUASH BOWELS - Tnyribal (1999)
  91. TORSOFUCK / LYMPHATIC PHLEGM - Disgusting Gore and Pathology / Polymorphisms to Severe Sepsis in Trauma (2003)
  92. NEURO-VISCERAL EXHUMATION - The Human Society Wants More Gore (2005)
  93. LAST DAYS OF HUMANITY - The Sound of Rancid Juices Sloshing Around Your Coffin (1998)
  94. URINE FESTIVAL - Of a Hermaphroditic Enema and an Urophilic Pissparty Pleasure (2006)
  95. NEURO-VISCERAL EXHUMATION - Mass Murder Festival (2003)
  96. WTN - Rotting in Pestilence (2004)
  97. XXX MANIAK / LYMPHATIC PHLEGM - split (2005)
  98. NEUROPHATIA - Graveyard Cowboys (2003)
  99. SPASM - Paraphilic Elegies (2008)
  100. YOUR GOREGRIND BAND!!!! 
Diambil dan ditranslate dari: Goredblast blog (http://goredblast.blogspot.co.id)

SAAT KAPITALISME "MEMBUNUH" ANAK ANAK (Kritik Ideologi atas Nalar Budaya Kapitalisme)


Dari Redaksi NoiseblastMedia

Fyuhhh ... jujur, bahasa, baik itu kata kata ataupun gaya bahasa di tulisan ini agak ribet dibacanya. Ini bukan salah sang penulis juga sih ... ini cuma masalah kami yang udah lama gak nge-repost tulisan yang memang kami sedang concern dengan masalah yang sama dengan tulisan ini. Karena, seperti biasa, sebelum kami me-repost sebuah karya tulis kami harus kudu membacanya dulu, tujuan kami membaca dulu yang pertama kami harus tau ke arah mana tulisan ini, apakah cocok dengan permasalahan yang sedang kami pikirkan atau tidak. Kedua, kami membaca ulang dalam upaya menghindari "kepentingan" dalam tulisan tersebut, karena sekarang banyak tulisan-tulisan bagus ujung-ujungnya iklan produk atau iklan partai atau menangin sekelompok orang saja.

Sebenarnya yang kami mau angkat adalah tentang Kapitalisme yang selalu "menghajar" perempuan dan anak-anak sebagai target pancingan untuk menjual produk-produk mereka. Tapi yang kami dapat ternyata lebih spesifik dan lebih tajam walaupun hanya membahas tentang anak-anak saja tanpa bahasan perempuannya.

Ya, tulisan karya St. Tri Guntur Narwaya, M.Si ini bukan hanya sebuah karya tulis, tapi bisa kami bilang sebuah referensi tentang propaganda kapitalisme yang banyak memakan korban anak-anak baik secara fisik ataupun mental.

Selanjutnya, silahkan dibaca aja deh ya ... ingat!  diskusikan, diteliti lagi, jangan ditelan mentah-mentah ya hehehe ...

Saat Kapitalisme ‘Membunuh’ Anak-anak
(Kritik Ideologi atas Nalar Budaya Kapitalisme)[1]

Oleh : St. Tri Guntur Narwaya, M.Si[2]

“Anak-anak memaniskan jerih payah kehidupan,namun membuat kemalangan makin getir. Mereka memperbanyak kecemasan hidup,namun mengurangi pikiran tentang kematian.” (Francis Bacon)

“Tanpa rahasia, tentu saja, tidak ada masa kanak-kanak” (Neil Postman)

Apa yang menjadi realitas problem ‘anak’ saat ini dalam mahakuasanya sistem besar ‘kapitalisme’ tentu sangat penting untuk diurai dan dibaca. Nalar kuriositas selalu berkeinginan untuk bisa menjelaskan sampai pada prinsip dasar dan hakikat terdalamnya. Secara ilmiah tentu ini menjadi tugas yang menantang. Untuk tidak terburu-buru, pokok diskusi tentang ‘kapitalisme’ dan ‘anak’, terutama membaca keterkaitan keduannya tentu bukan perkara analisis yang sederhana. Pertama, banyak dimensi yang bisa diangkat dan disertakan untuk membantu titik pijak analisis. Kedua, untuk menghindari nalar reduksi kesimpulan yang simplistis tentu fondasi pembacaannya akan banyak menyertakan tafsiran-tafsiran yang multipendekatan. Ketiga, demi menghindari pengamatan yang parsial dalam menangkap jantung problemnya, sebuah geneologi pencarian yang mampu memberikan deskripsi dan interpretasi mendalam sangat penting diangkat.

Dalam beberapa telaah literatur, opini, artikel dan perbincangan tentang ‘kapitalisme’ dan ‘anak-anak’, pertanyaan bagaimana nalar kapitalisme berdampak terhadap anak bukan barang yang baru dan sedikit banyak telah menjadi diskusi hangat. Ia merentang dari berbagai sudut kajian baik secara politis, ekonomis, sosiologis maupun budaya. Ringkasnya, problem anak berkait pengaruh kapitalisme tidak hanya menyentuh determinasi tunggal. Anak tidak hanya menjadi sasaran tujuan langsung pasar sebagai halnya konsumen lainnya, ia juga dilibatkan menjadi entitas penting dalam kemajuan kapitalisme baik menjadi tenaga produktif (tenaga murah), sarana dan bahkan pada aspek fisik mewujud sebagai komoditas itu sendiri. 
  • Pertama, meletakkannya sebagai ‘komoditas’ dan barang bernilai yang secara langsung mampu menghasilkan akumulasi keuntungan. Jual beli, eksploitasi dan perdagangan anak salah satu gambaran akan bentuk primitif ini.[3] 
  • Kedua, ia menjadi sarana langsung dari terciptanya percepatan akumulasi. Eksploitasi anak sebagai pekerja (Child Labour) yang bisa dibayar lebih murah membuktikan asumsi ini.[4]
  • Ketiga, Secara tidak langsung ia menjadi sarana ‘propaganda’ dalam perdagangan komoditas. Iklan-iklan anak, film, dunia hiburan, kisah-kisah dalam buku fiksi, dan media-media massa lain yang menggunakan anak sebagai ‘ikon’ adalah strategi dan siasat propaganda budaya yang kental dalam tradisi ‘kapitalisme kontemporer’ saat ini. 
  • Keempat, anak menjadi objek penting yang ingin disasar dalam berbagai komoditas yang diproduksi oleh mesin kapitalisme. Diferensiasi kebutuhan dan ‘angka belanja produk untuk anak’ kian hari seakan semakin meningkat dalam bidang-bidang yang lain yang sebelumnya tidak diperkirakan hadir. Anak adalah medan dan pasar konsumen yang paling menjanjikan. Apa yang dahulu tidak menjadi kebutuhan, kini bertebaran hadir begitu rupa. 
  • Kelima, anak-anak bersama perempuan masih menjadi komunitas yang paling rentan berhadapan dengan berbagai ‘residu’ dan ‘konsekuensi’ mengerikan dari problem kapitalisme. Contoh yang paling besar bisa ditunjukan adalah fenomena para pengungsi dan korban akibat perang dan konflik dunia yang sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. 
  • Terakhir yang juga amat memprihatinkan adalah hilang dan hancurnya berbagai ruang hidup bagi lahan perkembangan anak secara baik. Akses tersebut semakin sempit oleh sesaknya nalar-nalar rakus kapitalis yang berujung hanya pada nalar pencapaian akumulasi profit yang tak terbatas. 
Tulisan ini tidak berkehendak untuk merangkum dan membincangkan kesemuanya. Kecuali tentu tidak realistis, usaha ke arah sana tentu butuh ruang, waktu dan energi pengkajian yang amat luas dan data-data yang harus mencukupi. Paper ini cukup membatasi pada telaah yang banyak menyentuh bidang kajian tentang nalar filosofis dan budaya bagaimana kapitalisme bekerja dan menjadi sumber persoalan bagi nasib anak-anak. Tulisan ini juga akan sedikit banyak melihat bagaimana ‘anak-anak’ dikonstruksi dan direpresentasikan dalam nalar pasar saat ini. Tentu aspek dan dimensi ekonomi politik ikut disertakan untuk menjadi setting gambaran bagaimana persoalan ini hadir. Harapanya catatan ini menjadi cara untuk membangun kritik atas nalar budaya yang berkembang saat ini. Sebagai refleksi tentu catatan ini berharap bisa menjadi provokasi positif untuk diskusi selanjutnya.

Sejarah ’Kanak-kanak’ dalam ’Katagori Kekuasaan’

Ada dua pemahaman awal yang cukup penting untuk diletakkan secara konseptual dalam rangka membantu nalar analisis selanjutnya. Pertama, tentu pengertian tentang ‘anak-anak’ satu sisi dengan pemahaman ‘kapitalisme’ dalam sisi yang lain. Dala diskusi ini, penting untuk memahami hakikat konsep keduanya. Rumusan pengertian apa yang disebut ‘anak-anak’ dan ‘masa kanak-kanak’ tidak menjadi sesuatu yang jadi (fixed) begitu saja. Apa yang dimaksud di sini bukan sebatas problem definisi, tetapi menyangkut situasi ‘pemaknaan’ dan ‘pemahaman’ yang kian waktu mengalami dinamika perkembangan. Ia juga bukan hanya dilihat sebagai persoalan umur biologis yang dihitung dari mesin waktu mekanik. Ia menyangkut sebuah situasi ‘keberadaan’ anak yang menyentuh dimensi-dimensi sosial budaya yang lain. Menyangkut hal yang terakhir ini, pemahaman konsep tentang anak-anak menjadi problem yang kompleks dan dinamis. Tidak salah jika poin ini harus dimengerti sejak awal. Dalam taraf tertentu rumusan batasan yang memisahkan antara ‘anak-anak’ dan ‘dewasa’ mengalami sesuatu yang membingungkan.[5] Yang bisa dipastikan, ia selalu dibawa oleh perkembangan yang berbeda-beda di berbagai ragam budaya dan sejarah masyarakat.

Ide-ide dan konsepsi pengertian tentang apa yang dimengerti sebagai ‘anak’, masa kanak-kanak, dan ‘dunia anak’ selalu tidak hadir dalam rumusan yang jelas dan pada sisi yang lain membingungkan. Konstruksi dan definsinya selalu mengalami perubahan. Ia bukan sebentuk konsep dan definisi final yang permanen. Ia lebih menyerupai ‘katagori sosial’ ketimbang pembatasan dalam ‘katagori biologis’. Dalam banyak hal ia selalu dipengaruhi oleh perkembangan sistem mainstream sosial dan budaya yang menopang masyarakat berjalan. Nalar pengertian ini hampir sama ketika kita juga mencoba mendefinsikan tentang apa yang dimengerti tentang ‘pemuda’. Konsepnya lebih bukan sebagai pertanda alamiah dan niscaya dari usia yang ditentukan secara biologis. Ia juga bukan menunjukan klasifikasi individu yang dibangun secara organis dalam konsekuensi posisi tertentu. Sosiolog Talcot Parson dalam bukunya ’Age and Sex in The Social Structure of United State”, melihat bahwa definisi-definisi tersebut bukan merupakan suatu katagori universal biologis, melainkan satu ‘konstruk sosial’ yang tengah berubah yang muncul pada kurun waktu tertentu dan pada kondisi definitif.[6] Banyak hal pula, setiap konteks yang berbeda juga memiliki pengertian yang beragam tentang ‘anak-anak’. Rumusan-rumusan yang definitif tentang anak-anak sejatinya tidak merujuk pada ‘substansialisasi’ makna yang tunggal dan bahkan dalam banyak porsi, pengertiannya tergantung bagaimana ‘orang dewasa’ mendefinisikannya.[7]

Meminjam analisis kritis Neil Postman, ‘masa kanak-kanak sejatinya merupakan deskripsi dari tingkat pencapaian simbolis.[8] Kesadaran atas pengertian anak secara luas berkembang setelah ditemukan teknologi percetakan awal. Postman dalam hal ini mau mengatakan bahwa perkembangan kapitalisme cetak menjadi variabel besar dalam mengkonstruksi pengertian tentang masa kanak-kanak. Masa pemisahan ‘dewasa’ dan ‘kanak-kanak’ kemudian dilekatkan pada masalah ‘kemampuan’ membaca seseorang.[9] Namun dalam perkembangannya, ia bisa merujuk pada kondisi-kondisi kekhususan biologis, psikologis, sosiologis, politis dan kultural, tetapi ia juga bisa berkembang sebagai entitas makna yang bisa merujuk apapun melebihi makna sebelumnya yang dianggap baku. Ia bisa dipakai dalam ranah pembicaraan kebudayaan dan bahkan kepentingan-kepentingan nalar politik.[10]

Pada ‘masyarakat prakapitalis’, keluarga memenuhi semua fungsi ‘reproduksi sosial’ secara biologis, ekonomis, dan budaya. Pembatasan antara apa yang dimaknai sebagai ‘anak-anak’ dan ‘orang dewasa’ menjadi tidak cukup penting. Situasi berubah ketika sejarah dengan perkembangan masyarakat yang terspesialisiasi, universal, modern dan rasional mulai terbangun. Batas-batas lambat laun muncul walau dengan sifat kelenturannya. Imbasnya juga mempengaruhi formasi dan bentuk keluarga modern yang saat ini berkembang. Masyarakat Abad Pertengahan menurut penulis buku Centuries of Childhood, Philip Aries gagasan tentang masa kanak-kanak tidak berkembang. Kehadiran konsep tentang ’masa kanak-kanak’ baru muncul di Eropa bersama dengan berbagai gagasan ’borjuis’ mengenai keluarga, rumah, hak pribadi dan kepribadian.[11] Dalam banyak fakta menurut Aries, pengeretian tentang masa kanak-kanak tumbuh bersama dengan berkembangnya kebutuhan akan pendidikan sekolah formal yang telah menggantikan peran pendidikan yang diberikan keluarga.

Sebagai bagian formasi identitas yang banyak terpengaruh oleh kondisi-kondisi ekternal melalui berbagai praktik budaya yang dominan, sebagai halnya praktik diskursif budaya maka problem diskursif anak-anak tidak akan lepas dengan nalar-nalar dasarnya yakni ‘kekuasaan’ dan dalam banyak hal bersifat ’ideologis’. Secara khusus ‘makna’ dan ‘kebenaran’ dalam domain diskursif budaya dibangun dalam nalar dan pola-pola kekuasaan tertentu, yakni nalar kekuasaan seperti yang diungkap oleh Jordan dan Weedon sebagai: kekuasaan untuk ‘menamai’, ‘merepresentasikan’, ‘menciptakan versi resmi’ dan ‘merepresentasikan dunia sosial yang legitimate’.[12] Selama makna-makna tersebut diarahkan untuk ’membangun’ dan mempertahankan ’relasi dominasi’ maka didalamnya akan terkandung kepentingan ’ideologis’.[13]

Media kapitalistik dan Politik Ideologi

Media massa kapitalistik tentu menjadi salah satu sarana yang amat besar dalam menjungkirbalikan makna tentang apa yang sejatinya disebut ‘anak-anak’. Bahkan dalam dimensi yang lebih besar ia telah menghilangkan apa yang disebut sebagai ’masa kanak-kanak’. Bagaimana penghilangan batas ini bisa menghilang? Salah satu ciri pentingnya adalah bahwa media massa telah menghapuskan esklusifitas pengetahuan duniawi termasuk dalam hal ini adalah perbedaan prinsip ’anak-anak’ dan ’orang dewasa’. Media massa terlebih seperti media Televisi bahkan berhasil mengikis garis pemisah antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dan semua terkait dengan aksesbilitasnya yang tidak membeda-bedakan.[14] Jikapun media massa memberikan plot dan kemasan yang ditujukan pada audiens berbeda, ia selalu gagal menjawab bahwa sejatinya materi tertentu dalam media massa ini ditujukan kepada siapa? Paling vulgar ditunjukan dalam nalar materi televisi. Ruang batasnya semakin tidak jelas. Jargon egalitarian dan akses demokratis media sering menyembunyikan kepentingan dasar yang lebih mengerikan. Selaras dalam nalar ‘akumulasi primitif’ kapitalis yang terpenting adalah tersedianya kemungkinan yang lebih luas terhadap peningkatan keuntungan, tak persoalan apakah ia anak-anak, dewasa atau bahkan orang tua.

George Gebner dalam bukunya ‘Marketing Mayhem Globally[15] dengan nada kritis menunjukan bagaimana sejarah manusia saat ini banyak tersusun oleh bagaimana media massa memberi nilai padanya. Saat media massa dibaca dan televisi dihidupkan sebuah basis politik, ekonomi dan moral bagi suatu tatanan sosial berorientasi keuntungan dilegitimasi secara implisit.[16] Melalui media massa sebagian kisah tentang orang-orang, kehidupan dan nilai-nilai tidak lagi diceritakan oleh orang tua, sekolah, komunitas atau agama melainkan oleh oleh sekelompok konglomerasi dikejauhan yang memiliki sesuatu untuk didagangkan. Tentu yang dimaksud di sini, adalah media dalam pemaknaan yang lebih luas sebagain representasi dari nalar bekerjanya mesin kekuasaan kapitalis yakni apparatus diskursif, hegemoni dan sekaligus propaganda modern.

Tentu saja analisis ini tidak bermaksud melebih-lebihkan semata peran media. Media massa dalam sistem kapitalis tidak bekerja sendirian, ia hanya menjadi salah satu bagian dari bagaimana relasi-relasi hegemoni dan dominasi itu dibangun. Penting untuk tidak meninggalkan kekuatan-kekuatan produkstif yang berkuasa dan menjaga bagaimana sistem besar ini berjalan. Hanya memang harus diakui dan sepakat dengan apa yang dibilang Thompson bahwa analisis terhadap kekuatan ideologis seperti halnya sistem kapitalisme pasar dalam era modern saat ini harus memberikan peran sentral bagi sifat dan dampak ’komunikasi massa’[17], sekalipun komunikasi massa bukan satu-satunya tempat bagi ideologi. Pemikiran Thompson merupakan karakteristik perkembangan dari nalar berpikir yang mulai berkembang untuk menggenapi ruang kosong yang ditinggalkan dalam perspektif Marxian yang lebih klasik dalam mengkritik ideologi-ideologi dominan. Salah satu karakteristik yang ingin ditawarkan menempatkan pengembangan pada ranah analisis suprastruktur ideologis seperti media massa dan bagaimana gagasan ideologi itu dipraktikan. Melampaui determinasi ekonomis, eksplorasi yang ditawarkan bahkan menjelajah pada cara rumit tergabungnya berbagai citra, mitos, praktik sosial, dan cerita dalam produksi ideologi.

Pertanyaan dan sekaligus jawaban selanjutnya yang harus diajukan tentu harus memberi bobot keyakinan yang besar mengapa sistem kapitalisme sangat berbahaya bagi kehidupan anak-anak. Berbahaya tidak hanya dalam gambaran fisik langsung tetapi lebih luas menyangkut ruang-ruang dimensi kehidupan anak. Jika tulisan ini membatasi pada satu dimensi analisis, maka telaah penting juga harus bisa menjelaskan mengapa politik ideologi dan dominasi budaya kapitalis merupakan ancaman bagi masa depan kehidupan anak. Titik landasan pertama tentu harus bisa meletakakan karakteristik yang mendasar apa yang dimengerti sejatinya dalam budaya ideologi kapitalistik.

Saat Hidup menjadi ’Komoditas’

Ideologi ini secara prinsip adalah tak ubahnya mesin jiwa raksasa yang melanggengkan modus cara hidup produksi dimana individu manusia diberi kebebasan untuk memiliki dan menguasai modal-modal hidup manusia, Sistem ini juga membiarkan sebuah aturan yang memberi peluang penguasaan manusia yang satu atas manusia yang lainnya. Sistem ini lahir dalam kurun sejarah perkembangan yang melahirkan pemisahan semakin kentara antara mereka yang menguasai milik dengan mereka yang hanya menjadi pekerja. Akumulasi pemberhalaan keuntungan tak terbatas menjadi spirit manusia kapitalis. Dalam bekerjanya, pencapaian akumulasi ini selalu mensyaratkan berbagai residu sistem yang timpang. Manusia dianggap ’entitas anonim bebas’ yang hidup dalam rimba kompetisi, siapa yang mempunyai kekuatan untuk membangunnya akan menjadi pemenang dan berkuasa atas yang lain. Oleh karenanya ’individualitas’ menjadi sandaran kepribadian manusia kapitalis sementara hukum-hukum pasar dianggap niscaya dan sakral untuk dianut. Pemanfaat manusia oleh manusia adalah sistem ’nilai ekspresif’ yang menggaris bawahi sistem kapitalis.[18] Pemberhalaan atas benda dalam budaya konsumsi hanyalah satu gambar besar bagaiman manusia ditarik dalam ’kesadaran anonimitas’ untuk meningkatkan nalar akumulasi keuntungan bagi segelintir orang yang berkuasa atas modal. Masyarakat selalu dibaca sebagai konsumen yang harus dipaksa membeli apapun yang telah diproduksi. Tak ada waktu berhenti, mereka mencecar masyarakat dengan indoktrinasi iklan-iklan komersial.[19] Apa yang menjadi kepentingan tersembunyinya tetap sama : akumulasi keuntungan!!!

Harapan, nilai, keyakinan, gaya hidup dan bahkan cara masyarakat berjalan amat sulit untuk dipisahkan dengan bagaimana logika mesin kapitalisme ini dibangun. Kebertahanannya selalu ditopang dengan berbagai sistem penguasaan yang melanggengkan dan mengabsahkan berbagai daya dan lembaga yang menekan dan menindas orang. Semua katagori tentang apa yang pantas, apa yang baik, apa yang absah mampu dibangun sedemikian rupa sambil menyembunyikan tangan kepentingan yang lain yakni hasrat penguasaan atas segala ranah dimensi manusia. Dalam mata kapitalis, segala aspek yang lekat pada manusia bisa dibentuk menjadi ’komoditi’ bahkan pada hidup manusia sendiri. Kredonya selalu tetap dan tak berubah, menjanjikan masa depan hidup dengan lapisan fondasi pragmatis keuntungan. Relasi manusia dihitung seberapa jauh ia bisa terlibat di dalam membangun mesin akumulasi ini berjalan. Apa yang menghambat harus dibuang dan disingkirkan bahkan dengan jalan perang sekalipun.[20] Inilah sejatinya gambaran nalar ideologi budaya yang lebih mengerikan ketimbang sekedar tampakan fisik yang ditunjukan.

Kerentanan anak-anak berhadapan dengan kerakusan kapitalisme datang dari berbagai kemungkinan. Tak hanya karena berpeluang dijadikan ’lahan konsumen’ pasar yang paling menguntungkan, tetapi kemungkinan jatuh menjadi komoditas yang menjanjikan. Akal budi kesadaran yang masih dalam fase transisi perkembangan sangat memungkinkan segala apa yang ’manipulatif’ dimaknai menjadi apa yang ’real dan benar’. Masa hidup yang masih membutuhkan pencarian-pencarian dasar tentang nilai-nilai hidup sangat rentan untuk mengalami kooptasi dan virus cara berpikir yang salah. Akal budi masih belum maksimal hadir seperti kebanyakan mereka yang sudah masuk dalam tahap perkembangan kedewasan bernalar dan berpikir. Sang anak tentu tidak akan cukup dalam untuk bisa menangkap atau bahkan membaca apa yang hadir di balik yang nampak secara indrawi. Akal budi masih terbatas pada bentuk-bentuk peniruan dan ketergantungan pada dunia di luarnya termasuk dalam hal ini determinasi orang tua.[21]

Apa yang terserap dan tertangkap dalam indera anak menjadi sebuah pengalaman apa adanya yang berharga. Seutuhnya fase ini memungkinakan sang anak akan sangat minim menemukan rasionalitas pertimbangan berpikir. Reflektif diri dan permaknaan tentu saja juga belum hadir pada diri anak-anak. Konsep apa yang baik, apa yang benar dan apa yang boleh untuk disentuh masih menjadi konstruksi orang dewasa yang ditujukan kepadanya. Dari situlah masa kanak-kanak sebenarnya menjadi lahan subur bagi insting dan nalar kapitalisme bekerja. Karena sejatinya bagi kapitalisme, semakin ’masyarakat tak berpikiran’[22] berkembang dan membudaya, maka kapitalisme semakin menemukan ruang keuntungannya. Bukan saja keuntungan material fisik tetapi juga keuntungan atas hadirnya ’budaya kepatuhan’ dan ’pemberhalaan’ tanpa henti. Karena di titik sanalah hegemoni akan terus berjalan dan sang sistem akan menemukan kebertahanannya. Bagi penulis, justru dalam aspek nalar ideologis inilah ’ancaman’ yang sebenarnya menjadi sel kanker mematikan bagi masa depan anak-anak sedang berjalan.

***


[1] Makalah disampaikan pada “Seminar Kebudayaan Populer dengan tema : Selamatkan Anak-anak” yang diselenggarakan oleh DPC PMKRI Cab. Surakarta ‘Santo Paulus” , Tanggal 29 Agustus 2010, di Gedung Ruang Paripurna DPRD Kota Surakarta.”


[2] Pemateri adalah Pekerja Sosial tinggal di Yogyakarta dan sekarang menjadi Dosen Tamu di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Atmajaya Yogyakarta dan Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Mercubuana, Yogyakarta.


[3] Data yang berhasil dihimpun oleh UNICEF, lebih dari 1,2 juta anak diperdagangkan tiap harinya dan dari data yang dicatatInternational Labour Organization (ILO) ‘Industri Perdagangan Anak’ menengguk untung 12 milliar dolar pertahunnya dari sistem perdagangan anak. Dari jumlah data tersebut, terbesar jumlah anak-anak dan perempuan yang diperdagangakan ada di kawasan Asia yang mencapai sekitar 250.000 sampai 400.000 (305 dari angka perkiraan global). Sumber : http//www.ecpat.net/


[4] Data dari ILO juga menyebutkan, diperkirakan lebih dari 4,2 juta anak terlibat dalam pekerjaan yang berbahaya. Sekira 1,5 juta diantaranya adalah anak perempuan. Sedangkan data yang didapat dariInternational Programme on The Elimination of Child Labour, ILO, mengungkap, dari sekitar 2,6 juta Pembantu Rumah Tangga ( PRT ) di Indonesia saat ini, 34,83 % adalah anak-anak, dan 93 % diantaranya adalah anak perempuan. Sumber : http//www.ilo.org/


[5] Lih, D. Sibley, Geographies of Exclusion, Routledge Press, London, 1995, p. 34.

[6] Lih, Chris Barker, Cultural Studies : Teori dan Praktik (terj). Penerbit Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2004, hal. 334. Dalam tambahan dari analisis Talcot Parson ini, Chris Barker sendiri ikut menambahkan bahwa sebagai konstruksi budaya, makna ‘pemuda’ bergeser menurut ’ruang’ dan ’waktu’ berdasarkan atas ‘siapa’ disebut ‘oleh siapa’. Pemuda adalah produk diskursif yang dibentuk secara terorganisir dan terstruktur.


[7] Lih, Team Read Book (eds) , Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis, Penerbit Read Book, Yogyakarta, 2002, hal. 500. Masa kanak-kanak kemudian dimengerti sebagai cara untuk menyebut ‘masa belum dewasa’ atau ‘transisi menginjak menuju dewasa’.


[8] Lih, Neil Postman, Selamatkan Anak-anak, Penerbit Resist, Yogyakarta, 2010. Merujuk pada pencapaian ‘simbol’ tertentu maka ia sebagai pengertian tidak ‘hadir’ pada dirinya sendiri tetapi merujuk pada ‘yang lain’ (arbriter) yang hadir di luar dirinya. Proses ini berlangsung pada pembentukan ‘identitas’ sang anak yang banyak dipengaruhi oleh domain sosial yang berkembang.


[9] Lih, Ibid, hal. 35, menurut Postman, dimulainya abad percetakan abad 16 menciptakan sebuah definisi baru mengenai usia dewasa ‘berdasarkan kemampuan membaca’ , dan karenanya sebuah konsep baru mengenai usia anak-anak dibuat ‘ketidakmampuannya membaca’.


[10] Kajian tentang pengalaman menarik bagaimana ruang keluarga Indonesia modern termasuk di dalamnya dimensi yang mengkaitkan nalar kepentingan politik kekuasaan dan kondisi anak Indonesia diulas apik dalam karya Saya Sasaki Shiraishi. Lih, Saya Sasaki Shiraishi, Pahlawan-pahlawan Belia: Keluarga Indonesia dalam Politik, Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Yayasan Adhikarya IKAPI dan Ford Foundation, Jakarta, 2001. Bahkan Shiraishi mencatat perkembangan awal bagaimana konsep tentang ’masa kanak-kanak’ berjalan sangat politis. Ia menjelaskan misalnya oleh ’kolonialisme Belanda’ para pribumi disamakan dengan ’anak-anak’ yang perlu didisik dan dibimbing dan pihak Kolonial Belanda disebut sebagai ’bapak’ atau ’orang tua’


[11] Lih, Philips Aries, Centuries of Childhood: A Social History of Familiy Life yang dikutip dalam buku Saya Sasaki Shiraishi, Ibid, hal. 8.


[12] Lih, G. Jordan dan Weedon, Cultural Politics : Class, Gender, Race and The Postmodern World, Blackweel, Oxford, 1995, p. 13.

[13] Lih, John B. Thompson, Kritik Ideologi Global (terj), Penerbit Ircisod, Yogyakarta, 2006, hal. 90. Thompson memberi pengertian bahwa tidak semua fenomena makna bersifat ideologis selama dalam ‘konteks sosio historis’ tertentu ia tidak membangun relasi dominasi.

[14] Lih, Neil Postman, Ibid, hal. 118. Perkembangan yang menjadi penting dari titik pemisahan ini kemudian semakin dimodernisasi dalam nalar pendidikan sekolah. Pendidikan formal menjadi institusi yang paling berperan dalam membangun hirarkhi pengelompokan usia.

[15] Lih, Joost Smiers, Art Under Pressure : Memperjuangkan Keanekaragaman Budaya di Era Globalisasi (terj), Penerbit Insist Press, Yogyakarta, 2009, hal. 200.

[16] Lih, E. Herman dan R. McChesney, The Global Media : The New Visionaries of Corporate Capitalsm, Cassell, London, 1997 yang dikutip dalam buku Noreena Hertz, Membunuh Atas Nama Kebebasan, The Silent Take Over, Kapitalisme Global dan Matinya Demokrasi (terj), Penerbit Nuansa, Bandung, 2004, hal. 15.

[17] Lih, John B. Thompson, Ibid, hal. 393.

[18] Lih, Erich Fromm, Masyarakat Yang Sehat (terj), Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1995, hal. 103. Dalam sistem yang memberhala logika akan penguasaan keuntungan ini maka oleh Erich Fromm akan mangakibatkan bahwa orang yang memiliki kekayaan modal menguasai orangyang ‘hanya’ memiliki hidupnya sendiri, ketrampilan manusiwai, vitalitas dan produktivitas kreatif. Bahkan dalam dimensi yang terdalam ‘manusia’ menjadi ‘mahluk anonim’ seperti halnya kekuatan kekuatan sosial yang lain yang juga anonim dalam struktur cara produksi kapitalistik.

[19] Telah menjadi fakta, sebagian terbesar iklan korporasi sekarang ini khusus ditujukan untuk ’mengindoktrinasi anak-anak’ tentang nilai-nilai ‘konsumerisme’ dan kaidah korporasi bahkan hingga ke ruang-ruang kelas sekolah. Lih, David C. Korten, The Post-Corporate World, Penerbit Obor, Jakarta, 2002, hal. 38.

[20] Lih, T. Christian Miller, Blood Money, Ufuk Press, Jakarta, 2007.

[21] Benteng orang tua sebagai penjaga dan pembentuk nilai menjadi sangat penting, meskipun banyak hal pula justru dengan menjalarnya nalar kapitalistik yang juga sudah membudaya di orang tua maka peran itu semakin hilang dan banyak hal pula justru orang tua sendiri yang menjadi agen pembantu kebertemuan antara hasrat kapitalis di satu sisi dengan hasrat anak di sisi yang lain. Inilah problem serius yang dihadapi oleh keluarga dan terutama anak-anak saat ini.

[22] Dalam nada yang serupa Erich Fromm menyebut sebagai kondisi ‘patologis’ yang disebut sebagai ‘masyarakat yang tidak sehat’. Lih, Erich Fromm, Masyarakat Yang Sehat (terj), Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1995.

tulisan diambil dari: SEKOLAH KEBUDAYAAN POPULER

EMERGENCY ATTACK #3 Compilation


Emergency Attack 3 DIY compilation is out now !!!
Fuck the capitalist mentality, download for free.


Abolish Mornings (India)


Abominations All Over (Belgium)


Agathocles (Belgium)


Agent Patogen (Spain)


Arquivo Morto (Brazil)


Badak Militia (Indonesia)


Corporation Is Exploitation (Belgium)


Doomsister (France)


Extinct! (Germany) 


Kingterror (Belgium )


Konaklysm (Indonesia)


Massive Genital Erection (Indonesia)


Over Power (Indonesia) 


SampleViolence (Belgium)


Sars (Indonesia)


Shit Fucking Shit (Italy)


Society Prison Complex (Germany)


The Grindful Dead (Brazil)


Travølta (Belgium)


Tremor (Brazil)


Tumor Ganas (Indonesia)


What I Want (Brazil)


Vagina Dentata (Indonesia)


XrepeatX (India)


Yattai (France)


A collaborative project between klinik 66 and C.R.A.P.


You can free download previous Emergency Attack comps here:

VA. BORN TO KILL (Noise and Grindcore Compilation)




Released: February 2016
Label: DIgital File
Country: Worldwide

01. Psycho Sin - Kill A Cop
02. Psycho Sin - Motorcycle Man
03. Money Hater - Every Government Is a Disappointment
04. Money Hater - Idiot Nation
05. Juan Bodoqu(E) - Una jaula de oro sigue siendo una jaula
06. Juan Bodoqu(E) - Vayan a su casa a esperar el día de su muerte
07. Wakk Thuu - Namrata Shrestha
08. Wakk Thuu - Political Portrait of Nepal
09. Noise Masochist - Sounds of Violence to Satisfy Your Appetite For Destruction
10. Noise Masochist - MurderEarth
11. Blasphemic Abortion - Beautiful Human Television
12. Blasphemic Abortion - Ulcer Pus
13. Skat Injector - Cesswound (Penny Lane Toxocariasis Strain)
14. Skat Injector - Mobile Abortion Unit
15. Spastic Burn Victim - Whelk Vibes
16. Spastic Burn Victim - Rutter
17. Rezeegtnuk - Lawnmower
18. Rezeegtnuk - Safe Neighbors
19. Mammal Sauce - Meth Addled Hitler Tit
20. Mammal Sauce - Mr. Rogers Was a Sick Fuck
21. Vicissitude - Attritional Masturbation
22. Vicissitude - Orphans of a Depraved Warzone
23. Insufferable - Collapse
24. Insufferable - Outpost
25. Rip Off - I Am the Bacon Dealer, Please Buy My Bacon
26. Rip Off - I Can't Play This Cos It's Not My Genre, Bro!! (Live Vile Fest)
27. Death Omang - P-G
28. Death Omang - Siap
29. Nada & Dakwah - Aauuu Grrrr yyy
30. Nada & Dakwah - Jawa Goblog
31. Rendel - Cacing Cacing Diperut
32. Rendel - Wakwaw
33. Doing Shit For No Reason - Irritating Perforation Caused by Harsh Noise
34. Doing Shit For No Reason - Touched by a Mysterious Man
35. Changoz! - Destruye 36. Changoz! - Extinción humana
37. Slaughter Squad - Gulf Coast Scum Bag
38. Slaughter Squad - Fast Cum Slut Lord
39. xrepeatx - Airport Whore
40. xrepeatx - Cock Juggling Thunder Cunt
41. Pissdeads - Atomic War Party
42. Pissdeads - Parcel with a Bomb
43. Rusga! - Ruínas internas
44. Rusga! - Ser hedonista
45. F.U.C.K. - Escolapio
46. F.U.C.K. - I'm Not Your Enemy
47. Grotzch - Indoktrinasi
48. Grotzch - Macht
49. Tirotoxicosis - Atrofia facial
50. Tirotoxicosis - Un minuto sin mas que decir
51. Vanitati Sonito - Vanitati Sonito Repugnant Noise
52. Vanitati Sonito - Persistent Disturbance, That Obscures or Reduces the Clarity of a Life Signals 53. Oluparún - Untitled 1
54. Oluparún - Untitled 2
55. Los Mierdas - Invocando saqras
56. Los Mierdas - Parece Spazz pero no
57. Black Lung - Blood Sabbat
58. Black Lung - Empathy Frenzy
59. Slaughterhouse Maintenance Technician - Untitled 1
60. Slaughterhouse Maintenance Technician - Untitled 3
61. Degenerhate - I Against I
62. Degenerhate - Unleash the Fury
63. Terror Incorporated - Kranial Mayhem
64. Terror Incorporated - Mask
65. Noiz Vomit - Glue
66. Noiz Vomit - Horrible Earth
67. Lord Piggy - La letrina del imperio
68. Lord Piggy - El ultimo día de la civilización '
69. Pancho Villa Noiser - Revolucion de ruido
70. Pacho Villa Noiser - A los Yankies se chingo
71. Dogmeat - Monster Slayer
72. Dogmeat - El brujo
73. Hard Times - Fuck, I'm Broke
74. Hard Times - Recipe For War
75. Shitkluster - Kill Yourself
76. Shitkluster - Shit Encrusted Womb
77. Crematory Digestor - Marathon of Death
78. Crematory Digestor - Reduced to Soup
79. Anarcoterror - Anarco Will Be the Way
80. Anarcoterror - ...And She Saw Her Creature
81. Radiacion Suicyda - La ley no es suficiente para detener la corrupcion
82. Radiacion Suicyda - Han controlado tu mente desde siempre
83. GARCIAxVEGA - Born Through the Ass
84. GARCIAxVEGA - PeeWee Hyman
85. Error - Food for Worms
86. Error - Tendancy to Be Serial Killer
87. Stilnox - Aleste 88. Stilnox - _----III-----IIII_____
89. Porreria - O inferno está vazio e todos os demônios estão aqui
90. Porreria - Pessoas me deprimem
91. Leptictidium - Mighty Clouds of Vapor
92. Leptictidium - Deepfried Graveyard
93.Shitbear - Taint Sweat
94. Shitbear - Iceberg Burner
95. Badak Militia - Luna Song
96. Badak Militia - Sak Karepmu
97. Hatefilled Cocks - Avoir le cancer, c'pour les tapettes!!
98. Hatefilled Cocks - Cours, ma calisse
99. Excess - Born Without Fear
100. Excess - Grindcore Junkies
101. Spazmic - The Devils Work
102. Spazmic - Bitch on E
103. No Joy - Vermi
104. No Joy - Drone, Not Music
105. Noisebazooka - To Grind Is to Deconstruct
106. Noisebazooka - Producing Contradiction
107. Megadalara - DPR (Dewan Prostitusi Rakyat)
108. Megadalara - Satu Negara Perang Saudara
109. Splatt - The Circle of Willis
110. Splatt - Big Girl In a Small Shirt
111. Blood of Teachers - Dogs Day
112. Blood of Teachers - Malignant Obstruction of the Bilious Efflux (Lymphatic Phlegm Cover) 113. Pure Noise - Almost Alive
114. Pure Noise - Living In Complete Misery
115. Kushgrinder - No More Fucking Lies
116. Kushgrinder - Smoking Yourself Retarded
117. Its For A Cop - Liter 'O Cola
118. Its For A Cop - Candy Bars
119. Nick Caldwell and the Robot Drummer - XXX
120. Nick Caldwell and the Robot Drummer - Acne Bursting Contortionist
121. Noise Soneta - S.O.X.
122. Noise Soneta - Vidal Sasson
123. N.D.S.H. - Craze
124. N.D.S.H. - Lazy Songs
125. Menso Noise - Untitled
126. Menso Noise - Untitled 2
127. Gorgonized Dorks - Untitled
128. Gorgonized Dorks - Untitled
129. The Symbolist - Parahuman Cruelty
130. The Symbolist - O.S.L. (Lärm)
131. Atrofia Cerebral - Estirpe inmunda
132. Atrofia Cerebral - Vacío absoluto
133. Enbilulugugal - Booze, Sweat and Diarrhea
134. Enbilulugugal - Shitting the Fukk All Over Yer Fukkin Shithole Fukken Scene
135. Orbalisk - Exploding Universe
136. Orbalisk - Magnetic Solar Plasma
137. Bad Taste - E-Virus
138. Bad Taste - Super-Sonic Gut Slashing Mega Rays!
139. Epidemic Pain - Psycho-Sexual Limb Predator
140. Epidemic Pain - Sleeping In a Body Bag
141. Grumo - Cannibal Society
142. Grumo - Games of Massacre
143. HARAPxHARAPxCEMAS - Jilbab Kekinian Kaum Hawa
144. HARAPxHARAPxCEMAS - CL = Cepet Lulus
145. Antara '2 Sisi - 2 Sisi Berlawanan
146. Antara '2 Sisi - Punk Not Homeless
147. Virosis - Convulsión 148. Virosis - Derrame
149. Massacre Divine - Racist State Control
150. InJin Reaper - 香蕉預言(香蕉大法好)
151. InJin Reaper - 傷仲永(一世取精兒)
152. Dysphonic - Palestine
153. Dysphonic - Hujan Peluru
154. Restös De Fetos - Aborto
155. Restös De Fetos - Políticos porcos
156. Trash Grinding Device - Your Death Is Only Permanent
157. Trash Grinding Device - Urethral Fungus Injection
158. Xmys(s)eriX - Morte cerebrale
159. Xmys(s)eriX - P Metastatic Degenerativ
160. Mukakurdy - Fuck Y Difa 161. Mukakurdy - Rotten
162. Gaki - Blistering Walls 163. Gaki - Succulent Decay
164. Icky - Painting Corpses with Corpse Paint to Make Them More Popular
165. Icky - Jar of Putrescent Sustenance
166. Cadaver Cum - Overpowering Stench
167. Cadaver Cum - Pregnant with Shit
168. Cunt Disciple - Christ on Crutches
169. Cunt Disciple - Loosing the Genetic Race
170. Tumor Ganas - Silence of the Dumb
171. Tumor Ganas - The Routine Commands (feat. Nabila Syakit)
172. MxGxEx - Angelfuck (The Misfits Cover)
173. Eddie X Murphy - Saliva acida
174. Eddie X Murphy - Vomito molesto
175. Inerte - Catatonic Experience
176. Postmortem Neurofetish Bionecrosis - Visualizacion de excrecencia colifloriforme y tacto de lesion papulomatosa en la exploracion coloposcopica postmortem de la mucosa vaginal
177. Postmortem Neurofetish Bionecrosis - Estado maniaco de necropsicosis exacervada por cicatrizacion glial del tracto mesocorticofrontal y bionecrosis dopaminergica en ascinamiento prolongado
178. Tumor Necrosis Factor-alpha - Unfolded Protein Response to Endoplasmic Reticulum Stress (A Switch Between Life and Death)

VA. MONSTER GRIND ATTACK - INDONIPPON COMPILATION CD 2015




VA. Monster Grind Attack - Indonippon Compilation
Grindtoday Records CD 2015

01 AK // 47 - Fuck Your Ignorant Middle Class
02 AK // 47 - I Shit On Every Revolutionary Vanguard of This Planet
03 Boltstein - Push
04 Boltstein - Mechanisum Of Destruction
05 Boltstein - Contradiction
06 Dead Vertical - Belantara Berdarah
07 Carcass Grinder - 3 Song (Grind Alert - Napalmidabutsu - Over Kill)
08 Extreme Decay - Overture
09 Extreme Decay - No More
10 Final Exit - Nothern Alcoholic Waste
11 Final Exit - Ladies Dancing Pink
12 Jigsaw - Act Not State
13 Jigsaw - Useless
14 Little Bastard - Days Black
15 Little Bastard - Killed By Justice
16 Onset Of Serious Problem - Hate Cant Be Wise
17 Onset Of Serious Problem - Human Bomb Militia
18 Onset Of Serious Problem - Legend Without Existence
19 Motiveless - Ultra Skunk
20 Motiveless - Caseys Widow
21 Motiveless - White Ice
22 Otnamus - Life And Suffer
23 Otnamus - Rattlebrain
24 Orgasm Grind Distruption - Pignation
25 Orgasm Grind Distruption - Total Fuckin Scum
26 Proletar - Global Darkness Destruction
27 Proletar - Manifest Of Human Greed
28 Punisment For Barbarian - Silence, Piece, Corruption
29 Speedy Gonzales - Membakar Istana Birokrashit
30 Speedy Gonzales - Prahara Pemuda Pemuja Pecundang
31 Red Ran Amber -
32 Red Ran Amber -
33 Tersanjung XIII - Pembeli Bukan Raja
34 Tersanjung XIII - Yakkun Power
35 Self Destruction - Disaster
36 Self Destruction - Deeper, Deeper, Deeper
37 Terror Dynamite Attack - War For Billion Dollars
38 Terror Dynamite Attack - E.M (Extreme Martin)
39 Zenands Gots - Akai Tsuki

Ohhhhh Damnnnn Holy Shittttt !!!! .... Menikmati 39 Track dari 20 Grinding Track Jahanam di Pagi hari adalah " Sesuatu " yang paling Dasyat rasanya daripada bermalas malasan atau sekedar Omong Kosong !!! This Compiled meets and exceeds the criteria of a great grindcore track I was proud to fucking experience !!! Salah Satu Label Independent Eksis yang sudah beberapa waktu belakangan tidak terdengar geliatnya, Grind To Day Records rupanya sudah menyiapkan Rilisan Kompilasi Jawara-jawara Grinding Mayhem terbaik Join 2 Negara sebagai pemilik Ladang subur Genre penghancur notasi, Indonesia dan Jepang. Melihat dari Titel Kompilasi ini sebagai " Monster Grind Attack ", tentu opini kita sudah tergiring dengan berbagai Persepsi tentang Berbahaya-nya Materi track untuk dikolektifkan menjadi 1 rilisan. Mungkin sebelumnya ada banyak Kompilasi seperti ini, namun Grind To Day Records secara total Mendedikasikannya sebagai Rilisan Gress Terbaiknya. Total 39 Track Grindcore terbaik dan Liar yang pernah Gw nikmati pada beberapa rilisan Label Anak Negeri yang terkemas sangat Menarik didalamnya. Well Are You Ready for Enjoyed with showcase the several bands specialty in writing some fucked up grinding Noisy ??? Let's Check distorted a journey into an abyss of insanity.

Bukan Tanpa Perhitungan matang tentunya Bila 2 Track Milik Crust-Grindcore Keren Asal Semarang yang telah eksis sejak 1999, AK//47 menjadi Opening Biadab di awal Kompilasi ini. dengan Komposisi Grindcore berisik yang sangat Matang melalui Sepak terjang Aransemen lebih Matang, " Fuck Your Ignorant Middle Class " dan " I Shit On Every Revolutionary Vanguard of This Planet " adalah Mimpi Buruk tersendiri jika Konsep Band tampil sangat Memukau dengan struktur yang lebih dewasa penyusunan lagunya. After the traditional in-your-face grindcore is over welcomed back to the familiarity of the Crust-grindcore ! Selanjutnya Grinding Pioner asal Yamagata, japan BOLT STEIN yang sengaja menggunakan Plesetan Logo Band dari Legendary Death/Grind UK, Bolt Thrower rasanya mengundang Pertanyaan tersendiri bagi Fans. Trio Grindfast membabi buta sekali lewat 3 Track-nya " Push, Mechanisum Of Destruction & Contradiction ", adalah awal Kejayaan Grindcore pertama kali dikenalkan oleh Napalm Death Era " Scum " banget ! dari Jakarta Timur giliran Penyiksa Gendang Telinga Beraksi,DEAD VERTICAL dengan " Belantara Berdarah " nya yang comot dari materi Album " Perang Neraka Bumi ", Meski bukan Track Anyar, tapi gempuran Grindingnya masih terus diwaspadai ! pengembangan Grindcore Style semakin matang dengan Durasi dan Komposisi track yang memanjakan para Grinding Freak ! lanjut kemudian dengan Raw Old Grinding Lawas Jepang, CARCASS GRINDER yang Eksis sejak 1993 dengan Segudang Rilisannya, masih mampu merobek dan memekakkan telinga dengan definitely Raw Grindcore-nya, Adalah 3 Track yang di Medley " 3 Song (Grind Alert - Napalmidabutsu - Over Kill) " Cukuplah Parade Distortif memekakkan siap melukai Indera Telinga Kita. Dari Malang Scene, Godfather Grindcore terbaik-nya EXTREME DECAY mengkontribusikan 2 Track " Overture " dan " No More " sebagai peluru Memekakkan Berikutnya masih menjadi Ancaman serius bagi Fans Hingar Bingar Berisik Musik. t's not really any less grind, and there are numerous songs which are little more than configurations of blast beats and frantic tremolo riffs, but the package as a whole is more musical. There are memorable riffs and song structures; the band is willing to take more time to get from one place to another, build a little tension, smell the grinding Spirit. tentunya kita juga tidak akan pernah Melupakan jika Jagad Extreme musik masih memiliki band dengan Konsep paling Gila seperti Funny Grind/Noise Asal Kanagawa, Japan, FINAL EXIT, dimana Idealisme dipadukan dengan Hedonisme, Konsep Musikal Unik yang memadukan Emosional dengan Spontanitas. Dipastikan Orang yang kurang menikmati Musik mereka akan bilang " Musik Apa ini ???? ", dengan 2 track Sintingnya " Nothern Alcoholic Waste " dan " Ladies Dancing Pink ", Nikmati Sentuhan Kurang Waras Mereka. dari Jakarta Timur ada trio Penjagal JIGSAW yang meledakkan 2 Track Ampuhnya " Act Not State " dan " Useless " yang dicomot dari Debut Album perdana " Untrusted Goverment Effect ", Swedish Noise Grinding Mayhemic, It's precisely how Swedish grind should be pulled off: with conviction, intelligence, and clarity of vision. LITTLE BASTARD, Lebih mencincang dengan Suguhan Fantastic Grinding Snare, Fastest Agressive Devastate Grind Still bring the frighteningly twisted Track. suguhan 2 Track Mautnya " Days Black " dan " Killed By Justice " nya mampu merobek Ingatan kita dengan Komposisi Dinamis yang tetap Berisik ! lalu duo Grinding Savage Asal Depok, ONSET OF SERIOUS PROBLEM mampu mengundang decak kagum tersendiri dengan Aransemen Liar dan Menggilas-nya lewat 3 Track-nya " Hate Cant Be Wise, Human Bomb Militia dan Legend Without Existence ", Nasum meet Gride and Fight With Capitalist Casualities ! as it comfortably sinks into the mind-numbing depths of agonizing dirge-crust. Pengen yang Lebih Berisik lagi ??? MOTIVELESS, Japanesse Collapse Grinding Attack ngasih Jawabannya di 3 Track Chaotic-nya. Beat Komposisi yang cepat dan terjaga siap memecahkan Konsentrasi pendengarnya dengan Merespon Gerakan tubuh menjadi tidak terkendali, GILAAAA !!! ... Ga kalah sinting kemudian Crust Grind Asal Malang, OTNAMUS tampil meleburkan apa yang ada dengan Distorsi mematikannya via " Life And Suffer & Rattlebrain ", Disrupt, Phobia, Malignant Tumour dan Assuck sengaja tetap membuat Konspirasi Jahat Memekakkan. is a great collage of weird images combined with ultra-fast and violent music. Ga kerasa Jika kita semakin terus terjebak dalam Dentum Genre Notasi Penghancur, ORGASM GRIND DISRUPTION, Tokyo Grind Madness yang lebih tidak mengenal kata ampun-nya. Damn !!! .... Dari Indonesia Kembali salah satu Pioner Grinding PopulerPROLETAR mengganas lewat track & Vocalis barunya yang kini di Isi oleh Nino-nya Trauma, Jakarta Godfather Death Metal makin Mantap dengan Komposisi menantangnya " Global Darkness Destruction " dan " Manifest Of Human Greed " makin mengukuhkan Mereka sebagai Unit Grindcore band paling diperhitungkan Scene tanah Air. balik lagi Ke Jepang untuk mendengar " Silence, Piece, Corruption " nya PUNISMENT FOR BARBARIAN, yang Part Awalnya mengingatkan Gw dengan " Black Breath " nya Repulsion Banget, Swedish Sound Noise Distortion still Crushing Here !! dan yang Pasti Indonesia Band semakin tidak Ketinggalan dan diremehkan saat SPEEDY GONZALES, Youth Grind Berbahaya asal Kediri memuntahkan 2 Ledakan Mautnya " Membakar Istana Birokrashit " dan " Prahara Pemuda Pemuja Pecundang " dengan sound Yang lebih deadly and AMAZED !!! Surprise banget Gw dengan materi barunya ini. The music is some of the most intense, bombarding, old school influenced grindcore ever created. The guitar sound is distorted very much so to sound like the most destructive buzz-saw type riffs ever to pass through your ears. Serta ga kalah Sintingnya kemudian adalah Japanesse Crucial Grindcore, RED RAN AMBER, seperti melarutkan kita dalam serpihan terkecil untuk dilumat dalam Mesin Penghancur layanya, komposisi Grinding dengan Twin Pedal Extra Rapat dan Chaotic Riffing Blizzard ! When Discordance Axis Meet Dillinger Escape Plan, The double kicks is done very deliberate in Their Musickal Astray ! ... TERSANJUNG XIII masih menjadi Mimpi Buruk selanjutnya menyapa dengan Grinding Dominate " Pembeli Bukan Raja " & " Yakkun Power ", too distorted or overall too complex without a meaning. daannnn... SELF DESTRUCTION masih memukau Pula dengan Gempuran maha Memekakkan dengan Short-paced-grind-Assault-nya. Makin Ga terasa 2 Track Berikutnya kita sudah dipenghujung Klimaks Konspirasi Grinding 2 Negara, TERROR DYNAMITE ATTACK Menggerus dengan " War For Billion Dollars & E.M (Extreme Martin) ", Ekpresi lebih meledak-nya, band asal Bandung ini malah terdengar Bak Hyperblast Brutal Death Metal Banget, apalagi Karakter Low Guttural-nya, Namun esensi yang tangkep tetaplah Menyenangkan mendengarkan Komposisi dan Sound yang Menendang Pantat banget, Fast, Fast And Fassssttt !!! dan akhirnyaZENANDS GOTS harus mengakhiri Kegilaan Pesta Gila Para Pemuja Grinding Beat ! 2 Piece Grind Bastard Tokyo ini menyelesaikan Tugasnya sebagai Band Closing masih dengan Hantaman Buas Grinding Snare ! a mechanized sound that is both exhilarating and terrifying in its cold and alien artificiality.

Wuihhh Ga kerasa banget kayaknya kalo sudah Hampir 1 jam Indera Telinga Gw dihajar dengan Beat-beat Explosive edan dari 20 Band dengan 39 Track-nya ! Secara Keseluruhan Materi ini bener-bener hasil perpaduan Pesta Musik Bertegangan Tinggi banget dengan berbagai Konsep dan Style-nya. Sehingga sangat Pasti bakalan gw rekomendasikan Buat Kalian Fans Grindcore yang tidak asal cepat dan berisik, Karena Grind To Day Records masih begitu memperhitungkan banyak Kualitas Musikal untuk memanjakan Fans fanatik-nya. didukung dengan Kemasan yang Profesional Pula meski didesain dengan minimalis tetap Menampilkan Imej Genre ini yang Independent banget. Bukannya Memprovokasi atau apa, Kompilasi Edan Penghancur telinga ini sangat Gw rekomendasikan Konten-nya untuk dinikmati kapan aja, especially for Power Search ! Cause every track different and serving its own purpose to the greater Grinding whole. (Lost In Chaos)


 
Bagikan